
Angga
Gue tahu kalau gue pantas mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Oliver. Gue tahu kalau gue yang berada di posisi dia, gue akan bertanya hal yang sama kepada sahabat yang sudah dengan berani-beraninya menyakiti adik gue dan sekarang malah punya nyali untuk mendekatinya lagi.
Tidak mudah untuk membuat sahabat gue itu yakin kalau gue tidak akan menjadi cowok tolol bin bego yang sama untuk kedua kalinya. Tidak mudah untuk membuat dia percaya kalau gue benar-benar akan mengerahkan seluruh harta, jiwa, dan raga gue untuk melindungi Olavia dan Oleander. Tidak mudah untuk membuat Oliver bisa menerima kalau Olavia pada akhirnya memberikan kesempatan lagi buat gue.
Tidak mudah untuk membuat cowok yang sedang merambah dunia kickboxing itu menahan tinju yang gue yakin sudah meronta-ronta minta ditempelkan ke seluruh permukaan badan gue.
Sialan. Gue awalnya berminat untuk mencoba olahraga itu dan menjadi partner sparring si Oliver. Namun, setelah percakapan, atau meminjam dari kata yang disukai si Kampret untuk apa yang kami lakukan barusan, interogasi tadi, gue sepertinya akan mengurungkan niat saja. Gue tidak yakin dia bisa menguasai diri jika diberi kesempatan untuk menghajar orang yang paling ingin dihajarnya saat ini; gue.
Huf. Tunggu dulu lah sampai si Kampret mereda radangnya. Atau, paling tidak, sampai dia teralihkan oleh hal lain seperti kasus-kasus ajaib yang dibawa oleh klien-kliennya yang tak kalah ajaib tersebut. Setelah itu, barulah gue bisa mempertimbangkan kemungkinan untuk nge-gym bareng dia lagi.
Atau, mungkin ini saatnya untuk merealisasikan rencana gue yang sudah lama terbengkalai; mengubah ruang bawah tanah di townhouse gue menjadi home gym. Jadi, gue tidak harus membuang-buang waktu untuk commute antara rumah dan gym lagi. Waktu yang ada bisa gue manfaatkan untuk bersama dengan Olavia dan Ole.
God damn. Kenapa tidak terpikir dari dulu-dulu, ya? Dasar Angga tolol. Oke, deh. Gue akan menghubungi kontraktor langganan gue secepatnya.
Setelah berpisah dengan Oliver di dapur, dia bilang ingin kembali ke apartemen dulu untuk bersih-bersih, gue melangkah menuju ke kamar tempat dua orang yang ingin sekali gue temui berada.
Gue ketuk pintu kamar yang sedikit terbuka itu dengan pelan, tiga kali. Saat gue melihat Olavia tersentak dan menoleh ke arah pintu, tidak ada yang bisa membayangkan betapa menyesalnya gue mengganggu waktu beristirahatnya yang berharga.
"Shoot, Sayang. Sorry. Aku gak bermaksud bangunin kamu." Gue menjelaskan sambil memperhatikan langkah. Kali ini gue tidak mau bergerak terlalu heboh dan juga membangunkan Ole yang sedang terlelap di dalam crib-nya di dekat dinding.
Dengan hati-hati wanita pujaan gue bangkit dan memberingsut di atas kasur. Dia lalu menyandarkan tubuhnya ke kepala tempat tidur sementara gue mendudukkan bokong gue di tepi kasur di dekatnya. "Enak tidurnya?"
Dia mengangguk. "Lumayan." Olavia kemudian melirik jam yang ada di atas nakas. "Lama juga, ya, kamu di sekap sama detektif gadungan itu?" tanyanya sambil memutar bola matanya yang masih terlihat agak memerah.
__ADS_1
Gue tergelak tertahan mendengar cemeeh yang ke luar dari bibir cantiknya. Tidak akan habis bahan yang bisa dijadikan alasan untuk membuat dua kakak beradik ini saling serang. Hal, yang harus kuakui, menjadi sumber perasaan iri di dalam diri gue. Gue juga ingin mempunyai seorang saudara, seorang adik atau kakak perempuan lebih tepatnya, yang bisa gue jadikan teman adu mulut, adu iseng.
Namun, mungkin sekarang, setelah gue memiliki dia, gue tidak perlu merasa jealous lagi. Karena gue juga bisa menikmati jawaban dan tanggapan yang "smart" dari perempuan ini setiap kali gue mau. Yang perlu gue lakukan hanya berada di dekat dia dan gue yakin comeback-comeback penuh sarkasme dan sikapnya yang "bratty" akan timbul dengan sendirinya.
Gue tidak sabar untuk mendapatkan semua itu.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?"
"Ah, enggak. Gak ada."
Olavia lantas menilai jawaban gue dengan menggunakan tatapannya sebelum menggeleng. "Aku lapar," akunya dengan bibir bawah yang sudah maju.
Sejak kapan bibir dia itu maju?
"Cheese burger sama kentang goreng keriting buatan Pak Joko." Olavia menjawab dengan semangat.
"Oke. Aku telepon orang resto dulu."
"Apa aja yang Bang Oli bilang sama kamu?"
"Gak ada yang gak aku prediksi sebelumnya. Semuanya secara garia besar sama. Dan, aku akui, meyakinkan seorang Oliver dengan kata-kata adalah mustahil. So, yeah. Aku hanya harus membuktikan apa yang aku omongin sama dia, juga sama kamu. Kalau aku memang benar-benar serius. Aku gak akan lari lagi. Aku gak akan jadi cowok tolol lagi. Aku akan stay sama kamu dan Oleander sampai akhir hayat aku."
"Wow. That's seriously a pretty big promise," komentarnya sembari terkekeh. Kekehan yang sumbang.
Gue tahu apa yang membuat suara tawa wanita gue yang biasanya renyah dan ringan, sebentar ini terdengar agak ... aneh. Ada satu rasa yang mengkontaminasi hal yang selalu menjadi aktivitas favoritnya itu. Gugup. Olavia merasa gamang setelah mendengar janji gue. Shxt. That's my doing. Gue tidak bisa menyalahkan dia karena guelah yang salah. Tidak heran jika dia sedikit ragu. Oleh sebab itu gue rasa gue harus meyakinkan dia lagi. "Yes, indeed. A pretty big promise for a very pretty lady that I want to keep. Aku serius, Sayang. Aku serius."
__ADS_1
Namun, sepertinya tindakan gue tidak membuahkan banyak hasil. "Ngga, kamu gak harus melakukan itu, tahu."
"Melakukan apa?" Kini giliran gue yang kehilangan petunjuk.
Olavia lalu tersenyum dan menunduk. Diselipkannya lagi rambut bergelombang yang tergerai itu ke belakang telinga. Dimain-mainkannya ujung selimut yang menutupi bagian tubuhnya hingga ke pinggang itu. "Bikin janji yang terlalu besar. Aku gak mau pada akhirnya aku dan Oleander hanya akan jadi beban buat kamu." Kalimat tersebut diungkapkan wanita yang paling gue cintai di dunia ini dengan lirih.
Luka. Yang gue rasakan di dalam dada seketika setelah mendengar semua itu adalah sakit. Sakit yang diakibatkan oleh sakit yang gue sendiri berikan kepada dia. "Kok kamu ngomongnya gitu, sih, Yang?"
Olavia mengedikkan bahunya yang sudah rendah. "Yaaa, let's face it. Karena kamu masih lajang. Kamu juga mapan. Kamu tampan. Kamu basically bisa mendapatkan perempuan single mana pun yang kamu mau. Bukan ibu-ibu beranak satu kayak aku ini."
What the heck? Ini bukan dia. Wanita gue yang asli, meski sesekali diliputi rasa tidak percaya diri, dia tidak akan pernah merendahkan dirinya sendiri. Ini bukan dia. Dan guelah yang membuat dia begini. "Omongan kamu, kok, jadi kayak lirik lagu dangdut begini, hm?" Gue memilih untuk menanggapinya dengan bercandaan.
Gue sadar dengan sesadar-sadarnya kalau apa pun yang gue ucapkan tidak akan berarti apa-apa jika gue pada akhirnya tidak bisa membuktikan semua itu. Jadi, yang perlu gue lakukan adalah memberikan mereka alasan untuk percaya sama gue lagi.
"Lagu dangdut apaan? Kamu ngaco, ah!" Belum-belum tangan gue yang ingin memegang wajahnya sudah ditepis.
Gue lantas mengganti strategi dengan menowel ujung hidung mancungnya itu. "Kamu tuh yang ngaco. Kalau menurut kamu aku bisa mendapatkan wanita single mana pun yang aku mau, kenapa aku gak bisa memilih untuk mendapatkan kamu? Memangnya ada yang salah sama ibu-ibu beranak satu? Malahan bagus, dong! Buy one get one free. I win."
Kini giliran bahu gue yang baru saja berkedik yang menjadi sasaran tampolannya. "Huh! Kamu, ya. Enak aja samain aku dan Oleander sama sabun cuci!"
"Jiah! Mana ada? Sabun cuci kalau beli yang bungkus gede sekiloan itu dapatnya piring kali, Yang. Bukannya bayi ganteng kayak anak kamu." Gue membela diri.
Kegemasan yang ada di wajah Olavia serta-merta luntur setelah gue me-mention Oleander. Tatapannya langsung meneduh, ekspresinya berubah seratus delapan puluh derajat menjadi lembut, selembut-lembutnya. Ada kekaguman di sana. "Iya, ya. Anak aku ganteng banget, ya, Ngga. Kayak bapaknya."
Bersambung ....
__ADS_1