Papa Untuk Oleander

Papa Untuk Oleander
11. Terlalu Banyak Maaf Untuk Hari Ini


__ADS_3

Ola


Aku tidak melepaskan perhatianku dari sosok yang kini tengah melenggang dengan langkah pasti ke arahku. Perasaanku tak tentu. Separuh merasa tidak enak karena dia harus mendengarkan racauan si Sableng soal dirinya. Namun, separuh bagian lagi merasa agak—no, no, no, lumayan—lega karena bagaimanapun juga ocehan yang ke luar dari mulut berlapis lipstik berwarna flamethrower itu sedikit-banyaknya mewakili beberapa perasaanku.


Walau harus kuakui, setelah dipikir-pikir lagi, aku tidak sungguh-sungguh merasakan itu sekarang. Perasaanku pada Angga sudah berubah, atau bisa dibilang sedang menuju ke arah perubahan, semenjak kemarin. Semenjak insiden itu.


Tak dapat dipungkiri ada rasa senang yang menyelinap masuk ke dalam diri ketika Raisa mengungkapkan bahwa Bang Oli dan Angga memberi peringatan seperti itu. Karena, setelah insiden kemarin, aku berniat untuk berhati-hati dengan apa yang mengelilingiku. Mengetahui bahwa mereka berpikiran yang sama, memikirkan hal yang terbaik untukku, adalah suatu perkara yang menyejukkan hati.


Namun, aksi protes sahabatku itu mengingatkan aku akan satu persoalan penting yang tidak kusadari ada dan tidak kupahami kenapa bisa lenyap dari pikiran ini. Kenapa detail sebesar itu bisa luput dari dalam kepalaku?


Angga kini sudah berada di samping kiriku setelah dia menyapa Mama dengan memberikan pelukan sekilas. Dia lantas memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana chino panjang berwarna khaki yang dipakainya dan berdiri di tempat. "Hey," sapanya lembut sambil tersenyum.


Senyum yang dengan otomatis menarik senyumku. "Hey."


"How are feeling today?" Angga bertanya. Sengaja memberikan perhatian penuh padaku terlwbih dahulu.


"We are doing fine. Thank you." Aku pun terbawa arus dengan hanya menghiraukan dia.


"It's good. It's good. Makannya gimana?" tanyanya lagi.


"Crackers. Granola bar. Buah jeruk, anggur, sama buah naga. Tadi menu sarapannya juga nasi dan sup ikan salmon. Enak, sih, tapi sama akunya gak habis." Secara tidak sadar aku menyebutkan apa saja yang telah aku makan dari pagi sampai jam segini.


Angga tersenyum lagi. "Wah, makannya banyak. Tapi, semua aman, kan?"


Aku tahu apa yang dia tanyakan. Dia sengaja tidak menyebutkan kata itu karena takut itu akan menjadi trigger. Kita tidak perlu menonton insiden yang sama terulang kembali. Kuanggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaannya.


Kali ini dia yang mengangguk. Setelah dia merasa puas mengecek kondisiku, barulah Angga membagi perhatiannya dengan yang lain as known as Raisa yang alisnya berkerut setelah menyaksikan interaksi kami dan Mas Johan yang juga sama ingin tahunya. "Mas." Angga menyapa sembari mengulurkan tangan.


Mas Johan langsung menyambar tangan itu dengan tangannya. "Angga."

__ADS_1


Angga lalu menganggukkan kepala pada Raisa yang kini menatapnya dengan tatapan menusuk.


Well ... this is NOT awkward, like, at all.


"Gue harap perjalanan kalian lancar-lancar aja. Sorry kalian harus balik lebih awal dari jadwal yang seharusnya," ucap Angga.


Mas Johan menyahut. "Gak masalah, Ngga. Gue yakin Raisa lebih pengen nemenin Olavia di sini daripada jalan-jalan. Lagian bulan madu, mah, bisa kapan aja."


"Iya, Mas. Benar. Apalagi dia tahu kalau sebentar lagi dia batkal jadi tante juga. Ya, kan?"


Raisa tidak menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh cowok yang masih berdiri dengan tangan di dalam saku tersebut. Kenapa dia memilih posisi seperti itu, aku tidak tahu.


Aku melihat kerutan di kening Raisa menjadi semakin dalam setelah Angga mengatakan hal itu. Dia kini menatap aku dan Angga bergantian. Jelas sekali ini adalah waktu bagiku untuk mengambil alih pembicaraan.


"Engg ... Raisa, ada yang, ehm ... belum gue kasih tahu sama ... sama lo." Aku bisa merasakan tatapan semua orang yang ada di dalam kamar tertuju padaku yang sibuk memainkan ujung-ujung jari. "Gue ... gue .... Engg ... gue ... gue hamil."


****


Angga


Mas Johan langsung saja memeluk bahu istrinya yang tengah dilanda syok itu.


Dan gue? Gue baru sadar kalau Olavia belum memberi tahu soal kehamilannya kepada sahabatnya sendiri. Dan kenyataan ini membuat gue sangat sangat sangat penasaran dengan alasannya.


"What?" Sekali lagi kata itu ke luar dengan tidak jelas. "L-Lo ... elo ... ha-hamil?"


Olavia hanya mengangguk sembari terus mengawasi sahabatnya.


Namun, sepertinya yang diperhatikan tidak menyadari, atau mungkin tidak peduli. Karena setelah menyaksikan anggukan kepala Olavia, Raisa malah sibuk mondar-mandir di depan kami. Sesekali tangannya menyisir rambut yang lanjangnya sebahu itu. Dia juga menghela napas panjang. Menggigit kuku. Meletakkan tangannya di pinggang. Semua itu dia lakukan bergantian sambil terus berjalan hilir-mudik di antara kami.

__ADS_1


Suara high heels yang mengetuk lantai marmer menjadi hiburan.


Gue kembali memperhatikan wanita pujaan gue. Wajahnya kini berubah menjadi ... cemas? Kenapa dia cemas?


"Hey, you okay?" Aku berbisik di telinganya, sengaja. Agar tidak mengusik apa pun yang sedang terjadi di dalam kepala Raisa.


Olavia balik membisikkan jawabannya. "Yeah. Tali, aku punya firasat kalau Raisa enggak."


Gue belum sempat untuk mengemukakan pertanyaan besar "why" ketika tiba-tiba saja Raisa mengatakan, "Okay. I need to process this info. Babe, let's go." Sekonyong-konyongnya wanita itu berbalik dan berjalan menuju ke pintu tanpa menunggu Mas Johan.


Gue jadi tambah binggung dengan keadaan ini.


"Sorry, La. Gue harus cabut. Tapi, gue mohon lo ngertiin sikap bini gue, ya? Dia sahabat lo. Lo pasti tahu alasannya." Mas Johan menatap Olavia dalam-dalam dan beberapa saat kemudian the love of my life mengangguk. Laki-laki yang katanya ada keturunan kraton itu tersenyum tipis dan berpamitan pada kami. "Kami permisi dulu, Tante. Nanti kami akan ke sini lagi. Yuk, Ngga."


Begitulah. Mas Johan dan Raisa berlalu begitu saja. Meninggalkan gue dengan the big strong why yang semakin besar dan semakin kuat di dalam otak gue. KENAPA?


****


Ola


Aku terus terang merasa bersalah. Bukan hanya merasa bersalah karena telah menyembunyikan hal ini dari sahabatku sendiri, akan tetapi juga karena kehamilanku.


Kenapa aku yang malah hamil padahal Raisa-lah yang sungguh-sungguh menginginkan dan siap untuk menerima kehadiran seorang bayi di tengah-tengah keluarga kecil mereka?


Namun, setelah berpikiran seperti itu, aku juga semakin merasa bersalah karena telah memikirkan hal buruk seperti tadi. Kuelus perutku yang mulai terlihat, bukti bahwa sosok di dalam perutku semakin menampakkan keberadaannya.


Maafkan Mama, Sayang. Mama tidak menyesal memiliki kamu. Mama hanya sedih melihat sahabat Mama yang sedih. Jika Mama boleh meminta pada Tuhan, Mama mau meminta agar sahabat Mama juga diberikan kehamilan.


Pasti seru, kan, kalau Mama dan Tante Raisa hamil dalam waktu yang bersamaan. Mama pengen tahu, apakah nanti kamu dan anaknya akan get along sama seperti kami?

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2