
Angga
Buset.
Perasaan baru tadi gue kasih ancaman ke krang lain. Sekarang malah gue yang diancam. But, it's okay. Gue yakin Oliver hanya mengerjakan tugasnya sebagai kakak cinta dalam hidup gue. Dia hanya berniat untuk melindungi wanita pujaan gue dari mulut manis dan janji palsu bajingan kayak gue dulu.
Dulu, ya, ini. Dulu.
Sekarang gue sudah berkomitmen untuk menepati semua janji gue. Gue tidak akan melanggar janji gue. Apa pun yang terjadi.
"Gimana kondisi Ola?" Oliver membuka suara lagi setelah lagi-lagi sejumlah kala dibiarkan berlalu tanpa kata-kata.
Gue agak ragu-ragu memberikan jawaban. Gue bimbang antara harus menjelaskan sedikit hidup yang terjadi di dalam tadi dengan si Perawat Br***sek atau sebaiknya gue diam.
Namun, setelah mengamati, menelaah, dan menimbang, di kelakuan gue memutuskan untuk berterus terang.
"Kondisinya baik, udah lumayan stabil. Tadi gue juga sempat ketemu sama perawatnya. Tapi, ya, itu. Doi minta supaya perawat yang itu gak balik lagi buat ngecekin dia."
"Lah? Kenapa emang?" sahut sahabat gue dengan kening berkerut.
Aduh. Gimana cara menjelaskannya, ya? "Enggg ... tadi itu ... tadi itu ada kayak engg ... salah paham kecil gitu di antara mereka."
"Maksud lo? Salah paham kecil gimana? Kalau ngomong yang jelas, dong, ah!"
Gue memijat tengkuk gue. "Ya ... salah paham gitu lah," kilah gue sembari menepis udara dengan tangan gue. "Lo maklum aja, namanya juga cewek. Lagi hamil pula. Hormonnya pasti lagi ngelunjak-ngelunjaknya sekarang."
"Oh, iya, iya." Dia mengangguk-angguk.
Fiuh. Untung si Kam***t puas sama jawaban gue. Hal itu mengingatkan gue akan tanggung jawab yang harus segera gue selesaikan. "Gue harus ngomong sana kepala perawat atau siapa gitu biar bisa ngatur supaya itu perawat gak balik ke kamar ini lagi."
__ADS_1
"Ah, gampang. Biar nanti gue bilang bokap aja. Biar beliau yang tangani. Kebetulan kepala rumah sakit ini kakak dari kenalannya." Oliver kemudian menghela napas panjang. "Thank you, ya, man. Lo udah bantu jagain Lala."
"No problem, bro. Gue juga mau nemenin dia."
Diam lagi.
"Thank you juga, ya, Bro."
Oliver menoleh ke arah gue dengan alis tinggi itu lagi. Jelas tidak mengerti arah pembicaraan ini. "Buat apa?"
Gue mengangkat bahu, berlagak tidak peduli. "Buat ngizinin gue dekat sama Olavia lagi."
Diam.
Satu detik, dua detik, ..., delapan detik, sembilan detik, ..., tujuh belas detik, delapan bela–
"Yeah. Itu." Sahabat gue itu kembali diam setelah mengeluarkan dua kata tersebut daei mulutnya.
Gue menunduk. Dengan kedua tangan masih di dalam saku celana jeans abu-abu gelap panjang yang gue pakai, gue menunduk dan menatap kaki gue yang dibungkus oleh sneakers berwarna off white itu. Gue baru sadar kalau ternyata warnanya terlihat kucel sekali jika dibandingkan dengan warna marmer yang melapisi lantai.
Kenapa rumah sakit selalu identik dengan warna putih, sih? Apa mereka gak sadar kalau warna ini membuat ruangan terkesan terlalu steril, kaku, dan membosankan? Tak ayal memang namanya rumah sakit. Dengan menatap warna ini saja dalam durasi yang tidak begitu lama sudah membuat gue pusing, mual, dan meriang.
Apa mungkin hal itu juga merupakan kombinasi dari menunggu kalimat lanjutan dari cowok yang juga sedang menyandar ke dinding di samping gue?
Mungkin saja.
Gue gugup, man. Serius! Cepat lanjutin omongan lo. Jangan cuma sampai di situ aja. Dua kalimat itu bikin gue mau pingsang, Kampret!
Sialan.
__ADS_1
"Bokap bilang Lala menderita Hiperemesis Gravidarum, bahasa manusianya, ya, mual dan muntah yang parah saat kehamilan. Untung banget dia bisa cepat dapat pertolongan. Kalau enggak ... kalau enggak ... gue berkemungkinan besar bakal kehilangan keponakan pertama gue bahkan sebelum gue sempat tahu kalau dia ada."
Oh. ****. No. F*ck. ****. **** **** **** **** **** ****!
Separah itukah keadaan Olavia? Sebahaya itukah kondisi yang dia alami? Sampai-sampai bisa menyebabkan keguguran dan ... dan ... keadaan itu juga bisa berdampak pada si calon ibu itu aendiri, bukan?
**** **** **** **** ****!
F*CK!
Gue merasa tolol banget karena tidak bertanya lebih banyak ke Om Arif ketika dia menyebut soal ini saat kami bertemu tadi. Gue kira gue tidak menangkap seberapa dalam maksud dari kalimatnya itu. Om Arif bilang ... morning sickness yang lumayan buruk. Gue tidak terlalu ambil pusing setelah mendengar istilah morning sickness. Karena gue pikir, morning sickness kan normal-normal aja terjadi pada ibu hamil?
Ternyata ada kondisi yang lebih parah dan lebih membahayakan dari sekadar morning sickness biasa. Gue catat itu nama Hiperemesis Gravidarum di dalam otak gue dengan spidol hitam pekat, pakai huruf kapital, di kertas ukuran AO, dan gue pajang di tengah-tengah otak tolol gue ini supaya gue ingat untuk mencari tahu lebih banyak soal kondisi sialan yang sudah bikin wanita pujaan gue masuk rumah sakit.
"****. Sorry, man." Akhirnya gue menimpali.
Oliver kembali mengembuskan napas panjang. "Yeah, gue juga. Banyak banget hal yang mau gue lakuin, yang ada di dalam otak gue, tapi malah gak bisa. Gue pengen marah ke Ola, tapi gue juga kasihan sama dia dan bayinya. Gue pengen bikin lo babak belur lagi, tapi lo itu sahabat gue. Gue pengen bunuh itu bajingan, tapi gue gak mau masuk penjara dan melukai orang-orang yang gue cintai. Tapi, yang paling besar adalah rasa bersalah gue. Gue merasa gagal menjadi anak pertama bagi bokap sama nyokap dan menjadi kakak bagi Lala. Gue gagal melindungi dia. Gue gagal menjaga dia dari rasa sakit yang disebabkan oleh dunia yang kejam ini."
F*ck. Itu ... itu berat banget. Dan dapat dimengerti. Dapat dimengerti, akan tetapi tetap saja pemikiran yang berat.
"Namun, di sisi lain, gue juga berpikir kalau mungkin saja dia memang butuh semua ini. Gak mungkin Tuhan mengizinkan sesuatu terjadi kalau Dia pikir itu bukan sesuatu yang akan membawa kita ke tempat terbaik, kan? Susah banget mengkondisikan otak gue sekarang. So, yeah. Gue agak kacau. Dan sayangnya gue kapok minum. Seenggaknya untuk sekarang. Sekarang gue harus standby buat adik gue biar dia gak ikutan kacau kayak abangnya yang gak berguna."
"****, bro. Stop!" Gue langsung saja menyalip perkataan cowok yang gue rasa bisa dinominasikan untuk masuk ke dalam kategori Brother of the Year itu. "Lo gak boleh ngomong kayak gitu. Gue yakin bokap, nyokap, sama Olavia gak setuju dengan apa yang ke luar dari mulut lo barusan. Jangan ngadi-ngadi, deh!"
"An j**g! Bahasa lo, Kunyuk!" Dia tiba-tiba saja tergelak.
Gue senang bisa memanfaatkan bahasa aneh yang dipakai generasi MZ untuk menghibur sahabat gue. "Berkat Twitter, Bro. Gue jadi merasa gak terlalu tua karena tahu istilah anak zaman now."
"An j**g. Sialan. Udah, ah. Ngeri gue dengar bahasa lo. Yuk, masuk lagi. Siapa tahu Lala udah bangun."
__ADS_1
Bersambung ....