
Ola
"Enggak, Ma! Enggak!" bantahku secepat kilat. Oh, my God. Oh, my God. Aku telah membuat orang tuaku berpikiran sejauh itu dengan aksi bungkam yang kulakukan.
Jelas, napas panjang yang dikeluarkan Mama adalah napas penuh rasa lega. "Syukurlah. Syukurlah." Mama menggeleng-geleng. "Kalau sempat begitu kisahnya dan kamu gak mau cerita sama kami, itu bakal jadi cerita yang lain lagi. Tapi, syukurlah kalau tidak itu yang terjadi. Benar tidak begitu, kan, Sayang?"
"Enggak, Ma."
"Oke. Baiklah. Syukurlah." Beliau tak henti-hentinya mengucapkan syukur.
Aku saja bergidik membayangkan apa yang ada di dalam pikiran Mama. Apakah selama ini hal itu berputar-putar di sana? Di dalam kepala Papa juga?
Oh, my God.
Oh, my God.
Oh, my God.
"Terima kasih, Tuhan. Jadi Mama sekarang bisa dengan sepenuh hati mengatakan ini. Terlepas dari asal usulnya, Mama dan Papa sangat senang mengetahui bahwa kamu tengah mengandung cucu pertama kami, keluarga kita. Kami juga sudah tidak sabar untuk menyambut kedatangan dia ke dunia. Kamu ingat itu, ya, Olavia?"
Aku mengangguk lagi. Air mata yang menggenang jatuh bersama gerakan kepalaku. "Namanya Owen," ucapku dalam tunduk. Kini giliran aku yang membelai perutku lembut. "Aku ketemu dia pas acara ulang tahun aku di Beniqno. Dia lagi tampil di sana."
Kini giliran Mama yang diam dan mendengarkan.
"Long story short, aku jatuh cinta beneran sama dia sementara dia cuma menganggap aku sebagai pengisi waktu dan hiburan saat dia berusaha untuk mewujudkan mimpinya. Dia ninggalin aku setelah dia tanda tangan kontrak dengan salah satu label musik."
Tahu-tahu aku sudah berada di dalam dekapan Mama. Wangi Chanel no. 5 segera mengelilingi udara di sekitar kami. "Maafin Mama, ya, Sayang," pinta Mama saat melepaskan pagutannya dari tubuhku.
__ADS_1
Gelak yang ke luar dari dalam dada tak pelak disertai oleh bunyi hidung yang berair. "Kenapa Mama yang minta maaf? Kan aku yang salah. Aku udah banyak salah sama Mama, sama Papa. Sama Bang Oli juga. Aku udah langgar janji aku sendiri cuma karena laki-laki yang ternyata ... gak baik.
"Aku juga sampai berantem sama Bang Oli. Abang marah karena aku udah ngecewain Mama sama Papa dan aku marah karena merasa diatur sama dia. Setelah Owen pergi, aku baru sadar dan berpikir kalau mungkin dulu itu Bang Oli udah tahu laki-laki seperti apa si Owen ini. Dan dia coba memperingatkan aku, tapi, ya, emang aku aja yang dasarnya udah kepala batu."
Kuembuskan napas panjang. "Aku cuma pengen cinta kayak yang Mama dan Papa punya, Ma. Aku cuma pengen pasangan yang ada, yang mengerti, yang suportif. Makanya, saat merasa tertarik sama Owen, aku mencoba menjadi yang seperti itu buat dia. Dengan harapan dia juga akan memperlakukan aku sebagaimana aku sama dia. Tapi ... tapi, nyatanya aku salah. Aku harus gimana, Ma?"
Posisi duduk Mama kini telah pindah ke sebelahku. Direbahkannya kepalaku di atas bahu kecil namun kuat itu. Dirangkulnya bahuku. Dielus-elusnya rambutku perlahan. "Kamu gak harus ngapa-ngapain, Sayang. Kamu cuma harus sabar aja."
Kepalaku langsung tegak ketika mendengar kata sabar. "Sabar gimana, Ma? Aku dulu juga udah sabar sama Angga. Tapi, nyatanya dia juga ninggalin aku. Sekarang, aku pikir dengan ketertarikan sejak awal, aku dan Owen akan bertahan. Dan Mama lihat, kan, gimana akhirnya?" Aku protes sembari memutar posisi bokongku hingga membuat kami berhadapan lagi.
Kulihat alis Mama meninggi. "Angga?"
Okay, aku tidak memperhitungkan kemungkinan keceplosan seperti ini. Kuhela napas dalam. "Iya," akuku sambil melepaskan karbondioksida.
"Hm." Mama bergumam. "Kalau Mama boleh tahu, kapan itu terjadi?"
"Nah," sahut Mama. Aku bisa mendegarisentum dari nada suaranya. "Kamu bisa cari tahu sendiri letak salahnya di mana, kan?"
Baiklah. "Tapi, kan, banyak orang di luar sana yang berhasil bertahan sama pasangannya semasa SMA, Ma? Mama sama Papa ketemu pas kuliah, kan? Itu gak beda jauh sama SMA."
"Dasar, kamu ini." Mama tertawa. "Ingat beda umurmu sama umur Angga berapa?"
"Dua tahun."
"Nah, kamu waktu itu umur ... berapa, ya, kira-kira enam belas tahun. Betul?"
Aku mengangguk.
__ADS_1
"Sekarang, coba kamu pikirkan kembali. Coba ingat-ingat apa yang kamu rasakan waktu kamu umur segitu," perintah Mama.
Kuluangkan waktu sejenak untuk mengerjakan apa yang diperintahkan. Mengulang kenangan dan menjemput rasa-rasa yang pernah ada di masa itu. "Aku ... aku rasanya pengen dekat terus sama Angga," jawabku seraya menengadah. Mataku bertemu dengan mata dengan warna yang sama kepunyaan Mama.
Ditangkupnya wajahku menggunakan kedua telapaknya yang halus. "Sayang, kamu dari kecil adalah seorang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati. Kamu mencintai dengan sepenuh hati. Gak ada satu barang, satu mainan pun yang cuma kamu mainkan sekali atau dua. Mereka selalu pensiun kalau sudah tidak berfungsi atau berbentuk lagi. Lihat aja boneka itu."
Mama lalu mengarahkan tunjuknya ke satu boneka lusuh yang tergeletak di sudut rak bukuku. Boneka anak-anak dengan tangan dan kaki yang panjang itu sudah tipis dan penuh jahitan di sana-sini. "See? Sudah bawaan lahir kamu begitu. Namun, Mama yakin sekarang kamu bisa pahami alasan Angga meninggalkan kamu dulu. Dia mau kuliah, Sayang, dan kampus mereka enggak dekat. Kamu bisa bayangkan sendiri seberapa besar pengorbanan yang harus kalian lakukan waktu itu. Dan mengingat umur kalian baru segitu.
"Akhir belasan dan awal dua puluhan tahunan adalah masanya mencari jati diri, Sayang. Mengeksplorasi kemampuan. Bukan dihabiskan untuk meratapi kekasih nun jauh di sana atau menghabiskan hari penuh rasa cemburu dan curiga. Dan, kalau Mama boleh jujur, Mama mendukung keputusan yang diambil oleh Angga dulu. Meski caranya mungkin kurang tepat, tapi tetap saja.
"Kamu boleh marah sama Angga, boleh banget. Tapi, jangan biarkan kemarahan itu mengaburkan akal sehat kamu, logika kamu. Saatnya belajar untuk berpikir tanpa membiarkan emosi mengambil alih semuanya. Saatnya kamu belajar untuk melapangkan dada. Karena kamu sebentar lagi juga akan menjadi seorang ibu seperti Mama. Dan salah satu kunci dari hubungan yang berhasil adalah maaf yang tidak pernah putus. Baik itu hubungan dengan pasangan ataupun dengan buah hati sendiri."
Aku ....
Tidak ada kata yang dapat menggambarkan bagaimana perasaanku saat ini. Maka daripada itu, aku memilih untuk memeluk perempuan bijaksana di depanku itu. Betapa beruntungnya aku dan Bang Oli diberikan Tuhan orang tua sebaik Mama dan Papa. Betapa bodohnya aku sebagai anak tidak menyadari hal ini lebih cepat.
Aku ....
Aku ....
"Terima kasih banyak, Ma. Dan ... dan ... maafin Ola."
Pagutan Mama semakin erat melingkari tubuhku. "Sama-sama, Sayang. Iya. Iya. Mama dan Papa sudah memaafkan kamu dari dulu." Disekanya air mata yang luruh di pipiku dengan kedua telapak tangannya. "Sudah, sudah. Jangan nangis lagi. Nanti cucu Mama jadi ikutan sedih."
Aku mengangguk. Hey, Sayang. Mama gak apa-apa, kok. Mama gak sedih. Mama lagi nangis bahagia aja gegara omamu ini. Baik-baik di dalam sana, ya. Love you.
Bersambung ....
__ADS_1