Papa Untuk Oleander

Papa Untuk Oleander
12. In the Matter of Time


__ADS_3

Ola


"Raisa kenapa, Sayang? Apa dia baik-baik saja?" Suara Mama menembus pikiranku yang dilingkupi kabut perandai-andaian.


Aku menoleh dan mendapati pandangan penuh rasa ingin tahu dari kedua orang itu.


Mama dan ... Angga.


Angga.


Di dalam kolam berwarna cokelat gelapnya itu, kini menari-nari rasa sangat ingin hendak mengetahui apa yang terjadi pada Raisa dan rasa-rasa lainnya. Kucoba selami matanya lebih dalam. Yang kutemui hanya rasa-rasa yang ditujukan untukku.


Lalu bagaimana dengan rasanya? Is he ... alright? Setelah dia mendengar semua yang dikatakan Raisa, apa dia baik-baik saja?


Nanti. Akan kutanyakan padanya nanti.


"Ola?"


Suara Mama kembali mengubah pusat perhatianku. "Oh? Itu. Hm ... gak tahu, Ma. Mudah-mudahan dia baik-baik aja."


"Memangnya dia kenapa, sih?"


Kuembuskan napas panjang. Ini akan menjadi cerita yang sulit. Apalagi dengan keadaanku yang sudah seperti ini. "Dia ... dia kemarin sempat stres karena ... karena belum hamil-hamil juga."


"Oh, dear God," lirih Mama seraya meletakkan tangan di atas dadanya. Raut wajahnya yang semula dipenuhi oleh rasa penasaran kini berganti iba. "Dan dia baru saja tahu kalau kamu sekarang sedang hamil."


"He-eh." Rasa malu membuatku menundukkan kepala. Aku tidak dapat mengeluarkan kata-kata selain itu. Karena berbicara lebih banyak hanya akan membuka a can full of worms dan aku tidak siap untuk menghadapi cacing-cacing itu.


"Mama yakin semuanya akan baik-baik saja," ucap Mama setelah beberapa kala berlalu dalam keheningan. Digosok-gosoknya punggungku dengan gerakan memutar yang lembut. "Kamu juga jangan ikut-ikutan stres mikirin itu, ya? Raisa pasti bakalan ngerti. Kasih dia waktu untuk mencerna semua ini."


Aku mengangguk.


Waktu.


Yeah, waktu.


Seperti ungkapan kuno itu, kan? Hanya waktu yang akan mengungkap semua.


Kita hanya bisa ... menunggu.


****

__ADS_1


Angga


Olavia sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit pagi ini dan terima kasih banyak buat Oliver, yang meskipun harus gue paksa, sudah memberi tahu gue kalau mulai sekarang Olavia akan tinggal di rumah orang tua mereka untuk sementara waktu. Gue setuju sekali karena di sana bakal ada Om Arif dan Tante Yuni yang akan menemani dan mengawasinya selama dua puluh empat jam. Bakal ada asisten rumah tangga yang akan membantu mengerjakan pekerjaan lainnya. Jadi wanita pujaan gue itu tidak perlu mengangkat satu jari pun jika dia memerlukan sesuatu.


Okay, then. Kalau begitu keputusan gue juga sudah final. Tanpa berpikir panjang kali lebar lagi gue segera menghubungi asisten rumah tangga gue.


"Halo. Bi Jumi?"


"Halo. Iya, Den Angga. Ada yang bisa Bibi bantu?" jawab wanita paruh baya di seberang telepon.


Gue langsung saja memberikan instruksi. "Bi, tolong siapkan kamar saya, ya. Juga tolong stok makanan di dapur. Nanti saya kirim list apa saja yang harus dibeli. Kayaknya saya bakal tinggal di sana untuk beberapa waktu ke depan."


"Baik, Den. Nanti Bibi dan Mamang siapkan."


"Oke. Makasih banyak, ya, Bi."


"Sama-sama, Den."


Koneksi terputus.


Well .... Coba tebak siapa yang akan pulang pergi Jakarta-Bogor mulai dari sekarang?


Yep! Bingo.


****


Ola


Raisa tidak membalas chat yag kukirimkan semenjak dua hari yang lalu. Aku juga sudah mencoba menelepon Mas Johan untuk bertanya tentang kabar sahabatku itu. Jawaban yang diberikan Mas Johan kurang lebih sama dengan apa yang Mama katakan.


Beri dia waktu.


Aku .... Di satu sisi aku paham dengan apa yang dirasakannya. Di satu sisi aku tahu aku harus memberikannya waktu untuk menenangkan pikiran. Di satu sisi, aku tahu. Namun, selalu ada sisi yang lain. Dan sisi itu menginginkan sahabatnya ada di saat-saat seperti sekarang ini.


Perang di dalam diriku tidak dapat dihindarkan.


Gejolak di dalam pikiranku tampaknya berhasil mengundang tamu yang lain. Tiba-tiba saja sebuah gelombang yang membawa rasa mual menghantam kerongkongan.


Oh, my God. No.


Bergegas aku menuju kamar mandi. Serangan terus berdatangan hingga akhirnya breakfast bar, biskuit, berries, dan susu serta nasi yang kukonsumsi sedari pagi keluar lagi dari perut ini.

__ADS_1


Sialan.


"Ola?" Tahu-tahu Mama sudah ada di dekatku. "Udah, Nak?"


Kutekan tombol flush di toilet sebelum mengangguk dengan lemah.


"Oke. Ayo, kumur-kumur sama cuci muka dulu."


Mama kemudian membantuku berdiri dan berjalan beberapa langkah ke arah wastafel. Di sana, kusandarkan tubuh ke dinding agar Mama tidak terlalu susah untuk menahanku. Kubersihkan mulut dengan cairan kumur, kubasuh muka dengan air dingin.


Saat melihat ke cermin, aku mulai menemukan jejak-jejak diriku. Tidak seperti seseorang yang ada di sana tiga minggu yang lalu.


"Belum ada kabar dari Raisa?" tanya Mama saat aku merendahkan tubuhku ke atas kasur.


Aku menggeleng.


Beliau menempatkan tubuh kecilnya di sampingku dalam diam.


Berhadap-hadapan kami duduk dalam diam.


Mama pun akhirnya berdeham. "Sweetie."


Aku tahu maksud dari nada itu. Aku paham betul apa yang mengikutinya.


Wanita yang darinyalah kuwarisi rambut bergelombang itu meraih tanganku. "Kamu tahu, kan, kalau kamu bisa menceritakan apa saja sama Mama? Sama Papa kamu?"


Pertanyaan yang tidak perlu kujawab karena dua hal; yang pertama, aku tahu apa jawabannya dan Mama pasti tahu kalau aku sudah tahu; dan, Mama sebenarnya tidak membutuhkan jawaban karena Mama sudah tahu kalau aku mengetahui jawabannya. Walaupun demikian, aku tetap mengangguk.


"Jadi, kapanpun kamu siap, kamu bisa langsung temui kami. Ya?"


Aku mengangguk lagi.


Beliau mendesah. "Kalau Mama boleh jujur, Mama sangat ingin tahu sekali apa yang sebenarnya terjadi sama kamu. Apalagi Papa. Tapi, kami berusaha untuk tetap menghargai dan mempercayai kamu sebagai individu yang dewasa. Makanya kami tidak banyak bertanya.


"Jangan pernah kamu berpikir bahwa kami akan marah karena kesalahan dan masalah yang menurut kamu telah kamu ciptakan. Itu adalah pemikiran yang salah, Sayang. Kami sudah mengusahakan yang terbaik untuk mengajarkan pada kamu dan abangmu apa-apa hal yang perlu diajarkan. Nah, sekarang, sekarang waktunya kamu untuk belajar sendiri. Kami orang tua hanya tinggal menjadi tempat untuk kalian pulang. Tempat kalian mengadu, berkeluh kesah.


"Papa dan Mama tidak akan menghakimi kamu atau abangmu atas keputusan-keputusan yang kalian buat dengan sadar. Karena dari situlah pendewasaan lahir. Mempertimbangkan pilihan, mengambil keputusan yang terbaik menurut kalian, dan menerima konsekuensinya."


Di kalakian, Mama menjulurkan tangan yang tidak sedang menggenggam tanganku ke arah perutku. Diletakkannya telapak yang hangat itu di atas sana untuk beberapa saat sebelum mengelus-elus dari balik dress yang kupakai. "Tapi, Mama boleh bertanya satu hal? Satu saja. Please, Sayang."


Aku tentu saja tidak dapat menidakkan permintaan orang yang telah menyabung nyawanya untukku itu. "Apa, Ma?"

__ADS_1


Untuk pertama kalinya, semenjak memulai percakapan ini, Mama terlihat ragu-ragu. "Kamu ... kamu ... kamu tidak ... bayi ini bukan ... bukan ada ... karena ... karena ... p-paksaan, k-kan?"


Bersambung ....


__ADS_2