Papa Untuk Oleander

Papa Untuk Oleander
26. Akhirnya


__ADS_3

Angga


"Hey, Sayang." Gue menangkup wajah wanita pujaan gue lagi. "Kamu gak boleh ngomong gitu. Itu semua gak benar. Kamu ngerti? Olavia, kamu dengarin aku, kan?"


Meski mukanya menengadah, akan tetapi matanya masih saja mengarah ke bawah. Enggan bertemu dengan tatapan gue.


"Olavia, Sayang, kamu dengar aku, kan?" Gue sapu satu tetes air mata yang jatuh ke pipinya menggunakan ibu jari kanan gue. Saat satu titisan lagi lolos dari kelopak mata nan indah itu, dan lagi, dan lagi, hati gue yang sudah berkeping-keping, pecah lagi.


"Please, Sayang, please. Kamu harus dengarin aku. Kamu harus percaya sama aku. Kamu itu cukup. Kamu lebih dari cukup. Kamu ... kamu segalanya. Cuma aku aja yang bego, si paling tolol, si paling idiot, yang berpikir bahwa ninggalin kamu adalah satu-satunya cara agar kamu bisa menikmati masa-masa sekolah kamu. Agar kamu enggak tenggelam dalam penderitaan long distance relationship sama aku. Aku pikir aku menyelamatkan kamu dengan mengorbankan perasaan dan keinginan aku sendiri. Aku pikir aku memberikan kamu pilihan yang tepat dengan pergi begitu aja dari kamu."


Barulah, setelah mendengar penjelasan gue, akhirnya manik cokelat itu mau menatap mata gue langsung. Dan betapa terkejutnya gue ketika yang gue lihat adalah bola-bola yang berapi-api, bukan pandangan yang lunak.


"Pilihan, kamu bilang? Pilihan? Hah. Lucu banget kamu, Ngga. Mana pilihan-pilihan itu, ha? Mana? AKU GAK PUNYA PILIHAN, ANGGA! AKU GAK PUNYA. AKU HANYA TINGGAL MENERIMA KONSEKUENSI DARI SEMUA PILIHAN YANG KAMU AMBIL. KAMU TIDAK MEMBERIKAN AKU PILIHAN SAMA SEKALI.


"Coba jelasin sama aku, pilihan apa yang ada selain berpikir bahwa alasan kamu ninggalin aku adalah karena aku udah gak ada gunanya lagi buat kamu. Karena kamu yang mau menikmati hidup sebagai seorang mahasiswa dengan bebas, tanpa ada satu ikatan apa pun yang akan menghambat langkah kamu di luar sana. Karena aku enggak cukup untuk menjadi alasan mempertahankan hubungan kita.


"Aku tahu, Ngga, aku tahu bahwa setiap hubungan butuh pengorbanan dan meskipun kamu pikir aku masih bocah, dalam hati aku, aku sudah bertekad untuk bisa melalui itu semua sama kamu. Setidaknya aku ingin mencoba terlebih dahulu. Tapi, apa? Aku gak bisa apa-apa karena kamu mengambil semua kesempatan itu dari aku.

__ADS_1


"Andai kamu berani untuk jujur sama aku, untuk terbuka, untuk bilang segala hal yang ada di dalam pikiran kamu, aku rasa aku siap untuk patah hati, Ngga. Aku siap untuk kamu tinggalin karena aku ikut serta dalam mengambil keputusan itu. Tapi, yang kamu lakukan malah sebaliknya.


"Kamu pengecut, Ngga. Kamu laki-laki paling pengecut yang pernah aku kenal. Seenggaknya, kalau sama Owen, aku mendapatkan closure. Aku tahu kalau aku memang tidak berarti apa-apa buat dia. Aku cuma salah satu perempuan bodoh namun beruntung yang mendapatkan oleh-oleh dari apa yang pernah kami bagi."


Mendengar nama si Berengsek itu, tingkat kegusaran gue langsung berubah. Dari angka nol mendadak naik hingga angka 100 dan terbang ke angkasa. "Najis banget aku dibanding-bandingin sama cowok bangsat yang gak tahu tanggung jawab itu. Jangan pernah lagi kamu bandingin aku sama dia, ngerti kamu? Aku gak sebejat itu. Aku gak setolol dia. Aku gak sekotor pria sampah kayak dia," geram gue. "Tapi, aku senang akhirnya kamu mengkonfirmasi asumsi aku selama ini. Jadi aku bisa memastikan siapa target bogem mentah aku ini."


"Angga!" Olavia menepis tangan gue. "Jangan berani-berani kamu ikut campur sama urusan aku!"


"The hell I won't!" Gue tidak tahan untuk tidak membantah dia. "Apa, ha? Setelah apa yang kamu lalui, kamu masih mau membela si Bajingan Bangsat itu?"


"Si Bajingan Bangsat itu gak tahu apa-apa, Ngga!" Wanita pujaan gue itu kemudian mengembuskan napas panjang. "Aku rasa Owen masih gak tahu kalau aku sedang mengandung anak dia."


Namun, pertanyaan gue hanya dijawab dengan keheningan. Gue tunggu, dan tunggu, dan tunggu, akan tetapi apa yang gue tunggu tidak kunjung muncul. "Sayang, maksud kamu apa? Kamu gak ngasih tahu dia kalau kamu hamil? Kenapa, Sayang? Dia harus tahu. Setidaknya dia harua tahu kalau akan ada seorang anak yang mempunyai bagian dari DNA dia."


Dihelanya napas panjang sekali lagi.


Gue menjadi semakin tidak sabaran. "Olavia?"

__ADS_1


"Udah lah. Gak usah ngomongin soal dia lagi. Biarin aja. Aku capek." Di kalakian tanggapan itu ke luar dari bibirnya.


Namun, gue tetap tidak bisa membiarkan hal ini begiru saja. "Tapi, aku–"


"Angga, stop." Dia lagi-lagi memotong omongan gue. "Kalau aku bilang udah itu, ya, udah. Okay? Lagian gak ada urusannya juga sama ... lo."


"Oh, nice." Gue tergelak. "Kita sekarang balik lagi pakai panggilan lo-gue, huh? Terserah kamu aja. Whichever you use, it will be fine with me. Asal aku bisa bareng sama kamu lagi."


"Whatever." The love of my life mengibaskan tangannya. "Dan, ya, soal itu." Olavia kemudian menelekan tangannya ke lantai untuk dijadikan tumpuan bagi badannya yang berusaha diangkatnya.


Gue segera berdiri agar bisa membantu wanita pujaan gue itu untuk berdiri pula.


"Gue pengen tahu, kenapa lo mau melakukan semua ini buat gue? Apa alasan di balik semua sikap siap siaga dan I'll do anything for you lo ini, hm?Terlebih-lebih lagi sekarang, of all time, ketika gue mengandung anak dari laki-laki lain. Apa lo menganggap gue terlalu menyedihkan sehingga lo berpikir lo bisa jadi tentara berbaju zirah mengkilap dan menyelamatkan gue? Atau lo berpikir dengan ini lo bisa menebus semua kesalahan yang pernah lo lakukan? Apa, Ngga? Hah?


"Asal lo tahu, ya, gue bukan damsel in distress, jadi gue tidak butuh siapa pun untuk menyelamatkan gue. Gue bisa melakukan ini tanpa ada pasangan. Gue cuma butuh keluarga gue. Dan itu lebih dari cukup. Dan kalau soal menebus kesalahan yang pernah lo buat, gak usah dipikirin lagi. Gue udah coba maafin semuanya dan move on.


"Lo bisa lihat, Ngga, gue sekarang punya tanggung jawab yang besar dan gak main-main. Gue bentar lagi mau lahiran, mau punya anak. Jadi gue mau fokus sama anak gue dulu. Gue gak bisa ngurusin hal-hal yang enggak penting. Apalagi cuma orang yang berniat setelah utangnya lunas, dia pikir dia bisa kabur tengah malam kayak sebelumnya lagi. No, no, no. Gue gak bisa membuang energi gue buat itu.

__ADS_1


"Jadi, kalau lo cuma mau menghapus rasa bersalah yang ada di dalam diri lo, it's okay. Lo gak perlu melakukan apa-apa lagi buat gue dan anak gue. Gue udah maafin lo. Serius. Sekarang lo boleh pergi dan get a move on. Tinggalin gue sama anak gue sendiri."


Bersambung ....


__ADS_2