Papa Untuk Oleander

Papa Untuk Oleander
32. Jalan ke Hati Olavia


__ADS_3

Ola


Hari ini benar-benar mengenyangkan dan melelahkan. Aku tidak menyangka bahwa perjalanan yang kubayangkan hanya akan membawa senang malah juga menyertakan rasa yang lainnya.


Hidup memang seperti itu, bukan? Selalu menjaga keseimbangan dengan menghadirkan sesuatu secara berpasangan. Laki-laki dan perempuan. Kiri dan kanan. Besar dan kecil. Berat dan ringan. Suka dan duka. Tawa dan tangis.


Makan-makan dan kontraksi palsu.


Yang tadi itu adalah pengalaman Braxton Hicks pertama yang kurasakan selama kehamilan. Pantas saja aku dibuatnya sebegitu terkejut. Aku pikir aku benar-benar akan melahirkan di atas BMW 2 Series Coupé hitam yang dibawa oleh Angga tadi.


Untung saja tidak jadi. Kalau saja terjadi, aku tidak bisa membayangkan seperti apa trauma yang akan aku berikan pada cowok itu. Sudahlah mobilnya akan menjadi sangat sangat sangat kotor, teriakanku dan apa-apa yang akan disaksikannya akan menghantui Angga seumur hidup.


Well, fiuh to that. Syukurlah itu semua tidak kejadian. Segala puji bagi-Mu, Tuhan yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, dan Maha Segalanya. Ternyata, meski bergelimang dosa, Dia masih sayang padaku dan Angga. Terutama pada bayi ini.


Kuelus-elus perutku yang sudah sangat besar. Setelah mengembuskan napas panjang, aku bergumam di dalam hati.


Maafkan Mama kalau Mama bikin kamu shock sama makanan sebanyak itu, ya, Sayang. Habis, Mama bawaannya mau aja setiap kali lihat makanan. Apalagi makanan yang Mama makan tadi. Enak-enak semua, kan? Kesukaan Mama, tuh. Kalau lagi jalan ke Puncak pasti mampir di sana dulu. Gimana? Kamu juga suka? Apa ada yang kurang cocok sama selera kamu makanya kamu melakukan aksi protes tadi itu?


By the way, kamu benar-benar bikin Mama kaget, loh, Sayang. Serius. Gak pernah-pernahnya perut Mama tegang begitu. Saking kaget dan paniknya, Mama refleks teriak. Tadi kamu dengar, kan, teriakan Mama kencangnya kayak apa? Histeris banget sampai Mama yakin Mama udah bikin Om Angga itu jantungan.

__ADS_1


Mama rasa Mama juga udah bikin dia ikutan panik. Tapi, Mama tahu dia mencoba menyembunyikan kepanikan yang dia rasakan dari Mama dengan sekuat tenaga. Alasannya pasti karena dia gak mau bikin Mama tambah senewen juga.


Yep. You heard that right. Aku tahu Angga tadi juga sangat cemas, akan tetapi dia berusaha keras menyurukkan perasaannya demi aku. Aku bisa melihat dari cara dia menggigit bibirnya. Juga bagaimana dia membuka dan menutup kepalan tangannya berkali-kali. Hal-hal yang selalu dilakukan oleh pria itu ketika dia merasakan cemas atau gelisah.


Mama juga dengar dia keceplosan manggil Mama pakai sebutan sayang lagi beberapa kali. Tapi, tasi Mama tidak terlalu mempermasalahkannya karena ... ya, Mama gak mau menjadikannya masalah. Juga karena ... hm ... kalau Mama boleh jujur sama kamu, Mama suka saat dia memanggil Mama dengan sebutan itu. Bikin Mama ingat sama masa lalu kami, you know. Dan bikin rasa-rasa yang pernah ada di dalam hati Mama hidup kembali.


Mama pernah dengar suatu kalimat, entah itu dari orang bijak, atau dari film yang Mama tonton, buku yang Mama baca, Mama lupa. Yang penting, bunyinya kira-kira seperti ini. Seseorang akan menunjukkan sifat aslinya di saat-saat genting. Dan, Mama jadi teringat sikap Angga tadi. Apakah dia benar-benar masih mencintai Mama seperti yang dia katakan? Apakah rasa cintanya benar-benar sebesar itu sampai bisa bertahan selama lebih dari sepuluh, sebelas tahun ini?


Menurut kamu, gimana? Mama harus gimana, Sayang? Apakah Mama harus tetap mempertahankan prinsip Mama, berhati-hati dalam mengambil sikap, lebih mementingkan akal sehat daripada perasaan ini, atau apakah Mama harus kembali mengikuti kata hati? Apakah Mama boleh mengikuti kata hati Mama dengan begitu saja?


Apa yang harus Mama lakukan?


Angga


"Thanks, Ngga, udah nganterin aku keliling-keliling tadi," ucap Olavia saat berbalik ketika dia sudah berhasil membuka pintu apartemennya.


Oh, well. Gue ....


"Aku masuk dulu."

__ADS_1


Sebelum sempat wanita pujaan gue itu membuka pintu, gue mencegah gerakannya dengan meletakkan tangan gue di atas lengannya yang lembut. "Eh, sorry, Olavia. Sorry. Jadi ... jadi gini. Eng .... Aku pikir, engg .... Apa ... apa aku boleh nginap di sini dulu? Aku ... aku takut kalau nanti kamu mengalami hal yang kayak tadi lagi. Lagian, kalau aku balik ke rumah, aku yakin aku gak bakalan bisa tidur karena mikirin kamu terus. Makanya aku beranikan diri untuk bilang ini sama kamu. Engg ... apa ... apa boleh? Aku bisa tidur di sofa aja, enggak apa-apa, kok. Asal ada dekat kalian. Asal aku bisa dengan mudah ngecekin kalian setiap waktu."


Well, gue tidak tahu apa yang gue katakan barusan terdengar seperti apa oleh Olavia. Gue tidak peduli kalau gue kelihatan seperti orang bodoh karena omongan gue yang gagap dan gue yang terlihat tidak yakin. Gue akui gue memang tidak yakin karena gue tidak tahu apa tanggapan dia. Yang jelas, gue sudah menyampaikan apa yang ada di dalam pikiran gue, yang gue nilai cukup baik, kepada wanita nomor dua yang paling gue cintai di dunia itu. Terserah dia mau bilang apa.


Yep. Terserah dia. Kalau pun dia menolak ditemani, gue bisa nongkrong di depan pintu ini sepanjang malam. Tiduran di atas karpet koridor yang gue debunya tujuh turunan ini pun gue oke-oke saja. Asalkan gue ada di dekat mereka.


Kurang lebih gue sampaikan hal ini pada wanita di hadapan gue. Setelah mendengar kenekatan gue, mata indahnya melebar. "Eeeew, no!" Dia berseru. "Kamu gak boleh tidur di depan sini. Kotor, Ngga!"


Sekonyong-konyongnya senyum mengembang di bibir gue. "Jadi, aku boleh nginap, nih?" Gue bertanya untuk memastikan.


Olavia mengembuskan napas panjang. Gue yakin ekspresi tak habis pikir yang terpasang di wajah cantiknya itu hanyalah kepura-puraan. Dia tahu dengan pasti bahwa gue akan melakukan apa saja yang gue bisa untuk dia. "Iya, boleh. Tapi, aku gak mau tanggung jawab kalau besok pagi badan kamu pegal-pegal karena posisi tidur yang gak nyaman di sofa kecil aku itu. Kamu harus janji kalau kamu gak bakalan protes. Jangan protes ke aku, oke? Terima sendiri akibatnya dengan lapang dada." Diarahkannya ujung jari telunjuknya ke hidung gue.


Kalau gue tidak dipaksa untuk menjaga sikap, sudah gue tangkap dan gue masukkan ke hidung gue jari lentik dan sulter girly tersebut. "Oke, oke. Aku janji. Aku gak akan protes. Malahan, aku rencananya mau bikinin kamu sarapan pancake plus choco chips besok pagi. Gimana? Kamu mau, kan?"


"Yes!"


Gue bilang kalau gue sudah tahu jalan menuju hati Olavia. Jangankan jalan rayanya, jalur tikus pun gue sudah hafal. Percaya, deh!


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2