Papa Untuk Oleander

Papa Untuk Oleander
38. Tegang


__ADS_3

Angga


"Yaaang." Gue mengetuk pintu kamarnya tiga kali. "Sayaaang." Saat masih tidak ada sahutan, gue kembali mencoba memanggilnya. "Sayaaang. Olavia."


Lalu, sayup-sayup terdengar jawaban dari dalam kamar, akan tetapi gue tidak bisa menangkap apa yang diucapkan. "Yaaang, kamu lagi di kamar mandi, ya?"


Suara itu terdengar lagi.


Oookay. Sepertinya gue harus masuk. Ketika gue memutar kenop, pintu terbuka dengan mudah. Ada suatu rasa puas di dalam diri gue. Senang rasanya mengetahui kalau Olavia mendengar saran yang gue berikan. Gue meminta dia untuk tidak mengunci pintu kamar. In case terjadi apa-apa, gue bisa dengan cepat berada di sana untuk menolong dia.


Gue memperhatikan sekeliling saat berada di dalam ruangan yang paling mencerminkan Olavia itu. Bantal-bantal dekoratif dengan warna pastel dan motif bunga-bunga berserakan di mana-mana, sebagian besar ada di atas tempat tidur. Di satu sisi dinding berdiri sebuah rak yang hampir penuh dengan buku. Meja rias yang rapi, tidak terlalu banyak *****-bengek makeup di atasnya karena, thank God, wanita pujaan gue itu hanya menggunakan bedak dan kawan-kawannya secara minimalis. Dan gue suka dengan kenyataan itu. Menurut gue malahan dia tidak perlu menutupi kecantikan alami yang dia punya menggunakan bahan-bahan artifisial tersebut. Cukup dengan wajah yang fresh sehabis dicuci saja, dia dengan gampangnya sudah menjadi wanita yang paling cantik di dunia. Saat gue mendekat, betapa terkejutnya gue ketika melihat botol yang sangat familier. In fact, gue punya botol yang sama di rumah.


Seberapa besar kemungkinan bahwa itu botol parfum yang pertama kali dia beli? Mungkinkah? Saat gue ulang tahun yang kedelapan belas, Olavia menghadiahi gue sebotol parfum. Dia bilang dia juga punya satu botol di rumah. Jadi, saat dia kangen gue saat gue di luar negeri untuk kuliah nanti, dia tinggal menyemprotkan parfum itu ke baju-baju gue yang dia simpan.


Fxck. Gue tidak tahu kenapa gue bisa lupa dengan satu detail itu. Namun, kenangan ini mengingatkan gue pada hal-hal yang terjadi belakangan ini. Olavia sangat suka memakai baju gue.


God damn it. Tiba-tiba saja ada rasa menyelekit di dada gue. Gue benar-benar berutang kebahagiaan yang tak terhingga pada wanita yang telah gue sakiti itu.


Sambil menggeleng, gue beralih dan melanjutkan ekspedisi gue di dalam kamar Olavia. Jika kalian pikir setelah membereskan semua urusan di masa lalu kami, gue dan dia akan langsung terjun ke tempat tidur yang sama, kalian salah besar. Ini pertama kalinya gue masuk ke kamar dia. Biasanya, saat gue panggil, dia langsung ke luar.


Gue sangat menghormati keputusan dia untuk menjalani ini dengan slow dan gue juga sependapat. Gue ingin dia memusatkan perhatian pada buah hatinya terlebih dahulu. Lagian, gue juga tidak akan ke mana-mana. So? We're taking this relationship at her pace. We can go as slow or as fast as she wants. No pressure.


Yang jelas, Olavia dan gue akan tetap berakhir bersama.

__ADS_1


Di sebelah meja rias ada dua buah pintu besar yang dilapisi cermin dan gue yakin ini adalah pintu lemari pakaian built-in milik Olavia. Gue segera berlalu. Selain tidak berniat untuk melangkahi privasinya lebih jauh, gue juga tidak ingin menantang diri sendiri dengan melihat apa saja yang ada di dalam sana. Gue tidak percaya dengan reaksi gue sendiri.


Okay. Sebaiknya kita langsung ke tujuan utama saja. Sudah cukup aksi intip-mengintipnya.


Di kalakian gue melangkah menuju satu-satunya ruangan yang lain di kamar ini. Gue ketuk lagi pintunya tiga kali. "Yang? Sayang."


Kali ini gue bisa mendengar sahutannya dengan lebih jelas. "Iya. Aku di kamar mandi!"


Gue tergelak sambil memasukkan tangan ke dalam saku celana kargo hitam yang gue pakai. "Iya, iya. I know. Aku ada di dalam kamar kamu, nih. Sorry, aku masuk tanpa permisi. Soalnya aku panggil dari tadi jawaban kamu gak jelas." Gue menjelaskan.


"Iya, gak apa-apa. Kenapa, Ngga?" jawabnya dari balik pintu.


"Enggak. Aku cuma mau nanya kamu pengen apa buat makan malam. Biar nanti kamu gak terlalu lama nunggunya."


"Terserah kamu aja. Aku ngikut."


"Hm. Tunggu," pinta Olavia yang kemudian terdiam. Terdengar suara tutup botol sampo atau botol sabun terbuka.


Oh, my fxcking God. Keheningan yang ada membuat otak gue lari ke tempat yang tidak seharusnya gue kunjungi. Dengan susah payah gue menolak ajakannya. Namun, setelah mencoba berhitung mundur dari seratus menggunakan bahasa Mandarin yang tidak gye kuasai sama sekali dan menggigit tangan yang gue kepal kuat-kuat, gue akhirnya kalah.


Tahu-tahu bayangan-bayangan itu berputar-putar di kepala gue.


Olavia ada di dalam sana. Dia jelas sedang mandi. Saat mandi, otomatis dia tidak akan menggunakan pakaian. Kalau badannya tidak dibalut oleh benang sehelai pun, dia berarti sedang ....

__ADS_1


God fxcking damn it, Angga! Stop thinking about her nakxd body, you pervert!


Gue tahu, gue tahu. Namun, gue tidak bisa. Semakin gue mencoba, bayangan itu malah semakin merajai kepala gue.


Fxcking hell!


Gue sadar sekali dengan darah yang sedikit demi sedikit menjadi lebih fokus untuk mengalir ke kepala gue yang ada di bawah. Sialan, sialan, sialan! Gue harus melakukan sesuatu.


Saat gue hendak kabur dari tempat kejadian perkara, Olavia yang tidak tahu apa yang terjadi di dalam diri gue menyeletuk, "Yang, aku mau pecel ayam dari angkringan dekat apartemennya Bang Oli. Terus sekalian beliin bubur jagung, ya, kalau ada. Sama rujak."


Oh, thank God. Tidak ada yang lebih bisa mendinginkan darah panas gue daripada nama sahabat sekaligus kakak dari wanita pujaan gue itu. Gue embuskan napas panjang. Setidaknya gue bisa selamat sekarang. "Oke, aku cari dulu, ya. Kamu gak apa-apa ditinggal sendiri?"


"Gak apa-apa, Yang. I will be fine. Habis mandi nanti aku tunggu kamu di kamar aja."


Oh, shxxxxt. Kenapa, sih, dia harus berkata seperti itu? Dia gak tahu aja apa yang sedang gue perjuangkan di balik pintu ini.


Come on, Angga. Pikiran lo jangan balik ke sana lagi. Please. Take control of yourself. Sekarang bukan saatnya mikirin gimana licin dan wanginya kulit Olavia setelah mandi.


Fxxxxxck. Kenapa lo harus bahas itu, sih, ha? Dasar gxblok emang lo!


Gue kepalkan tangan gue dengan sekuat tenaga, berharap ketegangan di otot-otot gue bisa mengalihkan pikiran dari ketegangan sesuatu hal lain yang tidak dikehendaki di saat ini tersebut. "Okay, I'll be right back!" seru gue pada wanita pujaan hati yang membuat gue gila di balik pintu. Tanpa berpikir panjang, gue segera saja melarikan diri dari sana.


Sialan.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2