
Angga
Love you, guys.
Love you.
Gue belum pernah sekali pun bilang itu ke Olavia semenjak kami memutuskan untuk memulai apa yang jelas belum selesai sewaktu kami masih remaja. Oh! Gue ingat. Waktu itu kami pernah bertukar kata we love you, akan tetapi itu tidak dapat dihitung. Bukannya gue mau mengerdilkan arti kata "we" di sana, ya, bukan. Namun, it didn't sound really personal to me. We love you tidak dapat menggambarkan perasaan gue yang sesungguhnya kepada wanita itu.
So, yeah. It didn't count. Dalam catatan gue, gue masih belum menyatakan kalau gue mencintai Olavia secara pribadi kepada dia.
Gue sadar kalau gue tidak pernah mengatakan itu pada dia. Gue belum mengutarakan tiga kata sakral itu bukan karena gue tidak merasakan makna yang dipunyai kata-kata itu di dalam hati gue (beuh! Kalian pasti tidak akan percaya kalau gue bilang delapan huruf itu sering banget ingin melompat dari ujung lidah gue ini, akan tetapi masih berhasil gue tahan), akan tetapi karena gue masih ingin membiarkan Olavia terbiasa dengan keberadaan gue dulu.
Kalian ingat sendiri kalau dia ingin kami menjalani dulu hubungan ini. Kalian pasti ingat kalau dia meminta waktu untuk menyesuaikan diri dengan semuanya. Kalian pasti masih ingat dia ingin take this relationship one day at a time.
Dan kalian pasti audah hafal dengan moto gidup gue; gue ingin memberikan semua keinginan Olavia itu padanya.
So, here we are.
Annnd, shxt. This makes me think of something else.
Urusan minta restu pada Om Arif dan Tante Yuni yang gue rencanakan sebelum ini.
Hm.
Apa yang harus gue lakukan?
Apa yang sebaiknya gue lakukan?
****
__ADS_1
Kedatangan gue disambut oleh tawa tanpa gigi yang dilakukan oleh Oleander yang sedang berada di dalam pelukan mamanya. Setelah turun dari mobil, gue segera masuk ke dalam rumah keluarga Arifin. Tanpa ba bi bu, gue lantas menyongsong dua orang yang gue rindukan itu. Mereka sedang bermain di lantai di depan sofa ruang tengah.
Gue sambar Oleander yang langsung tertawa saat gue mengangkat tubuhnya tinggi dengan tangan di bawah kedua ketiaknya. Lalu gue tiupkan raspberry di perutnya yang gembul. Kakahan bayi laki-laki tersebut memenuhi ruangan yang besar.
"Aku gak tahu apa aku harus cemburu atau senang," ucap suara feminim dari belakang gue. "Soalnya baru datang aja kamu langsung nyariin anak aku, bukan mamanya dulu." Di kalakian gue rasakan pagutan lengan yang ramping miliknya di sekeliling pinggang. Kepalanya diaandarkan ke punggung gue. Kecupan yang didaratkan oleh bibirnya di sana bisa menembus kain dari baju Henley polos berlengan pendek yang gue pakai sekarang.
Fxck, man. Sensasi ini ... sensasi yang diberikan oleh keberadaan dua orang ini di dekat gue, di dalam genggaman gue, fxxxxck. Tidak ada yang bisa menandingi kedamaian dan kepuasan serta rasa bahagia yang gue rasakan di dalam hati gue. Diri gue yang dari kemarin merasa aneh, canggung, sumbang seketika saja berubah menjadi lengkap. Hawa mengantuk yang gue bawa dari Jakarta tadi, yang masih bisa meng-knock out gue meski gue sudah menghabiskan iced Americano dengan dua shot espresso dalam waktu yang relatif singkat, tiba-tiba saja pergi, menguap ke udara.
Sekonyong-konyongnya tubuh gue merasa bugar, otak gue segar, dan hati gue menjadi lebih tenang.
Ini adalah sebuah pengalaman yang tidak sering terjadi. Ini adalah sebuah pengalaman yang hanya terjadi pada orang tertentu, di waktu-waktu tertentu saja.
Gue merasa inilah saat yang tepat. Gue tidak akan menemukan saat yang lebih tepat daei ini lagi.
Gue menarik tangan gue yang masih terjulur tinggi ke atas secara perlahan, berhati-hati agar gue tidak mencederai Olavia menggunakan siku gue. Setelah itu, gue kedikkan bahu gue sedikit, cukup untuk memberikan isyarat pada Olavia untuk pindah.
Meski gue merasa kehilangan ketika lengannya tak lagi ada di pinggang gue, akan tetapi perasaan itu tidak berlangsung lama karena wanita pujaan yang paling gue cintai di dunia itu langsung memasukkan tubuhnya ke dalam ruang yang gue buat di antara lengan dan tubuh gue. Walau membutuhkan beberapa manuver untuk menyesuaikan posisi (gue tidak mungkin melepaskan topangan tangan gue dari punggung Ole yang masih belum tegap dan efek positif yang disebabkan oleh kehamilan dan periode menyusui pada badan Olavia), akhirnya gue bisa melalukan sesuatu yang sudah gue impikan dari kemarin; memeluk kedua pemilik hati gue sekaligus.
"I love you." Gue menyemburkan tiga kalimat sakti itu tanpa ba bi bu. Tak ada basa-basi yang perlu diucapkan sebelumnya.
Karena badannya menempel di badan gue, gue bisa merasakan ketika tubuh Olavia menegang setelah mendengar kata-kata itu. Kemudian dia mendongak. Matanya yang berbentuk tetesan air, membulat. "What?" tanyanya nyaris tanpa suara. Rasa terkejut sudah membuat kata yang ke luar dari mulutnya mempunyai komposisi delapan puluh persen udara dan dua puluh persen lainnya barulah berupa bunyi.
Dengan posisi seperti ini, gue bisa mengucapkan kata-kata itu langsung ke titik matanya yang cokelat. "I love you."
Mulutnya ternganga sebentar sebelum tertutup. Ternganga lagi, kemudian tertutup lagi. Hal ini terjadi berkali-kali, membikin dia seperti ikan yang sedang megap-megap di daratan. "Y-you d-do?" Dia meminta konfirmasi.
Sepertinya tingkat kepekaan yang ada di diri gue saat ini sangat tinggi karena gue bisa "merasakan" semua yang terjadi. Gue sepenuhnya sadar dengan apa pun yang setiap otot di dalam tubuh gue lakukan. Sekarang gue bisa merasakan tarikan awal di sudut-sudut bibir gue. Dan di saat itu juga gue tahu kalau gue akan memberikan wanita yang masih menengadahkan kepalanya di bawah kepala gue itu senyum paling besar dan paling tulus. Karena jujur saja, gue merasa saat ini adalah saat yang paling membahagiakan buat gue setelah waktu yang sangat lama. "I love you, Olavia Marie Arifin," aku gue di antara senyum yang sepertinya tak ingin pindah dari wajah ini.
Olavia menilik satu per satu mata gue. Dia sepertinya sedang mencari sesuatu di sana. Entah dia senang karena menemukan apa yang dicari atau tidak menemukan apa yang diduganya ada, sudut-sudut bibirnya pun mulai merekah. "Yeah?" tanyanya masih dengan suara yang sebagian besarnya adalah udara.
__ADS_1
"Yeah." Gue menjawab dengan mantap. Meski yang ke luar dari mulut gue adalah suara yang otherworldly seperti yang dikeluarkan Olavia, akan tetapi hal itu tidak mengurangi makna dan kemantapan yang gue rasakan di dalam sini.
"You sure?"
Sudah gue bilang gue hidup untuk mewujudkan semua yang dia inginkan. Dan tentu saja gue mengabulkan keinginan Olavia ketika dia minta lebih diyakinkan lagi. "One hundred percent, Sayang. One hundred percent." Gue semakin menunduk guna merendahkan posisi kepala gue hingga akhirnya kening gue dan kening wanita yang paling gue cinta itu menempel satu sama lain. Hidung kami kini bersisian. Posisi ini membuat semuanya terasa lebih intimate karena apa yang lebih dalam dan lebih dekat dari berbagi udara yang kau hirup?
Tidak ada. Tidak ada. Dengan jarak yang tak bisa disebut berjarak ini, gue merasa lebih, lebih, lebih dekat dengan wanita di hadapan gue ini daripada saat kami berbagi pengalaman pertama kami dua belas tahun yang lalu. "Kalau ini bisa membuat kamu lebih yakin lagi, aku akan bilang kalau aku tidak pernah seyakin ini di lain kesempatan. Itulah seberapa besar keyakinan aku sama perasaan aku ke kamu. Betapa aku yakin meletakkan pilihan aku sama kamu," tambah gue masih dengan setengah berbisik.
Intensitas pernapasan kami semakin meningkat seiring dengan waktu yang berlalu dalam penantian. Keheningan yang intens menjadikan setiap detik yang berjalan semakin penuh antisipasi. Perhitungan-perhitungan itu kami bagi dalam setiap embusan napas Olavia yang menjadi udara yang gue hirup. Gue tidak peduli dengan teori yang menyatakan bahwa menghirup karbondioksida tidak menyehatkan bagi tubuh. Yang jelas, gue tidak peduli. Kalau bisa, gue mau selamanya sedekat ini sama dia.
"I ...." Akhirnya wanita gue membuka suaranya. Dengan setengah mendesah, dia mengungkapkan dengan pelan. "I ... I love you, Anggarasyah Emilio Addams."
God daaaamn. Sudah begitu lama rasanya gue menunggu kalimat itu ke luar dari bibirnya yang seksi. Bibir yang menggoda bibir gue dengan bayang-bayang sentuhan sekilas di setiap kata yang dia ucapkan. Bibir yang menarik bibir gue untuk mendekat dan pada akhirnya menyegel bibir gue dan bibirnya hingga menyatu.
Satu kecupan.
Dua kecupan.
Tiga kecupan.
Kecupan-kecupan singkat yang terasa pure setelah pengakuan suci yang kami ungkapkan sebentar ini.
Gue terlebih dahulu membuka mata yang tidak disadari menutup dengan sendirinya saat bibir kami bertemu. Dan gue sangat, sangat, sangat bersyukur melakukan itu karena gue dapat menyaksikan bagaimana kelopak mata Olavia bergetar dengan indah sebelum terangkat, bagaimana gerakan itu membuat bulu matanya yang lentik menari-nari. Membikin gue semakin jatuh hati pada pemiliknya.
Di saat mata tersebut akhirnya terbuka dan menatap gue balik, gue bisa merasakan detak jantung wanita gue itu semakin cepat. Hantaman demi hantaman terasa di rusuk gue paling bawah, tulang yang melindungi hati, my literal heart. Setiap dentumannya memaku perasaan kami, semakin erat, semakin dekat, semakin tak terpisahkan.
It's a bliss. This lips are the bliss. She's a bliss. They're the bliss I've been waiting for these past twelve fxcking years.
Sekarang gue tahu langkah apa yang harus gue ambil untuk kami ke depannya.
__ADS_1
Bersambung ....