
Angga
Gue tidak menyangka bahwa cinta pada pandangan lertama itu benar-benar ada. Cinta yang sebenar cinta, bukan sekadar nafsu yang berkamuflase dan mengatasnamakan cinta. Bukan. Ini perasaan rela mengorbankan diri lo untuk orang yang lo cintai. Mendahulukan semua keperluan orang tersebut di atas keinginan dan kepentingan lo. Rela menukar nyawa lo agar orang yang lo cintai bisa tetap hidup dan memiliki kesempatan untuk bahagia.
Perasaan yang seperti itu.
Dan gue merasakannya saat mata gue menangkap sosoknya untuk pertama kali.
Oleander Prince.
Bayi bermata cokelat besar, berambut tipis dengan kulit putih sebersih buah bengkuang yang baru dibuka. Hidungnya mancung, bibirnya merah. Tangisnya luar biasa keras. Sepertinya dia sangat bersemangat untuk bergabung dan menjadi penduduk bumi.
Sama seperti mamanya yang tampak begitu haru menyambut kedatangan sosok mungil berdampak besar itu. Air mata Olavia tak berhenti mengalir semenjak Dokter Sheila memberikan bayi itu ke pangkuannya untuk yang pertama kali. Senyum tak lepas dari wajahnya yang lelah, penuh keringat. Dia tidak peduli dengan rambutnya yang kusut atau pakaiannya yang tak beraturan lagi. Yang menjadi pusat perhatian dan dunianya adalah bayi yang berumur beberapa jam itu.
Oleander Prince.
Gue ingat betul percakapan yang kami punya soal nama ini. Awalnya gue cuma penasaran apakah dia sudah memikirkan nama yang akan dia berikan untuk calon bayi di dalam kandungannya. Gue tidak menyangka satu pertanyaan sederhana itu bisa membawa Olavia pada sebuah sesi panjang soal obsesinya terhadap makna yang diwakilkan oleh bunga-bunga yang ada di dunia. Bagaimana dia kemudian menemukan sebuah bunga, yang meski berbentuk semak-semak dan sering tumbuh liar, tanaman oleander memiliki bunga cantik dengan berbagai warna; dari warna merah muda, putih keunguan, hingga kuning.
"Dalam bahasa kebungaan, oleander boleh jadi berarti desire, destiny, and caution as well as romantic love. Setelah membaca itu, aku merasakan sesuatu di dalam hati aku. Kayak ada yang menariknya dan membuat aku menyimpan nama ini di dalam catatan yang aku buat. Pas aku buku lagi catatan itu, artinya mengingatkan aku pada perjalanan yang aku punya sehingga aku sampai mendapatkan dia.
__ADS_1
"Karena desire yang besar, you know, untuk mendapatkan cinta sejati dan yang aku rasakan saat itu, dia ada. Dia yang menjadi takdir, mengukir nasib, dan memperjelas untung hidup aku. Dia yang menjadi pengingat agar aku melangkah dengan hati-hati. Dia yang akan menjadi kunci dalam hubungan percintaan aku di masa depan. Karena siapa pun yang mendekati aku, tentu mereka harus melewati anak aku terlebih dahulu."
Well. Gue akui gue agak geram mendengar kalimat terakhir yang dia ucapkan, akan tetapi tidak gue ungkapkan. Bagaimana tidak? Kalimat itu tidak benar. Siapa pun yang ingin mendekati Olavia, sebelum mereka menghadapi Oleander, mereka harus melangkahi mayat gue dulu. Dan gue akan berusaha sampai titik darah penghabisan untuk memastikan bahwa gue tetap hidup dan menghabisi mereka semua.
Karena, kalau penjelasan gue di atas tidak cukup jelas, cuma gue yang boleh menjadi pendamping hidup Olavia dan penjaga bagi mereka berdua.
"Selamat, ya, Olavia, Angga. Sekarang ibu dan baby sudah bisa beristirahat. Kami permisi dulu."
Suara Dokter Sheila mengembalikan pikiran gue ke masa sekarang. Gue suka sekali bagaimana Dokter yang gue tebak sudah berkepala empat itu memasukkan gue ke dalam kelompok sehingga kami terdengar seperti keluarga. Hm. Gue pastikan gue bisa menemukan cara untuk memberi dokter ini bonus buat shopping tipis-tipis. "Thanks, Dok."
Sesaat kemudian arak-arakan dokter dan perawat itu ke luar dari kamar, meninggalkan gue, wanita yang paling gue cintai, dan bayi laki-lakinya.
Gue tidak bisa membantah Olavia. He really is perfect. "Of course. Because you are the mother," jawab gue dengan sepenuh hati.
"Dih, mau-maunya kamu gombalin ibu-ibu beranak satu yang tampangnya gak karuan kayak aku begini." Dia memprotes.
Langsung saja gue patahkan omong kosongnya itu. "Mau anak satu, kek, lima, kek, lima belas ... aku gak peduli! Bagi aku semua yang ada kamunya itu perfect. Lagian aku gak gombal, kok. Aku serius. Kamu aja yang gak percaya."
Dia tersenyum, tersipu. "Thank you." Olavia lalu mengembuskan napas dengan pelan. Begitu berhati-hati dengan apa yang dilakukannya. "Dan terima kasih banyak karena kamu udah nemenin aku. Aku ...." Wanita pujaan gue itu menggeleng. "Aku yakin udah bikin kamu trauma seumur hidup.
__ADS_1
Gue ikut-ikutan menggeleng. Tidak mau ambil pusing dengan apa yang diucapkannya barusan. Entahlah. Kenapa dia bisa berkata seperti itu, gue tidak tahu. Gue hanya bisa berharap suatu hari nanti dia bisa melihat dirinya sendiri dari kacamata gue. Agar dia akhirnya tahu betapa menakjubkannya sosok dia di mata gue. Dan gue juga hanya bisa berharap bahwa suatu saat dia dapat mengerti perasaan gue ini. Agar dia tahu bahwa gue rela melakukan apa saja untuk dia. Dan kini juga untuk Oleander.
"Udah, ah. Jangan asal nyablak aja. Mulai sekarang, kamu gak boleh ngomong kayak gitu lagi di depan aku dan Ole. Ngerti? Emangnya kamu mau kami marahin, ha?" Gue kecup keningnya untuk kesekian kali. "You're amazing. You're perfect. And we love you."
Oh, hell. Gue tidak bermaksud mengatakan kalimat itu sekarang. Namun, apakah boleh gue bilang kalau setidaknya gue masih beruntung karena gue menggunakan kata we dan bukan I?
Dari wajahnya yang mendongak, gue bisa melihat mata Olavia membulat. Jelas dia terkejut dengan kata-kata itu. "What did you just say?" tanyanya dengan nada percaya tak percaya.
Namun, setelah gue pikir-pikir lagi, apa salahnya mengucapkan sesuatu yang jujur? Memang benar kami, dalam hal ini gue dan Oleander, mencintai perempuan di hadapan kami ini. So? Lagipula, siapa tahu dia benar-benar butuh mendengar kata-kata seperti itu sekarang. "You are amazing." Gue tekankan setiap kalimat dengan menggunakan jeda di antaranya. "You are perfect." Gue ucapkan setiap kalimat dengan perlahan agar dia paham kalau gue memang memaknai setiap kata yang ke luar dari mulut gue. "And ... We love you, Sayang."
Sebuah "oh" yang lirih lepas dari bibirnya bertepatan dengan jatuhnya setitik air bening dari mata cantik itu. Diciumnya kening Oleander sambil terisak.
Gue juga lantas membungkus mereka dengan pelukan gue. "Aku yakin kamu bakal jadi ibu terbaik buat jagoan ini, Sayang. Dan aku akan selalu berada di samping kamu, mendukung kamu, in every step of the way."
"Thank you," ungkapnya di tengah tangis yang tertahan. "Thank you. And ... we love you too."
Ya, Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang! Apakah gue baru saja mendengar apa yang gue pikir gue dengar?
Bersambung ....
__ADS_1