
Angga
Fxck. No. Meninggalkan Olavia bukan pilihan. Gue sudah bilang ini dari awal. Gue sudah berjanji sama orang tua dia. Gue juga sudah berjanji sama sahabat gue. Terlebih lagi, gue sudah berjanji sama diri gue sendiri.
Gue dulu pernah membuat kesalahan. Gue tidak akan membuat kesalahan yang sama sekali lagi.
Gue sudah bilang kalau gue tidak sebego itu.
"No." Gue langsung membantah ucapan wanita itu. Walau dia adalah satu-satunya cewek yang gue puja selain Nyokap, bukan berarti gue akan setuju-setuju saja sama semua yang ke luar dari bibir seksi kepunyaannya. "Enggak, aku gak mau."
Untuk kesekian kali, gue memasukkan wajah dia ke dalam genggaman gue dan memegangnya dengan lembut. Gue tatap dia tepat di tititk matanya. Gue harap, dengan begitu dia bisa melihat kesungguhan hati yang terpancar dari bola mata gue. Gue harap itu akan sedikit memberikan dia keyakinan bahwa gue berkata jujur, bahwa gue benar-benar memaknai segala yang gue katakan. "Aku tahu aku pernah salah sama kamu, Sayang, tapi aku sudah berkomitmen sama diri aku sendiri kalau aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
"Aku minta maaf. Aku minta maaf karena sudah mengambil keputusan sendiri dan dengan bodohnya lebih memilih lari daripada memberi tahu apa yang aku rasakan sama kamu. Aku minta maaf karena sudah meninggalkan kamu sendirian, tengah malam, dan .... Dan ...." Fxck. Gue benar-benar tidak bisa menyebutkan kata itu. Membayangkannya saja berhasil membikin bulu kuduk gue merinding. Gue mual dengan sikap gue sendiri. "Aku sungguh-sungguh minta maaf, Sayang. Itu murni karena kebodohan aku aja. Bukan karena aku ingin meninggalkan kamu. Gak pernah sekali pun tebersit niatan itu di hari aku.
"Aku mau kamu. Aku mau kita. Aku mau bisa bareng sama kamu kayak dulu lagi. Aku gak peduli kamu sedang mengandung anak siapa. Yang jelas, yang menjadi poin penting dan yang paling utama bagi aku adalah, anak ini merupakan bagian dari kamu dan aku ingin bisa mencintai kamu secara keseluruhan. Dia anak kamu, jadi aku juga akan mencintai dia. Titik. Aku gak peduli soal apa pun selain itu."
"Jangan asal ngomong kamu, Ngga. Kamu pikir segampang itu, ha? Semua itu gak gampang. Kamu jangan asal ngomong, kamu jangan asal janji. Kamu jangan–"
Kini giliran gue yang memotong kalimat dia. "No, kamu salah. Aku yakin aku bisa karena mencintai kamu adalah hal yang paling mudah yang pernah aku lakukan."
"No, you are not listening. Aku–"
"No. You are the one who is not listening. Dengarin aku. Aku akan buktikan semua ucapan aku sama kamu, dengan atau tanpa persetujuan kamu."
Gue semakin menunduk sehingga hanya ada paling tidak lima belas sentimeter di antara wajah kami. Gue melakukan itu dengan maksud agar dia bisa melihat kesungguhan dalam diri gue dari jarak yang lebih dekat. "Aku bersungguh-sungguh sepuluh, sebelas tahun yang lalu dan aku pun sama sungguh-sungguhnya sekarang, Sayang.
"I love you, Olavia Marie Arifin, dan aku akan mengusahakan usaha terbaik aku agar kamu bisa melihat itu. Agar kamu bisa merasakan itu. Agar kamu bisa mendapatkan itu. Agar kamu bisa menyadari itu. Agar kamu bisa percaya kalau aku betul-betul mencintai kamu. Setelah bertahun-tahun, sebelas tahun yang panjang dan menyiksa kalau kamu mau aku lebih detail lagi, aku masih saja jatuh cinta sama kamu dan aku pikir aku akan selamanya begitu. Aku pikir aku tidak akan pernah bisa menghilangkan perasaan ini.
__ADS_1
"Karena kamu, Olavia Marie Arifin, adalah bagian paling vital di dalam hidup aku. Gak akan ada aku tanpa kamu, Sayang. Kamu boleh aja memilih untuk tidak percaya. Tapi, aku punya sebelas tahun untuk menjadi buktinya dan kamu tidak bisa memungkiri itu."
Hening. Hanya keheningan yang menyapa gue setelah pidato gue yang panjang. "Sayang? Could you please say something?"
Dia menarik wajahnya dari tangan gue dan menunduk. Ujung jarinya sekonyong-konyongnya mulai memainkan kain bajunya. "Aku ... aku gak bisa, Ngga," ungkap Olavia lirih setelah beberapa waktu lagi berlalu dalam diam.
"Gak bisa apanya, Sayang?" Gue meminta penjelasan. Gue tidak mau cepat-cepat mengambil kesimpulan. Gue tidak mau menerima kata tidak bisa itu tanpa alasan yang bisa gue terima.
"Aku ... aku gak bisa. Kita ... semua ini .... Aku .... Aku ...." Dia terbata-bata dan menggeleng.
Bingung. Gue bisa baca itu dari body language dan kalimatnya yang tidak selesai.
Gue .... Bolehkah gue jujur dan berkata kalau gue senang dengan hasil pengamatan gue ini? Setidaknya, kalau dia bingung, berarti di dalam hatinya masih ada rasa bhat gue. Setidaknya, kalau dia bingung, dia masih mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang ada.
Setidaknya gue masih punya harapan.
"Hey, hey, hey." Kali ini gue genggam tangan wanita pujaan gue itu agar gue bisa mendapatkan perhatian penuh dari dia lagi. Gue kecup kedua punggung tangannya dengan lembut. "Kamu gak harus mikir apa-apa lagi. Kamu gak usah mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu. Okay? Aku di sini untuk stay sama kalian. Aku gak akan ke mana-mana lagi. Aku akan jaga kalian dengan seluruh jiwa dan raga aku. Jadi, kamu bisa fokus sama kesehatan kamu dan bayi yang ada di dalam sana. Okay? Biarkan aku yang meng-handle urusan lain selain itu."
****
Ola
Kutatap mata Angga dengan saksama. Kucoba cari celah yang bisa menguak dustanya bila memang ada. Namun, setelah bergantian menyisir bola-bola berwarna cokelat kehitaman itu, yang kudapat hanya ... ketulusan.
Entahlah. Aku tidak tahu apa yang aku lihat benar atau tidak. Yang jelas, Angga benar. Aku tidak dapat membuang waktu, tenaga, dan pikiranku untuk hal-hal lain selain aku dan bqyiku. Aku tidak akan membahayakan keselamatan kami lagi.
Itulah kenapa akhirnya aku mengangguk. Rasanya sungguh ... menenangkan mengetahui ada orang-orang yang mau menjagamu sepanjang hari dan memenuhi semua kebutuhanmu di setiap waktu. "Okay."
__ADS_1
Senyum itu muncul lagi.
Jantungku berdenar lagi.
Aku rasa aku juga tidak akan pernah bisa lepas dari sihir yang dikeluarkan oleh senyuman Angga. Senyum yang bisa menyinari seluruh wajahnya.
"Thank you. Thank you, Sayang. Aku senang banget akhirnya bisa mengungkapkan itu semua ke kamu," jelas Angga yang di kalakian memeluk tubuhku.
Ah, wangi ini.
Tubuh ini.
Pria ini.
"Tapi, Ngga, kamu jangan panggil-panggil aku Sayang lagi, ya. Please. Aku ... aku jadi merasa terbebani dengan panggilan itu. Aku dan kamu sekarang hanya berteman. Dan teman biasanya gak pake sayang-sayangan." Aku memberikan alasan.
Ya, benar. Itu hanya alasan. Bukannya aku tertekan dengan panggilan itu, akan tetapi jika Angga terus menerus memanggilku dengan sebutan Sayang, aku yakin aku akan terlena dan melupakan semuanya.
Pada akhirnya, aku sadar aku tetap akan mengambil keputusan. Tentang kami.
Setelah bayiku lahir nanti. Mungkin.
Berarti aku masih punya waktu tiga hingga empat bulan ke depan.
Well, aku rasa cukup.
Hm. Apakah akan cukup?
__ADS_1
Bersambung ....