
Ola
Angga : hi
Angga : good morning
Angga : gmn tidurnya semalam?
Angga : hope everything is ok
Beberapa pesan dari Angga yang masuk pagi ini baru terbaca olehku. Kulirik jam di layar ponsel Sekarang sudah pukul satu lewat dua puluh tiga past meridiem. Hampir enam jam setelah pesan-pesan itu terkirim.
Olavia : sorry
Olavia : gue baru pegang hp
Baru saja pesan itu bertukar status jadi delivered, mereka sudah dibaca. Well ... that's fast.
Lalu, ponselku berbunyi. Huh? Langsung ditelepon? Okaaay, then.
"Halo?"
"Hi." Terdengar jawaban dari seberang sambungan. "How are we feeling today?"
Oh. Straight to the chase, aren't we? Good. "Good, good. Gak ada insiden lagi."
Tawa Angga meledak mengingat apa yang kami katakan sebagai "insiden".
"Perut gue juga udah mulai aman. Mungkin karena udah masuk minggu kedua puluh empat juga kali, ya? Dokter Sheila bilang, kan, hilangnya berangsur-angsur. Mudah-mudahan segera stabil lah. Biar gue bisa beraktivitas lagi. Suntuk banget di rumah gak ada kerjaan."
Angga hanya berkata, "Well ...." Setelah itu, dia kembali diam. Tidak terdengar lanjutan kalimatnya.
Hm. Kenapa dia? Kehabisan kata-kata? Mulai bosan sama aku? Tidak tertarik sama apa yqng aku bahas? Apa akunya yang overshare?
****. Kenapa aku yang jadi overthinking gara-gara si Beruang Gak Jelas ini?
__ADS_1
Jangan terlalu dipikirkan, Olavia. Jangan terlalu diambil pusing. Terserah apa yang mau dia lakukan dan tidak lakukan. Itu pilihan dia. Bukan urusan kamu.
Namun ... sekali lagi, it is easier said than done. Aku terus saja memutar otak, terbawa arus terlalu banyak berpikir dan hanyut oleh prasangka sendiri. Dengan sebuah kata tanya terbesar mendominasi ruang di otakku. KENAPA?
Kenapa Angga kemudian diam saja?
Apa dia sudah lelah menyetir dari Jakarta ke Bogor setiap kali dia mengecek kondisiku ke rumah Mama dan Papa? Well .... Kalau diingat-ingat lagi, Angga memang datang ke rumah hampir setiap hari selama sebulan ini. Saat berhadapan, dia memang tidak mengatakan apa-apa. Namun, bisa saja dia menyimpan rasa capeknya di dalam hati, kan?
Dan sekarang rasa itu sudah sampai di puncaknya.
No. No, no, no, no.
"Hey, Ngga. Ngg ... gue ... gue harus pergi. Ada sesuatu yang mau gue kerjain. Makasih udah nelepon gue. See ya. Bye!"
****
Angga
Lah? Kenapa Olavia main langsung matikan telepon gue aja? Padahal, kan, gue belum selesai ngomong?
Oh, my fxcking God!
Yes, yes, yes. Di kesempatan yang lain gue akan aemakin memuja-muja the love of my life itu karena kemandiriannya, work ethic-nya, kerja kerasnya. Namun, no way in hell, gue kurang setuju sama sifat keras kepalanya untuk saat ini.
Come the fxck on, dia lagi hamil, man! Hamil! Dan hamilnya juga disertai dengan kondisi mual dan muntah yang parah. Memang, sih, sekarang gejalanya sudah mulai berkurang. Dia, thank God, sudah merasa stabil dan enakan. Namun, siapa yang bisa menjamin kalau nanti semua itu tidak akan balik lagi setelah dia bekerja, kelelahan, dan banyak pikiran? Siapa yang bisa jamin kalau dia akan baik-baik saja saat menyetir, pakai sepatu hak tinggi kebanggaannya itu, dan makan tidak teratur? Siapa yang bisa menjamin, ha? Siapa?!
Gue jadi stres sendiri memikirkan semua itu sedangkan dia baru merencanakan apa yang dia inginkan.
Kalau begitu, adakah di antara kalian yang mau tahu apa keinginan gue setelah mendengar keinginan Olavia? Right. Terserah ada yang mau atau enggak. Yang jelas gue tetap akan share. So, here it is.
Gue pengen bungkus dia pakai bubble wrap yang tebal, lalu membawa dia ke rumah yang gue buat untuk kami. Terus di sana gue akan memberikan semua yang dia butuhkan dan inginkan. Tanpa dia harus bekerja sedikit pun untuk mendapatkannya. Apa-apa tinggal menjentikkan jari dan, voila! Muncul di depannya.
Gue pengen dia selalu sehat, aman, dan nyaman. Melahirkan bayinya dengan sehat, membawa bayi tersebut pulang ke rumah ini lagi, dan kami akan membesarkannya bersama-sama sambil berusaha untuk membuat bayi-bayi kami sendiri. Kami akan menjadi keluarga yang bahagia selamanya.
Gimana? Terdengar sempurna, bukan?
__ADS_1
Teet. Wrong! Itu terdengar terlalu ... egois, bahkan di telinga gue sendiri.
God damned it. Gue benar-benar bingung.
Gue ambil ponsel yang tergeletak di atas breakfast bar yang sudah mengkilat. Dapur yang tadinya berserakan juga sudah selesai gue bersihkan sementara gue bergumul dengan pikiran sendiri. Untung gue udah selesai makan siang sebelum menelepon Olavia tadi. Kalau sebaliknya, gue pasti akan kehilangan nafsu makan.
Dua kali gue mencoba menghubungi, operator mengatakan kalau nomor yang gue tuju sedang sibuk dan untuk mencoba beberapa saat kemudian. Gue, karena kecenderungan gue untuk membangkang, segera saja mengulang panggilan gue lagi tanpa menunggu. Hal ini setidaknya berhasil membuat gue tertawa sendiri.
Dasar Angga sialan. Ketahuan aja lagi stres. Receh banget humornya.
Si Kampret akhirnya mengangkat panggilan gue saat gue telepon dia untuk yang ketujuh kalinya. "Oi. What's up?" jawabnya dari seberang sana.
"Di mana lo?" Gue langsung menodong dia dengan pertanyaan penuh tuntutan.
Gue bisa mendengar sahabat gue mengembuskan napas keras-keras melalui suara statis yang ke luar dari speaker ponsel. "Gue lagi di jalan, nih, Nying."
"Mau ke mana lo emangnya?"
"Ke rumah bonyok."
Telinga gue langsung tegak. "Ngapain ke Bogor? Bukannya lo mau ke Singapur, ya?"
"Itulah, man." Gue rasa dia meniup napas panjang lagi. "Barusan Nyokap nelepon. Katanya si Lala mau balik ke apartemen dia. Bosan di rumah, makanya dia mau masuk kerja lagi."
****. That's fast. And it seems like it's happening. ****. "Terus?" Gue bertanya, mencoba untuk mendapatkan info soal situasinya.
"Ya, Nyokap khawatir lah. Makanya Mama telepon gue buat bujuk Lala biar gak jadi balik dulu."
Okaaay. Fiuh. Terima kasih, Tuhan, ternyata bukan cuma gue yang berpikiran seperti itu. "Iya. Gue juga abis teleponan sama Olavia. Dia juga bilang gitu ke gue."
"Serius lo?" Lalu gue mendengar beberapa kata rutukan ke luar dari mulut Oliver. "Ya, udah. Lo sekarang di mana? Masih di Beniqno apa udah di klub?"
Oh, ****. Gue harus cari jawaban dengan cepat. "Eh, gue udah on the way, nih." Jawaban yang ini adalah bohong. "Soalnya, kan, kemarin lo bilang lo mau ke luar negeri. Jadi, gue pikir gue aja yang bakal standby di Bogor. Just in case." Yang ini baru jujur.
Bersambung ....
__ADS_1