
Angga
Belum ada seorang pun selain gue, pemilik lama rumah itu, dan realtor yang tahu kalau gue sudah punya rumah sendiri sepuluh menit jaraknya dari rumah orang tua Oliver dan Olavia. Rumah yang, jika Tuhan dan takdir merestui, akan gue jadikan surprise di hari pernikahan kami nanti. So, meskipun masa depan hubungan gue dan the love of my life masih abu-abu pekat sekarang, gue tidak mau merusak kemungkinan. I don't want to jinx it.
Oliver lantas tertawa mencemeeh, tak pelak bisa langsung menemukan udang di balik batu. "Heh. Lagak lo. Just in case, huh?" katanya. Gue bisa membayangkan bagaimana tampangnya sekarang. Berapa besar sudut kemiringan bibirnya yang jago sekali meledek gue itu.
Namun, tidak dapat dipungkiri, gue merasa ... lega karena kami sudah kembali seperti dulu lagi. Damn. Life is pretty good lately.
Olavia sudah baikan. Gue bisa ketemu dan ngobrol basa-basi sama wanita pujaan gue hampir setiap hari. Persahabatan gue dan Oliver bisa diselamatkan. Orang tua gue juga telrihat dan terdengar bahagia banget sama perjalanan kapal pesiar yang sedang mereka nikmati pas kami videocall-an kemarin.
Terima kasih banyak, Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
"Jangan sok-sokan just in case, deh, lo, Kunyuk. Lo langsung ke rumah aja kalau gitu. Gak usah nyari hotel. Gue yakin kamar lama lo belum dijadiin gudang sama Nyokap."
Si Kampret itu cuma bercanda. Gue tahu pasti soal ini karena keluarga Arifin tidak butuh gudang tambahan ketika mereka punya bangunan terpisah dari rumah utama yang mereka jadikan sebagai tempat penyimpanan barang-barang tidak terpakai sebelum melakukan lelang. "Kampret lo! Udah, ah. Sampai ketemu di rumah."
"Yo'i."
"Eh, tapi–"
__ADS_1
Sambungan sudah terputus sebelum gue menyelesaikan kalimat gue. Di saat-saat terakhir, tiba-tiba saja sebuah pemikiran muncul. Bagaimana kalau nanti Olavia tidak menginginkan gue ada di sana saat dia melakukan pembicaraan itu dengan keluarganya?
Right? Gue bukan siapa-siapa. Gue cuma sahabat abangnya. Gue jelas tidak punya hak untuk bersuara.
Jadi apa yang harus gue lakukan?
****
Di kesudahannya gue memutuskan untuk tetap datang ke rumah keluarga Arifin. Gue memperkirakan waktu kedatangan Oliver dan gue juga berangkat pada pukul segitu dari rumah gue.
Namun, ternyata perkiraan gue meleset jauh, jauh banget karena gue datang di saat pembicaraan mulai memanas di dalam. Gue bahkan bisa mendengar suara-suara dari foyer.
"Kalau begitu, biar Mama ikut kamu. Biar Mama ikutan tinggal di apartemen kamu. Jadi ada yang bisa ngawasin kamunsaat kamu di rumah. Ada yang siapin makan juga. Yang mengingatkan kamu minum vitamin dan segala macamnya. Ya?"
"Tapi, kondisi kamu lagi seperti ini, Sweetie. Mana bisa Mama dan Papa liburan dengan tenang kalau kamu masih sakit begini?"
"Tapi, Ola, kan, udah baikan, Ma. Ola udah gak mual dan muntah lagi, kan? Ola udah siap buat aktivitas lagi. Lagian Mama dan Papa tahu kalau Ola paling gak bisa duduk tenang di rumah. Ola harus mempertahankan kepercayaan klien-klien kantor Ola, Ma. Pa!"
Langkah gue melambat. Keragu-raguan kembali menyelimuti. ****. Gue harus apa ini, ya, Tuhan?
__ADS_1
Kaki yang tetap bergerak meski melambat mungkin adalah jawaban dari Tuhan buat gue. Jadilah gue melanjutkan perjalanan menuju arah suara yang gue tebak dari ruang tengah.
"Olavia, baby girl. Calm down, okay?" Kali ini suara berat Om Arif yang memantul di dinding-dinding ruangan. "Mama kamu cuma khawatir sama kamu dan bayimu, Sweetheart. There's no need to raise your voice to your mother like that."
"Sorry, Ma. But, Pa ...."
Kaki gue kalakian berhenti di antara foyer dan ruang tengah di mana sekarang sedang dijadikan tempat kejadian perkara oleh pemiliknya. Gue mengintip dari balik dinding pembatas, mencoba untuk mendapatkan gambaran seperti apa suasana yang sebenarnya.
Di antara keempat orang tua dan anak itu,hanya Olavia yang berdiri dan dengan posisi yang agak agresif. Om Arif dan Tante Yuni tengah duduk di sofa di seberang meja kopi. Sementara Oliver duduk di sofa sebelah kanan wanita pujaan gue. Walaupun demikian, tetap saja posisi ketiganya dengan tubuh yang didudukkan di tepi kursi dan condong ke depan memperlihatkan bahwa mereka juga sama tegangnya. Namun, berusaha untuk tidak terlalu mencolok karena tidak ingin mendorong Olavia untuk bersikap lebih agresif lagi.
Well ... waktu yang gue sisihkan untuk menjadi si paling pendiam dan si paling broody selama di kampus terbayar sudah. Karena sudah terbiasa mengamati, gue tidak perlu mengambil kelas khusus soal body language untuk bisa memahami sikap orang lain.
"Lala, come on. Coba lo dengarin apa yang Papa dan Mama bilang. Kita cuma pengen yang terbaik buat lo. Sekarang lo udah gak sendirian lagi, La. Lo udah punya tanggung jawab. Maka dari itu lo gak bisa mengambil keputusan dengan asal-asalan lagi. Lo harus pertimbangkan baik dan buruknya. Karena, let's face it, apa yang lo kerjain bakal mempengaruhi anak yang ada dalam kandungan lo itu."
Setelah mendengar penjelasan Oliver, wanita pujaan gue lantas terduduk. Badannya seketika lesu. Segala fighting spirit, sikap keras kepala, dan keagresifan yang ada di dalam dirinya sekonyong-konyongnya menghilang, ke luar daei badan yang sudah kembali berisi dan sehat itu.
"Pa, Ma, please. Bolehin Ola balik ke Jakarta lagi. Ola janji bakal jaga makan, minum vitamin, gak terlalu sibuk. Ola janji Ola akan baik-baik aja. Please, please, please. Kemarin Mama bilang kalau Mama dan Papa selalu berusaha untuk menghargai dan mempercayai keputusan Ola sebagai individu yang dewasa, kan? Sekarang, Ola minta Mama dan Papa buktikan apa yang kalian bilang itu. Dan Ola akan buktikan kalau sekarang Ola juga udah bisa jadi orang dewasa yang bertanggung jawab."
Okay, then. Cukup. Gue tidak kuat jikalau harus mendengarkan isak dan tangis the love of my life daei balik dinding ini lebih lama lagi. Kali ini gue mengambil langkah yang cepat dan besar, berniat untuk sampai secepatnya di samping wanita pujaan gue dan membungkusnya ke dalam pelukan. "Hey, baby. It's okay. It's okay. Shh. It's okay. Shh. Shh. I'm here."
__ADS_1
Guncangan dari isak dan tangis itu tiba-tiba saja berhenti. Olavia segera menarik tubuhnya dari pagutan gue dan mendongak. Saat matanya yang merah dan berair bertemu dengan mata gue, alisnya mengerut. "Angga?"
Bersambung ....