Papa Untuk Oleander

Papa Untuk Oleander
35. Mama dan Kekuatan Supernya


__ADS_3

Ola


Setelah menonton (dan kali ini giliranku yang membanjiri tubuh seksinya dengan air mata dan ingusku—ya, Tuhan! Astaga, aku tidak percaya aku baru saja mengatakan itu), kami memilih membersihkan diri dan memesan makan siang. Maksudku, aku masuk ke kamar mandi dan Angga sibuk menelepon orang restoran untuk mengatur menu makan siang dan mengantarkannya ke sini.


Aku .... Rasanya ....


Aku tidak bisa berkata-kata.


****


Angga


Setelah memesan apa yang Olavia inginkan, tuna sandwich, mashed potato, salad, dan tentunya milkshake pisang dan kurma, gue meminta Dimas untuk mengantarkannya langsung karena gue sekalian ingin mengecek soal restoran dengannya.


Olavia sedang tidak ingin ke luar dan gue juga tidak ingin meninggalkan dia sendirian. Jadilah, manager restoran itu yang gue suruh ke sini.


Setelah mematikan telepon, gue kembali ke ruang tengah lagi. Gue duduk di sofa bersejarah itu lagi. Bukan karena apa-apa, akan tetapi di sinilah gue dan wanita yang paling gue cintai itu melakukan rekonsiliasi. Karena di sinilah hubungan gue dan dia dimulai lagi.


Fxck. Man, gue .... Gue masih tidak percaya dengan apa yang tadi terjadi.


Gue menyandarkan tubuh an meletakkan kepala gue di atas sandaran. Sembari menengok ke langit-langit apartemen, gue embuskan napas panjang penuh kelegaan. Damn. Gue tidak percaya ternyata Tuhan sesayang itu sama gue.


Gue janji bakal berbuat baik lebih sering lagi mulai dari sekarang.


****


Ola


Aku disambut oleh counter yang penuh dengan makanan dan sapaan dari Bang Dimas. "Eh, La. Gimana? Udah gak lama lagi, nih, kayaknya."


Aku tersenyum. Kuelus-elus perutku yang tertutup kaus gym tak berlengan milik Angga itu. "Iya, nih, Bang. Perkiraan dokter, sih, sekitar dua minggu lagi. Gak tahu kalau baby-nya."


"Terserah maunya kapan, yang penting kamu sama dia sehat," celetuk Angga yang kemudian mengecup puncak kepalaku.

__ADS_1


Mata Bang Dimas melebar melihat kelakuan Angga. "Eh ... loh ...." Bang Dimas terbata. "Duh! Ya, iya lah!" Dia kesudahannya berseru dan menggeleng. "Pantesan aja si Bos overprotektif banget sama kamu. Ternyata couple, toh?"


Aku tergelak dan menoleh pada Angga. Tidak mengejutkan. Dia ternyata sedang mengirimkan tatapan menusuknya pada pegawainya itu. "Udah, ah." Aku menepuk dadanya lembut. "Jangan galak-galak."


Bang Dimas yang takluk oleh pelototan bosnya itu pun meringis. "Sorry, Bos."


Kudengar Angga berdeham. "Ya, udah. Makan, yuk. Abis itu kamu bisa telepon Om sama Tante. Tapi, baru jam setengah dua, sih. Apa kamu yakin mereka udah bangun? Masih pagi banget, loh, Yang, di Belanda."


"Udaaah. Mereka mau tur keliling kota yang terakhir sambil nyari oleh-oleh katanya. Yuk, ah, makan. Acara nangis-nangis tadi bikin aku lapar banget sekarang."


Alis mata Bang Dimas langsung naik tinggi ke dahinya. Dia mungkin sedang berpikir apa yang aku maksud dengan acara bertangis-tangisan itu.


"Oh, maksud kamu, eh, maksud kamu, kamu yang nangis karena nonton film barusan. Iya, kan?" Sekarang giliran Angga yang tergugu-gugu. "Ya, udah. Yuk, makan. Lo sekalian makan, Dim."


****


Aku memilih untuk menghubungi Mama dan Papa dari sofa yang kini menjadi tempat favoritku dan meninggalkan Bang Dimas dan Angga di dapur. Meskipun begitu, aku masih bisa mendengar suara mereka sayup-sayup sampai dari sini saat membicarakan soal pekerjaan.


Panggilan videoku diangkat setelah deringan ketiga. Tampak muka Mama yang masih fresh, belum dipoles makeup, memenuhi layar. "Hai, Sweetie. Good morning."


"Oh, iya. Di sana udah siang, ya? Gimana cucu Mama? Udah makan? Kalian aman, kan? Gaj terjadi apa-apa, kan?" Mama memborbardirku dengan segudang pertanyaan.


Aku memilih untuk tidak menceritakan detail hari kemarin. Yang penting, kan, intinya semua baik-baik saja. "Gak ada, Ma. Semua aman. Dan cucu mama udah makan, kok. Banyak."


"Good. Good. Tunggu Oma pulang, ya. Oma punya banyak oleh-oleh buat kamu," ungkap Mama dengan nada girang.


Tawa seketika saja lepas dari bibirku. Semenjak usia kandungan delapan bulan dan kami mulai mengumpulkan peralatan yang diperlukan oleh si bayi, Mama sudah menggunakan kata ganti Oma untuk dirinya ketika dia berbicara denganku. Yang bisa Papa, Bang Oli, dan aku lakukan hanya geleng-geleng kepala dan menurutinya saja. Biarlah Mama excited menyambut kedatangan cucunya daripada sikap yang sebaliknya, kan? "Okay, Oma. Thank youuuu. Jangan lupa bawain oleh-oleh buat anaknya juga, yaaa. Mentang-mentang mau punya cucu, anak sendiri mulai terlupakan."


Kalau ada sesuatu hal yang benar yang dikatakan oleh orang-orang di luar sana, itu adalah cucu merupakan pemegang kasta tertinggi di dalam keluarga besar. Apalagi cucu pertama.


Mama tertawa. "Iya, iya. Calon ibu jangan ngambekan, ih. Mama juga beliin oleh-oleh buat kalian, kok. Buat Angga juga." Wanita paruh baya itu pun berkedip.


Bisa kulihat di layar ponsel pipiku yang merona merah.

__ADS_1


"Loh? Kenapa kamu jadi merah gitu? Bagian mana dari kalimat Mama yang bikin kamu tersipu, ha?" Mama menggoda. "Hayooo. Pasti ada yang kamu belim ceritakan sama Mama. Ya, kan? Ayo, ngaku kamu."


Oh, my God. Mama dengan seribu satu kekuatan supernya.


Aku mengumpulkan keberanian beberapa detik sebelum mengungkapkan bahwa, "Aku dan Angga udah baikan."


"Ya, Tuhan, Gusti nu Agung. Honey, honey!" Mama berteriak memanggil Papa yang entah di mana. Dia menyerah saat Papa yang dipanggil tak kunjung menyahut. "Papa kamu, tuh, ya. Dari dulu, kalau lagi di kamar mandi setiap dipanggil pasti gak pernah nyahut."


Kini aku yang terbahak-bahak. "Ya, ngapain juga, Ma? Malas banget di kamar mandi harus teriak-teriak."


Wanita yang melahirkanku itu memutar bola matanya. "Terus, terus? Si Angganya mana? Mama mau ngomong, dong."


Jelas aku langsung menolak permintaan itu. "Ih, Mama. Mau ngomongin soal apa coba? Jangan bikin malu, deh."


Dia memutar bola matanya sekali lagi. "Dih, kamu. Jangan suuzan dulu makanya. Mama, kan, cuma mau ngobtol biasa aja. Udah dua hari ini dia gak nelepon Mama. Mama juga bisa kangen sama dia, tahu!"


Heh? Ini benar-benar informasi yang sangat baru bagiku. "Angga sering neleponin Mama emangnya? Pas Mama lagi jalan-jalan ini? Iya, Ma?" Kini giliranku yang mendesak Mama dengan pertanyaanku yang segudang.


"Oops." Mama menutup bibirnya menggunakan telapak. "Mama keceplosan, ya?"


"Iiih, Mama gak usah banyak gaya, deh. Ayo, ceritaaa. Angga sering neleponin Mama, kan?"


Kulihat Mama mengembuskan napas tanda menyerah. Seulas senyum menghiasi bibirnya. Dia kini berbicara dengan nada yang lebih tenang, penuh penghargaan. "Iya, Sweetie. Dia bilang dia perlu laporan sama Mama dan Papa. Tapi, kami menganggap itu sebagai bentuk kepedulian dia sama kamu. Bentuk keseriusan dia memegang janjinya soal menjaga kamu sama kami. Dan, oleh karena itu, Mama rasa Papa kamu sekarang menaruh respect yang lebih besar lagi sama dia. Jadi, dia sekarang bukan sekadar teman abang kamu, tapi seseorang yang lebih. Gimana, ya, Mama ngomongnya? Lebih aja, gitu."


What? Angga melakukan semua itu? Walaupun bentuknya sangat sederhana, hanya menginformasikan kepada Mama dan Papa soal keadaanku, atau dalam bahasanya "laporan", akan tetapi sikap itu sangat ... sangat dewasa sekali.


"Mama senang sekali dengar kalian akhirnya balikan lagi."


"Loh? Aku bilang baikan, Ma, bukan balikan." Aku mencoba mengoreksi.


Namun, tetap saja. Mama dan super power-nya. "Apa bedanya baikan dan balikan? Toh, kalian tetap sama-sama lagi, kan?"


Oh, my God. Jangan bilang kalau dari dulu Mama sudah tahu soal kedekatanku dengan sahabat abangku itu.

__ADS_1


Oh. My. God!


Bersambung ...


__ADS_2