
Ola
"Ya, sudah. Untuk ke depannya, kamu jangan ragu kalau ingin cerita ke Mama, oke? Apa pun itu, Mama dan Papa akan selalu ada buat kamu. Abang kamu juga. Dan ... sepertinya Angga juga tidak akan ke mana-mana." Idih, si Mama masih sempat-sempatnya menggoda.
"Iiih, Mama. Apaan, sih?" gerutuku dengan setengah malu.
"Mama berharap kalian berdua bisa meluruskan benang yang kusut ini secepatnya. Mama suka sama Angga, Sayang. Bisa jadi karena kita sudah kenal dia lama sekali. Tapi, di samping itu, Mama juga punya firasat kalau dia memang anak yang baik-baik. Di balik tampangnya yang sekarang lebih serius dan lebih misterius itu, Mama yakin dia masih Angga yang sama dengan dia versi remaja yang pakai kacamata.
"Tapi, semuanya Mama serahkan sama kalian lagi. Kalau kalian mau, silakan. Restu Mama sudah ada di tangan kalian. Kalau rasanya enggak mungkin lagi untuk bersatu, ya, enggak apa-apa juga. Berarti kalian bukan jodoh untuk masing-masing."
Ouch.
What was that?
Apa yang baru saja menusuk sudut hatiku? Kenapa rasanya perih sekali ketika Mama menyinggung soal adanya kemungkinan kami tidak berjodoh.
Kenapa, sih, kamu Olavia? Kenapa kamu merasa seperti itu? Bukannya kamu memang tidak menginginkan Angga lagi? Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau di antara kalian tidak akan pernah ada apa-apa? Ingat kamu pernah mengatakan hal seperti di depan dia dan Mbak Lina?
Oh, my God.
Kalimat yang diucapkan Mama beberapa saat yang lalu kembali terngiang di telinga.
Saatnya belajar untuk berpikir tanpa membiarkan emosi mengambil alih semuanya.
Mama benar. Selama ini aku telah membiarkan emosiku tidak hanya mengambil alih akal dan pikiran, akan tetapi juga lidah ini.
Oh, my God. Berapa banyak kata-kata yang aku katakan pada saat aku dibutakan oleh rasa marah dan tidak kusadari telah menyakiti perasaan Angga?
Kenangan-kenangan beberapa bulan belakangan ini berkelebat di dalam kepala.
Oh, my God.
Oh, my God. Olavia! Apa yang sudah kaulakukan?
Dan kenapa Angga hanya diam saja? Kenapa dia tidak membalas dan mengata-ngataiku juga?
__ADS_1
Oh, my God. Olavia! Apa yang sudah kaulakukan? Apa yang sudah kaulakukan, ha?
Kenapa dia hanya diam saja, ha?
Dari balik kabut rasa bersalah dan kebingungan yang menyelimuti otak, sayup-sayup kudengar suara Mama memanggil sebelum suara itu benar-benar tertangkap olehku. "Sayang? Sayang? Olavia? Sweetie? Hey!"
"Aku ... aku merasa bersalah banget sama Angga, Ma. Aku ... aku ... aku waktu itu juga sempat berantem sama dia dan ... dan ... dan ngomong ka-kasar. Aku ... aku ... baru kepikiran dan aku ... aku ... aku ... sekarang menyesal, Ma."
"Hey, it's okay, Sayang. It's okay." Mama menepuk-nepuk punggungku. "It's okay. Kamu bisa minta maaf sama dia. Mama yakin dia mau maafin kamu."
"Tapi, gimana caranya, Ma? Gimana? Aku kadang masih merasa sakit hati sama dia. Aku kadang masih suka marah kalau lihat dia. Sekarang memang cuma kadang-kadang aja, akan tetapi tetap aja ada, kan?" Aku terus saja membantah kata-kata Mama. Tidak mau mengalah dan menerima kebenaran dengan semata-mata karena apa yang dikatakan Mama memang benar adanya.
Dia tentu saja akan mau memaafkan aku. Tentu saja. Di samping hal-hal yang sudah terjadi di antara kami, Angga bukanlah tipe orang yang memendam dendam.
"Gimana caranya gimana maksud kamu? Kok palai acara bingung, sih, Sayang? Ya, kamu tinggal minta maaf saja sama dia. Gampang, kan?"
Okay, Mama. Lebih mudah mengatakannya daripada mengerjakannya, Ma. It's easier said than done. Setidaknya buat aku.
"Kamu merasa berat, ya?"
"Engg ... anu, Ma. Itu ... itu .... Aku .... Aku ... aku ...."
Mama tertawa. "Dasar kamu ini. Ngakunya merasa bersalah. Tapi, giliran disuruh minta maaf berat banget itu bokong."
"Mama! Kenapa jadi bawa-bawa bokong, sih? Kita, kan, lagi ngomongin Angga, bukan bokong!" protesku sambil berusaha menyurukkan rona merah yang aku yakin mulai terbit di pipi.
Tawa ibuku itu semakin menjadi-jadi. "Ya, salah kamu lah. Kenapa jadi orang gengsian banget?"
"Iiih." Aku memutar bola mata, pura-pura kesal dengan ucapan yang baru saja Mama katakan. Meskipun begitu, aku tahu itu seratus persen benar.
Renyah suara gelaknya memenuhi kamar tidur masa kecilku. Suaraku sekonyong-konyongnya membuat otakku berhenti mendadak. Bagaimana tidak?
Oh, my God. Sudah berapa lama kami tidak melakukan ini? Berbagi cerita, bersenda gurau, dan berbagi tawa seperti ini? Kapan terakhir kali aku ada di rumah ini?
Kabut gelap menyelimutiku lagi.
__ADS_1
"Hey, kamu! Jangan bengong gitu, dong." Mama menjentikkan jarinya di depan hidungku. "Mama jadi ketawa sendirian, ih!"
Aku menyengir.
"Yang jelas ...." Mama berhenti sejenak untuk membersihkan tenggorokan. "Yang jelas, cepat atau lambat, kamu harus minta maaf. Lebih cepat lebih baik. Karena Mama yakin, semakin ditunda, semakin bikin kamu gila nantinya. Makanya kamu jangan terlalu banyak mikir. Kadang kita perlu mengambil keputusan dengan cepat. Biar hidup ini tidak datar-datar aja."
"Duh, Mama udah kayak tagline-nya potato chips aja, ih." Kini giliran aku yang berseloroh. "Life is never flat."
"Eh, tapi benar, kan?" Wanita paruh baya itu mencolek daguku.
"Iya, benar, iyaaaa. Iyain aja, ya, Bu Arifiiin."
"Kamu pake ngetawain Mama lagi."
Aku cengengesan. "Makasih, ya, Ma." Kupeluk Mama erat-erat. "Maafin aku juga."
Mama melilitku dengan lengannya. "Iya, Sayang. Iyaa. Sama-sama. Mama juga mau bilang terima kasih karena kamu udah mau cerita sama Mama. Eh, ini boleh Mama ceritain ke Papa atau rahasia kita berdua aja, nih?"
Hm. Bagaimana, ya? "Asal Mama bisa janji Papa gak akan nyariin Owen dan bikin perhitungan sama dia."
Butuh beberapa detik untuk berpikir sebelum Mama bisa memberikan sebuah "okay" sebagai jawaban. "Oh, iya, Sweetie. Selagi kita ngomongin ini, kamu juga jangan lupa untuk meng-clear-kan situasi kamu sama abangmu, ya? Kamu tahu dia sayang banget sama kamu. Lagian, Mama duga dia punya ide siapa ayah dari bayi kamu ini. Iya, kan?"
Wow. Kenapa aku baru kepikiran soal ini, ya?
"Dan begitu juga Angga."
Hm.
"Karena kalau tidak salah tadi kamu bilang si Owen ini tampil di Beniqno."
Aku mengangguk.
"Nah, kamu perlu bukti apa lagi? Si Owen masih berkeliaran dengan bebas di luar sana sampai sekarang aja menurut Mama udah jadi tanda yang jelas banget kalau mereka berdua itu sayang banget sama kamu."
Oh, my God.
__ADS_1
Bersambung ....