
Ola
Enam bulan kemudian
Waktu berlalu begitu cepat ketika kau betul-betul memberikan seratus persen jiwamu pada sesuatu yang kaucintai.
That's what happens to me and Oleander.
Tidak disangka tidak dinyana sudah dia ratus hari yang pergi semenjak bayi ganteng gemoy-ku lahir ke dunia ini. Dia sudah lulus dari semester pertama ASI eksklusifnya. Kali ini dia mulai menjajaki menu-menu makanan padat pendamping ASI yang kubuat sendiri di rumah.
Iya, di rumah.
Satu bulan setelah melahirkan, aku dan Ole akhirnya pindah ke rumah Mama dan Papa di Sentul City. Untuk sementara waktu apartemen di Kuningan akan kusewakan, mengingat tempat itu akan koaong dalam waktu yang lumayan lama.
Jujur saja aku tidak tahu kapan aku akan kembali ke sana.
Sebaiknya tidak usah memikirkan hal-hal seperti itu sekarang.
Kembali lagi ke Oleander.
Anakku tumbuh dengan sangat cepat. Dia yang semula hanya bisa tidur dan menangis, kini sudah menjadi anak yang hobi guling-guling. Dia juga memasukkan semua yang dapat dia jangkau ke dalam mulut kecilnya.
Tangisnya kini telah ditemani oleh penggalan kata ma, da, ga. Ocehan-ocehannya menjadi highlights di dalam hari-hariku. Aku ingat betul ketika Oleander mengucapkan kata ma-ma untuk pertama kali, baru beberapa hari yang lalu.
Saat itu kami sedang bermain di atas playmat di teras belakang. Aku sering mengajaknya untuk bermain di sana karena selain teduh dan sepoi angin yang berembus, Oleander tampaknya senang sekali melihat pemandangan hijau taman belakang dan air di kolam renang.
Yep. Kolam renang. Dia sudah diperkenalkan dengan aktivitas di dalam air sejak berusia tiga bulan. Kerjaan siapa lagi kalau bukan duo sekawan; Om Oli dan Om Angga-nya itu? Mereka bahkan menyewa instruktur profesional dari salah satu tempat spa bayi yang ada di Jakarta.
Well, aku bisa apa? Lagipula, bill-nya juga mereka yang tanggung, kok. So?
Insert evil smirk.
Balik ke urusan babbling Oleander lagi.
Sore itu kami berada di teras belakang, berdua saja. Mama dan Papa sedang ke luar untuk menghadiri pesta pernikahan salah seorang kolega. Kami tengah asyik bermain dengan beberapa bola dari plastik berwarna cerah. Aku meniru Oleander yang sedang melakukan tummy time dengan menelungkup. Setelah puas menjangkau, bayiku lantas berguling kembali hingga dia terbaring. Sambil memegang bola di tangan dan kakinya terangkat hingga mencapai bola, dia mendekatkan bola ke mulutnya dan berkata, "Ma-ma-ma-ma."
"What?" tanyaku dengan takjub. Aku terkesiap. "Kamu tadi bilang apa, Sayang? Kamu bilang apa?" Segera saja kugendong Oleander yang masih sibuk dengan benda bulat berwarna biru muda itu. "Kamu tadi bilang apa, Sayang? Kamu manggil Mama? Kamu barusan manggil Mama, kan? Iya, kan?"
"Ma-ma-ma-ma-ma." Dia mengulanginya sekali lagi.
"Iiiiiiiiiiiik!" Aku terpekik kegirangan. "Kamu manggil Mama! Kamu manggil Mama!"
"Ma-ma-ma."
"Oh, my God. Oh, my God!" Kuhujani dia dengan ciuman.
"Ma-ma-ma-ma."
Lagi dan lagi kudaratkan kecupan di seluruh mukanya. Setelah itu kutiapkan raspberry di perut anak ganteng, gemoy, menggemaskan, dan pintarku itu.
Keluarlah kikihan renyah dari dalam dada Oleander ketika aku melakukan ini. Kulakukan sekali lagi. Kali ini aku meniupkan raspberry sambil menggoyangkan kepala ke kiri dan ke kanan.
Tawanya menggema ke angkasa.
__ADS_1
Aku tahu aku melakukan hal yang benar dengan mempertahankan keberadaannya di dalam hidupku.
"I love you, baby gemoy Mama." Kukecup keningnya sembari menghirup aroma bayi yang khas dan wangi. Selalu kutemukan ketenangan dan perasaan yang fulfilling ketika wangi itu masuk ke dalam diriku.
"Ma-ma-ma-ma-ma."
Aaaaaaaaa.
****
Angga
Ada satu joke yang pernah gue lihat waktu gue lagi scroll laman reel di Instagram dan gue langsung suka joke-nya pada saat itu. Lelucon ini soal waktu. Dan yang membuat gue berpikir itu lebih lucu lagi adalah karena lelucon tersebut disampaikan oleh seorang anak kecil. Anak laki-laki yang usianya sekitar empat atau lima tahunan lah.
Jadi, konsepnya dia sedang mengajak ibunya yang ada di balik layar untuk mendengarkan joke-nya itu. Lalu si ibu menanggapi dengan mengatakan kalau dia tidak tahu. Barulah kemudian si anak memberikan punchline-nya.
Kira-kira situasinya seperti ini.
Si anak bertanya pada si Ibu. "Do yo know what happen when a watch get on a plane?"
Si ibu yang memegang kamera menjawab, "I don't know."
Si anak di kalakian menyampaikan lengkap dengan ekspresi dan intonasi yang sangat menggambarkan ke-excited-annya, "Time flies!"
Well .... Ain't that the truth, kid. Ain't that the truth.
Time really flies so fast.
Tahu-tahu sudah enam bulan saja berlalu. Iya, gue serius. Enam bulan. Itu artinya umur Ole juga sudah lewat dari enam bulan. Enam setengah bulan. Dan dia sudah memulai perjalanannya mengkonsumsi makanan pendamping ASI.
Shxt. Apa gue benar-benar bilang itu barusan?
Ooops! Gue keceplosan soal keinginan yang telah gue simpan sejak lama di dalam hati ini.
Yes. Apa yang kalian dengar adalah benar. Gue ingin menjadi papa untuk Oleander. Because, hello! Gue sudah mencintai bayi ganteng nan imut dan montxk itu semenjak dia ke luar dari dalam perut mamanya.
Kalian semua tahu kalau gue yang menemani Olavia di ruang persalinan. Gue yang memegang tangan Olavia saat dia berusaha mengantarkan anaknya ke dunia ini dengan selamat. Gue adalah laki-laki pertama yang menggendong Ole setelah dia lahir. Gue adalah orang selain keluarga yang memiliki interaksi secara konstan dengan dia selama enam bulan kehidupannya.
Awalnya gue mungkin saja mencintai Ole karena dia adalah bagian dari wanita yang paling gue cintai di dunia. Namun, hal itu berubah seketika dia lahir. Gue mencintai dia dengan cara gue sendiri, karena keberadaannya sendiri.
Gah! Man, gue sudah benar-benar tidak bisa diselamatkan lagi. Terlebih ketika gue mendengar dia menyebut kata itu saat melihat gue.
Pa-pa.
God damn it, guys! Gue .... Gue tidak bisa mengungkapkan apa yang gue rasakan di dalam dada gue. Betapa senangnya hati gue ketika gue menggendong Ole, dia mengucapkan penggalan kata itu. Pa. Dua kali.
Pa-pa.
Fxck. Betapa gue ingin menjadi Papa buat Ole. Bukan cuma sebagai Om, panggilan yang dipakai oleh Olavia dan Oliver. Namun, gye sengaja tidak menggunakan kata ganti apa pun yang merujuk kepada diri gue saat mengobrol dengan Ole. Gue terkadang menggunakan aku atau tidak memberikan subjek di kalimat yang gue ucapkan sama sekali.
Because, you know. Gue tidak mau menjadi seseorang selain Papa buat dia.
Gue masih ingat kali pertama Ole memanggil gue dengan sebutan itu. Di sebuah sore di hari Sabtu. Gue memilih untuk cabut dari restoran lebih awal dan langsung menuju kediaman keluarga Arifin. Setelah mendapat info dari Bi Ratna, si asisten rumah tangga, kalau Om Arif dan Tante Yuni sedang ada acara, gue langsung saja menuju ke teras belakang. Gue juga diberi tahu oleh Bi Ratna kalau dua orang kesayangan gue sedang bermain di sana.
__ADS_1
Gue mendapati Olavia sedang meniupkan raspberry ke perut Ole yang tertawa dengan nyaring. Tawa anaknya disusul oleh tawa sang Ibunda.
Hal itu membuat langkah gue terhenti. Untuk beberapa saat, gue hanya berdiri di tempat, beberapa meter si belakang wanita gue, dan menikmati pemandangan di depan. Raut wajah keduanya yang penuh bahagia. Sinar matahari yang tidak terlalu terang namun juga tidak terlalu redup memberikan efek yang jernih pada keduanya.
Sebuah kesempurnaan bagi mata, telinga, dan hati.
Dengan hati-hati gue mengangkat ponsel dan mengabadikan momen itu.
Beberapa kala berlalu lagi sebelum gue bergerak untuk mendekati mereka. "Senang banget, nih!" Gue mengatakan itu sebagai salam pembuka.
Kepala Olavia sekonyong-konyongnya menoleh dengan cepat ke arah gue datang. "Eh, Ngga. Aku gak tahu kalau kamu datang."
"Sorry. Aku tadi ketemu sama Bi Ratna di depan. Dia kasih tahu kalau kalian ada di sini. Makanya aku langsung aja." Gue membungkuk untuk mengecup puncak kepala wanita gue sebelum duduk di sampingnya. "Lagi apa, hm?" tanya gue pada Ole sambil berpura-pura menggelitik perut gendutnya.
Dia mengeluarkan tawa itu lagi.
"Tahu gak, Ngga, dia barusan panggil aku Mama!" seru Olavia dengan girang.
"Serius kamu?"
"Iya! Iiiiiiiik." Dia bergoyang-goyang di atas bokongnya yang seksi. "Aku senang banget!"
"Mana, mana. Coba lagi. Kalau dia disuruh coba lagi, mau gak, ya?" Gue menyuarakan pertanyaan di dalam pikiran gue.
Namun, setelah beberapa kali percobaan, Ole tidak menurut. Dia malah asyik sendiri mengayun-ayunkan tangannya dan memperhatikan bola di dalam genggaman.
Gue jadi semakin penasaran. "Ya, udah. Sini coba aku yang gendong. Siapa tahu dia kali ini mau nurut sama aku."
Olavia yang gugup namun masih mempertahankan senyum itu melepaskan pegangannya di sekeliling tubuh Ole dan memindahkan bayi tersebut ke dalam pegangan gue.
Dengan posisi kaki yang tegak, gue dudukkan si Little Smart Gentleman di atas lutut gue dengan tangan gue sebagai penopang tubuh gempalnya. Ketika kami sudah berhadap-hadapan, gue tatap dia dengan serius. Meski perhatiannya sebagian besar terpusat pada bola di tangan, gue tetap tidak gentar untuk melanjutkan misi. "Oke, Oleander Prince. Sekarang aku akan ajak kamu ngomong secara man to man. Kata mamamu, kamu berhasil memanggil dia dengan sebutan Ma-ma tadi. Apakah itu benar?"
Jelas saja si bayi di depan ghe tidak menjawab. Namun, sesekali dia masih melirik gue. "Oleander Prince."
Secara ajaib Ole menatap gue ketika gue memanggil nama lengkapnya. Wow. Betul-betul cerdas anak gue.
Oops!
Skip that.
Kembali ke laptop.
Gue pertahankan kontak mata kami. "Coba panggil Ma-ma lagi, Pintar?" pinta gue dengan suara yang lebih lembut dari sebelumnya.
Bayi itu hanya memandang gue untuk beberapa waktu. Untuk beberapa waktu itu pula suasana sepertinya menjadi lebih hening.
"Ayo, Sayang. Coba panggil Mama lagi," tambah Olavia dari sebelah gue. Dagunya kini bertelekan di bahu gue. "Ayo, Nak. Ma-ma. Ma ... ma."
Oleander mengedarkan pandangan ke arah gue dan mamanya secara bergantian. Lalu, tanpa aba-aba, dia membuka suara. "Pa-pa. Pa-pa-pa-pa-pa."
Ah, shxt. I'm sold.
Dia harus jadi anak gue bagaimanapun caranya.
__ADS_1
Bersambung ....