
Angga
"Weits. Udah mulai duluan, nih?" Gue menyapa sahabat gue itu.
"Apaan? Lo yang telat gitu. Lagian gue udah kebelet waras, jadi gue pesan minum aja langsung." Oliver malah menyalahkan gue.
Gue tahu gue terlambat. Gue sengaja untuk datang sedikit lebih lambat dari dia karena gue tidak mau menunggu. Menunggu akan membuat gue semakin cemas. Menunggu akan memperburuk perasaan gugup di dalam diri gue. So, maka dari itu gue memilih untuk datang dengan prinsip fashionably late.
"Pusing gue ngurusin kasus orang-orang kaya."
Well, sepertinya dia benar-benar mumet dengan pekerjaannya. "Tell me about it," komentar gue saat menghempaskan bokong di sofa seberang Oliver.
"Udah lah, gak mau mikirin itu lagi gue. Di kantor ngurus kerjaan, masa udah nyampai sini ngurus kerjaan juga?" Dia merepet.
Gue hanya mengangguk dan mengamati posisi duduk cowok yang masih memakai setelan jas kerja di akhir minggu tersebut. Oliver sedang menyandarkan tubuh ke sandran sofa, kedua kakinya yang agak mengangkang diluruskan ke depan. Sebuah gelas berisi ice cube dan cairan yang dari warnanya gue tebak adalah whiskey bergelantungan di genggaman. Sesekali dia menyeruput minumannya dengan perlahan.
Oke. Sebaiknya gue menahan rencana gue dulu. Saat ini belum tepat waktunya.
"Eh, lo gak minum?" celetuk Oliver setelah beberapa saat kami habiskan dengan menonton kegiatan orang-orang di sekeliling kami tanpa mengobrol sedikit pun.
Gue lantas menggeleng. "Engga, ah. Gue nyetir."
"Alasan lo, basi." Dia mencibir. "Bilang aja lo kapok minum sama gue. Dasar."
Tak dapat gue sembunyikan gelak yang ke luar dari dalam dada. Sialan dia. "Masih ingat aja lo, bro," ungkap gue di antara tawa.
Bibirnya juga tersungging, akan tetapi lebih ke arah mencemeeh. "Ingat, dong. Kagak bakal lupa gue. Itu pertama kalinya lo ketemu sama bogem mentah gue dan gue benar-benar niat banget bikin lo bonyok malam itu."
"Fxcking hell, gue juga masih ingat rasa ngilunya, man. Untung aja lo udah three sheets to the wind. Kalau enggak .... Ck. Gue gak tahu lagi, deh. Bisa six feet under gue." Gue menggeleng saat mengenang kejadian satu? Oh, dua tahun yang lalu.
Shxt. Time really flies so fast. Sudah dua tahun saja semenjak kejadian yang menentukan itu.
Dia tergelak. "Anjxy. Udah dua tahun aja, ya? Waktu emang benar-benar cepat banget perginya. Gak berasa udah selama itu aja."
"Yeah, yeah." Gue setuju. "You're right."
__ADS_1
Kami diam lagi, kembali sibuk oleh pikiran masing-masing. Gue tidak tahu apa yang terjadi di dalam kepala sahabat gue itu, akan tetapi, yang jelas, pikiran gue terus pulang ke dua orang yang ada di rumah keluarga Arifin. Dan sumpah demi apa mereka bukan Om Arif dan Tante Yuni.
Hal ini membuat gue mengingat misi yang gue emban saat ke luar dari restoran tadi. Lagi-lagi gue perhatikan pria di depan gue itu.
Oliver Andreas Arifin adalah sosok yang mencintai pekerjaannya. Dari dulu Oliver sangat suka berdebat. Dia bahkan menjadi anggota tim debat sekolah. Memenangkan perdebatan merupakan pencapaian yang paling membanggakan bagi dia. Lebih membanggakan dari tropi-tropi yang didapatkan bersama tim basket atau bola. Dia kemudian mengembangkan ilmu "berbicara"nya di bidang per-wanita-an. Istilahnya, dia bisa merayu seorang suci untuk melakukan hal-hal yang pasti akan membuat mereka terjun bebas ke neraka.
Yeah, you heard that right. Dia ganteng, dia anak orang kaya, dia unggul di bidang keolahragaan, dia menguasai pengetahuan umum, nilai akademiknya juga lumayan, kepribadiannya sangat charming, dan yang paling penting adalah ... dia exist.
He is too good to be true, but sometimes God created some of us like that. What did we get to say? Nothing. We just have to accept that as a reality in this unfair world.
Sudahlah. Pada intinya, gue cuma mau bilang kalau tidak biasa-biasanya si Kamprxt ini terlihat lelah. "Mungkin ini saatnya lo ngambil cuti dan pergi liburan, bro." Gue membuka suara dan memberi usulan.
Gue tidak mengira dia akan menolak secepat ini. "Gak bisa, man. Gue lagi di tengah-tengah kasus sekarang. Gue harus selesaikan ini dulu kalau memang mau ngambil cuti. Tapi, sial!" Dia mengerang. "Kayaknya ini kasus gak selesai-selesai. Damn it!"
"Mereka ...." Kalimatnya menghilang tanpa selesai terlebih dahulu. "Shxt. Gue gak seharusnya ngomongin soal ini di luar kantor. Sialan lo, Ngga!"
Lah, kenapa gue yang salah?
"Gue butuh distraksi, man, distraksi. Jangan balik lagi ke urusan kerjaan, dong! Bahas apa, kek, gitu. Yang lain. Yang gak ada hubungannya sama kerjaan gue, atau tampang gue yang kusut, atau my shitty mood. Apa aja selain itu. Ayolah, Ngga. Atau, mungkin lo mau jadi samsak gue lagi, hm?"
Oliver menatap gue bingung. "Mau ke mana lo?"
Gue kode dia dengan gerakan kepala. "Yuk, ah, cabut!" ajak gue di sela-sela dentuman musik klub yang hentakannya semakin terasa di dada gue. "Gue salah tempat. Lo gak seharusnya ada di sini."
"Terus ke mana?"
"Basement gue."
Mendengar tempat itu, wajahnya langsung berseri. "Kunyuk! Kenapa lo gak ngajak gue dari tadi aja?" Oliver lalu berdiri sembari menenggak habis minumannya. "Yuk, ah, buruan!"
****
Home gym sederhana yang gue rencanakan sudah selesai beberapa minggu yang lalu, akan tetapi belum sempat gue nikmati karena intensitas keberadaan gue di sini yang jauh menurun. Semenjak Olavia dan Oleander pindah ke Sentul City, gue practically juga pindah ke rumah gue yang ada di sana. So, begitulah. Gue jadi jarang menginap di sini. Apalagi dengan obsesi gue pada keduanya, gue rela pulang-pergi dari Jakarta Selatan ke Bogor hampir setiap hari.
"Shxt, man. This is sick!"
__ADS_1
Gue mengedikkan bahu.
Dia juga mengedikkan bahu dan berjalan ke arah punching bag yang ada di sudut ruangan. Tahu-tahu jas dan dasinya sudah tanggal, lengan kemejanya sudah digulung sampai siku. Damn, dia sepertinya benar-benar punya banyak pent up energy to burn through that bag.
"Gak ganti baju dulu lo?"
Pertanyaan gue malah dibiarkan dibawa terbang oleh angin.
Okay, then. Gue sebaiknya membiarkan dia di sini dulu. Daripada gue yang jadi sasaran kemarahan si Kunyuk ini.
****
Satu jam kemudian, gue baru bertemu dengan si Kunyuk itu lagi. Gue sedang menonton National Geographic di televisi 70' inci yang terpasang di dinding di depan gue ketika dia muncul di puncak tangga menuju ke ruang bawah tanah. Dari lirikan sekilas, dia jelas terlihat lebih bahagia dari sebelumnya. Lebih lega.
Ini makhluk benar-benar sinting.
"Oke. Gue mandi dulu." Oliver memberi tahu gue sambil lalu.
Gye hanya melambaikan tangan sebagai tanda kalau gue mendengar ucapannya.
****
"Hit me the fxck up now," ucap Oliver setelah menghempaskan bokong gila olahraganya di sofa samping gue.
Gue menoleh dengan alis yang berkerut dan hampir bersatu di tengah. "Maksud lo apaan?"
Dia mendecak. "Jangan sok polos lo. Gue tahu pasti ada udang di balik batu pas lo ngajak gue ketemuan. Udah, gak perlu basa-basi. Ngomong lo." Kemudian dia menyesap bir dari kaleng yang dipegangnya.
Benar-benar sinting ini makhluk.
"What's with the waiting, huh? Gue bilang ngomong, ya, ngomong, Kunyuk. Tadi di telepon kayak yang paling gak sabaran aja lo. Sekarang malah diam. Mau ngomong apa, sih, lo? Mau ngelamar adik gue lo, hah?"
What the fxck?!
Bersambung ....
__ADS_1