
Angga
"No!" Olavia tahu-tahu berseru. Tergesa-gesa dia membantah ucapan papanya. "No, no, no, no." Dia menggeleng hanya untuk kemudian mengangguk. "Maksud aku, yes, Pa. Yes. Yes, aku bisa. Yes, aku janji. Angga sama Bang Oli boleh ngurusin aku asal Papa sama Mama ngebolehin aku kerja lagi."
Oh, my fxcking God! Apa yang baru saja meluncur dari bibir Olavia dan masuk ke telinga gue sungguh-sungguh enak didengar. Serius. Seperti minum teh pucuk dingin di tengah gurun Sahara. Maknyos. Sumpah.
Saking enaknya, hati gue langsung berbunga-bunga. Senyum secara otomatis mengembang di bibir gue selebar mungkin, selebar yang bibir gue bisa. Untung saja gue sedang menunduk, kalau tidak ... bisa tengsin banget gue sama Om Arif dan Tante Yuni kalau mereka melihat gue kayak orang gila begini.
Kalau Oliver yang lihat, mah, gue bodo amat.
"Okay? Aku mau, Pa, Ma. Aku bisa. Aku janji. Ayolah, Ma, Pa. Ayolah. Aku, kan, udah janji. Okay, aku janji. Maaa. Papaaa." Olavia merengek.
"Oke. Tapi, kamu harus benar-benar pegang janji kamu."
"Yeay! Thank youuuuu!"
Gue kembali berusaha menyembunyikan senyum melihat tingkah cute dan adorable yang sedang dilakukan oleh the love of my life di samping gue. Bagaimana bisa gue tidak menganggapnya cute dan adorable coba? Wanita pujaan gue ini sedang menggoyang-goyangkan pinggulnya ke sana kemari di atas sofa sembari mengepalkan tangannya. Derai tawanya mengambang di tengah-tengah kami. Kebahagiaannya jelas terasa.
Cute.
And adorable.
Ah. Hati gue. Sekarang hati gue rasanya sudah bisa menyaingi ladang bunga Furano yang ada di Hokkaido, Jepang. Berbunga-bunga.
Demi apa coba. Apa ada hati cowok yang berbunga-bunga kayak hati gue sekarang ini?
"Tapi, Sweetheart, kamu benar-benar harus pegang janji kamu. Kamu dengar Papa? Papa dan Mama tidak mau ambil risiko, apa pun, terhadap kamu dan bayi yang ada di dalam kandungan kamu sekarang. Kamu dengar Papa, kan?" tambah Om Arif di kalakian.
Gue, sekali lagi dan tidak bermaksud untuk sok tahu, sungguh paham kenapa Om Arif dan Tante Yuni berat sekali melepaskan Olavia dan bayinya dari pengawasan mereka. Masih jelas di dalam kepala gue apa yang dikatakan oleh Oliver sewaktu Olavia masih dirawat.
Hiperemesis Gravidarum bisa menyebabkan keguguran.
Di samping segala kekacauan yang ada, gue tidak berharap hal mengerikan tersebut terjadi kepada wanita pujaan gue dan bayi yang bisa gue pastikan adalah keturunan dari si bajingan sialan itu.
__ADS_1
Olavia menatap lurus ke arah orang tuanya. "Ola janji, Pa. Ola akan menjaga anak Ola dengan baik. Ola janji." Dia lalu bangkit dan menyongsong papa dan mamanya. Satu per satu dipeluk olehnya. Tak lama, gue mendengar wanita pujaan gue berseru, "Group hug!"
Gue tergelak. Satu lagi tradisi cute dan adorable keluarga Arifin yang dipelopori oleh the love of my life semenjak dia masih sebesar biji jagung.
Cute dan adorable.
"Abang, come on!" Suara Olavia menggema di dinding-dinding ruang tengah keluarga Arifin. "Group hug time!"
Erangan Oliver menjadi katalisator berubahnya senyum gue jadi tawa yang terbahak-bahak.
Sialan.
Gue juga jadi pengen.
Pengen group hug, maksudnya.
****
Ola
Fiuh. Lega.
Teet. Belum.
Mama masih di dapur menyusun stok berkotak-kotak breakfast bar, biskuit, granola bar, salted cheese crackers, susu ibu hamil ke dalam lemari persediaan setelah memenuhi kulkasku dengan berbagai macam buah-buahan, yogurt, dan susu ibu hamil dalam kemasan kotak lagi.
Well ... memang agak berlebihan, sih. Namun siapa yang bisa menghentikan aksi seorang ibu yang didasarkan pada kepedulian dan kasih sayangnya terhadap sang buah hati?
Secara otomatis tanganku langsung saja menuju ke perut yang sudah berbentuk small bump itu.
Look at that, baby. Your grandma is clearly on a mission. You are already loved by so many people. Jadi, jangan takut, ya. Mama pernah bilang ke kamu kalau apa pun yang terjadi, kita akan menghadapinya berdua. Mama salah, Sayang. Kita tidak hanya akan berdua. Ada Opa, Oma, Om Oli, dan Om Angga yang akan menemani kita. Dan, mudah-mudahan saja Tante Raisa dan Om Johan bisa segera bergabung di dalam squad kita, ya. Mudah-mudahan saja.
Hmmh.
__ADS_1
Aku tiba-tiba jadi sangat merindukan si Sableng itu. Sudah sebulan lebih dan dia belum membalas pesan-pesanku. Teleponku juga tidak pernah diangkat. Hanya komunikasi dengan Mas Johan yang membuatku mengurungkan niat untuk menemui dia.
Mas Johan selalu berkata bahwa sahabaku itu baik-baik saja, dia sehat, dia aman, dan mereka masih berada di Singapura untuk melakukan program kehamilan.
Oh, my God. Hatiku mencelos. Aku betul-betul berharap mereka segera mendapatkan dua garis merah itu. Hashtag pejuang dua garis merah.
"Sweetie."
Panggilan dari Mama mengembalikan aku ke saat ini. Lambat-lambat aku bangkit dari tempat tidur dan menuju ke luar. "Ya, Ma?"
Mama ternyata juga sudah berjalan ke arah kamarku. Kami berpapasan di depan pintu. "Mama sudah selesai nyetok kulkas dan lemari kamu. Ada yang bisa Mama bantu lagi, gak? Kamar kamu sudah rapi?"
"Udah. Tinggal ganti seprai kok, Ma. Gak banyak juga barang yang mau diberesin. Kan, Ola cuma bawa dompet aja tadi." Aku menjawab enteng.
"Eee alah! Kenapa kamu pasang sendiri? Kenapa gak nunggu Mama dulu? Kamu gak kecapekan, kan? Pusing, gak? Perut aman?" Mama lantas merepet.
"Enggak apa-apa, Mama. Ola, kan, tadi masangnya juga pelan-pelan. Enggak pake lari-larian." Aku mencoba berseloroh untuk menghapus kekhawatiran yang kini mewarnai raut muka Mama.
Namun, setelah dipikir-pikir, percuma juga. Seperti yang sudah Mama bilang sebelum ini, khawatir soal anak adalah pekerjaan setiap orang tua di dunia. So ....
Setidaknya aku telah mencoba, kan?
"Ya, udah. Ayo, istirahat dulu sini." Mama menyambar tanganku dan mengarahkan kami berdua kembali ke dapur. Dia lalu mengeluarkan dua botol air mineral, satu cup plain yogurt, dan sekotak beri hitam dari dalam kulkas.
Saat aku masih mencoba untuk menghabiskan campuran buah beri dan yogurt di dalam mangkuk, terdengar suara pintu dibuka dan kemudian beberapa suara berat yang sedang bercakap-cakap.
"Honey, kita lagi ada di dapur!" teriak Mama.
Tak lama muncullah ketiga pria itu; Papa, Bang Oli, dan siapa lagi kalau bukan Angga. Di tangannya tersapat dua buah kantong plastik berlogo Beniqno.
Oh, my God. Jangan bilang mereka mau makan burger sama cheese fries di depanku sekarang. Aku tidak dapat menentukan apakah perasaan jengkel yang mulai membakar hati ini disebabkan karena kemungkinan besar aku tidak dapat ikut serta menikmati hidangan favorit di Beniqno itu atau karena perutku yang juga berkemungkinan besar akan mengamuk hanya dengan melihatnya.
Bersambung ....
__ADS_1