
Angga
What the heck? Kenapa si Kunyuk berkata seperti itu? "Maksud lo apaan, bro? Emangnya bokap lo pernah bilang sesuatu or hinting things ke elo soal gue dan Olavia?"
That asxhole hanya mengedikkan bahunya. Suasana yang serius dan berat tadi seketika menguap. Sekarang berganti dengan sesuatu dengan nada yang lebih ringan.
Tentu saja ini lebih baik dan gue lebih menyukai suasana seperti ini, akan tetapi ... kalau gue harus jadi objek lelucon, kan, juga tidak enak di gue jadinya. "Come on, man. Gue serius, nih. Lo juga serius apa cuma mau bikin mental gue down duluan, ha?"
Emang dasar berengsxk sahabat gue itu. Berani-beraninya dia tidak menjawab gue dan hanya kembali mengangkat bahu.
"Screw you, dipshit. Gue serius malah dibercandain." Gue tinju bahunya dengan lumayan berniat.
"Fxck, bro. That shxt hurts." Dia mengaduh sambil menggosok-gosok bagian yang baru saja menjadi sasaran pukulan gue.
"What-the fxck-ever. Gue gak peduli. Bodo amat. Buktinya lo juga gak peduli sama kesehatan mental gue. Lo pikir, kalau lo bilang gitu aja tanpa penjelasan yang lebih, otak gue masih bisa istirahat sampai besok gue ketemu bokap nyokap lo? Lo pikir kalau gue gak tidur, gue bisa tampil maksimal di depan mereka? Lo pikir kalau gue ke rumah lo kayak zombie, gue bakal berhasil memberikan impression yang baik ke calon mertua gue, ha? Setelah gue mengusahakan yang terbaik aja lo masih bisa bilang gitu. Man, gue deg-degan sumpah. Ngomong sama lo aja gue harus basa-basi dulu. Apalagi sama bokap lo dan di hadapan nyokap lo yah super duper bikin salah tingkah itu? Jadi teman gak kira-kira lo. Dasar anyxng."
Kali ini gue mendaratkan kepalan tangan gue di lengan Oliver. "Suatu saat lo bakal merasain apa yang gue rasain sekarang, man. Tunggu aja giliran lo. Dan gue bersumpah, saat waktunya tiba, gue bakal balas semua yang lo lakuin ke gue malam ini. Ingat janji gue, Oliver Kamprxt. Ingat janji gue."
Saat ini si Oliver Kamprxt yang gue panggil sudah melipat badannya menjadi dua dan memegangi perut karena tawanya yang terbahak-bahak. Sialan sungguh sialan teman gue ini.
Gue tahu sikap gue benar-benar dramatis, akan tetapi apa boleh buat? Gue sedang in the mood untuk bersikap dramatis sekarang.
For the sake of effect, gue menambah jatah bogem mentah buat Oliver sekali lagi. Rasain lo!
****
Gue tidak jadi berbicara empat mata dengan Om Arif hari ini. Gue sudah pastikan itu saat gue melihat bayangan gue sendiri di cermin kamar mandi.
I look terrible, more terrible than shxt. Mata gue merah karena bisa dibilang gue tidak tidur sepicing pun semalam. I kept tossing and turning the whole night. Apalagi gue dan Oliver mengakhiri boy's night out kami lepas tengah malam.
That fxcker Oliver.
__ADS_1
Gue mengirimkan jari tengah menggunakan telepati pada cowok itu. Gue harap dia mendapatkan sinyal dari gue, meski dia sedang tidur.
Terlebih lagi jika dia sedang tidur.
Damn. Gue harap gue bisa menghantui Oliver dengan muncul di dalam mimpinya, mengejar-ngejar dia sambil mengangkat jari tengah gue tinggi-tinggi.
Talk about some random shxt that's going on my sleep-deprived mind.
Setelah bersiap, gue langsung menuju ke kedai kopi langganan yang tak jauh dari komplek townhouse gue. Setelah mendapatkan satu cup iced Americano dengan dua shot espresso, gue masuk ke dalam mobil dan mulai menyentuh nomor 2 agak lama di layar ponsel. Nada panggilan yang sedang terhubung lantas memenuhi kabin Jeep gue.
"Nomor yang Anda tuju tidak dapat menerima panggilan. Cobalah beberapa saat lagi. Tekan satu–"
Gue tidak membiarkan operator menyelesaikan kalimat otomatisnya dan kembali mencoba menghubungi nomor tersebut.
Pada panggilan kelima, telepon gue baru diangkat.
"Halo, Ngga." Terdengar suara terengah-engah wanita yang paling gue cintai di dunia ini dari seberang sambungan. "Sorry, aku habis mandiin Oleander."
"Enggak, ah," bantah Olavia enteng. "Ada apa kamu nelepon pagi-pagi gini?"
Gue menekan rem untuk berhenti saat lampu lalu lintas menyala merah. "Aku mau check in aja, terus ngasih tahu kalau aku udah jalan ke sana. Kamu mau dibawain apa?"
"Hm, apa, ya?"
Gue bisa mendengar suara ocehan bayi di latar belakang panggilan saat wanita gue terdiam. "Hai, Ole." Gue menyapa anak ganteng, gemoy, menggemaskan, dan pintar gue itu.
Suaranya jadi semakin jelas. Sepertinya Olavia mendekatkan ponsel ke mulut kecilnya.
Oh, my goodness. Rasanya ada yang meremas hati gue ketika telinga gue menangkap babbling-annya. Diri gue terbelah menjadi dua; setengahnya masih dalam bentuk fun uncle yang tidak sabar melihat dia besar dan mengajarkan hal-hal baru pada si gemoy itu. Sedangkan separuhnya lagi adalah proud father yang bangga minta ampun dengan pencapaian anaknya.
Fxcking hell, I am weeping.
__ADS_1
Kalau bukan karena mempertimbangkan keselamatan, sudah dari tadi gue tekan pedal gas mobil ini dalam-dalam. Berharap gue bisa cepat sampai ke Bogor dan bertemu dengan dua orang yang penting dalam eksistensi gue tersebut.
"Kamu dengar, gak?" Suara Olavia ter-filter lagi di speaker mobil. "Oleander bilang dia gak mau apa-apa." Kemudian dia terkikih. "Aku juga udah sarapan kok. Tadi Bibi sama Mama udah masakin nasi uduk."
"Oooh. Ya, udah. Bagus, deh, kalau gitu. Itu artinya aku bisa langsung ke rumah dan ketemu kalian lebih cepat. Kangen," ungkap gue tanpa malu-malu.
Ya, kenapa harus malu, kan? Tidak ada yang dapat gye sembunyikan dari cewek itu. Dia sudah hafal isi dari buku panduan yang berjudul "Semua Tentang Angga" di luar kepala. Lagipula, gue juga tidak mau menyembunyikan apa pun di balik punggungnya.
I learned my lesson.
Kecuali soal yang satu itu, sih. Gue tidak bisa memberi tahu dia sebelum gue mendapatkan restu dari orang tuanya. Lagipula, menurut kalian gue akan bertanya soal itu melalui telepon saat gue menunggu giliran untuk membayar tarif masuk tol, ha?
Oooh, tidak mungkin, Lorenzo. Tidak mungkin. Olavia sudah memikul banyak penderitaan selama dua belas tahun ini gegara gue dan gue hanya akan bertingkah seperti laki-laki murahan yang tidak berperasaan dan tidak punya modal?
No way in the fxcking hell.
She deserves the world. And I want to give that to her.
Gelaknya menembus sambungan nirkabel dua telepon seluler kami. "Jangan gombal kamu. Masih pagi."
"Gak gombal, Yang. Beneran." Gue membantah.
Dia masih terkikik. "Udah, ah. Aku mau suapin Oleander sarapan dulu. Kamu hati-hati nyetirnya. Sampai ketemu di rumah, ya. Bye."
"Bye, Sayang. Bye, Ole."
Panggilan terputus.
"Love you guys."
Bersambung ....
__ADS_1