Papa Untuk Oleander

Papa Untuk Oleander
23. Pigura Pengantar Penjelasan


__ADS_3

Ola


Kumulai perjalanan "menurunkan" makan dan menuju ke arah meja kerja besar dan mengkilap dari kayu mahoni yang menjadi pusat dari ruangan ini, lengkap dengan kursi besar yang terlihat empuk sekaligus tidak nyaman. Letaknya tak jauh dari pintu masuk, di sebelah kanan.


Perhatianku tertuju pada pigura-pigura yang tergantung di dinding di belakang meja dan kursi. Setelah mendekat, aku dapat melihat bahwa sebagian besar pigura merupakan foto kenangan papanya Angga. Ada jepretan Om Beniqno dan anggota band rock-nya, Revenge Riot, di atas panggung saat konser mereka. Di beberapa foto terdapat Om Ben yang tampil biasa dengan orang-orang terkenal dan petinggi negara yang aku rasa pernah mengunjungi Beniqno. Selebihnya merupakan penghargaan dan sertifikat yang berhubungan dengan restoran.


Aku kemudian berbalik. Di atas meja, terdapat banyak lembaran kertas dan buku-buku yang tidak ingin kupikirkan isinya apa. Jelas saja hal-hal yang berhubungan dengan tempat ini.


Sebenarnya, pada saat memulai apa yang kukatakan sebagai misi penurunan makanan ini, apa yang kuharapkan dapat kutemukan?


Aku lagi-lagi menggeleng sekilas. Sialan, Ola. Kenapa jadinya ngintipin urusan si Angga, sih?


Lekas-lekas kualihkan pandangan dari barang-barang di atas meja. Namun, sesuatu menangkap perhatianku. Sudut sebuah bingkai foto yang mencuat dari bawah sebuah buku.


Bukan bingkai itu yang menarik rasa penasaran ini, akan tetapi bagian foto yang terlihat. Bentuk kaki dan sepatu yang dipakai oleh seseorang di dalam foto itu terasa sangat, sangat, sangat familier.


Lantas tanganku bergerak saja sendiri untuk mengambil pigura itu.


Oh, my God.


Jantungku seperti disentak oleh sesuatu yang ada di dalam foto itu. Semakin lama aku menatapnya, semakin terperangkap aku. Dadaku tiba-tiba menjadi begitu sempit. Membuat udara sulit untuk masuk dan keluar dari sana.


No. No, no, no, no. No.

__ADS_1


No. Tidak mungkin. Tidak mungkin. Tidak mungkin ini bisa terjadi. Dia tidak mungkin dia masih memilikinya. Dia tidak mungkin masih menyimpannya. Lalu, bagaimana caraku menjelaskan kenapa foto ini bisa ada di atas meja kerjanya? Kenapa bisa? Kenapa?


Kenapa? Apakah selama ini dia masih menyimpan foto ... foto ....


Apa artinya ini?


Oh, my God. Oh, my God. Oh, my God.


Sayup-sayup kudengar seseorang memanggil dari balik isak dan tangis. Aku tahu dia adalah Angga dan dia pasti sedang berada di dekatku, karena faktanya aku mulai bisa merasakan sentuhan dari orang lain di sekitar tubuhku, akan tetapi suaranya terdengar seperti dia sedang berbicara dari suatu tempat yang jauh. Atau di dalam air.


Suara itu bergumul dengan pikiran-pikiran yang berkecamuk di dalam kepala. Salah satunya ingin mendominasi, menjadi fokus perhatian, menjadi raja di otak ini.


Dan suara Angga sedikit demi sedikit mulai memperoleh tempat. Bukan hanya karena kegigihannya menembus pikiranku yang sibuk, akan tetapi juga karena kesadaran bahwa dialah yang bisa memberikan jawaban untuk semua pertanyaan-pertanyaan di dalam sini.


Ketika aku kembali ke saat ini; hari ini, waktu sekarang, tempat ini, dan aku tahu-tahu sudah berada di dalam dekapan Angga. Dia melingkarkan kedua lengannya di sekeliling tubuhku, telapak kiri berakhir di pinggang sementara yang kanan menangkup bagian belakang kepala.


"Hey, Sayang, Sayang, Sayang. Hush. Hush. Kamu kenapa? Kamu kenapa? Bilang sama aku kamu kenapa."


Seketika sesuatu di dalam diri ini meledak. Didorongnya dada Angga keras-keras. "Kamu masih nanya aku kenapa, ha? Kamu masih nanya? What the heck is this? What. The. Heck. Is. THIS?!" Aku lantas mencampakkan pigura itu ke lantai di dekatnya.


Kaca yang melindungi foto itu jelas saja langsung berderai.


"Itu apa, Angga? Kenapa foto itu ada di atas meja kerja kamu? Kenapa kamu masih punya foto itu? Maksudnya apa, ha? Angga! Jelasin sama aku apa maksudnya!" Kucengkeram baju kaus yang dia pakai erat-erat. Kucoba guncang-guncang tubuh itu sekuat tenaga. Namun, faktanya, kekuatan yang kusimpan di dalam tubuh tak stabilku tak sebanding dengan apa yang dimiliki pria yang kini berdiri dan bergeming di depanku itu.

__ADS_1


"ANGGA! NGOMONG! JANGAN DIAM AJA!" Sungguh geram aku melihat dia yang hanya duduk di sana memperhatikan amukanku. "NGOMONG!"


Kurasakan getaran tubuhku semakin menjadi-jadi; isak dan tangis bercampur rasa marah menguasai diri. Namun, tiba-tiba saja kekuatan yang semula menopang tubuh seketika menghilang. Kalaulah tidak ada Angga yang tanggap untuk menangkapku dalam jatuh, sudah pasti badan akan terhempas dengan keras ke lantai berlapis plywood.


"Tenang, please. Tenang, ya, Sayang. Ingat sama bayi yang ada di dalam kandungan kamu. Please, please, please. Aku gak mau kalian kenapa-kenapa." Angga memohon sembari kembali membungkusku ke dalam rangkulannya.


Kali ini aku tidak punya daya lagi untuk melawan. "Jelasin sama aku, Ngga. Please. Jelasin," pintaku lirih pada dadanya. "Please. Please. Please."


Dia akhirnya mengembuskan napas panjang. Aku bisa merasakan tubuhnya naik dan turun sesuai dengan napas yang dia hirup dan keluarkan. "Oke." Di kalakian, dikecupnya keningku lamaaa sekali.


Mataku otomatis menutup, menyerap sensasi yang ditimbulkan oleh kontak bibir Angga dengan kulitku. Sentuhan itu serta-merta membuka kotak kenangan atas namanya yang sudah kukubur dalam-dalam selama sepuluh tahun terakhir ini.


"Dari awal, pada malam itu, aku sebetulnya juga sudah ingin menceritakan semuanya sama kamu. Menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri aku. Akan tetapi ... aku gak bisa, Sayang. Aku gak bisa.


Lalu, saat aku kembali lagi ke Jakarta, aku ingin mencoba lagi untuk menemui kamu. Dan aku dengan tololnya menunggu. Menunggu waktu yang tepat. Namun, kamu tahu apa? Waktunya tidak pernah tepat. Waktu yang tepat itu gak pernah datang. Aku bahkan gak bisa menemukan waktu yang tepat itu, Sayang. Entah kenapa, waktu yang tepat itu tidak pernah ada.


"Semakin lama, aku semakin frustasi sama diri aku sendiri. Selain rasa bersalah yang menyiksa aku siang dan malam, keinginan yang tak kunjung tercapai dan jauh dari kamu kian memperburuk keadaan. Semakin memperburuk aku. Makanya aku jadi diri aku versi yang sekarang. Pemarah. Kurang ajar. Suka seenaknya. Seperti yang kamu katakan."


Dia membubuhkan sebuah kecupan di keningku lagi. Kali ini hanya sekilas. "Sekarang, tanpa aku ketahui, waktu yang telah lama aku nanti akhirnya datang juga." Angga tergelak tertahan. Tawa itu terdengar sangat kecut. "Tapi, si bodoh ini tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana."


Lelaki yang kini mendekapku erat dalam peluknya itu kembali menghela napas. "Kalau aku boleh jujur, aku takut, Sayang. Aku takut. Aku takut kalau apa yang akan aku katakan tidak cukup untuk menjelaskan apa yang terjadi. Aku takut kalau penjelasan aku tidak cukup untuk membuat kamu kembali. Aku takut kalau kamu benar-benar tidak ingin bersama aku lagi. Aku takut kehilangan kamu untuk selama-lamanya, Sayang. Aku takut."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2