
Angga
"Maybe itu cuma kebetulan, or whatever. Tapi, Om percaya anak sekecil itu sudah bisa merasakan ketulusan dan menangkap niat seseorang. Dan dia bisa merasakan kalau kamu adalah orang baik. And you are. Seriously.
"Nah, sekarang adalah rentetan pertanyaan selanjutnya. Apakah kamu aware dengan apa yang terjadi sama Olavia? Siapa ayah dari Oleander, bagaimana cerita mereka, sedikit banyak kamu pasti punya ide soal itu, bukan?"
__ADS_1
Gue mengangguk lagi. Jelas gue tahu jawaban dari semua itu. Tanpa sepengetahuan Om Arif dan Tante Yuni, gue tidak hanya mempunyai beberapa ide bagaimana kejadiannya, akan tetapi gue juga terlibat dan berada di tengah-tengah bencana itu. Bencana yang berakhir keajaiban buat gue dan Olavia.
"Apakah kamu yakin bahwa suatu saat nanti, Oleander dan asal usulnya tidak akan menjadi masalah buat kamu? Apakah kamu yakin bisa menerima keadaan itu? Kamu tahu, Oleander adalah hal yang akan selalu menghubungkan Olavia dengan pria dari masa lalunya itu. Ikatan mereka tidak akan pernah putus. Terlepas dari kenyataan bahwa sampai sekarang dia masih menghilang. Namun, keadaan ini tidak mustahil untuk berubah. Bisa saja suatu hari nanti si laki-laki sialan tanpa nama itu muncul di tengah-tengah kalian, kan? Apakah kamu sudah memikirkan kemungkinan itu? Menurut kamu, apa yang akan kamu lakukan? Bagaimana sikap kamu?"
Pria paruh baya itu mengetuk-ngetukkan tangannya yang dalam keadaan saling menggenggam ke atas meja dengan pelan. Bunyi tuk, tuk, tuk yang terdengar itu bersumber dari kontak antara meja kayu dan rantai jam tangannya yang mahal.
__ADS_1
"Tapi, ya, begitulah, Ngga. Maaf karena Om meminta kamu untuk menunggu lagi. Om hanya menjalankan tugas sebagai seorang ayah. Om hanya mencoba untuk menebus kegagalan Om menjaga anak perempuan kami satu-satunya. Bukannya kami menyesali keberadaan Oleander, tidak. Kami hanya merasa bersalah karena Olavia harus mengalami kehancuran seperti itu dulu. Sekali lagi Om minta maaf sama kamu, ya, Ngga."
Shxt. Gue tidak tahu bahwa Om Arif dan Tante Yuni juga merasakan rasa bersalah yang sama dengan yang diderita oleh Oliver. Seharusnya gue tahu itu. Seharusnya gue tahu dan gue mempertimbangkan perasaan mereka juga.
Namun, di lubuk hati gue yang paling dalam, apa pun pertanyaan yang muncul soal Olavia dan Oleander, gue tahu gue akan selalu melakukan yang terbaik untuk mereka. Gue akan selalu ada di samping mereka. Gue tidak akan pernah meninggalkan mereka. "Saya paham, Om. Om tidak usah meminta maaf. Kalaupun saya ada di posisi Om, mungkin saya akan melakukan hal yang sama. Dan saya juga mau berterima kasih atas kepercayaan dan harapan yang Om dan Tante rasakan untuk saya. Saya juga ingin berterima kasih atas restu yang sudah diberikan.
__ADS_1
"Saya tidak peduli apakah Oleander sudah bisa memahami apa yang dikatakannya atau itu hanya sekadar kebetulan belaka, Om. Yang jelas, di dalam lubuk hati, saya tetap ingin memiliki Olavia seutuhnya. Saya tetap ingin menjadi Papa bagi Oleander. Saya tidak peduli harus menunggu satu, dua tahun lagi atau lebih dari itu. Yang jelas, saya akan menunggu Olavia sampai kapanpun. Saya hanya menginginkan Olavia dan Oleander, Om. Titik."
Tamat.