Papa Untuk Oleander

Papa Untuk Oleander
21. Menu Makan Siang


__ADS_3

Angga


Gila gue. Gue rasanya mau gila. Apa gue udah gila, ya? Seriusan, guys. Gue bisa gila kalau gini caranya, nih.


Hari pertama dan gue tidak bisa mengantarkan wanita pujaan gue berangkat ke kantornya karena si Kamprxt yang melakukan tugas itu. Gue paham kalau dia juga ingin ambil andil dalam mengurusi mereka, adik perempuan satu-satunya dan keponakan pertama keluarga Arifin, akan tetapi, ya, begitulah. Gue tetap saja tidak bisa tenang.


Dari pagi sampai pukul—gue langsung melirik ke jam tangan gue—sepuluh lewat tiga puluh lima ini gue sibuk menahan diri agar tidak membayangi setiap helaan napas Olavia dengan pesan dari gue.


Walaupun, gue akui ada beberapa pesan yang sudah terkirim dan dibalas. I mean, lebih baik lima atau enam buah pesan daripada seratus, kan?


Angga : good morning


Angga : have a safe ride


Angga : udah nyampe kantor kan?


Angga : Olavia?


Olavia : hi. morning


Olavia : thank you


Olavia : udah.


Olavia : Tadi lagi ngobrol sama asisten gue dulu


Angga : oh, ok.


Angga : tadi Oli nyetirnya gak ngebut kan?


Olavia : gak kok. Selow


Olavia : lo jangan lebay deh


Olavia : Bang Oli tau yg terbaik buat kami


Angga : i know i know


Angga : sorry


Angga : can't help but worry tho


Angga : i care about you two too


Okay, gue bohong. Sorry, akan tetapi sejujurnya gue tidak sorry-sorry banget. Itu memang lebih dari lima atau enam buah bubble chat, akan tetapi itu merupakan jumlah yang jauh lebih sedikit dari yang gue inginkan.


Olavia : ok


Olavia : apology accepted


Angga : thank you

__ADS_1


Angga : nanti siang mau menu makan siang apa?


Angga : biar disiapin


Olavia : hm apa ya?


Olavia : Terserah aja


Olavia : gue juga gak lagi pengen apa-apa sekarang


Olavia : gak tahu


Olavia : eh tunggu


Olavia : gue cari dulu


Olavia : tunggu


Angga : iya, I'll be waiting


Ini sudah pukul sepuluh lewat tiga puluh lima dan gue masih saja menunggu balasan dari Olavia sampai jam segini.


Ya, Tuhan. Gue dengan "terpaksa" mengirimi dia pesan lagi.


Angga : la? You okay?


Angga : gue dari tadi nungguin loh


Angga : nanti telat makan siangnya


Angga : la?


Olavia : astaga gue lupa


Beginilah akibat dari gue yang terlalu menahan diri untuk tidak meneror wanita pujaan gue. Iya, kan? Dia jadi lupa harus memberi tahu gue soal menu makan siang yang dia inginkan. Hadeh.


Padahal gue sudah minta Pak Joko, head chef di Beniqno, untuk standby sejak pukul delapan pagi ini. Dua jam sebelum jam kerjanya dimulai.


Gue langsung berjalan menuju dapur sembari membalas pesan Olavia.


Angga : ya udah


Angga : aku bawain yang ada aja dulu ya?


Angga : gak apa-apa kan?


Olavia : ok


Olavia : thanks


Angga : anything for you

__ADS_1


Selesai mengetik pesan tersebut, gue mempercepat langkah. Dapur sudah mulai sibuk dengan persiapan keperluan restoran hari ini. Gue mendapati Pak Joko sedang memberikan instruksi kepada Coki, asistennya.


"Hei, Pak Joko, Bang Coki. Sorry, saya ganggu sebentar."


Kedua laki-laki yang juga merupakan ayah dan anak itu sontak menoleh ke arah gue. "Gak apa-apa, Ngga. Ada apaan?" tanya Bang Coki.


"Engg, sorry, Bang. Gue pinjam Pak Joko bentar, ya." Sekonyong-konyongnya gue berbalik dan mengabaikan Bang Coki.


Sorry, nih, Bang. Namun, ini urusan benar-benar urgent.


"Pak, Olavia gak bisa mutusin dia mau makan apa. Sekarang terserah Bapak, deh, mau bikin apa aja yang penting sehat dan enak. Oke, Pak? Saya mau jemput Olavia dulu. Terima kasih banyak, ya, Pak. Bang, gue cabut dulu."


Gue tidak terlalu memikirkan apa tanggapan Pak Joko ataupun Bang Coki. Yang jelas, gue harus bisa membawa Olavia ke sini sebelum makanannya selesai dibuat.


****


Gue masuk ke kantor Olavia dengan diiringi oleh tatapan penuh rasa ingin tahu dari beberapa orang anggota tim yang dipunya Olavia di perusahaan jasa desain interior miliknya ini.


Namun, karena gue adalah gue, gue tidak akan mengerut di bawah tatapan orang-orang yang tidak ada artinya buat gue. Gue tetap berjalan dengan percaya diri menuju ke ruangan the love of my life di ujung sana.


"Eh, tunggu, tunggu, tunggu." Tiba-tiba saja sebuah tangan mendarat di lengan gue, berusaha untuk menghentikan gerakan gue. "Tunggu dulu, Pak."


Pak? Gue barusan dipanggil Bapak?


Gue menoleh ke arah kanan gue. Mata gue lantas menangkap sesosok wanita mungil, lebih mungil dari wanita pujaan gue yang cute dan adorable itu, yang menatap gue dengan satu alis terangkat.


Well. Kecil-kecil cabe rawit, nih, kayaknya ibu-ibu.


Gue kenal ibu-ibu ini siapa. Seenggaknya gue tahu kalau dia adalah asistennya Olavia berkat perjalanan yang ditempuhnya untuk mengambil pesanan wanita pujaan gue sebelum-sebelumnya.


"Ya?" Gue menarik tangan gue dari genggaman asisten yang tidak gue ketahui namanya ini. "Ada yang bisa saya bantu?"


"Huh?" Dia jelas tidak setuju dengan apa yang barusan ke luar dari mulut gue. "Ada yang bisa Bapak bantu? Lucu, Pak. Seharusnya itu dialog saya. Ada yang bisa saya bantu?" cecarnya dengan menekankan kata saya di kalimatnya yang terakhir.


Okaaay. It's nice to know kalau Olavia punya pegawai dengan attitude seperti ini. "Saya mau ketemu sama Olavia." Gue akhirnya menjawab.


"Bu Olavia? Apa Bapak sudah punya janji temu? Saya rasa belum. Soalnya saya tidak mengatur satu pun janji untuk Bu Ola dalam waktu dekat."


Gue melirik ke nametag ibu-ibu ini. "Bu Renata, saya sudah bikin janji langsung sama Bu Olavianya. Kalau tidak percaya, silakan ditanyakan."


Gue yakin gue akan menikmati percakapan dengan ibu-ibu cerewet ini kalau saja gue tidak punya misi untuk membawa Olavia ke Beniqno segera.


"Oke. Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana," perintah ibu itu sambil mengarahkan telunjuknya yang chubby ke hidung gue.


Shxt. Semua tentang Ibu Renata ini mengingatkan gue dengan Octavia Spencer dengan kulit yang lebih terang. Weits. Tunggu dulu, gue cuma memberi penjelasan. Bukan mau jadi rasis, ya, guys. Hold your horses.


Sambil menunggu, gue tetap bisa merasakan tatapan-tatapan menusuk-nusuk punggung gue. Kalau bukan karena mempertimbangkan perasaan Olavia dan menjaga namanya, sudah gue tanya apa keinginan mereka yang dari tadi melototin gue satu per satu.


Untungnya Olavia dan Bu Renata segera ke luar dari ruangan dengan pintu yang dipasang nama the love of my life. "Angga, ngapain lo ke sini?"


"Aku mau jemput kamu. Ayo, langsung ke Beniqno aja. Keburu dingin makanannya nanti."

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2