
Angga
"Tapi ...." Om Arif melanjutkan.
Gue seketika menegang. Selebrasi yang baru saja gue lakukan di dalam hati sekonyong-konyongnya terhenti. Gye seharusnya sadar kalau Om Arif tidak akan luluh semudah itu. Ini perkara anak perempuan satu-satunya dan cucu pertama keluarga mereka. Bukan soal merelakan hal remeh seperti sepasang sandal yang dijual di pasar.
"Tapi, Om rasa kamu harus menunggu terlebih dahulu, Ngga. Maksud Om, kamu harus menunggu lagi." Kali ini kedua lengannya bersilang lagi, akan tetapi kini diletakkan di atas perut sebagai penumpu siku kanan yang ditegakkannya. Telapak tangan kanan pria paruh baya yang masih memarkirkan tubuhnya di tepi meja itu sibuk hilir mudik di dagu yang tak berambut itu.
Om Arif memang seorang pria yang selalu menjaga kebersihan dan kerapian penampilannya. Style dialah yang ditiru oleh si paling perfeksionis Oliver Andreas Arifin itu.
"Maksudnya, Om?" Gue akhirnya ikut-ikutan mengubah posisi badan. Tangan yang sedari tadi terpaut di belakang badan kini gue pindahkan ke depan. Gue silangkan di depan dada dan gue pegang dagu gue dengan telapak tangan kanan yang lengannya bertelekan di tangan kiri gue.
__ADS_1
Alam bawah sadar gue membikin gue meniru posisi Om Arif. Sadar akan hal ini, gue turunkan kedua tangan sehingga gue kini hanya berdiri dengan tangan di dalam saku-saku celana. "Angga agak kurang mengerti, Om. Bukankah lebih baik jika niat baik itu disegerakan pelaksanaannya?" Gue mencoba mengajukan pendapat.
"Yes, yes." Om Arif mengangguk. "You're not wrong." Dia kemudian berpindah tempat lagi, kembali ke kursinya di balik meja. Dia kembali duduk dan melanjutkan pose yang dibuat saat pertama kali duduk di sana tadi.
Kali ini, di saat Om Arif menyuruh gue untuk duduk, gue tidak berani membantahnya. Gue lantas duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Gue sengaja meletakkan bokong gue di kursi sebelah kiri, yang merupakan sebelah kanan Om Arif. Entah karena alasan apa, yang jelas firasat gue memerintahkan gue untuk duduk di kursi itu.
Pria bernama lengkap Arifin Handoko itu pun berdeham. "Tapi, Om minta kamu mencoba untuk memahaminya dari sisi Olavia." Om Arif menghentikan kalimatnya san menatap gue lurus.
"Ini bukan masalah menunda-nunda eksekusi dari niat baik kamu. Bukan. Ini juga bukan cara Om untuk membuat kamu gentar dan mundur dari samping Olavia. Tidak, Ngga. Tidak. Kamu tahu kami juga sayang sama kamu. Kami sudah menganggap kamu selayaknya anak sendiri. Kami sudah kenal kamu dari kamu masih remaja. Kami kenal baik dengan orang tua kamu. Meminjam istilah orang tua-tua dulu, kami sudah mengerti bibit, beber, dan bobot seorang Anggarasyah.
"Begini, Angga. Om ingin menyampaikan beberapa pertanyaan yang harus kamu jawab. Kamu tidak harus menjawabnya langsung di depan Om, tidak. Kamu bisa menjawabnya sendiri, di dalam hati kamu. Kamu bisa menilai sendiri jawaban yang kamu berikan. Dan Om minta agar kamu betul-betul memikirkan semua jawaban itu secara matang. Bukan hanya berdasarkan hasrat hati kamu hari ini saja.
__ADS_1
"Om pernah dengar sebuah kata bijak dari seseorang. Intinya, dia mengatakan bahwa jangan asal berjanji di saat kita bahagia, jangan asal bersumpah di saat kita sedih, dan jangan asal berdoa di saat kita putus asa. Artinya apa? Di setiap kesempatan, kita diharuskan untuk tetap berhati-hati dalam bersikap. Bukan begitu?"
Gue mengangguk. Gue gugup setengah mampus, akan tetapi tetap saja gue menganggukkan kepala ini dengan patuh.
"Sekarang Olavia baru mengecap rasanya menjadi ibu, Ngga. Dia masih harus melakukan beberapa penyesuaian. Walaupun proses menjadi orang tua adalah proses yang berjalan seumur hidup, tahun-tahun pertama adalah yang paling sulit. Terkhusus untuk anak pertama. Menurut kamu, bukankah sebaiknya kita biarkan dulu Olavia itu? Bukankah sebaiknya kita memberikan waktu agar dia bisa benar-benar menempatkan diri sebagai orang tua, seorang ibu, sebelum kita mengguncang dunianya lagi dengan mengubah statusnya menjadi calon istri dalam waktu yang singkat? Apakah menurut kamu itu tidak akan membuatnya overwhelmed, kewalahan? Secara fisik dan psikisnya?
"Tapi, Ngga, kamu juga pasti sadar kalau ini bukan hanya masalah Olavia. Om sudah bertanya sama kamu tadi, bagaimana dengan Oleander. Dan Om sangat menyukai rencana kamu. Meskipun Om dan Tante masih tidak mengetahui cerita sebenarnya tentang siapa ayah dari cucu kami itu, kami tetap menginginkan yang terbaik untuk Ole. Kalau kamu mau menjadikannya sebagai anak kamu di mata negara, kami tidak akan melarang. Sekarang pun kamu sudah menjadi salah satu sosok laki-laki penting di dalam hidup dia." Om Arif berhenti sejenak. Di wajahnya kalakian terukir sebuah senyum yang simpul. "Olavia cerita soal Ole yang kebetulan memanggil kamu dengan sebutan Papa."
Damn. The best day of my life as far as today.
Bersambung ....
__ADS_1