
Angga
What the heck? Kenapa dia bisa tahu?
"Kenapa? Kaget lo?"
Gue batuk-batuk karena tercekik ludah sendiri.
Sahabat gue itu malah tergelak penuh kemenangan. "Benar, kan, gue? Ketebak banget lo!"
Gue terbatuk-batuk lebih lama lagi sebelum berhasil mengarahkan air liur gue yang tadi salah tempat ke salurang yang benar. "Tahu dari mana lo?" tanya gue setelah menelan liur yang menyekat.
"Dari mana lo tanya? Ya, dari gelagat lo lah! Gak biasanya kelakuan lo gak jelas gitu. Gelisah banget. Please. Kita semua tahu lo pasti lebih milih bareng Lala dan Ole daripada di sini bareng gue."
Entah kenapa gue menangkap sekilas rasa yang tidak enak dari nada suaranya. Apakah dia ... cemburu? "Kalaupun iya, cemburu lo?" Gue menanggapi dia dengan bercanda.
Dia terdiam. Diam yang agak kurang menyenangkan. Oliver lalu menyunggingkan kaleng dan menenggak isinya dengan tegukan yang besar. "Kalau dipikir-pikir, hm ...." ungkapnya sambil tercenung. Tatapannya lurus pada layar televisi yang sudah gue matikan.
Gue menunggu kelanjutan kalimat sahabat gue yang sedang tercenung itu.
"Setelah melihat lo, Lala, dan Ole, gue baru sadar kalau gidup gue kosong banget, Ngga."
Tidak pernah gue sangka kalau kalimat itu yang ke luar dari bibir seorang Oliver yang selama ini tampak easy-going dan fun dan baik-baik saja. Gue tidak tahu kalau dia merasa seperti ini.
Gue katakan itu pada cowok di samping gue. Tubuhnya kini ditopangkan sepenuhnya pada sandaran sofa, begitu juga dengan kepalanya. Pandangannya kisi sudah beralih ke langit-langit townhouse gue yang terbuat dari PVC berwarna broken white.
"Yeah." Oliver mengembuskan napas panjang yang terdengar pasrah. "Gue sendiri juga gak menyangka bakal merasakan hal yang kayak gitu. Gue kira hidup gue udah ... ya, cukup. Orang tua lengkap dan bahagia, adik sama keponakan gue juga bahagia, pekerjaan lancar. Kalau gue butuh teman, ada lo. Kalau enggak, gue tinggal telepon salah satu nama yang ada di kontak gue dan ...." Lagi-lagi dia mendesah. "Gue kira masalah cuma sampai situ aja."
__ADS_1
Gue cerna apa yang baru saja dia ungkapkan di dalam otak sembari mempertahankan diri untuk gelombang resah lain yang ke luar dari hati pemuda itu.
"Kegiatan gue cuma kerja, istirahat di apartemen, main ke rumah Bokap dan Nyokap, udah. Itu aja. Shxt, man, gue gak mau terkesan kayak orang yang gak bersyukur, tapi, ya ... gue mulai merasa kesepian, bro.
"Melihat kalian bertiga, lo sama Lala temenin Ole main, terus ketawa-ketawa, bujuk Ole yang nangis bareng-bareng, atau saling bantu beresin kekacauan yang si monster kecil itu sebabkan." Oliver kemudian tertawa. "Shxt, man. Gue bisa bayangin kayak apa si Ole pas gede nanti. Udah dapat role model yang kayak kita berdua ditambah trouble yang dia bawa dari lahir. Damn!" Kakahnya semakin menjadi-jadi. "Gue gak sabar pengen lihat gimana kalang kabutnya kalian menangani si little rascal itu pas dia udah bisa jalan."
Mau tidak mau gue ikut-ikutan membayangkan hal itu dan tertawa. Fxcking hell. Oliver benar juga. Sekarang saja wanita pujaan gue sudah kocar-kacir dibuatnya. Menggelinding ke sana, putar ke sini. Memegang kaki dan memasukkan jempol kakinya ke mulut. Sudah dibelikan mainan yang bagus dan mahal, Ole malah senang dengan kantong keresek atau kertas pembungkus mainan itu.
Ah. Rindu yang sibuk gue tahan daei tadi kini menenggelamkan hati gue. Sehari saja tidak bertemu rasanya sudah mau gila begini.
Ya, Tuhan. Gue mau cepat-cepat ketemu anak gue itu.
Oops. Uhuk!
"Nah, itu, tuh!"
Celetukan Oliver membuat gue tersadar dari pikiran yang menerawang. Sekonyong-konyongnya gue menoleh dan mendapati ujung telunjuknya tidak jauh dari hidung gue. "Itu apaan maksud lo?" tanya gue heran.
Gue masih tidak mengerti. "Emangnya kondisi muka gue gimana barusan?"
"Yaaa, gimana gue ngejelasinnya, ya?" Lelaki itu menggelengkan kepalanya lagi.
Well, kalau dia masih geleng-geleng juga dalam beberapa waktu ke depan, gue cemas itu kepala bakal lepas dari lehernya si Kunyuk. Habisnya dia sering banget geleng-geleng dari tadi.
"Yang jelas, gue juga pengen terlihat kayak gitu. Gue juga pengen ada seseorang yang bikin kondisi muka gue kayak gitu saat gue mikirin dia."
Tidak ada kata-kata lagi yang mengiringi pengakuan Oliver setelah itu. Kami menghabiskan beberapa kala yang berlalu dalam dia. Dia asyik menengadah dan masih memandangi plafon sementara gue sibuk memutar otak.
__ADS_1
Di satu sisi, gue sangat terkejut dengan pengetahuan yang benar-benar baru buat gue. Gue merasa agak bersalah karena terlalu sibuk dengan urusan pribadi sehingga tidak dapat mengatur waktu untuk sahabat gue sendiri. Namun, di sisi lain, gue memang betul-betul bahagia dengan kehidupan gue sekarang. Olavia dan Oleander sudah menjadi pusat dunia gue. Kalau kondisi muka yang dimaksud oleh Oliver itu adalah tampang bucin dan gelo karena tertawa sendiri, gue rasa dia benar.
Gue memang gelo dan gue memang bucin.
Dan gue tidak malu mengakui semua itu.
"Sorry, man." Akhirnya gue berkata. Hanya itu yang dapat gue ucapkan. "Gue gak tahu kalau lo merasa kayak gini."
Kini giliran dia yang hanya mengedikkan bahu yang tengah menempel di sofa gue itu.
Suasana menjadi hening lagi.
"God damn it!" Tiba-tiba saja Oliver mengumpat, membuat gue sedikit terkejut. "Udah, ah. Gak usah mikirin masalah gue. Kenapa jadinya malah ngobrol soal gue, sih?" Dia lalu tertawa.
Gue tahu tawanya itu agak dipaksakan. Yaaa, namanya juga laki-laki. Kami tidak tahan untuk membicarakan soal perasaan dalam waktu yang lama. Curhat seperti yang dilakukan oleh Oliver tadi saja sudah ampun-ampunan rasanya.
Gue yakin. Makanya gue juga meladeni dia dengan lelucon. "Iya, sialan benar, dah. Kalau tahu gitu, gue siapin es krim sama keripik tadi. Biar selesai sesi heart to heart kita bisa langsung binge chick flicks sambil makan. Ya, elah." Gue tepuk bahunya sambil sedikit memberi dorongan.
Gue harap dia mengerti dan paham kalau, bagaimanapun, gue akan tetap ada di sini buat dia.
"Sialan. Sial. Sial. Sial," ulangnya terus. "Eh, by the way, soal rencana lo."
Sialan. Gue hampir lupa sama tujuan gue. Ya, Tuhan. "Hm?" Gue bergumam. "Emangnya gimana soal itu?"
"Gue restuin lo berdua. Meski gue tetap harus waspada sama kelakuan lo dan jaga-jaga soal janji yang lo bikin, gue sebagian besarnya merestui kalian berdua." Dengan kepala yang masih berada di atas sandaran sofa, dia menoleh ke arah gue. "Lo udah ngomong sama bokap?"
Gue menggeleng. "Rencana gue, habis gue ngomong sama lo, gue baru ngomong sama Om Arif."
__ADS_1
Sebuah senyum jahil lantas tersungging di bibirnya Oliver. "Bro, gue gak sabar buat lihat tanggapan bokap gue soal rencana lo ini."
Bersambung ....