
Angga
Sentuhan di lengan atas gue membuat gue terkejut lagi. Kali ini sampai membangunkan gue dari tidur.
Heh? Sejak kapan gue ikutan tidur?
Dan, setelah gue menoleh, pertanyaan yang lain segera menyusul. Sejak kapan Oliver berdiri di samping gue?
Muka sahabat gue itu tidak enak sekali dilihat. Matanya masih merah dan wajahnya masih agak pucat. Meskipun begitu, dinilai dari pakaian dan wanginya, gue yakin dia sudah mandi. Jadi, seharusnya perasaan Oliver sudah tidak terlalu buruk. Namun, kenapa dia menatap gue dengan cara seperti itu?
Satu detik,
dua detik,
dan yang ketiga.
Sebuah suara "klik" bergema di dalam otak gue.
Meminjam kata dari si Perawat Centil Sialan itu, oops!
Gue merasa muka gue terbakar oleh rasa ... apa, ya? Kalau mau dikatakan malu, gue tidak malu dipergoki dalam posisi ini. Karena gue sudah bilang berulang kali, gue akan ada buat wanita pujaan gue mulai dari sekarang. Dan itu termasuk dengan bersedia menjadi bantal buat dia agar bisa tidur dengan nyenyak.
Gue juga tidak merasa bersalah, karena yang gue lakukan tidak salah. Apanya yang dinilai salah, hm? Sekali lagi, gue hanya ingin ada buat the love of my life. Apa yang salah dengan itu?
Namun, gue juga sadar. Kalau gue ada di posisi Oliver, kalau adik perempuan gue yang diperlakukan seperti gue memperlakukan wanita di dalam pelukan gue ini dulu, gue juga akan pasang tampang aneh saat melihat mereka berbaring berdua di atas tempat tidur. Tidak peduli mereka cuma tidur, tidak melakukan hal negatif apa pun, bahkan jika itu terjadi demi kenyamanan adik gue sekali pun.
Gue akan tetap pengen nabok cowok itu sampai gue puas.
Alis Oliver akhirnya turun dari garis rambutnya saat dia memberikan kode agar gue mengikutinya ke luar.
Okay, then. Siap. Gue tidak punya pilihan lain.
Gue kembali memindahkan fokus penglihatan pada wanita di samping gue saat kakaknya sudah berbalik dan menuju ke pintu. Gue perhatikan dengan saksama setiap lekuk wajahnya yang kini kuyu, pucat, dan tirus. Meski begitu, dia tetaplah wanita paling cantik di dunia ini bagi gue.
__ADS_1
Dia dengan mudah menarik sesuatu di dalam hati gue.
****. Gue pasti udah terdengar kayak banci. Lagi dan lagi dan lagi mengakui perasaan gue sama cewek ini. Gue bahkan tidak bisa menyembunyikannya seperti sebelum-sebelumnya. Gue tidak akan berusaha melakukannya lagi.
Gue di sini ada untuk menemani dia. Titik.
Dengan hati-hati gue bergerak, menegakkan badan, dan kemudian menempelkan bibir gue ke keningnya dengan lembut. Gue tarik lengan kanan gue lambat-lambat dari bawah kepala Olavia dan menggantinya dengan bantal.
Setelah itu gue manuver badan gue untuk turun dari tempat tidur. Memutar otak untuk menemukan cara agar gue bisa beranjak dari sana tanpa menciptakan suara sekecil apa pun itu.
Fiuh.
Saat akhirnya gue bisa berdiri lagi setelah entah berapa lama terbaring dengan posisi awkward—kaki terlipat dan badan menahan beban agar tidak jatuh ke lantai, gue mengbuskan napas lega dan menggoyang-goyangkan lengan gue yang kebas. Tak sengaja tangan gue mengenai lemari samping tempat tidur yang untungnya terbuat dari kayu.
F*ck!
Namun, gue tidak dapat menikmati rasa sakit itu karena gue refleks menahan napas ketika Olavia bergerak di atas tempat tidur. Gue sibuk memperhatikannya, berdoa agar dia tidak bangun, dan meremas tangan gue yang sakit.
Gue segera ke luar menyusul Oliver.
"Udah mendingan lo?" Gue bertanya sebagai pembuka percakapan. Basa-basi, istilah orang lama.
Jujur, gue tidak tahu harus berharap apa dengan percakapan ini. Setelah pertemuan terakhir kita yang berakhir dengan gue yang babak belur, baru kemarin gue dan sahabat gue itu bertatap muka lagi. Kemarin masih ada alkohol di antara kami yang menjadi pencair suasana dan logika. Sekarang ....
Sekarang gue cuma punya modal tekat dan nyali doang.
Oliver mengerling ke arah gue dan mengangguk kecil. Namun, dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Gue juga tidak.
Yaa, kalian tahu lah. Gue bukan orang yang paling baik dalam urusan basa-basi atau ngobrol canggung. Di antara kami Oliver-lah yang berperan sebagai si paling ribut dan ekstrover. Gue tukang pasang tampang seram aja.
Beberapa saat berlalu dengan kami yang berdiri diam-diaman di koridor depan kamar Olavia.
__ADS_1
"Gue harap lo tahu apa yang lo lakuin, Ngga."
Huh? Ini anak lagi ngomongin soal apa? "Maksud lo?"
Dia diam lagi, akan tetapi hanya untuk sepersekian detik. "Itu, yang tadi gue lihat." Oliver menganggukkan kepalanya ke arah pintu kamar.
"Oh, itu."
"Iya, itu," sahutnya dengan cepat. "Tapi, sayang. Yang di dalam itu bukan sekadar "itu" bagi gue, seperti yang lo bilang barusan."
"Olavia juga bukan sekadar itu bagi gue, Bro. Lo tahu itu." Gue membela diri.
"Yeah?" Dia lantas tergelak, tertahan. Tawanya terasa sangat meremehkan. "Yakin lo?"
Gue paham maksud sahabat gue itu. Gue paham perasaan dia. Namun, tidak berarti gue tidak.akan tersinggung dengan nadanya barusan. "Gue tahu gue pernah salah sama dia, man. Gue tahu banget gue udah nyakitin dia. Dan gue juga tahu kalau dia adek lo. Tapi, gue juga sahabat lo. Lo juga kenal siapa gue. Lo juga tahu apa yang udah gue laluin selama ini. So, please, jangan terlalu nge-judge gue.
"Sekarang gue ada di sini karena gue mau menebus dosa-dosa yang udah gue lakukqn ke dia dulu. Gue gak bisa lagi berpura-pura gak cinta sama dia. Gue gak bisa lagi ngelihat dia dari jauh kayak yang kemarin-kemarin. Olavia sekarang sedang butuh semua support yang bisa dia dapatkan, dan gue akan berusaha memberikan semua yang dia mau.
"Gue juga butuh dukungan lo, sebagai sahabat gue dan kakak dari cewek pujaan gue, dalam mewujudkan itu, man. Gue juga butuh semangat untuk memulai perjuangan ini lagi. Gue bakal bersyukur banget kalau lo mau ngasih itu ke gue. Tapi, kalau lo pikir gue gak pantas, berarti urusan gue nambah satu lagi. Selain harus meluluhkan hati Olavia lagi, gue juga harus memperjuangkan kepercayaan elo.
"It's okay. Gue akan lakukan semua yang gue butuhkan untuk bisa membuktikan janjinya yang udah gue buat sendiri. Gue gak peduli biarpun ada yang menghalangi."
****. Panjang banget pidato gue barusan?
Tidak apa-apa lah. Demi the love of my life.
Keheningan menghampiri kami lagi.
Kamar Olavia ada di ujung koridor dan berada di private wing, jadi tidak ada aktivitas lain yang bisa dijadikan pusat perhatian. Pilihan satu-satunya adalah memelototi lukisan abstrak berwarna cerah yang tergantung di dinding di seberang dari tempat di mana gue dan Oliver berdiri.
"Oke." Suara Oliver mengisi kekosongan lagi setelah terdengar embusan napasnya yang panjang. "Gue dukung kalian. Tapi, kalau lo nyakitin dia lagi, gue akan bikin hidup lo lebih berat daripada kematian itu sendiri. Ngerti lo?"
Bersambung ....
__ADS_1