Papa Untuk Oleander

Papa Untuk Oleander
37. Renyah Tawa Olavia


__ADS_3

Angga


Kami akhirnya kembali rebahan lagi. Tak disangka tak dinyana, hari yang awalnya ditujukan untuk beristirahat malah menjadi rangkaian jam yang mengandung momen-momen penting yang menguras air mata.


Namun, gue tidak akan mau menggantinya dengan apa pun. Gue rasa apa yang terjadi seharian ini merupakan saat-saat yang vital dalam hubungan kami dan I won't have it any other way.


Gue tidak peduli kalau gue tadi nangis bombay di depan wanita pujaan gue. Dua kali malah. Gue tidak peduli. Yang jelas, setelah apa yang kami bicarakan dan yang kami ekspresikan dengan air mata tasi, perasaan gue semakin kuat buat Olavia. Terlebih lagi untuk bayinya.


Tanpa berpikir dan tanpa permisi menyentuh perut Olavia untuk pertama kalinya. Dan ketika gue merasakan tendangan kecil dari manusia mungil di dalam perut ibunya itu ... Man! Perasaan gue campur aduk. Namun, sudah pasti campurannya emosi yang positif semua. Gue kaget, gue tidak menyangka, gue senang banget karena pada akhirnya gue bisa melakukan apa yang sudah lama gue impikan dan mendapatkan reaksi pula dari si bayi.


Semoga reaksi itu benar-benar berarti baik, ya. Gue tidak mau berpikir bahwa tendangan si bayi tadi itu dilakukan sebagai aksi protes karena sentuhan gue yang tidak diinginkan. Dan gue rasa dia memang suka sama sentuhan gue. Buktinya saja, saat gue menyentuhnya kembali beberapa saat kemudian, dia menggelinjang kegirangan.


I hope.


Shxt.


Gue tergelak saat mengenang adegan menangis yang gue lakukan tadi.


"Kenapa kamu?" Olavia yang sedang menyandarkan tubuhnya ke tubuh gue menoleh dan bertanya.


Gue menggeleng. "Enggak ada." Gelak gue tersembur lagi. Menegasi pernyataan yang gue buat barusan. "Shxt."


"Apaan, sih, kamu?" Wanita gue menyiku dada dengan gemas.


Gelak yang keluar satu, dua tadi berudah menjadi tawa yang berserakan.


"Apa, sih, kamu, Ngga? Gak jelas banget, iiih."


Sambil melingkarkan kedua lengan gue ke tubuh Olavia, menyurukkan muka gue di lehernya, dan meletakkan telapak di tempat favorit terbaru yang gue punya, gue masih saja tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Gue dengar the love of my life ikut-ikutan terkikik-kikik. "Apa, sih, Yang?" desaknya. Dia masih kukuh ingin tahu.


Setelah kakahan gue mereda, barulah gue bebaskan dia dari rasa penasarannya. Di kalakian gue angkat kepala gue sehingga tatapan kami kembali bertemu. "Aku malu banget kalau ingat-ingat yang tadi. Maksud aku, yang bagian nangisnya, bukan yang lain. Kapan, ya, terakhir kalinya aku nangis bombay kayak begitu? Aku gak ingat." Gue terkekeh geli. "Sialan."


Wanita tercantik di pangkuan gue itu pun ikut terkekeh. "Oh, itu. Hm. Kapan, Yang? Aku jadi penasaran lagi."


Cepat-cepat gue menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan. "Nope. Not a chance," tolak gue seketika itu juga. "Kalaupun aku ingat, aku gak akan pernah bagi ceritanya ke kamu. Udah cukup rasanya kredibilitas aku sebagai cowok ternodai gegara kecengengan aku tadi. Nanti kamu gak bilang aku beruang kutub pemarah lagi. Gimana, dong?"


"Eh!" Olavia menepuk dada gue dengan punggung tangan kanannya. "Kok, kamu bisa tahu aku manggil kamu itu? Kamu tahu dari mana, ha?"


Gue mengangkat sebelah bahu, berlagak sok misterius. "Ada, deh."


Cewek gue itu pun memicingkan mata. Penampakan yang gue tahu akan membawa bencana.


Tiba-tiba saja gue merasakan rasa perih di puncak dada gue. "Ouch!" Shxt. Jangan bilang kalau dia baru saja memelintir pxting gue. Namun, kalau dipantau-pantau, sumber rasa sakitnya memang datang dari sana. "Ouch, Yang!Sakit, tahu!" protes gue setengah meringis setengah tertawa. Cewek ini tidak pernah gagal membuat gue tercengang dengan kelakuannya.


"Makanya, kamu itu! Siapa suruh gak mau jawab?" Olavia membela diri. Dia kemudian mencibir dan memberi gue tatapan sejurus itu lagi.


"Iyakah?" tanyanya dengan pipi yang sudah merah.


"He-eh."


"Aduh. Eh, sorry, deh. Aduh."


"Ih, kenapa malah salah tingkah begitu kamu, ha? Ha?" Gue colek-colek dagu wanita pujaan gye yang semakin memerah itu pipinya.


"Angga, apaan, sih, kamu!" Dia mengibaskan tangan gue. Gye lihat keningnya berkerut, akan tetapi tidak ada yang bisa mendustai sentum yang menarik sudut-sudut bibirnya. "Jangan, ih. Angga!"


Gue menghentikan godaan gue dan menggantinya dengan kecupan di dahi. "Udah, gak usah malu gitu kamu. Siapa bilang aku gak suka sama julukan yang kamu kasih itu? Come on, Sayang. Pria mana yang hidungnya gak mengembang dibilang beruang kutub berbadan kekar? Siapa, ha?"

__ADS_1


Gue mendapatkan cibiran. "Kamu lupa kalau masih banyak embel-embel di belakang nama itu, kan?"


"Bodo amat lah sama embel-embelnya." Gue juga mencibir.


Wanita pujaan gue itu tiba-tiba saja mendesah. Ada nada sedih yang bibawa oleh udara yang dikeluarkannya.


Gue menunduk, menilik wajah cantiknya dengan saksama. Mencari petunjuk soal apa yang membawa kesedihan itu padanya. "What is it, Sayang? What's wrong?" Gue akhirnya bertanya.


Olavia menggeleng. Dia kemudian merebahkan kepalanya ke dada gue lagi. Jari-jemarinya bergelayut di baju yang gue pakai. "Aku kangen Raisa, Ngga."


Well .... Gak ada yang bisa gue bilang selain, "I know."


"Kenapa dia masih diamin aku, ya, Ngga?"


Gue sungguh tidak suka dengan awan kelabu yang menggelayuti dunia the love my life sekarang ini. Maksud gue, ya, barusan kita ketawa-ketawa. Tidakkah bisa kesenangan itu bertahan lebih lama kalau tidak akan bisa selama-lamanya?


Gue usap punggungnya pelan-pelan, ke bawah dan balik lagi ke atas, terus dan terus, dengan harapan sentuhan gue dapat membuat dia sedikit lebih tenang. Gue kecup keningnya lagi. "Maybe dia cuma butuh waktu, Sayang. You know, soalnya masalah engg ... masalah ... itu ... sensitif banget buat cewek, kan?" Gue tutup komentar gue dengan sebuah kecupan lagi.


Whatever. Sekarang ketika gue sudah bisa melakukan itu sesuka hati gue, gue tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Gue akan terus menemukan alasan untuk menghujani cinta di dalam hidup gue ini dengan kecupan-kecupan dari gue. Biar dia terbiasa dan selalu ingat sama keberadaan gue. Biar dia tidak lagi merasa sendiri.


"It's not fair," ungkapnya lirih.


Mendengar ini, gue menghela napas panjang. "Sebenarnya, semua terlihat tidak adil karena kita gak melihatnya dari sudut yang benar, Yang. Di mata Tuhan yang Maha Tahu, semuanya fair."


Bisa gue rasakan embusan napas Olavia menembus kain katun baju kaus yang gue pakai. Bisa gue rasakan juga kecupak yang kemudian dia bubuhkan di sana, tepat di atas di mana jantung gue berada. "Akhirnya aku ketemu sama kamu yang aku kenal dulu. Yang kalem dan bijaksana."


"Well, aku masih di dalam sini, kok. Kamu aja yang sibuk ngatain aku beruang kutub raksasa pemarah yang kurang ajar dan suka seenaknya."


Wanita gue akhirnya terkakak lagi.

__ADS_1


Nah, suara seperti ini yang ingin selalu gue dengar ke luar dari dalam diri dia.


Bersambung ....


__ADS_2