Papa Untuk Oleander

Papa Untuk Oleander
9. True Happiness


__ADS_3

Angga


"Jadi, ya, gitu, Tante, Om. Setelah perawat bantu beresin tempat tidur dan ganti baju Olavia, Dokter Akbar masuk. Cek semuanya. Ternyata makanan yang berminyak dan manis-manis lebih bisa memicu mual dan muntah. Maafin saya. Saya gak tahu soal itu. Gara-gara makan cupcake yang saya bawa Olavia jadi muntah-muntah lagi." Gue baru menyadari betapa benarnya apa yang gue bilang. Ini semua salah gue.


Damn it, Angga. Kenapa lo gak bisa ngelakuin satu aja hal yang benar, sih? Apalagi ini ada hubungannya dengan Olavia, lho. Cewek pujaan lo. The love of your life!


"Ah! Kamu gak boleh ngomong gitu, Ngga. Jangan nyalahin diri sendiri. Kamu kan gak tahu. Tante sama Om juga gak tahu kalau gak kamu kasih tahu. Kita pikir kan yang penting Ola mau makan aja. Terserah mau makan apa. Iya, kan?" Tante Yuni mencoba menghibur gue.


Namun, gue bisa apa? Kacang hijau yang mau dibikinkan bubur sudah telanjur jadi toge. Gue tidak bisa apa-apa lagi selain menyalahkan diri sendiri dan merasa tolol.


"Iya, Ngga. Udah. Yang penting sekarang semuanya udah beres. Kita udah lebih aware sama kondisi Ola. Untuk ke depannya kita bisa lebih hati-hati lagi." Om Arif menambahkan.


Gue hanya mengangguk.


Kami masih berada di dalam salah satu ruang inap VVIP Rumah Sakit Dharmawangsa. Tante Yuni sedang duduk di tepi kasur, mukanya sendu, sepertinya tak ingin jauh-jauh dari anak perempuan mereka satu-satunya itu. Sementara Om Arif tengah duduk di kursi seberang meja di sebelah kiri gue dengan ekspresi yang bisa gue maklumi. Mereka berdua pasti sedang sibuk mencerna apa yang terjadi. Kehamilan Olavia, ketiadaan sosok sang ayah dari bayi ini, dan kondisi kesehatan si calon ibu. Meski belum terlalu tua; umur Om Arif dan Tante Yuni gue rasa masih sepantaran dengan bokap dan nyokap gue, ada di angka lima puluhan, wajah mereka kini diwarnai oleh gurat-gurat dari lelah hati yang akhirnya muncul ke permukaan.


Memang benar-benar bawa bencana aja itu si Bajingan sialan.


Gue cepat-cepat mengusir pemikiran itu dari dalam kepala gue. Atau, kalau tidak, gue bisa ngamuk-ngamuk tidak jelas di sini. Dan gue tahu tidak ada seorang pun dari kami yang membutuhkan bahan beban yang lain.


Oliver masih saja di luar. Si Kampret itu berkata kalau dia akan menitipkan Tote ke dog house langganannya terlebih dahulu sebelum membelikan makan siang buat gue. Sudah hampir satu setengah jam dia pergi. Namun, tidak jadi masalah. Nafsu makan gue juga masih belum kembali.


Dan wanita pujaan gue itu, dia masih saja pulas.


"Eh, by the way, Ngga. Tadi Oliver sempat mention soal perawat."

__ADS_1


Uh-oh.


"Udah Om beresin sama kepala rumah sakit."


Fiuh. Thank God.


"Tapi, kamu yakin masalahnya cuma salah paham biasa aja, kan? Bukannya masalah yang lain?


Selain emang perawatnya yang kegenitan dan berhasil bikin Olavia cemburu maksud Om? "Gak ada, Om. Emang salah paham aja. Awalnya saya gak ngerti juga. Tapi, ya, saya pikir demi kenyamanan Olavia, kan. Makanya saya bilang ke Oliver. Saya juga gak enak kalau langsung ngambil tindakan sendiri, gak ngasih tahu pihak keluarga dulu." Gue menjelaskan dengan menghindari bagian-bagian yang gue rasa tidak perlu diketahui oleh orang tua Olavia.


"Ah, kamu kayak orang jauh aja, Ngga," timpal Tante Yuni.


Well .... Gue benar-benar menanti hari di mana gue dan Olavia membentuk keluarga kami sendiri. Gue aamiin-kan makna tersirat dari kalimat Tante Yuni tersebut di dalam hati.


Ya, Tuhan. Berikan kesempatan agar harapan hamba ini bisa jadi kenyataan, ya? Terima kasih banyak, Tuhan. Aamiin.


Ola


Aku bangun dan kamarku seperti ada yang menyulapnya menjadi taman bunga. Pot-pot berisi karangan bunga yang indah dan wangi mengisi setiap permukaan. Meja kopi di depan sofa, meja di samping tempat tidur, juga meja di antara dua kursi di samping tempat tidurku. Beberapa, yang berukuran agak besar, malah berdiri berjejer di dinding.


"Kamu udah bangun, Sayang?" Suara Mama ditangkap oleh alat pendengaran.


Aku lantas menoleh ke arah kanan. Mama baru saja ke luar dari kamar mandi. "He-eh," jawabku seadanya. Tenggorokan rasanya begitu kering dan gatal. "Ma, aku mau minum."


"Tunggu, Mama ambilkan dulu." Mama lalu bergegas mengambil satu botol air mineral dari lemari pendingin.

__ADS_1


Oh, my God. Betapa nikmat terasa ketika air dingin itu meluncur di sepanjang pipa kerongkongan yang juga babak belur dan iritasi dihabisi oleh cairan asam dari lambung yang naik bersama makanan saat refluks tadi. "Thank you, Mama." Aku mengucapkannya setelah beberapa kali berdeham.


"Kamu lapar? Mau nyamil? Ini abangmu sudah belikan banyak biskuit dan buah-buahan. Dokter Akbar saranin kamu banyak makan dengan porsi kecil aja dulu, sebelum kuat untuk makan besar. Terus kurang-kurangin makanan manis dan berminyak."


Aku lantas mencari kotak cupcake-ku tadi dan memberengut saat tidak menemukan apa yang kucari. Jangan bilang kalau Angga sudah betul-betul memberikannya pada Ners genit sialan itu.


"Ih, kamu." Mama menowel ujung hidungku. "Nyariin kotak cupcake-nya pasti. Kan?"


Aku hanya meringis sambil cengengesan.


"Itu, di sana." Mama mengangguk ke arah lemari pendingin kecil yang mendominasi bagian bawah meja di samping tempat tidur. "Mama simpan dulu ke dalam kulkas. Nanti biar Mama aja yang habiskan."


Kini giliranku yang mengangguk-angguk.


Mama tak lama menyodorkan satu bungkus Tummy Yogurt Bar padaku. "Makan ini aja dulu, ya. Kalau mual dan muntahnya enggak parah lagi, nanti kamu bisa makan cupcake sepuasnya. Oh, iya. Burger sama cheese fries-nya juga disetop dulu. Oke? Minyak."


Seketika tanganku tergantung di udara mendengar pernyataan Mama. "Lho? Mama tahu dari mana?"


Mama yang kini sudah tidak sibuk mondar-mandir itu duduk di sebelahku, di tepi tempat tidur. "Tahu apa, hm? Tahu kalau kamu hampir tiap hari makan itu, iya?"


Kukunyah camilan rasa lime dengan tekstur yang kenyal dan crunchy itu dengan sedikit lebih garang. "Ini pasti Angga yang ngadu, kan?"


Wanita yang melahirkan aku dan Bang Oli itu malah tertawa. Lalu, setelah tawanya reda, Mama menatapku dengan cara yang membuatku merasa telanjxng dan menggeleng sembari tersenyum. "Mama gak tahu apa yang telah terjadi di antara kalian. Tapi, Mama yakin kalau maksud Angga itu baik, Sayang. Mungkin caranya saja yang kurang tepat atau tidak sesuai dengan keinginan kamu."


Mama di kalakian meraih tanganku yang bebas. "Apa pun itu, maafkan. Ya? Bukan hanya karena dia memang pantas untuk dimaafkan, akan tetapi juga karena kamu pantas untuk hidup bebas dari rasa dendam yang mengungkung hati kamu. Let the pain go, Sweetie, or you will never find the true happiness."

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2