
Ola
"Nangis lo?"
Suara Bang Oli menyentakku kembali ke kenyataan. "Eh, e-enggak kok. Siapa yang nangis?" bantahku sembari mengelap sudut mata dan membersihkan hidung.
"Olo olo, tututu, jangan nangis dong, Lala Tuyung. Nanti gue juga ikutan sedih. Olo olo. Cup cup cup cup." Bang Oli meledekku dengan bibir monyongnya.
Ingin sekali kugampar muka jeleknya itu. "Jangan main-main lo sama ibu hamil, ya." Akhirnya aku memilih untuk mengancamnya saja.
Dia tergelak. "Damn. Pregnancy hormones are no joke. Seriously."
****
Jadilah aku di sini, di kantorku sendiri, akan tetapi orang-orang ini berhasil membuatku merasa seperti orang asing, begitu tidak nyaman. Kupercepat saja langkah kaki yang kini dibungkus oleh Salvatore Ferragamo Varina Leather Flat berwarna hitam yang melengkapi setelan yang kupakai; maternity dress hitam longgar bermotif titik-titik putih dari INGRID & ISABEL ®.
__ADS_1
As usual, I am dressed to kill. But now I feel like I am the one who is dying.
Sialan.
Kenapa ruanganku terasa sangat jauh?
"Bos!"
Sebuah suara yang familier terdengar dari arah belakang. Karena aku tahu persis siapa pemilik suara cempreng nan khas itu, aku tidak ragu untuk berbalik ke arah sumber suara. Dan benar saja. Renata sedang berjalan cepat menyongsong aku.
Kunikmati siksaan yang diantarkannya ke telingaku. Sudah dua bulan aku tidak mendengar repetannya dan aku baru sadar kalau aku rindu. "Makasih banyak atas bunga dan cokelatnya. Sorry waktu itu saya masih sangat out of it jadi tidak bisa menyapa," jelasku sembari membalas pelukan ibu tiga anak yang juga sekretarisku itu.
"Eeey, enggak apa-apa, Bu Bos. Lagian Anda sedang sakit, bukannya main-main." Dia balas berseloroh.
Untuk kali pertama semenjak menginjakkan kaki di lantai ini tawaku benar-benar ke luar dari dalam dada. "Yeah. Saya harap saya cuma pura-pura sakit dan masuk rumah sakit." Tanganku serta-merta menyentuh perutku yang sudah mulai menonjol. Hal yang menjadi kebiasaan seiring dengan berjalannya waktu.
__ADS_1
"Aaah, come on, Bos. Jangan mellow-mellow, ah. Masih pagi banget." Renata menggiringku menuju ke pintu ruanganku yang hanya berjarak beberapa meter di depan kami. "Tapi, saya yakin gak ada konsep waktu buat ngegosip," tambahnya sambil mengedipkan mata.
Well ....
It turned out that what she hoped would be a hot gossip wasn't that hot. It's cold and cruel. But it had happened and I will never regret what I get from it.
"Dasar bajingan! Sialan! Berengsek! Saya yakin dia akan menyesal telah melakukan semua itu sama Anda, Bos. Saya akan berdoa agar suatu hari nanti dia akan kembali dan bersujud di kaki Anda untuk sebuah kesempatan yang dari awal tidak pernah pantas untuk didapatkannya. Semoga Tuhan mengabulkan doa saya. Aamiin." Dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan dengan semangat yang menggebu-gebu.
Ah, my heart.
Rasa canggung tadi akhirnya berubah menjadi sukacita. Hanya karena satu ibu-ibu cerewet yang mencintai bosnya dengan sedemikian rupa sehingga dia mau mengutuk pemuda tak dikenal.
Lagi-lagi air mata terbit tanpa permisi. Bulir-bulirnya dengan berani mengukir jejak di pipi ini. "Thank you, thank you. Bulan depan saya kasih kamu bonus, ya. Ingatkan kalau saya lupa."
Aw, ****. Pregnancy hormones really are no joke.
__ADS_1
Bersambung ....