
Ola
Papa dan Mama yang dijemput oleh Bang Oli sampai di apartemenku menjelang senja. Dan, berkebalikan dari perkiraan, mereka sepertinya tidak merasakan jet lag sedikit pun ketika bertemu langsung dengan Oleander untuk pertama kalinya. Di muka keduanya lantas terukir senyum paling lebar dan paling terang yang pernah aku lihat di seumur hidupku.
Wow. I really don't think I ever saw them this happy before.
Apalagi Mama, yang dalam sekejap sudah mengambil Oleander dari pangkuanku dan menimang-nimangnya dengan pelan.
Papa meletakkan tas yang disandangnya di atas meja kopi dan memberikanku sebuah pelukan. "Hai, Sweetheart. Sorry kami gak ada di sana di saat paling penting buat kamu." Kurasakan kecupan di keningku sekali sebelum ada jarak di antara kami. "Thank God kalian berdua sehat dan baik-baik saja. Dan thank you sudah memberikan kami seorang cucu yang tampan."
Aku hanya mengedikkan bahu. "I was just lucky, I guess," timpalku.
"Enggak, baby girl. Papa rasa kita semua yang beruntung," ucap Papa sambil menatapku dengan tatapannya yang penuh penerimaan.
Kupeluk laki-laki yang sudah membesarkanku dengan baik itu sekali lagi. "Thank you, Pa. And we missed you."
"We missed you too, Sweetheart. We missed you too."
Percakapan ayah dan anak yang kami lakukan sebentar yang lalu sekonyong-konyongnya diinterupsi oleh pekik kegirangan yang jelas sekali berasal dari Mama. "Ya, Tuhan, Olaaa. Cucu mama ganteng sekaliii."
Terima kasih banyak kepada Tuhan yang berada di surga Oleander memang sudah terjaga saat Papa dan Mama menghampiri kami di ruang tengah, tempat kami menunggu kedatangan mereka dari tadi. Kalau tidak, mungkin Mama tidak akan se-excited ini. Yang ada malah pekikan Oleander yang memenuhi ruangan karena terkejut dan terbangun dari tidurnya.
"Oh, my God. Mama gak bisa lepasin tangan Mama dari Oleander cucu Oma yang lucunya kebangetan ini. Oh, my God. Oh, my God! Bodo amat, yaaa, Le, kalau kamu nanti dibilang bau tangan. Ya, emang musti bau tangan pas kecil gini, kan, ya? Biar kamu tahu kalau kamu disayang sama banyak orang. Apalagi Oma sama Opa. Iya, kan, Honey?"
__ADS_1
Mama menoleh sekilas ke arah Papa yang langsung mengangguk.
Aku tergelak melihat Papa yang tidak berkutik jika sudah berurusan dengan Mama. Dia akan mengiyakan hampir semua keinginan Mama yang bisa dia penuhi. Kualihkan perhatian ke arah Mama lagi.
Baru dua menit bertemu dan Mama sudah menemukan nama kesayangan darinya untuk Oleander; Le. Lain dari yang telah diberikan oleh Angga terlebih dahulu; Ole.
Semua panggilan itu masih terdengar agak asing, karena memang belum sering diucapkan dan menjadi familier di telinga. Namun, melihat intensitas pertemuan yang akan kulakukan dengan orang-orang ini, yaitu setiap hari, aku yakin nama-nama itu akan melekat dengan cepat.
Ah, biar saja lah. Yang penting nama-nama itu berasal dari tempat dan orang-orang yang penuh cinta. Lagian, betul-betul aku ini. Tidak terpikir olehku untuk menyingkat nama itu.
Namun, setelah aku pikir-pikir lagi, mungkin itu terjadi karena Oleander adalah nama kesayanganku untuknya. Dan, untuk sekarang, aku akan menggunakan nama itu saja dulu. Sebelum dia memberikan aku ide dan menjadi kreatif dalam tingkahnya.
Ibu-ibu pada umumnya seperti itu, bukan? Mereka terkadang auka memanggil anak mereka dengan sebutan yang berkaitan dengan kebiasaan si anak, terlebih yang suka sekali mereka lakukan di waktu kecil. Misalnya, untuk anak-anak yang tidak kenal takut dan suka memanjat apa saja, mereka akan menggunakan julukan spiderman atau spider-monkey. Chatterbox atau si cerewet diberikan pada anak yang sangat suka mengobrol. Dan sebagainya, dan sebagainya.
Papa menggeleng-gelengkan kepala. "Honey, what were you doing? Udah, duduk di sini dulu." Dia kemudian menepuk tempat di sebelahnya. "Gak capek apa? Baru sampai, loh, Hon. Baru pertama kalinya ketemu juga sama si bayi. Mbok, ya, perkenalan dulu atau apa kek gitu. Ini malah langsung main nyosor aja."
Mama menuruti perkataan Papa dengan mendudukkan dirinya di samping suaminya itu, akan tetapi bukannya tanpa protes. Kulihat mulut Mama komat-kamit membisikkan omelannya yang hanya bisa didengar oleh Papa seorang. Namun, setelah bagian yang kuyakin not safe for everyone else's ears, above all their kid and grandkid itu berlalu, barulah Mama menaikkan volume suaranya. "Lagian, kenapa Mama harus kenalan dulu sama cucu sendiri coba? Dia sudah pasti hafal sama suara omanya. Iya, kan, Le? Wong dari dulu dia sudah sering dengar Mama ngobrol sama mamanya, kok."
"Maksud Mama, waktu Mama sering ngomelin aku, gitu? Eh, Mama ingat aku, kan? Aku ini Ola, Ma. Anak Mama." Aku tidak tahan untuk tidak mengikuti jejak Papa dan menggoda Mama.
Mama memutar bola matanya. "Oh, please. Jangan ikut-ikutan papamu, deh, kamu. Gimana bisa Mama gak ingat sama anak sendiri, ha? Kalau gak ada kamu, gak mungkin ada cucu ganteng Mama ini. Uwuuu." Mama kembali menghujani Oleander dengan cintanya. Kali ini pipi tembamnya yang menjadi sasaran.
Sekarang giliranku yang memutar bola-bola yqng ada di balik kelopak mataku.
__ADS_1
Sekarang giliran Papa yang tergelak.
"Eh, Pa. Bang Oli mana? Kok aku gak lihat dia masuk tadi?" Aku baru teringat untuk menanyakan keberadaan abangku yang tidak tampak batang hidungnya itu.
"Oh, itu. Abangmu katanya tadi mau langsung jemput makan malam di restonya Angga," jawab Papa yang mulai terinfeksi oleh sikap Mama. Dia kini sudah ikut-ikutan membungkuk dan memberikan perhatian lebih kepada Oleander. "Hai, Le. Oleander. Ingat suara Opa juga, kan? Hai, cucu ganteng Opa. Haiii."
Oh, my God.
Benar-benar lah. Apa yang dikatakan orang-orang soal pemegang kasta tertinggi di dalam keluarga besar adalah cucu. Apalagi cucu pertama dan laki-laki pula. Duh, duh, duh.
Mau merasa tidak diperhatikan, akan tetapi aku tidak mungkin bersaing dengan anakku sendiri, bukan?
Jadilah. Aku memilih untuk duduk di loveseat yang terletak di sebela kanan sofa mereka dan menonton pertunjukan yang ada di hadapanku. Selang beberapa waktu, aku ingat untuk menjangkau ponsel yang ada di atas meja dan mengabadikan momen itu.
Kalaulah aku ingin mengunggah hasil jepretan candid-ku itu di media sosial Instagram, aku akan memberikan caption yang kira-kira bunyinya seperti ini, falling in love with your child (or granchild) from the first time you know they were there is a perfect epitome of insta love. So, there you have it, folks. Insta love is real!
But, no. Aku tidak akan membagikan foto ini ke mana pun atau pada siapa pun di luar circle kecil kami. Karena ....
Karena ....
Karena Oleander adalah anakku. Dan hanya aku yang berhak memiliki dia seutuhnya.
Bersambung ....
__ADS_1