
Olavia
Di suatu saat, aku terbangun dan melihat tubuh besar Angga membungkuk di atas tempat tidur Oleander. Dia sedang berbicara dengan suara yang begitu lembut sambil sesekali mengelus bayiku menggunakan ujung jarinya. Itu adalah sebuah pemandangan yang lucu sekaligus memancing air mata.
Angga adalah lelaki yang baik. Terlalu baik malah. Dan pemikiran itu mengingatkan aku pada kata-kata yang pernah kuucapkan padanya dulu.
Aku belum pernah benar-benar minta maaf padanya atas semua itu.
"Aku minta maaf, Ngga."
Mendengar suaraku, Angga sekonyong-konyongnya mendongak. "Eh, Sayang? Aku gak tahu kalau kamu udah bangun," ungkapnya dengan semringah sembari menegakkan tubuh dan berjalan mendekat ke arahku. Seketika saja senyuman yang ada di wajahnya luntur, diganti dengan kening yang berubah menjadi berkerut. "Kok kamu minta maaf, sih? Minta maaf buat apa?"
Setelah membubuhkan sebuah kecupan di keningku, cowok itu menoleh pada Oleander dan matanya membulat. "Oh!" Angga berseru. Dia kemudian mulai bicara dengan gugup. "Aku ... sorry. Kamu pasti gak suka lihat apa yang aku lakukan barusan, ya? Aku cuma ngajakin Ole ngobrol, kok, Yang. Dia ... dia enggak bangun, kok, kamu tenang aja. Aku cuma pengen ngobrol sama dia, jadi ... jadi ...."
"Hey, no." Kulingkari pinggangnya menggunakan kedua lengan. "Bukan itu."
"Aku minta maaf. Aku ... aku belum punya pengalaman sama anak bayi. Tapi, aku janji bakal belajar dan jadi asisten kamu yang paling kompeten," lanjutnya lagi. Angga masih saja meracau.
"No!" Kali ini kucubit perutnya, akan tetapi tidak berhasil. Kenapa dia masih bisa se-fit ini, sih? Padahal dua mingguan kemarin bisa dikatakan dia barena aku terus. Kapan dia punya waktu untuk olahraga?
"Ow!" pekiknya dengan bergurau.
Kutepuk lagi dia karena kesal. Dia sudah membuatku merasa dicemeeh. "Awas kamu, ya."
Angga tertawa mendengar ancaman paling tidak niat dariku dan meletakkan bokongnya di tepi tempat tidur di sampingku. Tubuhnya menghadap padaku.
__ADS_1
Hening di kalakian turun. Kuembuskan napas panjang. Mengakui kesalahan adalah sesuatu yang berat bagiku, in case kalian belum menangkapnya dari semua tindakan yang kulakukan sebelum ini. Namun, pria seperti Angga tidak pantas diperlakukan seperti itu. Dia sudah mengusahakan yang terbaik untukku. Aku juga harus mulai melakukan sesuatu untuknya.
Dimulai dari meminta maaf. "Aku ... minta maaf atas semua yang pernah aku katakan sama kamu waktu itu, di depan Mbak Lina lagi. Aku ... aku terbawa emosi. Aku ... aku biarkan kemarahan yang mengendalikan semua ucapan aku. Aku ... menyesal, Ngga. Dan, for your info, sebenarnya aku sudah merasa menyesal sejak di dalam mobil sekembalinya aku dari restoran. Tapi, ya ... gitu lah. Aku sedang gila. Aku tidak mau mengindahkan tanda-tanda yang diberikan oleh dunia."
"Hey, Sayang. Stop. Kamu gak boleh ngomong gitu. Aku–"
"Nuh-uh." Aku menyetop kalimatnya dan menggeleng. "Just ... let me get this out of my chest, okay? Please. I need to get this out of my chest."
Diambilnya tanganku lalu dikecupnya punggung tangan itu. "Okay. Okay."
"Sebelumnya aku gak mengerti apa yang terjadi sama diri aku. Tiba-tiba saja kamu kembali ke kehidupan aku setelah sepuluh tahun berlalu. Like, what? Sepuluh tahun itu kamu mati-matian mencoba menghindari aku, lalu ketika aku dekat dengan seseorang, kamu pikir kamu bisa langsung ikut campur gitu aja? Tanpa ba bi bu, tanpa permisi, tanpa maaf dan penjelasan. Kamu pikir aku ini apa? Kamu pikir kamu siapa? Dan, dengan sikap yang sangat, sangat, sangat nyebelin lagi."
Dia tertawa.
"But, I guess, I was still hurting. Dan bertemu dengan kamu, bikin sakitnya makin menjadi-jadi. So, you know, hurt people hurt people." Aku mengedikkan bahu. "Aku minta maaf karena pernah mengatakan hal-hal jahat itu sama kamu. Kalau aku lihat dengan kacamata aku sekarang, aku hanyalah mengatakan hal-hal tersebut sebab aku ingin meyakinkan diri aku sendiri bahwa itu kenyataannya. Padahal, deep down, it wasn't. So, yeah, I'm sorry. And to see you here, with us, after all of that .... God."
Dia menangkap makna dari kediamanku. "Well ...." Pria itu mengangguk-angguk, lalu dia tergelak. "That's pretty heavy for a very late night chat," ujarnya dengan senyum yang tersungging.
What? "Emangnya jam berapa sekarang?" Tidak terpikir olehku untuk mengecek waktu saat terbangun tadi. Perhatianku sudah teralihkan saja oleh pemandangan yang ada di depan.
Angga mengecek jam di tangannya. "Setengah tiga. Dini hari."
Oh, my God. Aku benar-benar tidak tahu sudah selarut itu. "Terus kenapa kamu belum tidur?" todongku.
Lagi-lagi dia hanya mengedikkan bahu. "Aku habis teleponan sama papa dan mama kamu, terus sama Oliver. Dia bakal ngambil red eye besok, eh, hari ini. Om sama Tante gak bisa tukar flight, jadi mereka tetap sampai sesuai jadwal. Gak apa-apa, ya, Yang? Nanti katanya mereka mau videocall. Aku juga udah kirim foto Ole ke mereka. Sorry, aku gak tunggu izin dari kamu dulu."
__ADS_1
"No, it's okay." Aku menggeleng. Tak habis pikir dengan apa yang pria ini lakukan. Sementara aku tertidur, dia sibuk menghubungi Papa, Mama, dan Bang Oli untuk memberi tahu mereka soal kelahiran Oleander.
Aku juga merasa sangat dihargai karena dia tidak mau memperlakukan Oleander seenaknya. Dia tidak mau menyentuh Oleander tanpa seizinku terlebih dahulu. Dia ... mampu membuat aku merasa begitu berarti.
"Thanks, ya, Ngga, kamu udah bantuin aku banyak banget hari ini. Thanks karena kamu udah mau repot-repot."
Lekas-lekas Angga membantah perkataanku. "Come on, Sayang. Kita udah bahas ini, kan? Aku gak repot, kok. Serius. So, stop saying that. I don't want to hear it any more than this. Kamu dengar aku, Olavia Marie Arifin?"
Welp! Kalau Angga sudah mengeluarkan jurus memanggil nama lengkapnya, berarti dia betul-betul serius terhadap apa yang dikatakan. "Okay. Thanks."
"Stop!" Ditatapnya mataku sejurus.
"Okay, okay. I'll stop." Aku balik menantang tatapannya.
Staring competition kali ini terasa berbeda. Tidak ada lagi kebencian yang menjadi bahan bakar ego. Tidak ada lagi keinginan untuk keluar sebagai pemenang. Kini, yang ada, semakin lama kami saling berpandangan, semakin sulit untuk menahan tawa yang hendak merekah.
Pada akhirnya kami menyerah pada kakah.
Kakah yang disambut oleh suara tangis bayi.
Serentak kami terdiam. Angga segera saja berdiri dan menuju ke tempat tidur Oleander. Di atas bayi itu, dia mendongak. "Aku boleh ...?"
"Oh, you stop." Aku memprotes. "Mulai sekarang kamu gak usah izin dulu kalau mau pegang Oleander. Got it?"
Seringai yang terkembang di wajah tampannya bisa dengan mudah menyinari seluruh ruangan. "Got it."
__ADS_1
Bersambung ....