Papa Untuk Oleander

Papa Untuk Oleander
8. Insiden


__ADS_3

Angga


Benar saja. The love of my life ternyata sudah bagun dari tidurnya saat kami masuk kembali ke dalam kamar.


"Gimana perasaan kamu?" Oliver menyapa adiknya sambil menyongsong Olavia ke tempat tidur. Dia segera membenamkan perempuan pucat namun tetap cantik itu ke dalam pelukannya.


"Baik, Bang. Lumayan. Meski masih ada rasa-rasa mualnya, sih. Tapi, jauh lebih baik dari yang kemarin-kemarin." Dia menjawab saat melepaskan dekapan Oliver.


Well ... kenapa rasanya agak canggung menyaksikan interaksi dua kakak beradik ini, ya? Padahal ini bukan kali pertama gue melihat mereka bersikap affectionate terhadap satu sama lain. Namun, kenapa sekarang rasanya ada yang ... aneh?


Aneh lagi, aneh lagi.


Setelah gue perhatikan keduanya dengan saksama, akhirnya gue bisa menemukan jawabannya. Tanda-tanda tersebut dapat gue lihat di setiap gerak-gerik keduanya.


Gue merasa canggung, karena pada dasarnya, Oliver dan Olavia juga merasakan hal yang sama terlebih dahulu. Terlihat dari senyum Olavia yang kaku, dia juga segera mengalihkan pandangan dari Oliver ke arah lain selain abangnya itu, gerakan Oliver yang ragu-ragu, dan keheningan yang terasa awkward setelah jawaban yang dilontarkan oleh Olavia.


Damn.


Setidaknya kalau sama gue Olavia langsung ngamuk-ngamuk. Itu adalah emosi yang jelas dan gue bisa tahu bagaimana cara menghadapinya. Nah, kalau begini? Gue juga jadi merasa kasihan sama mereka. Apalagi sahabat gue.


"Eh, tadi ada yang ngantar makan siang kamu." Gue berbicara juga sambil berjalan mendekat ke arah mereka. "Tapi, karena kamu tidurnya nyenyak banget jadi aku gak bangunin. Mungkin sekarang makanannya udah dingin. Mau aku beliin makanan yang lain, gak?" Gue kemudian bertanya pada Oliver. "Lo gimana? Udah makan siang belum? Gue tebak lo juga belum sarapan. Ye, kan?"


Dia hanya mengedikkan bahu dan malah menanyai adik yang duduk di sebelahnya. "Kamu mau makan apa, La? Mending beli yang baru aja, biar anget."


"Hm, apa, ya? Aku lagi gak pengen makan apa-apa sekarang, Bang." Dia menolak.


"Lho? Jangan gitu, dong, La. Kamu harus makan." Oliver bersikeras.


Gue lagi-lagi menjadi penonton interaksi mereka. Kini Oliver memandang adiknya itu dengan tatapan yang memohon sekaligus ngotot. Sedangkan wanita pujaan gue, wajahnya mulai terlihat ... hijau.


What the f*ck?


Apa yang terjadi?


Jangan-jangan .... Jangan-jangan ....


Oh, ****. No.


Gue melesat menuju ke dekat Olavia, tak sengaja mendorong Oliver di tengah perjalanan, dan menyambar bantal untuk meletakkannya di pangkuan wanita gue yang gue tebak akan melakukan itu.

__ADS_1


Iya, itu.


Nah.


Itu.


Benar kan dugaan gue?


****


Ola


Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Aku bersumpah sudah benar-benar mencoba untuk menahannya agar tidak ke luar, akan tetapi percuma saja. Dorongannya lebih besar dari keinginanku.


Sejak bangun dari tidur siang, perutku rasanya sudah tidak terlalu nyaman. Rasa mual kembali menghantuiku.


Rasa itu bertambah beribu kali lipat setelah Angga menyinggung soal makan siang. Yang dingin.


Huek.


Dan Bang Oli yang mengulang-ulang kata itu. Dia bahkan memaksaku.


Apa yang ada di dalam perutku akhirnya lewat datei kerongkongan dan bergabung ke dunia luar. Tentu mereka mendarat tepat di atas bantal yang dengan cepat dipindahkan Angga ke pangkuanku.


Berwarna cokelat pekat, teksturnya halus, berair, dan ....


Damn it, Ola! Kenapa kamu harus menggambarkannya secara detail, sih? Kamu pikir itu akan berdampak baik terhadap perut kamu yang masih marah, ha? Kamu pikir ada gunanya kamu mendeskripsikan apa yang ke luar beserta bentuknya bagi perut kamu yang masih bergejolak?


Yang ada malah aku tak berhenti muntah. Sampai tidak ada yang bisa dikeluarkan lagi.


Aku menyeka bibir dengan lengan baju setelah gelombang mual dan muntah itu akhirnya berakhir. Badanku yang tak bertenaga sekonyong-konyongnya rebah dan terkulai lemas di atas tempat tidur.


Aku tidak sadar dengan apa yang terjadi di sekeliling.


Seketika setelah handuk yang lembap dan dingin menyentuh kulit, barulah aku membuka mata. Manikku bertemu dengan manik pekat Angga yang cemas.


"Hey," sapanya sambil berusaha mempertahankan senyum. Aku yakin dia hanya tersenyum demi kebaikanku. Agar aku tidak merasa bersalah dan merasa buruk atas apa yang baru saja terjadi.


"Hey." Aku membalas dengan suara serak sebab kerongkonganku yang sudah tersiksa. "Sorry."

__ADS_1


"No, no, no. Kamu gak perlu minta maaf. Don't be sorry. You're doing great."


Lembut suaranya, cara dia menatapku, melemparkan aku ke suatu waktu dengan versi berbeda dari orang yang sama. Waktu di mana Anggarasyah Emilio Addams adalah Anggaku dan Olavia Marie Arifin adalah miliknya.


Kenangan pada masa-masa itu malash semakin menggenangkan air di mata.


"Hey, hey, hey." Dia terus saja menyeka dahiku, leherku, daguku berulang-ulang dengan handuk itu. "It's fine. It's fine. Kamu gak perlu mengkhawatirkan apa pun. Semuanya akan baik-baik aja. Ya? Kamu dengar aku? Semuanya akan baik-baik aja. Aku janji."


Meski dia dan aku sedang memikirkan hal yang jauh berbeda, akan tetapi pada akhirnya aku memilih untuk tetap mempercayai janji Angga. Bahwa aku dan bayiku akan baik-baik saja. Bahwa dia dan aku akan baik-baik saja. Bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Aku mengangguk lemah. "Please, Ngga," bisikku. "Please, bikin semua baik-baik aja."


"Yes, baby. I will. I will. I promise."


****


Angga


Olavia sedang tidur dengan sangat lelap. Tidak lama setelah insiden itu, setelah banyak bujukan demi beberapa potong biskuit keju asin, dia terlelap.


Gue pandangi saja dia dari tempat duduk gue di dekat tempat tidur. Gue ... gue ... gue tidak tahu harus berkata apa.


Gue speechless, man. Beneran. Sumpah!


Kalau seperti tadi itu yang sudah dia alami sendiri selama beberapa hari—what? Dua mingguan belakangan ini, then f*ck! F*ck me seven ways to hell!


Yang kayak barusan saja gue rasanya udah mau gila, rasanya pengen sekali gue menggantikan posisi dia. Biar gue saja yang muntah-muntah sampai perut gue kosong, sampai ke luar usus sekalian. Enggak apa-apa. Asal janga dia. Asal jangan the love of my life.


Namun, apa mau dikata? Gue kan gak bisa hamil.


Sialan emang.


Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka. Om Arif dan Tante Yuni masuk dengan tergesa-gesa.


"Gimana keadaan Ola, Ngga? Gimana? Apa dia baik-baik aja? Bayinya? Ngga? Angga? Apa yang telah terjadi" cecar Tante Yuni histeris.


Om Arif yang kini tengah memeluk istrinya dari samping itu mencoba menenangkan dengan mengelus-elus bahu perempuan yang sudah berjasa melahirkan dua orang yang penting di kehidupan gue. "Honey, tenang dulu. Tenang. Ola juga lagi tidur, nanti dia bangun karena dengar kita ribut-ribut."


Tante Yuni menoleh pada anak perempuannya yang sedang terbaring di ranjang, menyeka sudut matanya dengan tangan, dan menghela napas panjang. "Oke. Oke. Maafkan Tante, ya, Ngga. Maafkan Tante." Beliau mengembuskan napas panjang sekali lagi. "Baiklah, Ngga. Jadi gimana ceritanya?"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2