Papa Untuk Oleander

Papa Untuk Oleander
54. Misi Mendapatkan Olavia Seutuhnya : Step 3


__ADS_3

Angga


Tiba-tiba Oleander mengeluarkan suara yang gue artikan sebagai teriakan yang penuh kegembiraan.


Maunya, sih, begitu.


Namun, dinilai dari pekikannya dan ekspresi yang ada di wajahnya, gue berharap penafsiran gue spot on. Gue rasa Oleander juga tidak mau ketinggalan. Dia juga ingin ikut merayakan hal monumental yang baru saja terjadi di antara kedua orang tuanya. Atau orang tua dan lelaki yang dianggap sebagai orang tuanya, yang akan menjadi orang tuanya nanti.


What the fxck am I talking? Kenapa omongan gue jadi berkelit-kelit begini?


Karena Olavia sudah bergerak untuk mengambil si bayi sehat, gue otomatis segera melonggarkan pagutan gue agar dia bisa mengubah posisi. Kikik Ole semakin menjadi ketika dia sudah kembali berada di dalam pelukan mamanya. Gue pun tergoda untuk semakin menggodanya.


Gue arahkan bibir gue ke pipinya yang kebetulan sejajar dengan pipi Olavia. Secara bergantian gue serang mereka berdua dengan rambut-rambut halus yang tumbuh liar di pipi gue secara bergantian.


Suara renyah tawa dua orang yang gue cinta itu menyebar di ruang tengah rumah keluarga Arifin yang luas dan bernuansa Mediterania yang didesain oleh Olavia sendiri.


"Ngga, geli!" protes wanita gue itu sembari berusaha menghindar dengan mengelik ke kanandan ke kiri, membuat gue menjadi semakin penasaran mengejarnya.


"Angga!" Dia memekik lagi. "Oleander, kayaknya kita harus lari. Ayooooo!"


Olavia lalu berpura-pura berlari sambil memegang Ole dengan erat. Lengannya menyilang di belakang punggung buah hatinya itu, telapak menopang bagian kepala. Gue suka sekali dengan sikap protektif dia terhadap Ole.


Wanita yang pada awal masa kehamilannya sempat mengaku kalau dia takut tidak bisa menjaga bayinya dengan baik. Wanita yang dulunya dihantui rasa cemas karena dia tidak tahu apa-apa soal mengasuh anak dan menjadi orang tua. Wanita yang pada awalnya berpikiran bagaimana dia akan menjadi seorang ibu jika dia saja masih belum cukup dewasa untuk menghadapi dunia demi mempertahankan dirinya sendiri.


Kini, wanita itu sudah hilang. Ketakutannya terkikis seiring berjalannya waktu. Semakin hari, Olavia juga ikut tumbuh bersama bayinya.


Fxck. That's deep.


Sementara mereka berpura-pura lari dari gue, gue juga berpura-pura mengejar mereka dengan hati yang penuh. Penuh akan cinta gue terhadap dua orang ini. Penuh terhadap perasaan lengkap yang gue dapat bersama mereka berdua.


Karena terlalu asyik bermain, kami tidak sadar akan kedatangan Om Arif dan Tante Yuni. Gue bahkan tidak tahu di mana keberadaan mereka dari tadi. "Eeeh, cucu ganteng oma ketawanya kencang sekali. Lagi main sama siapa itu?" Tante Yuni mengajak Ole bercakap sambil pura-pura akan menggelitik perut si bayi delapan bulan.


Oleander terkakah-kakah lagi.


Keturunan tiga generasi itu lantas tenggelam dalam interaksi mereka sendiri, meninggalkan gue dan Om Arif di luar bubble mereka.


"Pagi, Om." Gue sapa Om Arif yang mendekat sambil mengulurkan tangan.


Pria yang baeu menikmati rasanya menjadi seorang kakek itu menjabat tangan gue. "Angga. Kapan sampai?"

__ADS_1


"Belum lama ini, Om," jawab gue. Gue memasukkan tangan yang sudah bebas ke dalam saku celana.


"Pagi ini dari Jakarta?"


Gue mengangguk.


"Katanya kemarin bareng sama Oliver. Mana dia sekarang?" Om Arif memperhatikan sekeliling. Mungkin menganggap anak laki-lakinya akan muncul secara tiba-tiba dari balik barang-barang yang ada di sana.


He's setting himself for some disappointment. Seingat gue, Oliver belum bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cara teleportasi. "Kemarin, sih, katanya hari ini mau ngantor lagi, Om. Ada kasus urgent, tapi saya gak tahu juga detailnya gimana," terang gue, mencoba membebaskan Om Arif dari rasa penasarannya.


"Oh." Pria paruh baya di hadapan gue bergumam. "Oke, oke." Kemudian dia mengangguk.


Setelah itu, kami secara bersamaan memutar badan untuk menonton apa yang ada di depan. Kini Tante Yuni, Olavia, dan Ole sudah kembali bermain di atas karpet.


Sekonyong-konyongnya gue merasakan gugup menjalari tubuh ketika otak gue memunculkan sebuah ide. Mungkin ini adalah tanda dari Tuhan. Kesempatan yang tepat untuk melakukan pembicaraan empat mata dengan orang tua dari wanita yang selama ini gue puja dan gue rencanakan akan tetap gue puja selama sisa hidup gue. Kalau benar ini adalah sinyal dari Tuhan, apa lagi yang mau gue tunggu?


What the heck, brain?


Setelah ide itu mengapung ke permukaan, pikiran-pikiran mulai berseliweran di dalam kepala gue. Semakin banyak pikiran yang muncul, semakin gugup gue dibuatnya.


Telapak tangan gue mulai gemetar. Bulir-bulir keringat pun mulai terbit dan memuat kulit gue lembab. Udara yang berembus masuk dari pintu-pintu yang terbuka membelai tubuh gue yang bisa gue rasakan memanas. Detak jantung gue mulai meningkat intensitasnya.


Sialan.


Come on, Ngga. Lo gak boleh kehilangan kontrol atas diri lo sendiri. Kalau lo beneran mau ngomong sama Om Arif, lo gak boleh gemetaran kayak gini. Gimana lo mau meyakinkan calon mertua kalau mental lo sebelum mengahdapi mereka udah kacau duluan gini?


Ah! Please, deh, Ngga. Jangan bikin malu diri sendiri!


Come on, Ngga. Come on. Jangan cemen duluan lo!


Come on, fxcker. Sxck it up. Get yourself together.


"Eh, sarapan dulu sana, Ngga." Om Arif tiba-tiba menyeletuk setelah beberapa lama terdiam.


Celetukan yang berhasil membuat gue yang sudah kena mental semakin kocar-kacir. "Ah, eh, engg ... tadi di jalan sudah, kok, Om. Makasih. Nanti aja. Masih kenyang. Iya, Om. Aduh."


Sialaaaaaaan!


Gue memijat tengkuk gue dengan salah tingkah. "Eh, sorry, Om."

__ADS_1


Om Arif serta-merta tergelak melihat reaksi gue yang aneh bin ajaib. "Kenapa kamu, ha? Kok, tiba-tiba jadi gagap gitu? Grogi apa latihan mau jadi penggantinya Aziz Gagap?"


Oh, my fxcking God. Masa gue dikira mau jadi pelawak, sih? Apa gue yang canggung begini terlihat sangat lucu bagi Om Arif?


Come on, Ngga. Jangan bertingkah yang aneh-aneh, deh! Ngomong, woi, ngomong!


Namun, gue takut.


Lo mau serius sama Olavia, gak? Katanya lo mau memuja Olavia selama sisa hidup lo? Lo mau melakukannya di samping dia apa dari tempat yang jauh kayak yang lo lakuin kemarin? Memangnya sepuluh tahun gak cukup buat lo jera mencintai dia dari jauh, ha?


Fxck. Otak gue benar. Gue gak bakal sanggup kalau harus menjadi penonton dari kehidupan Olavia tanpa ambil bagian di dalamnya. Apalagi sekarang sudah ada Oleander.


Fxck, no! Gue juga tidak mau melepaskan Oleander. No! Oleander sudah gue anggap sebagai anak gue sendiri.


Lalu, harus berapa kali lagi lo mengulang-ulang kalimat itu di dalam kepala lo sebelum lo mengambil tindakan, ha? Omongan doang tanpa bukti sama aja bohong, axxhole. Take action! Jangan ngebacot aja lo bisanya!


Atau, apa kualitas lo cuma sebatas omongan doang? Huh. Basi!


Sialan. Sialan. Pintar banget otak gue memanas-manasi diri gue sendiri.


Oke. Oke. Gue akan melakukan sesuatu untuk itu. Namun, berikan kesempatan buat gue untuk menenangkan diri dulu.


Biarkan gue tarik napas dalam-dalam dulu. Sekali. Biarkan gue buang napas yang gue ambil tadi secara perlahan. Dua.


Oke. Sekali lagi.


Dan lagi.


Fxck. I'm taking too much time. It's too long. I'm wasting my chance.


Take action NOW.


"Enggg, Om." Walaupun dengan agak tergagap, gue akhirnya bisa mulai bicara.


"Hm?" Om Arif langsung menyahuti.


"Apa boleh, engg ... saya minta waktunya sebentar? Ada ... ada yang saya ingin bicarakan dengan Om."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2