Papa Untuk Oleander

Papa Untuk Oleander
19. Despite the Circumstances


__ADS_3

Ola


Hari pertama masuk kerja lagi terasa sangat ... canggung. Rekan-rekan tim di kantor mengarahkan senyum miring mereka padaku, ada beberapa yang malah hanya meringis saat kusapa. It is like ... seakan-akan mereka lupa siapa sebenarnya pemilik kantor ini.


Kalau aku ingin aku bisa memecat mereka semua tanpa pikir panjang. Namun, no. Aku jelas tidak akan melakukan hal itu. Selain tidak profesional, nanti aku juga yang akan kelimpungan mencari pengganti.


So ... no. Aku hanya memasang muka badak dan memekak-mekakkan telinga.


Peduli setan terhadap penilaian subjektif dari mereka.


Aku tahu, aku tahu, aku tahu. Apa yang aku lakukan salah dan tidak patut untuk dijadikan sebagai contoh. Hamil di luar ikatan pernikahan. Apalagi sosok sang ayah dari bayi ini tidak tampak batang hidungnya sama sekali. Sudah jelas aku akan membesarkan anakku ini sebagai seorang single parent.


Well, seperti yang Mama bilang. Sebagai seorang individu yang sudah dewasa, aku harus mau menerima dan menjalani konsekuensi dari perbuatanku sendiri. Anggap saja kerlingan, ringisan, dan bisik-bisik tetangga itu sebagai bumbu kehidupan.


Yeah, aku bisa menjadikan itu sebagai mantra terbaruku dalam menjalani hari-hari.


Setelah makan malam kemarin, yang ternyata adalah steak medium rare dengan mashed potato dan salad (thank God tidak ada burger atau fries yang kutakutkan), Mama dan Papa langaung menyetir kembali ke Bogor. Sedangkan Bang Oli dan Angga memutuskan untuk stay lebih lama sampai aku tertidur.


Paginya, saat aku ke dapur untuk mengambil bekal camilan, aku sudah menemukan Bang Oli terparkir di stool breakfast bar dapur dengan dua mangkuk bubur ayam.


"Baru hari pertama dan dia udah gak bisa pegang kata-katanya sendiri, huh?" cemoohku sambil mengambil tempat di sebelah Bang Oli yang sudah mulai menyendok sarapan.


"Jangan asal nyablak gitu, deh, lo." Dia menimpali, akan tetapi matanya tetap saja terpaku pada layar ponsel.


"Siapa yang asal ngomong, ha? Gue, kan, cuma stating the fact aja. Fact, Bang, fact. Nyatanya sekarang si Angga memang gak ada di sini, kan?" Aku mulai mengaduk buburku.


"Eeew. Lo keturunan apa, sih, makan bubur ayam kok diaduk begitu? Gak berubah-berubah lo dari dulu. Semoga Tuhan segera memberikan petunjuk, deh, sama lo dan orang-orang yang segolongan sama lo, La."


"Idiiih, Abang aja yang belum tahu enaknya rasa bubur ayam yang diaduk itu gimana." Aku menepuk lengan atasnya agak keras untuk melampiaskan rasa jengkel yang tiba-tiba saja sudah membikin bengkak kalang pagi ini. "Lagian, gak usah sok ngelakuin pengalihan isu, deh. Kita lagi ngomongin sahabat lo yang congornya gak bisa dipercaya itu, bukan bubur ayam."

__ADS_1


"Mulut lo kadang-kadang, ye, kayak gak pernah makan bangku sekolahan aja."


Aku memutar bola mata menanggapi lelucon basi abangku itu.


Lalu kami sarapan dalam diam.


"Be te we, ef wai ai." Bang Oli membuka suara di kalakian. "Gue yang ada di sini sekarang bukan karena si Kampret itu mau mungkir janji. Tapi, emang karena gue gak bisa nebak urusan kantor dan jadwal perjalanan. Makanya gue pengen ikut ngurusin elo selagi gue bisa. Lo gak tahu aja gimana ekspresi dia kemarin pas gue ngasih tahu soal ini. Mukanya jadi lecek banget kayak gak pernah disetrika."


Oh, well, well, well. It is a good information to know about. Kejengkelan yang tadinya ada di dalam hatiku berangsur-angsur mulai memudar.


Wait, what?


Aku tidak tahu bahwa sumber perasaan tidak enak itu adalah ketidakhadiran Angga dan prasangkaku padanya.


Oh, no.


Jangan-jangan ....


Oh, my God.


Jangan bilang kalau aku sudah mulai menaruh harapan lagi pada cowok itu. Jangan bilang kalau hatiku sudah mulai terbiasa lagi dengan kehadirannya. Jangan bilang kalau ....


Oh, my God.


No, no, no, no. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak mau semua itu terjadi lagi. Aku tidak mau sejarah mengulang kisahnya yang kesekian kali lagi. Aku tidak ingin mengalami hal seperti itu lagi. Aku tidak ingin jatuh ke dalam perangkap yang sama lagi.


Oh, my God.


Kurasakan sebuah gelombang besar di dalam perutku.

__ADS_1


Oh, no.


Bergegas aku berlari ke toilet tamu yang ada tak jauh dari sana. Well, there goes my bubur ayam.


****


"La, lo yakin masih mau ke kantor? Kalau menurut gue mending lo di rumah aja dulu, istirahat. Gak usah dipaksain. Kan, lo punya tim. Mereka pasti bisa lah ngurusin kerjaan." Bang Oli masih saja mencoba membujukku untuk tinggal di rumah. Padahal kami sudah berada di dalam mobilnya dan menuju ke kantorku.


"Udah telat kali, Bang, nyuruh gue stay di rumah. Kita udah jalan juga." Aku mencoba berkilah dengan menempatkan kesalahan pada Bang Oli.


Namun, siapa bilang strategiku itu akan berhasil. Dengannya tidak ada yang tidak mungkin untuk dikerjakan. Pasti ada saja serangan balik dari Oliver Andreas Arifin, si pengacara. "Ya, elonya sendiri yang masih ngotot mau kerja. Kalau lo berubah pikiran, ya, gue tinggal muter balik aja kali. Susah amat."


Aku mengerang. "Yeee, ada aja jawaban lo. Kalau kita muter balik nanti elo yang jadinya telat banget masuk kantor."


"Bodo amat. Kantor punya bapak gue ini," sahutnya seenak jidat.


"Sialan lo, Bang." Benar-benar tidak ada jalan untuk bisa menang dari abangku nan songong ini. "Gue pokoknya mau tetap ngantor aja pagi ini. Mau tes ombak sekalian setor muka sama orang-orang di kantor. Gak enak. Soalnya gue udah hampir dua bulan gak masuk. Amit-amit gue kasih makan anak gue sama gaji buta."


Kulihat Bang Oli menggeleng-gelengkan kepalanya. "Okay, okay. Terserah lo, deh. Yang penting kalau udah ngerasa gak enak sedikit aja, lo harus langsung telepon gue atau Angga. Dengar lo? Gue serius, La. Lo dengar gue, kan? Gue gak mau lo sama keponakan gue kenapa-kenapa."


Bang Oli mengembuskan napas panjang. "Mungkin gue belum pernah bilang ini langsung ke elo, tapi gue gak sabar pengen manjain keponakan gue. Serius, La. Gue juga excited banget sama kehadiran dia. Gue janji gue pasti bakal jadi Om Oli yang paling keren buat dia. Yeah, despite the circumstances, gue ikut bahagia buat lo."


Tidak hanya kondisi Jalan Raya Casablanca yang terpantau ramai lancar, hatiku pun begitu. Ramai akan perasaan-perasaan yang sudah ada sebelumnya dan yang dipicu oleh pengakuan dari Bang Oli barusan; yang akhirnya membuat air mataku mengalir lancar ke pipi ini. Kuseka sudut air mata diam-diam.


Despite the circumstances.


Despite the circumstances.


Despite the circumstances, mereka masih mencintai aku dan bayiku.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2