
Ola
Siang harinya, dengan berbekal discharge paper, buku panduan, serta buku catatan perkembangan Oleander dari Dokter Sheila, kami kembali ke apartemenku. Rencana awal adalah aku dan Oleander akan tinggal bersama Mama dan Papa di Sentul City sampai aku bisa menangani Oleander secara mandiri. Namun, setelah dipikir-pikir hal itu akan sangat menyulitkan bagiku karena harus berkendara hampir dua jam utnuk menuju ke sana. Jadilah, Mama dan Papa yang mengalah. Mereka untuk sementara waktu akan bersempit-sempit ria di apartemenku.
Kami naik Jeep Wrangler Rubicon 5-seats berwarna abu-abu metalik milik Angga. Bang Oli duduk di kursi penumpang sementara Angga menyetir. Sedangkan aku duduk di kursi penumpang belakang bersama Oleander yang berada si dalam car seat-nya.
"Kapan Papa sama Mama sampai?" tanya Bang Oli sembari menengok ke belakang.
"Paling besok, sorean." Aku menjawab dari tempat dudukku. "Kenapa emangnya?"
Kulihat Bang Oli terdiam sejenak dan mengangguk. "Oke. Good. Jadi gue punya waktu dua puluh empat jam buat menginterogasi lo berdua."
Uh-oh.
Angga tergelak tertahan. "Interogasi apaan, sih? Emangnya gue sama Olavia kriminal apa? Jangan ngadi-ngadi, deh, lo."
Tangan Bang Oli serta-merta melayang dan meninju bahu Angga. Meskipun aku yakin kontak yang baru saja terjadi tidak terlalu keras, (Bang Oli tidak tega meninju sahabatnya dengan keras, bukan?) akan tetapi tetap saja apa yang aku lihat membuatku meringis.
"What the f– ... what the fudge, man?" Angga terkesiap. "Ngapain pake acara nonjok gue segala, ha? Beneran sakit lagi. Sialan lo." Dia mengusap-usap bahunya menggunakan tangan kanan beberapa kali sebelum kembali memegang setir dengan kedua tangannya.
"Gue gak lagi bercanda, ya, Kunyuk." Bang Oli lagi-lagi meng-abuse Angga dengan memberikan tinjunya sekali lagi.
Sekali main tangan, oke lah. Aku anggap itu adalah gaya bahasa mereka dalam berteman. Namun, jika Bang Oli harus melakukannya berkali-kali dan di depanku pula, maka aku tidak akan membiarkannya begitu saja. Aku tidak peduli dengan bahasa pertemanan yang mereka punya. Yang jelas, tidak ada yang boleh menyakiti Angga di hadapanku.
Lagian, apa yang sedang dipikirkan Bang Oli itu, ha? Angga, kan, sedang menyetir mobil! "Oi, Bang!" Aku menghardiknya dengan setengah berbisik setengah berteriak. Kupukul juga lengannya dengan tanganku. Suara nyaring telapak tangan bertemu dengan kulit sekonyong-konyongnya memenuhi kabin mobil. "Jangan main pukul-pukul gitu, dong! Sakit tahu! Lagian Angga lagi nyetir. Lo mau keponakan lo kenapa-kenapa? Hm?"
__ADS_1
Dari sudut mata, bisa kulihat Angga mengulum bibir, mencoba menahan senyum atau tawa yang hendak lepas dari sana. Sementara kini giliran Bang Oli yang mengusap-usap lengan bekas kena abuse sambil menggeleng-geleng. "Ini yang gue maksud. Ini," ocehnya sembari menunjuk-nunjuk Angga. Tak berpikir untuk menyentuhnya lagi. "Demi lo, Nyuk, adik kandung gue sendiri, yang sejak lahir gue protect dari apa aja bahkan dari sebiji semut sekali pun, tega mukulin gue. Demi lo doang, Kunyuk. Demi lo doang. Ini lebih dari kriminalitas. Ini udah masuk kategori pengkhianatan."
Otomatis saja bola mataku berputar di balik kelopak mendengar racauan dramatis dari abangku itu. Protect sejak lahir kepalanya pitak. Yang ada dia tidak jarang mengerjai, menakut-nakuti aku sampai menangis. Setelah air mata terurai, barulah dia menyesal dan memelukku sampai aku terdiam.
Namun, tentu saja itu tidak membuatnya berhenti menjadi seorang abang yang iseng. Dia masih suka membuatku kesal demi kesenangannya sendiri.
Sampai sekarang.
Seperti saat ini.
"Tapi, gue serius. Gue benar-benar harus menginterogasi lo berdua, terutama lo, Kunyuk."
Well ... welp! Seketika suasana di kabin mobil berubah drastis. Aku yakin tidak ada kaitannya dengan perubahan pemandangan di luar sana. Dari yang semula penuh gedung bertingkat menjadi kawasan pemukiman yang bangunannya jarang, mempunyai halaman yang lumayan luas dan hijau, serta pepohonan yang tumbuh rindang.
Nope. No.
Angga melirik ke arahku melalui kaca spion tengah mobil. Sorot matanya yang tajam dan atapannya sarat akan makna membuat bulu kudukku merinding. Dia ... dia juga sama seriusnya dengan Bang Oli. Dianggukkannya kepala sekilas.
Aku membalas anggukannya dengan senyum tipis.
"Gue paham maksud lo," ucap Angga di kemudian. "Dan sebagai permulaan, gue cuma akan bilang satu kalimat ini. Terserah kalau setelahnya lo masih punya pertanyaan. Sebanyak apa pun tanda tanya yang ke luar dari mulut lo itu bakal gue jabanin. Tapi, silakan lo simpan dalam otak lo satu kalimat gue ini sebelum lo menginterogasi gue lebih jauh. Oke? Gue juga serius, bro."
Keheningan melanjutkan eksistensinya di antara kami.
Perhatianku masih penuh tercurah pada kedua laki-laki yang duduk di depanku itu.
__ADS_1
Bang Oli menolehkan kepala, akan tetapi bukan untuk menghadap sahabat yang sedang duduk di sampingnya melainkan untuk melihat ke luar jendela. Ditelekan lengan ke handle yang ada di pintu, lalu ditutupinya mulut menggunakan telapak tangan. Ibu jari menopang dagu dan jari telunjuknya melengkung di antara bibir atas dan hidung. Sesekali nampak dia sedang menggosok rambut-rambut halus yang baru muncul di sekitaran rahang dengan telapaknya tersebut.
Sementara Angga kembali memfokuskan diri menatap jalanan di depan. Kira-kira sepuluh menit lagi kami akan sampai di apartemenku.
Well, I think I just have to leave them to their own thoughts for the time being then. Mereka sudah besar. Mereka akan menemukan cara untuk menerima keputusan masing-masing.
Lalu, akhirnya aku mengalihkan perhatian kepada sosok yang kini masih tertidur pulas. Sungguh elok betul perangai laki-laki yang satu ini. Dunianya akan senantiasa aman jika perut kenyang dan popoknya bersih.
Namun, satu pemikiran membuatku mendesah. Aku teringat akan perkataan orang-orang. Waktu melaju begitu cepat, melesat pergi dalam sekejap mata. Satu detik kau berada di sini, memandangi anakmu yang masih bayi, akan tetapi sedetik kemudian, mereka sudah berlari-larian di halaman dan membuat keonaran.
Oh, my God.
Aku tidak bisa membayangkan jika hal itu benar adanya. Rasanya sudah tidak rela jika memang terjadi seperti itu.
Kala Oleander dengan lakunya yang elok tentu tidak akan berlangsung lama. Apalagi dengan pendampingan dari dua orang laki-laki yang tingkahnya seperti Bang Oli dan Angga. "Oh, my God. No." Aku mengerang.
"Kenapa, Sayang? Ada apa? Kamu mau kita berhenti dulu?"
"Kenapa, La? Ada yang sakit? Di mana?"
Kedua laki-laki itu berbicara dalam waktu yang bersamaan. Kecemasan di wajah dan nada suaranya tak pelak membuatku tersenyum. Meski Oleander akan meniru keisengan Bang Oli dan ke-overprotektif-an Angga, akan tetapi dia juga akan belajar mencintai dengan menyeluruh seperti yang mereka lakukan padaku.
I think, I think Oleander will be just fine.
I know my son will grow up just fine.
__ADS_1
Bersambung ....