Papa Untuk Oleander

Papa Untuk Oleander
49. Missing You


__ADS_3

Ola


Angga : Sayang


Angga : sorry


Angga : aku hari ini gak ke rumah ya


Angga : nongkrong dulu sama Oli


Angga : @ Paradiso


Aku tidak pernah menyangka kalau aku merupakan salah satu anggota dari PWYSLMKTJAMHSH; Perkumpulan Wanita Yang Semangatnya Langsung Meleyot Kalau Tak Jumpa Ayang Meski Hanya Satu Hari.


Ya elah, Ola. Singkatan barusan terdengar sangat receh dan sangat lebay. Bahkan setelah menciptakan itu di dalam pikiranku pun, aku jadi merinding sendiri dibuatnya.


Namun, kurang lebih begitulah kenyataan yang terjadi di lapangan. Hariku langsung saja menjadi agak kelabu setelah menerima rentetan pesan dari Angga.


Oh, my God. Sejak kapan aku berubah menjadi wanita yang menyedihkan begini? Iya, kan? Aku benar-benar terlihat dan terdengar menyedihkan. Bagaimana tidak? Prospek Angga tidak mampir ke rumah hanya untuk satu hari sekonyong-konyongnya membikin aku lupa akan hari-hari lain di mana dia menghabiskan waktunya di sini.


Sungguh aku merasa sangat tidak bersyukur.


Lagipula hidup Angga tidak hanya berpusat di sekitar aku dan Oleander saja. Ada keluarganya, teman-teman dan koleganya, juga kenalan yang lain. Ada bisnis yang harus diurusi. Ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Ada keinginan yang harus diwujudkan.


So ....


Terlebih lagi aku memang tidak bisa memberikan apa yang dia butuhkan dan inginkan. Kalian semua tahu lah apa yang aku maksud. So ....


Sambil menggigit bibir kubaca pesan-pesan itu kembali. Semakin kuulang, semakin liar perginya pikiran-pikiran yang ada di dalam kepala.


Please, Ola. Jangan overthinking lagi, deh! hardikku pada diri ini.


Namun, apalah daya. Hardik hanya sekedar itu, hardikan belaka. Nan kepala tetap saja bersikap selayaknya dia; keras dan di atas. Kuat betul kehendaknya untuk membiarkan pikiran ini berlari ke sana kemari. Dan tidak ada yang lebih tinggi lagi daripada kepala ini.

__ADS_1


Come on, Olaviaaa. Come on. Jaga pikirannya biar jangan ngalor-ngidul ke mana-mana. Mentang-mentang si Oleander lagi tidur, terus kamu pikir kamu bisa menghabiskan waktu berharga yang seharusnya kamu gunakan untuk beristirahat ini dengan berprasangka ria pada Angga?


Dia gak ke sini cuma sehari, Ola. Besok dia juga sudah pasti mampir lagi. Terus apanya yang harus dirusuhkan? Ha? Kamu sudah pernah melewati sepuluh tahun lebih tanpa kehadiran Angga di dalam hidup kamu barang satu detik saja. Lalu, apa yang membuat sekarang terasa begitu mustahil?


Sehari itu hanya dua puluh empat jam, Ola. Sekarang pun sudah pukul sebelas siang. Tak lama lagi Oleander juga akan bangun dari tidur siangnya dan kamu akan kembali sibuk. Dengan begitu pukul dua belas, satu, dua, dan seterusnya akan berlalu tanpa terasa. Dan, tahu-tahu, hari esok telah datang dan kamu bisa bertemu lagi dengan laki-laki yang kamu puja itu.


Kamu dengar, Olavia? Kamu dengar, kan? Sekarang sebaiknya kamu berhenti berpikir secara berlebihan atau kamu akan terjerumus ke dalamnya dan terjebak di sana. Kasihan Oleander kalau itu sampai terjadi.


Ingat anak, Ola. Ingat anak. Dia butuh sosok ibu yang tidak hanyak kuat fisik, akan tetapi juga yang sehat mentalnya. Kalau kamu saja tidak bisa mengendalikan pikiran dan berdamai dengan dirimu, kalau kamu tidak bisa menyayangi diri sendiri, malah membiarkan dirimu disakiti oleh overthinking dan emosi-emosi negatif, bagaimana kamu bisa memberika kasih sayang yang cukup untuk Oleander?


Dia butuh kamu seratus persen, Olavia. Oleander butuh kamu yang sehat dan bahagia. So, pintar-pintarlah mencari kebahagiaan di setiap keadaan. Meski keadaan itu bukanlah yang kamu sukai sekali pun, coba lihat lebih dekat. Dan kamu akan mengerti apa yang sedang terjadi.


It's okay kalau kamu merasa sedikit kecewa dengan keabsenan Angga. Itu hal wajar. Begitulah seharusnya sebuah hubungan. Ada rasa yang kurang kala salah satu pasangan tidak ada di samping. Namun, jangan jadikan itu sebagai bahan bakar untuk setan-setan yang ada di dalam pikiran kamu, ya. Jangan biarkan mereka menang. Kamu mengerti?


Fiuh.


Aku mengerti sekali. Sangat mengerti.


Look at me psychoanalyzing and giving myself a therapy at the same time.


Olavia : it's okaaay


Olavia : have fun u 2


Belum ada lima detik, status pesanku langsung berubah dari delivered menjadi read. Sekonyong-konyongnya tiga titik tersebut melayang-layang di bubble percakapan.


Angga : thx sayang


Angga : besok aku ke sana ya


Angga : missing you guys


Wow.

__ADS_1


Wow.


Apakah kalian pasti tahu bagaimana rasanya membaca pesan Angga yang terakhir setelah kekacauan yang kuhadapi di dalam kepala ini? Rasanya seperti mereguk segelas lemonade di tengah hari yang panas terik. Mak-nyesss. Segala keraguan dan prasangka langsung larut dari pembuluh darah dan menguap bersama helaan napasku yang panjang.


Aku membalas pesannya.


Olavia : we miss you too


****


Angga


Pesan berisi kalimat we miss you too yang dikirim wanita yang paling gue cintai di dunia ini selain Nyokap menyertai gue sepanjang hari. Bahkan, ketika gue melangkah masuk ke Paradiso, gue merasa seperti memakai tameng. Jadi, setiap kali ada pengunjung yang melirik gue dengan cara yang berlebihan, mengedipkan matanya saat gue lewat, atau sengaja menyenggolkan tubuh mereka ke gue, gue merasa kenal.


Tidak ada yang bisa mengganggu jalan gue menuju ke VIP section di mana Oliver sudah menunggu. Oliver, yang notabenenya adalah sahabat gue, kakak dari wanita pujaan gue, yang mudah-mudahan bisa segera menjadi kakak ipar gue.


Shxt. That sounds really good.


Kakak ipar.


God damn.


Gue sudah tidak sabar untuk menjadikan Olavia dan Oleander sebagai anggota keluarga gue yang sah. Memasukkan mereka ke dalam kartu keluarga gue.


Oh, shooot. Gue mau bikin kartu keluarga gue sendiri. Fxck, man. Fxck. Kenapa gue jadi kayak anak baru gede gini, sih? Girang banget, tidak jelas.


Oi, Angga. Lo tahu lo harus ngadepin calon kakak ipar lo itu dulu, kan, sebelum jadi adik ipar beneran dan bikin kartu keluarga sendiri?


Oh, my fxcking God. How eye-opening.


Gue goyang-goyangkan pergelangan tangan berharap gugup yang membuat tangan gue bergetar, berkurang. Gue jaga langkah gue agar tetap tegap. Meski di dalam hati rasanya campur aduk, akan tetapi gue harus tetap memasang tampang yang percaya diri.


Kalian tahu, walau gue dan Oliver sudah berteman selama hampir setengah dari umur kami, akan tetapi hal ini tetap membuat gue senewen. Bagaimana tidak? Gue akan meminta restu dia untuk menikahi adik perempuan dia satu-satunya. Dan kendatipun dia memperbolehkan gue mendekati Olavia, belum tentu dia dengan senang hati membiarkan gue menikahi wanita pujaan gue itu.

__ADS_1


Sialan. Mudah-mudahan dia mau. Doain gue, guys!


Bersambung ....


__ADS_2