
Angga
God damn it, but ... yes.
Yes, apa yang dibilang oleh Olavia barusan memang benar. Ole sangat mirip dengan si tukang donor DNA bajxngan sialan berxngsek yang tidak bertanggung jawab itu. Yes, dia ganteng. So, what? Ganteng, akan tetapi tidak punya akhlak? Cuih!
Mendingan gue ke mana-mana. Sudahlah ganteng, lembut, baik hati lagi. Namun, poin terakhir cuma bisa dinikmati oleh orang-orang ber-privilege saja, seperti keluarga terdekat gue, Olavia, dan Oleander. Yang lain? Big no.
Beruang kutub raksasa yang pemarah, perungut, kurang ajar, dan suka seenaknya buat kalian.
Insert evil laugh.
Fxck.
Yeah, yeah, yeah. Memangnya kenapa kalau gue berusaha mengalihkan pikiran gue dari kenyataan bahwa wanita yang paling gue cintai di dunia ini baru saja menyinggung soal mantannya yang keturunan setan itu, hm? Apakah karena dia keturunan setan alas jadi gue tidak boleh cemburu sama dia?
Bukan cemburu soal kegantengan, ya, guys. Please. Gue tahu gue jauh lebih ganteng dari si Kamprxt kerempeng itu. Namun, soal ....
Yup. Kalian tentu saja bisa menebak apa yang menjadi sumber kejengkelan di dalam sini. Yup. Yup. Yup. Karena si Bajxngan sialan itu sudah punya anak sama wanita pujaan gue.
Rasa kompetitif yang ada di dalam darah gue seketika menggelegak. Gue merasa agak ... kalah.
Shxt. Shxt. Shxt.
Gue seharusnya tidak berpikir seperti ini. Ghe seharusnya tidak memikirkan ini. Ghe seharusnya tidak mempunyai pemikiran seperti ini.
__ADS_1
Namun ... gue tidak bisa membohongi diri gue sendiri.
Sialan. Gue harus kabur dulu sebelum berbuat hal-hal bodoh seperti mencak-mencak di depan Olavia.
Gue kemudian berdeham, mencoba membersihkan tenggorokan gue sekaligus menjernihkan otak dari perkara-perkara yang tidak perlu, dan meminta izin kepada the love of my life untuk keluar. "Oke, deh. Aku ke luar bentar, ya. Mau telepon Bang Coki dulu buat pesan makan malam kamu. Ada lagi, gak, yang mau dibikinin?"
Kini senyum yang tersungging di bibir Olavia dihiasi oleh rasa canggung. Sepertinya dia tahu apa yang baru saja dia perbuat. "Eh, aduh. Ngga." Dia cepat-cepat menjangkau tanganku dan menggenggamnya. "Eh, sorry. Bukannya aku bermaksud begitu, tapi .... Tapi .... Eh, aduuuh."
Gue lantas meletakkan tangan di atas tangan Olavia dan berusaha untuk melepaskan wanita pujaan gue itu dari jeratan rasa tidak enak yang jelas mengikat lidahnya. "Enggak apa-apa, kok. Gak masalah. Yang kamu bilang itu fakta, kan? So? Aku gak punya alasan dan hak untuk marah sama kamu. Aku juga gak akan pernah berpikiran untuk mulai menginginkan kamu menyensor ucapan kamu di depan aku. Kamu boleh bahas apa saja yang kamu inginkan. Aku gak akan pernah larang kamu." Untuk memperkuat argumentasi gue, gue tambahkan seulas senyum di akhir kalimat.
"Tapi ...."
Olavia kini sibuk menggigit bibir dan ujung kukunya lagi. Gue hafal betul bahasa tubuhnya yang satu itu. Dia benar-benar merasa tidak enak hati terhadap gue. Sekali lagi, gue menggunakan taktik pengalihan isu. (Ciyee, udah kayak pemerintah aja, nih, gue pakai acara pengalihan isu segala.) "Ada lagi yang kamu mau, gak? Steak? Salad? Milkshake? Atau yang lain?"
Wanita gue menggeleng. "Gak, gak ada. Burger sama kentangnya aja udah cukup. Eh, tapi lalau ada milkshake juga gak apa-apa, deh. Yang cokelat."
Untungnya candaan receh gue itu bisa menjerat tawanya meski hanya sedikit. "Iya, nih. Kayaknya Ole yang gedenya bakalan jadi penggemar pisang sama kurma."
"Ya, udah. Kalau tahu gitu, aku nanti sekalian minta tolong Bang Coki untuk nyariin info soal tanah yang dijual," tambah gue sambil berdiri.
"Buat apa?" Olavia bertanya dengan bingung. Genggaman tangannya di tangan gue sudah mengendur sehingga membuat tangan gue terlepas dengan mudah.
"Buat tanam pohon pisang dari sekarang. Jadi, pas Ole udah bisa makan kita gak harus susah-susah lagi nyariin pisang buat dia. Kan, tinggal ambil di kebun. Beres, deh."
"Angga!" serunya tanpa sadar.
__ADS_1
Pekikan wanita gue sontak menyebabkan Oleander terkejut. Tak lama kemudian terdengar pria kecil itu menyahut dalam bentuk pekikan pula.
Gue segera saja mengarah menuju ke crib dari kayu yang dicat berwarna putih gading itu. Dari atas sini, bisa gue lihat tangan dan kaki Ole berayun-ayun seiring dengan tangisnya. "Ole kaget, ya?" tanya gue sembari memeriksa popok kain yang dipakai. Ternyata juga sudah basah. "Basah juga ternyata. Oooh. Pasti kamu gak nyaman, ya? Oke, oke. Aku bantu ganti, boleh?"
Saat gue akan mengambil popok bersih di dalam laci di samping crib, Olavia sekonyong-konyongnya telah berdiri di samping gue dan kembali memegang tangan gue. "Udah, sana. Kamu telepon Bang Coki aja. Biar aku yang gantiin popok Ole. Sekalian mau nyusu juga. Dia pasti haus."
Okaaaay. Jantung gue agak terbatuk mendengar kalimat Olavia barusan.
Sepertinya dia juga tahu dengan apa yang dia sebabkan pada diri gue karena dia dengan berani-beraninya mengedipkan sebelah matanya.
Sialan.
Sudah mulai punya nyali, ya, wanita gue ini sekarang. Hm.
Kalau bukan karena janji gue untuk bersabar dan membiarkan dia mengatur laju hubungan kami, sudah gue terkam dia dari tadi. Namun, no. Gue tahu dia belum siap untuk itu. Gue tahu Olavia belum siap untuk apa pun bentuk hubungan selain yang ringan dan menghibur saat ini. Gue tahu yang paling penting baginya sekarang adalah kebutuhan Oleander. Dan Oleander membutuhkan ibu yang sehat, yang bahagia, yang stress-free, bukan sebaliknya.
Dan sebagai bagian dari bentuk perwujudan dari janji gue, gue akan bantu dia untuk menjadi semua itu. Gue akan menjadi apa pun yang dia butuhkan untuk mencapai semua itu.
Gue akan menjadi sosok pria yang berbeda dari yang sebelum-sebelumnya. Gue akan menjadi cowok yang berbeda dari gue versi remaja dulu. Gue akan menjadi cowok yang berbeda dari si Kamprxt kerempeng sialan yang tidak bertanggung jawab itu. Gue akan menjadi laki-laki sejati untuk Olavia dan Oleander.
Shxt.
Membayangkan bxnci itu saja membuat organ-organ di dalam perut gue melakukan aksi protes. Mual sebenar-benar mual gue mengingat kelakuan dia. Dasar bajxngan.
Namun, ketika dipikir-pikir lagi, kalau saja dia tidak bersikap begitu, tentu gue tidak akan mempunyai kesempatan kedua bersama Olavia dan beruntung seperti ini, bukan?
__ADS_1
Aargh! Sialan benar itu makhluk memang. Mengganggu pikiran gue saja. Sialan!
Bersambung ....