
Ola
Remaja pria itu hanya cengengesan.
"Bagaimana bisa, Ngga? Kamu udah delapan belas tahun, loh! Masa kamu belum pernah ciuman, sih? Jangan ngarang, deh. Kalaupun pernah, aku gak bakal marah, kok. Itu, kan, sebelum ada aku. Aku gak peduli." Aku mengedikkan bahu.
Dia menangkup wajahku sekali lagi. Matanya menatap mataku bergantian sebelum mengunci pandangan. "Dengar aku, ya, Sayang. Aku boleh saja jadi cowok delapan belas tahun dan tidak pernah berciuman sama siapa pun sebelum sama kamu. Kamu pikir aku bisa melakukannya sementara yang di pikiran dan hati aku cuma ada kamu, ha? Enggak. Enggak bisa. Aku yakin banget aku gak akan bisa. Maka dari itu aku juga gak pernah capek-capek nyoba.
"Lagian, aku gak mau mempermainkan orang lain seperti itu. Aku juga gak mau membuang apa yang seharusnya jadi milik kamu sama orang yang gak penting buat aku. Aku serius sama apa yang aku bilang ke kamu tadi, Sayang. I love you sebelum aku tahu apa arti cinta itu sendiri. And I mean it with all of me, every inch of my being."
Pengakuannya benar-benar membuat aku terpana. "Yeah?" Satu-satunya kata yang bisa kupikirkan. Dan itu pun ke luar dari bibirku dengan suara yang parau pula.
"Iya, Sayang. Kamu bisa percaya sama aku."
"Aku bisa percaya sama kamu?" Kuulangi kalimatnya lagi.
Angga mengangguk mantap.
Lalu, setelahnya kami benar-benar menyelam ke dalam satu sama lain.
Dan satu hal mengarah kepada hal yang lain. Dan yang lain. Dan yang lain.
Dan yang lain.
Dan ... yang lain.
****
__ADS_1
Angga
"Kalau aku boleh jujur, aku takut, Sayang. Aku takut. Aku takut kalau apa yang akan aku katakan tidak cukup untuk menjelaskan apa yang terjadi. Aku takut kalau penjelasan aku tidak cukup untuk membuat kamu kembali. Aku takut kalau kamu benar-benar tidak ingin bersama aku lagi. Aku takut kehilangan kamu untuk selama-lamanya, Sayang. Aku takut. Aku takut banget. Please, ngertiin aku. Please, Sayang, please."
Gue terus saja memohon pada wanita pujaan yang ada di dalam dekapan gue ini. Gue elus rambutnya terus. Gue berharap, setelah semua yang terjadi hari ini, gue masih bisa memeluk Olavia di hari-hari yang akan datang.
Gue benar-benar berharap kalau harapan gue selama ini tidak harus kandas dan pecah bersama pigura itu.
Gue rasakan dia menarik napas dalam-dalam. Olavia kemudian menengadah. Gue dipertemukan dengan wajah dengan ekspresi yang begitu menusuk hati. Bukan hanya karena pipinya yang banjir oleh lelehan susah hatinya, akan tetapi juga karena luka yang tersirat di sana.
Fxck.
Oh, my fxcking God!
Tolol lo, Angga. Ini yang lo bilang cinta? Ini yang lo bilang sayang? Dasar berxngsek! Lo lihat sakit yang ada si sana, ha? Lo dengar tangis yang penuh pilu itu? Lo pikir siapa yang menjadi penyebabnya? Siapa, Tolol? Siapa?
Elo!
"Aku melakukan semua itu karena aku sayang sama kamu."
Seketika isaknya terhenti. Benar-benar berhenti. Seperti seseorang telah menekan tombol off yang membuat isak dan tangisannya selesai begitu saja. "Kamu melakukan itu karena kamu sayang sama aku? Iya?" tanyanya di beberapa helaan napas kemudian.
Aku mengangguk. "Iya, Sayang. Percaya sama aku. Aku–"
"Percaya sama kamu, kamu bilang?" Dia memotong kalimatku seraya mencoba mendorong tubuhku menjauh lagi darinya.
Usaha yang sia-sia. Aku tidak akan pernah menjauhinya lagi.
__ADS_1
"Aku udah percaya sama kamu dan lihat apa yang kamu lakukan sama hati aku! AKU UDAH PERCAYAKAN SEPENUHNYA JIWA DAN RAGA AKU SAMA KAMU, ANGGA, TAPI KAMU MALAH PERGI! MENGHILANG GITU AJA KAYAK DITELAN BUMI!"
"Kamu tahu aku harus berangkat ke Cambridge."
"AKU TAHUNYA KALAU KAMU AKAN BERANGKAT BARENG BANG OLI. TAPI, KENYATAANNYA APA, HA? KAMU BERANGKAT DULUAN. DUA MINGGU LEBIH CEPAT DARI JADWAL YANG SUDAH KALIAN SEPAKATI. DARI JADWAL YANG KAMU KASIH TAHU KE AKU.
"KAYAKNYA KAMU UDAH GAK SABAR LAGI UNTUK LARI DARI AKU, IYA, KAN? SETELAH KAMU MENDAPATKAN APA YANG KAMU INCAR SEBELUMNYA. PENGALAMAN PERTAMA DARI SEORANG GADIS BODOH YANG BISA KAMU TIPU DENGAN GAMPANG."
Bahunya naik-turun dengan cepat karena napasnya yang memburu. Kenangan-kenangan berkecamuk di dalam diri wanita pujaanku, membuat emosinya juga ikut-ikutan bercampur aduk dan mengganas. Mereka ingin ke luar dari sana. Mereka ingin bebas dari tempat di mana Olavia selama kurang lebih sebelas tahun ini menyimpannya dekat-dekat.
Kubiarkan rasa-rasa itu muntah dari bibirnya, dan matanya, dan dadanya.
Olavia menghela napas panjang, lalu bahunya bergulung, seperti pa yang membuat badannya tegak sedari tadi hilang begitu saja bersamaan dengan karbondioksida yang dia keluarkan. Seperti dia hendak menggulung dirinya menjadi lebih kecil agar bisa bersembunyi dari rasa-rasa yang menguasai. Seperti dia sudah sangat ... lelah.
Benar saja. Ketika dia mulai berbicara lagi pun, sudah tidak ada nada tinggi yang menggebu-gebu seperti tadi. Yang ada hanya tuturan nan lirih, berat oleh sedih.
Fxcking hell, Angga. Lo yang lakuin semua ini sama dia.
"Aku bilang I love you sama kamu malam itu. Untuk pertama kalinya, aku bilang tiga kata sakral itu sama orang lain, orang yang bukan anggota keluarga aku. Dan bahkan kamu bilang itu juga ke aku. Iya, kan? Aku gak salah ingat, kan? Tapi, beberapa jam setelah kamu bilang kalau kamu juga cinta sama aku, kamu ... menghilang. Poof! Kamu tinggalin aku berkelumun dengan seprai yang masih berdarah-darah. Sialan, Ngga. Kamu benar-benar tega. Aku berdarah secara nyata dan kiasan. Malam itu benar-benar jadi malam paling horor dalam hidup aku."
Namun, beberapa saat kemudian, dia tergelak dengan kecut. "But, no. Ternyata aku salah. Bukan itu malam yang paling horor di dalam kehidupan aku. Yang paling horor adalah sebulan setelahnya. Ketika aku menyadari bahwa terakhir kali aku datang bulan adalah sekitar dua bulan sebelum itu. Bisa kamu bayangkan, gak? Di usiaku yang baru enam belas tahun, aku sudah mengalami patah hati paling dahsyat dan menghadapi pregnancy scare seorang diri."
Olavia mengangguk-angguk kecil. "Aku bersyukur banget itu cuma pregnancy scare. Hasil dari stres yang kuderita. Aku gak mau makan, gak mau ngapa-ngapain, nangis terus, kayak orang gila. Dan you know what? Thank God Mama dan Papa cuma menduga sikap itu disebabkan oleh kepindahan Bang Oli. Sebagian kecil memang karena itu. Akan tetapi .... Entahlah."
Disekanya pipi yang basah dengan menggunakan lengan baju. Manik-manik kami bertemu sekilas sebelum the love of my life mengalihkan tatapannya lagi pada sesuatu di belakangku. "Aku cuma pengen mencintai dan dicintai dengan tulus. Aku cuma pengen punya cinta dan pasangan kayak yang orang tua aku punya. Kayak yang Raisa dan Mas Johan punya. Tapi, kenapa rasanya sulit banget, sih? Aku gak tahu harus ngapain lagi. Karena, apa pun yang aku lakukan, kayaknya gak pernah cukup."
Oh, fxck no. Dia tidak boleh berpikiran seperti itu. Itu adalah pikiran yang sama sekali tidak benar. "No! Itu gak benar, Sayang. Kamu–"
__ADS_1
Lagi-lagi dia memotong pembicaraan gue. "Mama harap Mama cukup buat kamu, ya, Sayang. Mama akan berusaha sekuat tenaga Mama agar bisa menjadi cukup buat kamu," katanya seraya menunduk dan memegang perutnya yang sudah mulai membesar.
Bersambung ....