
Angga
Sebenarnya ide ini bukan ide yang baru. Sebenarnya sudah dari lama gue ingin mengeksekusi gagasan gue ini. Namun, kalian tahu sendiri lah. Gue belum menemukan waktu yang tepat.
Kapan waktu yang tepat itu akan datang? Sementara setiap hari, setiap kali berinteraksi dengan Olavia dan Ole, hati gue semakin terikat, jantung gue berdegup semakin kencang. Gue semakin ingin menjadikan mereka sebagai milik gue secara utuh.
Shxt.
Kapan? Kapan, Tuhan? Kapan?
Gue sudah geregetan sendiri menunggu. Atau, apa perlu gue sendiri yang menciptakan waktu yang tepat itu?
Hm.
Pemikiran yang sangat menarik.
Gue jadi ingat dengan sebuah kata-kata bijak yang dulu sering dibagikan oleh seorang bapak-bapak berkepala botak di layar televisi. Kesempatan itu bukan ditunggu, akan tetapi diciptakan sendiri. Kalau harimu sibuk dengan menunggu hal yang tidak pasti, lalu kapan kau akan mengambil tindakan untuk menggapai impian?
Balik lagi ke masalah waktu. Waktu terus bergulir tanpa peduli dengan apa yang terjadi pada manusia yang mengharapkannya berhenti. Atau melambat. Atau menggandakan diri. Atau menjadi tepat.
Well, with that being said ....
"Oik, di mana lo?" Tanpa ba bi bu gue langsung menodong dia dengan pertanyaan setelah telepon tersambung.
"Gue lagi kantor. Kenapa emang?" jawab sahabat gue dari seberang sana.
"Come on, man. Hari Sabtu gini masih ngantor aja lo. Get a life!"
"Sialan lo, ya." Rutukan Oliver tersaring melalui speaker. "Mentang-mentang sekarang udah gak jadi sad boy lagi, makin berani aja lo ngegoda gue. Dasar kunyuk!"
Cemoohnya membuat gue tertawa. Sial! Benar juga yang dia katakan. Gue yang dulu memang pantas diberi julukan sad boy. Malahan mungkin jauh lebih parah dari seorang sad boy biasa. Di saat Oliver dan teman-teman yang lain di kampus sibuk party sana-sini, gonta-ganti gandengan dalam berbagai warna dan ukuran, gue cuma mengintili mereka karena terpaksa. Kalau tidak mereka yang memaksa, ya, pandangan teman-teman lain terhadap gue. Peer pressure and social standing in university life was no joke back then.
__ADS_1
I heard it's more nowadays.
Shxt. Gue ikut merasa kasihan dengan anak-anak zaman milenial.
"Sialan lo!" Hanya itu yang bisa gue jadikan comeback.
"Dasar kunyuk lo, bro."
Gue tergelak lagi. "Lagian, masa yang punya kantor masih ikutan lembur, sih? Malu, dong, sama nama yang ngegantung di depan gedung."
"Anyxng. Itu nama bapak gue, bukan nama gue, Saripudin!"
Sekarang gue sedang terkakah-kakah. "Berengsxk. Gue sempat lupa kalau lo bisa jadi lucu banget gini pas lagi gak mau diganggu. Njxng, perut gue," ungkap gue di antara kakahan sembari memegangi perut yang mulai menegang.
"Udah, ah. Ada angin apa lo nyariin gue? Tumben-tumbenan lo. Semenjak baikan sama adik gue, lo kesannya udah lupa sama sahabat sendiri. Benar-benar kurang ajar emang ini makhluk satu."
Okaaay. Kata-kata si Kamprxt barusan memancing sedkit rasa bersalah di dalam hati gue. "Shxt. Sorry, man, bukannya gue sengaja bersikap gitu. Lo paham lah. Secara gue harus mengejar ketertinggalan gue selama sebelas tahun ini. Gue ...." Gue mengembuskan napas. "Gue benar-benar pengen membuktikan sama dia kalau gue bukan gue yang dulu lagi, Bro. Gue tidak akan bertindak sebego itu lagi."
Keheningan sejenak merajai panggilan kami. Gue menghela napas panjang lagi. "Lagian lo gak lihat keponakan lo? Siapa, sih, yang mau jauh-jauh dari bayi gemoy yang pintarnya mengalahkan elo itu, ha? Yaaah, selain elo sendiri, gue gak tahu siapa. Yang jelas bukan gue." Gue menambahkan.
Gue terkekeh. "Digodain gitu aja pake acara ngamuk lo, bro. Sensitif banget. Mau datang bulan lo?" Gue terus saja memprovokasi aahabat gue yang sedang lembur itu.
Iya, sih. Dia benar. Walaupun itu adalah kantor badan hukum milik bokapnya berdua dengan bokap si Raisa, akan tetapi hal itu tidak otomatis menjadikan Oliver sebagai anak emas di sana. Dia tidak bisa ongkang-ongkang kaki dan berharap statusnya sebagai anak dari orang yang namanya ada di palang depan akan membawa bokong berototnya memanjat tangga demi mendapatkan predikat pengacara senior dengan mudah. Dia tentu harus membuktikan kualitas dirinya sendiri. Dan, sepertinya, membuktikan diri berarti harus rela kerja lembur sampai akhir minggu. "Sorry, sorry. Gue cuma bercanda doang kali, bro."
"Iya, iya, iya. Apa lo kata, dah. So, ngapain lo memilih untuk membuang-buang waktu lo dengan menelepon gue daripada main sama adik dan keponakan gue, ha? Mau apa lo?"
Gue senaaang sekali mendengar comeback-comeback penuh sarkasme dari kakaknya wanita pujaan gue ini. Mungkin karena hal itu mengingatkan gue sama dia.
Ah, gue jadi kangen Olavia.
Namun, gue masih punya misi di sini. God damn it. Gue tidak sadar sudah membelok agak jauh. Untung saja pertanyaan dia membawa pikiran gue ke tujuan semula; alasan sebenarnya kenapa gue menghubungi dia in the first place. "Hm." Gue sedikit tergugu. Sialan! Kenapa tadi gue harus mengusik Oliver, sih? Kenapa gue harus bikin dia jengkel padahal gue berencana untuk ask him for a favor?
__ADS_1
Dasar. Memanglah bego si Angga ini.
But, thank goodness gue bego di perkara yang lain.
"Kenapa lo? Ke mana perginya lidah lo yang suka ngatain gue kayak tadi, heh?" Kini giliran Oliver yang mengejek. Gue bisa membayangkan senyum cemeeh yang tersungging di bibir laki-laki itu sekarang.
Damn it.
"Eh, eh, itu. Engg, jangan galak-galak dong lo sama sohib sendiri," rayu gue. "Entar cepat tua lo."
"Bodo amat!" sahut Oliver dengan cepat. "Apaan, sih, Ngga? Lo mau apa dari gue?"
"Sialan. Lo pikir gue nelepon lo cuma karena gue lagi butuh bantuan dari lo aja, ha?" Gue membela diri. "Apa gue gak boleh kangen sama sahabat gue sendiri?"
"Uuuuh." Oliver mengubar suaranya menjadi lebih tinggi; melengking seperti suara perempuan terjepit pintu. "Makasih banget Anggarasyah Emilio Addams udah kangenin gue. Gue jadi terharu." Si Kamprxt itu juga menambahkan suara besutan ingus di akhir ejekannya.
Gue mengutuk dia dengan tidak diam-diam.
"Rasain lo!" balas Oliver puas. "Makanya jadi orang jangan suka gangguin orang lain. Udah, ah. Gue serius, nih, Ngga. Gue lagi sibuk banget. Ada apa lo telepon gue jam segini?"
Ah, sudahlah. Toh, tidak ada salahnya mengajak teman sendiri nongkrong setelah sekian lama, kan? "Engg, gue mau ngajakin lo nongkrong."
"Sialaaaan!" Oliver mengerang panjang. "Dari tadi lo ngatain dan ngejek gue padahal cuma mau ngajak nongkrong doang? Kunyuk beneran lo, ya!"
Gue terkekeh. "Sorry, man."
"Anjir. Iya, deh. Gue juga kayaknya butuh hiburan abis ini. Ketemuan di Paradiso aja jam sembilan nanti. Oke?"
Tanpa ba bi bu si Kamprxt langsung memutuskan sambungan telepon kami.
Sialan.
__ADS_1
Meskipun begitu, langkah pertama dari misi gue sudah berjalan. Selanjutnya mempersiapkan diri untuk step kedua.
Bersambung ....