Papa Untuk Oleander

Papa Untuk Oleander
24. Awalnya


__ADS_3

Ola


Malam pelepasan siswa kelas tiga Sekolah Menengah Atas Cempaka Internasional. Aku ingat betul bagaimana malam itu berjalan.


Om Beniqno dan Tante Susan mengadakan after party di rumah mereka meskipun Angga sudah menolak. Yeah, you guess it. Perbedaan yang sangat signifikan pada pribadi dua orang anak beranak ini. Om Ben yang terbiasa dengan kehidupan yang ramai, sementara Angga betul-betul menjaga privasinya. Jadi, ya, begitulah.


Angga berakhir dengan kabur dari pesta yang sedang berlangsung di rumahnya dan menyelinap masuk ke kamarku.


Yep. You heard that right.


Bang Oli melarangku untuk ikut menghadiri pesta itu. Walaupun akan ada dia dan Angga yang akan menjagaku di sana (apalagi Om Ben pasti sudah memperhitungkan dan mempersiapkan semua bentuk precautions yang dia busa dapatkan), Bang Oli merasa perlu mengingatkan bahwa aku masih berusia enam belas tahun dan pesta itu benar-benar bukan my cup of tea.


He was right. Aku bukan remaja yang senang berada di kerumunan orang-orang asing. Lagipula untuk apa aku ada di sana? Toh, aku masih akan bertemu dengan Bang Oli dan Angga setelah ini. Kalaupun aku ingin, Raisa sudah tidak ada di sini lagi untuk menemani. Tadi sore dia telah terbang ke New York untuk memulai petualangan baru; mengejar cita-cita di Fashion Institute of Technology.


Aku ingat betul bagaimana rasa sedih mendominasi ruang hati setelah mengantar sahabatku nan sableng itu ke bandara. Bagaimana kami bertukar kata-kata semangat, maaf, see you soons, dan I love yous sambil berpelukan dan bercucuran air mata.


Bagaimana kemudian aku menyuruk di dalam kamar dan melakukan panggilan video dengan Angga. Panggilan yang sangat, sangat, sangat kotor sekali. Ada banyak sekali air mata, ingus, muka merah, dan mata sembab di dalamnya. Setelah keberangkatan Raisa, keberangkatan Bang Oli dan Angga mulai membayangi.


Yup. Kakak laki-lakiku, sahabatku, dan kekasihku akan meninggalkan aku di sini sendirian. Pemikiran yang semakin membuatku down.


Namun, seperti biasa, Angga bisa mengubah badaiku menjadi hari paling cerah dalam sekejap mata. Dia berjanji akan menemuiku malam ini untuk menghiburku.


Suasana hatiku berubah seratus delapan puluh derajat. Aku yang tadinya sibuk galau, seketika berlari ke sana kemari untuk bersiap-siap. Masih fresh di dalam kepalaku bagaimana repotnya aku mencari cara agar bengkak mataku hilang, atau setidaknya berkurang. Kucoba mendinginkannya dengan es batu langsung, lalu menggunakan kompres. Aku juga menggunakan eye mask dan face mask setelahnya dan bolak-balik di ruang wardrobe untuk mencari pakaian yang "pas".


Jika dikenang-kenang lagi saat itu, aku akan tertawa sendiri.


Dia menepati janjinya. Pukul sepuluh lewat entah berapa menit, kaca jendelaku berbunyi. Seseorang melempar batu kecil beberapa kali.


Kubukakan jendela, lalu Angga masuk dengan begitu hati-hati. Kami baru mengembuskan napas lega setelah kedua kakinya berdiri di atas karpet yang menutupi lantai kamarku tanpa menimbulkan satu suara pun.

__ADS_1


"Hey." Dia berbisik.


Aku pun balas menyapanya dengan cara yang sama. "Hai."


"Kamu masih sedih?"


"Enggak." Aku menggeleng. "Karena kamu udah ada di sini," ungkapku sembari menunduk malu.


Aku ingat bagaimana Angga menangkup wajahku, mendaratkan kecupan-kecupan lembut di kedua kelopak mata, lalu bibirnya turun ke kedua pipi, semakin rendah ke daguku. Kalakian dia mulai bergerak naik; dari bibir, ke puncak hidung, terus ke dahi, dan berakhir di puncak kepala. Tak lama sesudah itu aku tahu-tahu sudah berada di dalam dekapannya yang hangat.


Wangi parfum Calvin Klein CK One, hadiah dariku di hari ulang tahunnya yang ke delapan belas dua minggu yang lalu, segera memenuhi hidungku. Kuhirup napas dalam-dalam.


Aku ingat bagaimana dunia, segala isinya, serta masalah yang mereka bawa seketika saja menguap. Menjadi tak berarti. Yang ada hanya Olavia dan Angga, berdua, di kamar ini.


"Kamu mau ngapain, Sayang?" tanya Angga setelah dia melepaskan pelukannya.


Dia tergelak dan menggeleng. "Nonton lagi?"


"He-eh. Mau, ya, Ngga?" Kukeluarkan senjata terampuhku; cibiran. Kumajukan bibir bawahku sambil memasang tampang paling memelas yanb kubisa. "Kemarin aku sama Raisa janji mau nonton bareng, tapi gak jadi sempat. Sekarang kamu yang harus gantiin dia. Temenin aku nonton. Ya, ya, ya?"


Angga pura-pura mengerang. "Kamu tahu persis kalau aku gak bisa menang lawan bibir monyong kamu itu."


Kupeluk dia dengan girang.


Dengan kaki berselonjoran di atas kasur dan punggung bersandar pada kepala tempat tidur, kami menonton film The Bucket List. Yes. The Bucket List.


Film yang akhirnya menginspirasi aku untuk mengungkapkan tiga kata itu. "I love you."


Kurasakan tubuh Angga teraentak. "Wait. What?" Tahu-tahu dia sudah bersimpuh di depanku, kakiku yang masih berselonjoran berada di antara paha-pahanya. "Kamu bilang apa barusan?"

__ADS_1


Rasa malu bercampur excitement mengalir di dalam darah. "I love you," ulangku lirih sembari menunduk.


"Hey." Ujung jari Angga menggerakkan daguku sehingga kami kembali bertatapan. "Aku mau dengar kamu bilang itu langsung sambil lihat aku."


His wish is my command. "I love you, Anggarasyah Emilio Addams. I love you."


Manik-manik cokelat gelap Angga seketika berbinar. Bahagia menari-nari di kedua bola mata yang tampak bersinar di keremangan ruangan. "And I love you, Olavia Marie Arifin. Aku sudah menyimpan rasa ini jauh, sebelum aku mengetahui makna sebenarnya dari kata-kata itu. Selama itu pula aku berharap kamu akan merasakan hal yang sama. Dan, sekarang, setelah kamu baru saja mewujudkan mimpi terbesar aku, aku yang bodoh ini tidak tahu harus apa."


"Kiss me."


"What?" Angga lagi-lagi tersentak.


"Kiss me. Like, really kiss me." Kucengkeram baju kaus yang dia pakai dan kutaruk mendekat. Di atas bibirnya, literally, kuulang kata-kata itu lagi. "Cium aku, Ngga."


Dan, bagi Angga, permintaanku juga merupakan sebuah perintah.


Tanpa perlu kata pengantar lagi, dia mengeliminasi beberapa sentimeter yang ada. Dalam sekejap bibir kami sudah bertemu. Namun, dia masih saja mengecup bibirku dengan hati-hati.


"Give me the real kiss, Anggarasyah Emilio Addams. Show me what the real kiss is supposed to look like. Show me how it feels. Teach me how to do it right."


"A-aku gak t-tahu." Angga tergagap.


Seketika keningku mengerut. "Maksud kamu? Kamu gak tahu apa?"


Dia kembali menumpukan badan di atas tumitnya dan memijat tengkuk. "Aku ... aku gak tahu gimana cara melakukan i-itu dengan benar ka-karena aku ... aku juga belum pernah, eng .... Aku belum pernah, engg ... belum pernah ci-ciuman sama ... sama ... sama cewek lain, engg ... selain ... selain sama kamu."


Kini giliran aku yang terperangah. "What?"


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2