Papa Untuk Oleander

Papa Untuk Oleander
30. Puncak


__ADS_3

Angga


Kami berakhir dengan benar-benar melakukan wisata kuliner. Perjalanan yang awalnya dimulai karena celetukan Olavia yang bilang "Ngga, kayaknya ubi bakar Cilembu sama teh anget enak juga, nih" saat melihat feed Instagram-nya seketika berubah menjadi "Ngga, kita ke sini dulu, ya? Gue tiba-tiba mau bakmi golek." Lalu, "Ngga, dedeknya pengen gurame goreng juga. Di sana enak. Yuk, ke sana." Dan kemudian, dia berkata, "Ngga, Ngga, Ngga. Stop! Gue mau itu!"


Welah dalah.


Wanita pujaan gue itu, dengan ajaibnya, bisa menghabiskan semua yang dia pesan selain sate kambing. Syukurlah gue tidak harus bersujud di pintu surga calon anaknya demi membujuk Olavia agar tidak menyelesaikan saru porsi sate kambing pesanannya. Bisa mampus kena tabok Dokter Sheila dan keluarganya nanti gue.


Sebaliknya, dia yang memohon-mohon. Dari dalam mobil, dia sudah berjanji bahwa dia hanya akan memakan dua tusuk sate. "Please, Ngga, please. Dua tusuuuk aja. Gue pengen banget. Baby-nya sebenarnya yang pengen banget. Nanti kalau dia ileran kamu mau tanggung jawab?"


Gue harus jawab apa kalau begitu alasannya? Tidak mungkin, kan, gue bantah dengan fakta medis yang mengatakan tidak ada hubungan antara keinginan "ngidam" ibu hamil dengan kasus anak bayi yang ileran. Semua anak bayi akan mengalami yang hal itu sebagai dampak dari pertumbuhan gigi mereka. Kalau gue jawab seperti ini, nanti pasti Olavia sendiri yang bakal nabok gue.


Jadilah, gue iya-iyakan saja semua keinginan dia. Karena untuk itulah gue ada. Gue diciptakan oleh Tuhan dan diturunkan ke atas muka bumi ini untuk memenuhi semua kebutuhan cewek yang namanya Olavia Marie Arifin. Titik. Tidak ada yang lain daripada itu. So, tidak ada alasan bagi gue untuk menolak, bukan?


"Aaaaa. Kenapa kamu harus nyetir lewat sini, sih?" Olavia tiba-tiba merengek.


"Lah? Terus kita lewat mana lagi kalau gak lewat sini?"


"Au, ah!" Dia mencibir. "Pokoknya ini salah kamu. Kenapa kamu pilihnya jalan sini. Aku, kan, jadi pengen makan sate kambing."


Gue benar-benar menahan lidah gue untuk tidak memanggil dia dengan sebutan itu. Padahal, ingin sekali rasanya hati ini menyebutkan kata tersebut dengan panjang. Sayaaaang. Namun, ya, begitulah. Gue terpaksa menggantinya dengan namanya sendiri. "Olaviaaa, kita, kan, gak tahu kalau pasti dagingnya matang apa enggak. Kamu ingat sendiri Dokter Sheila ngomong apa."


Bibir bawahnya makin maju, dahinya makin berkerut. Dia lucu sekali kalau sedang bersungut-sungut seperti ini. Gue jadi bimbang; apakah gue harus tertawa atau iba melihat dia merungut.


Gue memanggil dia Sayang di dalam hati sebelum membuka suara lagi. "Jangan ngambek gitu, dong." Sayang.


Wanita pujaan gue masih saja bungkam.


Ya, Tuhan. Cewek ini tahu banget apa yang bisa dia lakukan pada perasaan gue. Gue mengembuskan napas panjang dan menepikan mobil sebelum mengambil posisi parkir di pinggir jalan. "Terus kamu maunya gimana?"

__ADS_1


Sudah tercium aroma-aroma gue akan menyerah.


"Aku udah bilang kalau aku mau sate kambingnya," tegas Olavia setelah menghabiskan beberapa detik tambahan dalam diam. "Lagian sayang tahu kalau lewat sini gak mampir dulu."


Iya, sayang, iya. Sayang banget.


Gue yang sayang banget sama elo.


"Ayolah, Ngga. Ayoooo."


Okaaay-lah kalau begitu. Keinginan kamu adalah perintah buat aku, Tuan Putri. Gue putar balik mobil dan kami menuju ke tempat makan sate itu.


Meski gue sempat disalah-salahkan dan dijadikan kambing hitam, akan tetapi gue menyerah dan mau-mau saja menghabiskan seporsi sate kambing yang terkenal di Jalan Raya Puncak KM 79 ini. Dan meminjam kalimat dari Tuan Putri wanita pujaan gue, sayang banget kalau mampir ke sini tapi tidak mencoba menunyang lainnya. Jadilah gue sekalian makan sup kambing di sana.


Terlanjur basah. Ya, sudah. Mandi saja sekalian.


****


The love of my life menjawab dengan semringah. "Udah. Yuk, pulang."


Ya, Tuhan. Hati gue. Badan gue langsung panas dingin saat mendengar kalimat yang baru saja Olavia ucapkan. Yuk, pulang.


Pulang.


Harapan gue yang setinggi Gunung Everest itu seketika menciptakan potongan-potongan mimpi seindah nirwana. Adegan-adegan yang muncul begitu mengobati dahaga gue yang haus akan masa depan bersama Olavia. Gambaran seperti saat kami berdua sudah resmi menikah, yang di dalam perut dia adalah anak kami, dan rumah yang sudah gue persiapkan untuk dia di Sentul adalah tempat tinggal utama kami.


Ah. Hati gue jadi ringan banget. Mengambang seperti balon, tinggi ke angkasa.


Gue tidak dapat menyembunyikan senyum yang menarik ujung-ujung bibir gue sampai ke telinga. "Yuk, pulang."

__ADS_1


Damn. That sounds really really really good.


****


Untung kami jalan ke Puncak bukan pada akhir pekan. Kalau begitu kasusnya, kami jelas-jelas tidak akan bisa menikmati makanan-makanan lezat tadi dengan leluasa dan bertemu dengan jalan yang meski lumayan ramai, akan tetapi arusnya tetap bergerak dengan lancar.


"Om Arif sama Tante Yuni kapan balik?" Gue melirik ke arah Olavia sekilas, memastikan dia mendengar pertanyaan gue.


"Rencananya lusa, tapi gak tahu juga udah pasti apa belum."


Gue melirik dia lagi. Dari beberapa detik itu, gue bisa melihat wanita pujaan gue sedang mengelus-elus perutnya sambil menatap apa-apq yang berlalu di luar sana. "Pasti kamu udah kangen banget, ya, kan?"


Sumpah demi apa gue cuma bermaksud untuk menggoda wanita yang sepanjang kehamilannya tidak berhenti berkomunikasi dengan buah hati yang ada di dalam perutnya melalui belaian itu. Sumpah demi apa gue cuma mau bercanda. Namun, mungkin karena memang dasarnya gue yang tidak peka kali, ya, candaan gue malah berujung sebaliknya.


"Kangen banget tahu, Ngga." Olavia akhirnya menjawab setelah sempat terdiam untuk beberapa saat. Getaran di dalam suaranya menjadi tanda kekacauan yang telah tanpa sengaja gue buat.


Sial. Sial. Sial.


"Hey, hey, hey." Gue sekonyong-konyongnya menjangkau tangan wanita gue itu. "Sorry, sorry. Aku cuma mau godain kamu aja, kok. Gak ada maksud buat bikin kamu nangis," jelas gue lagi. Kini gantian gue yang mengelus-elus tangan dia dengan lembut, berharap gue dapat menenangkannya dengan gestur itu.


Gue mendengar dia terisak.


God damn it, Angga. Gue merutuk diri gue sendiri di dalam hati.


Tidak tahan untuk tidak melihat wajahnya dan memastikan air mata berharga milik Olavia tidak jatuh lagi, gue menoleh ke arah wanita pujaan yang sedang duduk di kursi penumpang itu. "Sorry, sorry, sorry. Aku gak bermaksud bikin kamu sedih. Aku tahu kamu pasti kangen banget sama mereka. Sabar, ya. Kan, kamu yang bilang sendiri kalau lusa mereka bakal pulang. Lusa kamu bakal bisa ketemu langsung sama papa dan mama kamu lagi. Sabar, ya."


Gue mengelap pipinya dengan punggung tangan gue yang sedang menggenggam tangan kanan Olavia sembari sesekali melirik ke jalanan di depan. "Udahan nangisnya, please. Nanti–"


Kalimat gue dipotong oleh teriakan yqng begitu keras dari Olavia. "Angga, aaaaaaaa!"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2