
setelah puas melihat seisi rumah mereka pun duduk di balkon kamar melihat pemandangan yang menyejukan mata karna di perumahan ini di setiap rumahnya terdapat pepohonan sebagai penghijauan.
" sejuk banget di sini mas meskipun di tengah- tengah kota tapi berbeda dari perumahan elit lainnya" tutur Kania menikmati pemandangan di depannya
" iya mas juga baru tahu kalau di tengah kota ada perumahan elit yang mengambil konsep seperti ini di setiap rumah terdapat pepohonan rindang " jawab Arya karna selama ini pun ia tak pernah mengetahui
"papa hebat bisa tahu selera kita mas" ucap Kania tersenyum ke arah Arya
" hahaha....jelas papa tahu kan papa lebih kenal kita dari kecil sayang" Arya tertawa dengan ucapan kania dan mencubit pelan pipin Kania
"heee..iya juga sih" kania tersenyum memperlihatkan deretan giginya
lalu ia bersandar di pundak Arya dan Arya pun memeluk tubuh Kania sembari memainkan rambut panjang milik Kania. lama mereka saling diam hingga tak terasa waktu telang menjelang sore
"ayok kita pualang sayang" ajak Arya
"hmm ya udah....padahal aku masih betah duduk di sini" tutur Kania yang tiba-tiba lesu
"kenapa sayang kamu nggak mau pulang" tanya Arya
"nggak apa-apa ya udah kita pulang" tutur Kania lalu berdiri dari duduk nya lalu masuk ke kamar
"ya udah, untuk soal pindah rumah nanti kita bicarain sama papa mama di rumah ya" ucap Arya mengikuti langkah Kania
"beneran kamu mau ajak aku pindah ke sini, terus mama sama papa gimana" tanya Kania ada rasa bahagia sekaligus sedih karna harus pisah dari mertuanya
"mama sama papa kan ada kak Berlian sekarang di rumah dan sebentar lagi juga kak Berlian nikah pasti mama sama papa nggak sendirian karna kak Berlian akan tetap tiggal di rumah utama" jawab Arya menjelaskan
"benarkah mas kak Berlian nggak akan ikut suaminya nanti" tanya Kania yang belum tahu keputusan Berlian tak akan pergi dari rumah utama
"iya, lagi pula papa membelikan kita rumah kalau tidak kita tempatin untuk apa rumah ini di sewakan ke orang lain nggak mungkin lah karna ini pemberian papa" tutur Arya pada Kania
__ADS_1
"iya bener juga sih" jawab Kania dengan bahagia
kini mereka sudah berada di halaman rumah Arya dan Kania pun masuk ke dalam mobil dan Arya pun mulai melajukan mobil nya ke luar dari rumah mewah itu
terlihat security membuka gerbang dan setelah mobil Arya keluar security pun menutupnya lagi.
•
•
di rumah utama kini Berlian tengah duduk di sofa sembari memilah-milah kartu undangan untuk hari perbikahannya nanti
"kamu pilih yang mana sayang" tanya ibu Ratna pada Berlian karna ia pun menemani Berlian
"yang ini aja deh ma konsep undangannya lebih simpel dan elegan" jawab Kania memberikan pilihannya
"ya sudah mama langsung hubungi pihak MUA nya" tuur ibu Ratna lalu mengirimkan pesan wa kepada MUA
tak berselang lama setelah Berlian membereskan kartu undangan Arya dan Kania masuk ke dalam rumah
Berlian yang melihat ke datangan mereka pun memanggil keduanya.
"wihh dua adik kaka habis dari mana jam segini baru balik" tanya Berlian
Kania yang melihat kaka ipar dan ibu mertua nya itu pun langsung menghampiri dan duduk di sofa sebelah meruanya
"habis liat rumah tadi kak " jawab Kania dan Arya pun ikut duduk di samping istri nya
"wihh habis milih-milih undangan loe kak" tanya Arya
"iya, gimana rumah yang di kasih papa bagus" tanya Berlian
__ADS_1
" bagus kita berdua suka rumahnya" jawab Arya
" terus kalian mau pindah ke rumah itu atau tetap di sini" tanya ibu Ratna yang sedari tadi hanya mendengar percakapan ketiga anak nya
"mau nya sih pindah di sana karna tempatnya yang nyaman" jawab Arya sembari melihat ke arah istrinya yang terlihat seperti tak enak ketika Arya bicara tentang pindah rumah
" yah...mama sih terserah kalian aja toh kalian sudah dewasa sudah berumah tangga jadi mama ikut aja keputusan yang kalian ambil meskipun berat" jawab ibu Ratna dengan menghembuskan nafas berat
" mama jangan sedih kita pati akan sering-sering berkunjung kesini lagi pun tidak terlalu jauh hanya setengah jam" jawab Kania merasa tak enak pada mertuanya itu.
" iya mama tidak apa- apa kamu jangan jadi merasa tak enak Kania, karna kalian sudah berumah tangga otomatis pasti akan hidup mandiri" jawab ibu Ratna dengan tersenyum dan mengelus kepala Kania
"kan kak Berlian juga nanti bakal tinggal di sini ma jadi mama dan papa tetap ada yang menemani " tutur Arya
" iya ma Berlian kan tinggal di sini setelah menikah nanti, jadi biarkan lah mereka mencari kebahagiaan dengan cara mereka sendiri" Berlian ikut membenarkan ucapan Arya
" oh iya mama lupa kalo Berlian akan tinggal di sini, tapi kamu dan Kania janji ya hsrus sering-sering berkunjung" ucap ibu Ratna meyakinkan lagi
" iya mama tenang aja aku sama Kania pasti sering ke sini" jawab Arya
ibu Ratna pun tersenyun tak menyangka anak-anaknya kini sudah tumbuh dewasa dan sudah memiliki kehidupannya sendiri dengan pasangan masing-masing.
tak terasa kini usianya semakin senja dan rambut yang berkilau indah dulu kini sudah mulai memutih. ibu Rana tersenyum melihat ke tiga anak nya yang tengah bercengkrama saling bercanda mengingatkan ia pada masa kecil anak-anaknya
sejak dulu mereka selalu bersama bermain bahkan bersekolah selalu bersama, ibu Ratna tak menyangka kini Kania bahkan telah menjadi menantunya
sebuah rahasia tuhan yang tak dapat di tebak oleh hambanya ketika jodoh itu di berikan meski mereka sempat terpisahkan karna Kania yang tiba-tiba menghilang dan dengan secara tiba-tiba pula tuan Adijaya membawa Kania kembali ke rumah itu meski awalnya Kania di minta untuk mengawasi Arya yang menurut tuan Adijaya anak lelakinya itu bandel.
pertemuan awal Kania dan Arya pun tak bisa di katakan mulus mulus saja, mereka bahkan sering berantem dan beradu mulut tetapi lambat laun dengan seiring berjalannya waktu Arya mulai menyadari bahwa wanita yang bersamanya adalah cinta pertamanya dahulu
hingga mereka pun menjalin hubungan dan menikah sampai saat ini meski belum di berikan keturunan tetapi mereka menikmati itu semua tak ambil pusing oleh apa pun omongan orang karna yang mereka fikirkan hanya lah kebahagiaan mereka sendiri tanpa melihat omongan tak enak dari orang-orang bahkan rekan kerja dari tuan Adijaya yang masih mengharapkan Arya menikah dengan putri mereka.
__ADS_1