Pendekar Serigala Emas Sakti Season 3.

Pendekar Serigala Emas Sakti Season 3.
Wisata Malam Di Kota Wei.


__ADS_3

Sesuai dengan rencana yang sudah di rancang sebaik mungkin oleh He Shu Huan dan kawan -kawan untuk memulai misi mereka semua di hari larut malam sesudah mereka mempersiapkan diri mereka di penginapan lima warna rembulan pada sore hari itu.


" Guan , buka lubang berjeruji di bawah selokan di bawah sepasang sepatu mu yang baru dan mahal itu." Kata He Shu Huan dengan suara pelan sekali kepada Bi Guan.


" Kenapa kau menyuruhku untuk melakukan hal yang sangat tidak mengenakan ini ?! " Gerutu Bi Guan yang wajahnya sendu karena dirinya telah menjadi korban percobaan He Shu Huan di sore hari di kolam teratai berlumut di penginapan lima warna cahaya rembulan.


Flashback.


Bi Guan meringis melihat betapa menjijikannya air kolam teratai berlumut di bawah jalanan koridor penginapan lima warna cahaya rembulan di area menuju ke lokasi kamar -kamar mereka menginap di penginapan tersebut.


" Masuk.." Kata He Shu Huan tanpa suara namun tatapan matanya tak bisa di bantah Bi Guan yang pasrah mematuhi perintahnya.


Bi Guan menggunakan ilmu meringankan tubuh melompat ke atas tumbuhan teratai dengan ujung sepatunya menapak ringan sekali di atas teratai yang mengapung di kolam itu.


" Perhatikan dengan cermat salah satu teratai di kolam itu. Adakah yang berbeda dengan teratai -teratai lainnya ?! " Kata He Shu Huan berdiri di koridor.


" Hmm..Bagaimana aku bisa melihat adanya salah satu bunga teratai yang berbeda di antara pohon teratai lain ? " Tanya Bi Guan menahan napas dari aroma busuk air kolam itu.


" Ya..Kau telitilah satu persatu tumbuhan teratai itu. Ya ,kalau perlu kau masuk ke dalam air kolam nya." Jawab He Shu Huan ringan sekali kepada Bi Guan seakan tidak akan membebani Bi Guan yang akan mengalami kesulitan dalam mencari dan menemukan satu teratai yang berbeda dengan teratai lainnya.


" Hyaaaa..!! " Jerit Bi Guan yang terjeblos ke air kolam karena keseimbangan tubuhnya goyah oleh sentilan serpihan kayu koridor yang di sambitkan He Shu Huan ke arah dirinya.

__ADS_1


Brushhh..!!


Bi Guan keluar dari kolam teratai berlumut dengan wajah dan keseluruh tubuhnya kotor penuh lumut dan memandang begitu merana kepada He Shu Huan yang membalas memandang dengan polos dan lugu sekali seakan -akan semua itu bukanlah hasil perbuatan He Shu Huan terhadap Bi Guan.


" K..Kau..?! " Desis Bi Guan jengkel namun Bi Guan tidak berani karena He Shu Huan adalah Kaisar di negeri Ming dan juga Adik iparnya. Ia menahan rasa jijik dan bau busuk air kolam teratai di kolam itu seraya menerobos beberapa pohon teratai dan menemukan satu kelopak bunga teratai yang ada titik darah bekas milik seseorang yang ingin sekali mereka selidiki.


" Ada ." Kata Bi Guan memberitahu He Shu Huan.


" Ambil." Kata He Shu Huan antusias sekali ingin cepat menyelidiki kelopak bunga teratai yang telah di temukan Bi Guan dalam keadaan berbeda.


" Ya..Tunggu sebentar..Aku menemukan jemari tangan orang di balik rimbunan daun teratai di sisi kanan ku." Kata Bi Guan memetik daun teratai dan mengambil jari kelingking seseorang yang telah di temukannya lalu membungkusnya dengan daun teratai di tangannnya.


Kembali ke depan patung domba yang saat ini di selidiki oleh He Shu Huan dan kawan -kawannya di tengah malam hari saat Kota Wei sudah terlelap dan sunyi.


" Iya..Guan kau yang paling pintar untuk masuk pertama daripada kami." Jawab He Shu Huan nada halus memuji Bi Guan pintar.


Bi Guan menghela napas selama satu detik untuk meredakan emosinya karena He Shu Huan sangat cerdas dalam mencari alasan untuk Bi Guan bisa melakukan perintah dari sahabatnya itu yang kini memeluk pinggang kecil adik kesayangannya Bi Guan ,yaitu Alina.


" Kak Guan..Ayolah tak apa sepatu mu kotor , nanti usai kita berhasil melakukan misi kita. Aku akan meminta Kak Huan untuk membelikan mu lima pasang sepatu termahal di Negeri Ming sebagai mengganti kerugian sepatu mahal mu itu." Kata Alina yang juga lebih memihak dan sayang He Shu Huan daripada Bi Guan Kakak kandung gadis itu.


" Iya..Alina. Kak Guan lakukan." Kata Bi Guan yang menuruti permintaan adiknya tersayang .Maka , Bi Guan membuka lubang jeruji di bawah sepasang sepatu indah dan mahalnya.

__ADS_1


Kemudian , Bi Guan turun lebih dahulu daripada yang lain yang menunggu informasi dari Bi Guan yang telah masuk ke dalam selokan yang ternyata masih ada jalanan yang berbatu yang sangatlah panjang seperti terowongan bawah tanah yang ada di bawah jalanan raya pusat Kota Wei.


" Huan..Ada jalanan yang bisa kita injak dengan aman di dalam sini." Lapor Bi Guan mendongak ke atas dan menemukan He Shu Huan yang telah mengajak Alina untuk turun ke dalam selokan itu.


" Mundur." Kata He Shu Huan kepada Bi Guan yang cepat mundur agar He Shu Huan dan Alina serta yang lainnya bisa turun dan masuk juga ke dalam selokan.


Bi Guan mundur sesuai perintah He Shu Huan lalu mereka berkumpul di dalam terowongan bawah tanah jalan raya pusat Kota Wei. Setibanya He Shu Huan di sana. Pria ini cepat menutup lubang jeruji di atasnya untuk jalanan di atas kembali seperti semula ,yakni seakan -akan tak ada sesuatu yang janggal di jalanan depan patung kepala domba berkepala tiga dan bertanduk tiga.


" Jalanan berbatu bata merah ini akan menembus ke arah manakah ? " Tanya Gu Jin Wu mengikuti langkah Bi Guan yang menggandeng tangan Wu Zhen Zhen dengan elegan sekali seakan -akan Bi Guan dan Wu Zhen Zhen sedang berwisata santai bukan melakukan misi.


" Entahlah..Kita telusuri saja." Jawab Putri Giok Lan melangkah dengan langkah ringan sekali di samping kanan Gu Jin Wu yang menuntun Ma Xiao Yu.


" Air di samping jalanan berbatu bata merah ini amat berbeda dengan air kolam teratai berlumut dan berbau busuk di penginapan kita." Kata Gu Jin Wu melihat dengan jelas sesudah sepasang mata yang di milikinya dapat beradaptasi di lokasi yang sangat gelap gulita itu.


" Air ini mengandung bahan pewarna pakaian yang berasal dari pabrik pakaian di dekat rumah pemilik rumah makan yang berada di depan toko lukisan yang kita kunjungi siang tadi." Kata Alina yang membantu He Shu Huan untuk berpikir.


" Hmm..Air pewarna yang sangat bau anyir sekali." Kata He Shu Huan menggunakan jepitan rambut Putri Giok Lan yang di ambilnya secara diam -diam dari atas rambut pengawal pribadinya itu untuk mengetes air yang mengalir di samping jalanan berbatu merah bata.


He Shu Huan mencelupkan jepitan rambut itu ke air lalu mengamati jepitan rambut berubah warna dari bening putih menjadi warna merah darah dan berbau anyir yang sangatlah pekat sekali tercium oleh mereka semua.


Bersambung..!!

__ADS_1


__ADS_2