
Alina menengok kepada He Shu Huan suaminya dengan airmata bercucuran yang membuat hati He Shu Huan ikut bersedih juga dan memikirkan nasib putri mereka yang telah hilang dari istana Kekaisaran Ming menurut kabar yang mereka dapatkan dari Yo Hu.
" Kakak Huan, tunggu apalagi..! Mari kita cepat kembali ke istana dan tanyakan masalahnya yang lebih terperinci dari Bi Guan langsung yang ditugaskan oleh kamu untuk menjaga putri kita dan semua orang di istana Kekaisaran Ming. " Kata Alina menggenggam pergelangan tangan He Shu Huan.
" Baiklah, kita pergi sekarang ke arah istana Kekaisaran Ming untuk kita bisa bertemu dengan Bi Guan secara langsung. " Kata He Shu Huan kepada Alina yang dielus-elus puncak rambutnya itu.
" Yang Mulia, silakan anda dan permaisuri Alina menunggangi Daun bawang dan daun kecipir yang telah menanti Anda berdua." Kata Yo Hu yang bersiul dengan kedua jari di masukkan ke mulutnya lalu dua ekor keledai berwarna hitam dengan telinga berwarna merah dan emas telah datang ke hadapan He Shu Huan dan Alina di pemukiman penduduk desa gunung Fu.
He Shu Huan dengan perasaan haru menyentuh bulu di kepala keledainya yang bernama Daun bawang dengan rasa rindu yang bergejolak di hatinya.
" Hai, daun bawang kita berjumpa lagi setelah sekian lama kita tak berjumpa. " Sapa He Shu Huan dengan nada rindu kepada keledainya yang telah menemaninya sejak awal Ia datang ke daratan besar yakni di usianya masih empat belas tahun.
" Aku juga merindukan mu, laki-laki bodoh. " Kata Daun bawang dengan tatapan mata seakan -akan memahami seriap ucapan He Shu Huan.
" Kau sudah menikah atau belum? Istrimu mana dan anak-anak mu ada dimana? " Tanya He Shu Huan dengan nada rindu kepada daun bawang seraya naik di atas punggung hewan peliharaan nya itu.
" Aku tak pernah menikah semenjak kamu tak pernah ada di istana Kekaisaran Ming dan kau meninggalkan aku di kota Zhang An. " Jawab Daun bawang dengan kepalanya bergoyang -goyang menjawab He Shu Huan.
" Ah, aku minta maaf telah membuat kamu rindu aku dan patah semangat untuk melanjutkan kelangsungan hidup mu sendiri, kawan. " Kata He Shu Huan di dalam perjalanannya menuju ke utara dari pegunungan Fu.
" Tak apalah, Huan. Aku mengerti kamu selalu memiliki kesulitan tersendiri dalam mengatasi masalah yang datang kedalam kehidupanmu yang tiada pernah habisnya. " Kata daun bawang dengan gerakan kaki belakang ke arah kepala He Shu Huan.
" Ahm...! Aku sedikit demi sedikit telah menempa mental dan fisik ku untuk kehidupan yang selalu silih berganti untuk aku terus berjuang untuk rakyat Ming bukan untuk aku sendiri. " Kata He Shu Huan yang memeluk leher Daun bawang.
__ADS_1
Wan Lina dan Wan Heng bersama dengan Yo Hu dan lainnya mengikuti langkah daun bawang dengan menunggangi kuda -kuda yang perkasa di belakang buntut daun kecipir yang digunakan oleh Alina sebagai armada darat.
Pada sore hari yang sangat gelap gulita akibat awan mendung yang akan mengguyur kota Chou telah menghambat perjalanan mereka ke arah utara untuk menuju ke arah Istana Kekaisaran Ming.
" Akan ada badai topan di kota Chou, kita harus berhati-hati...! " Kata Yo Hu kepada yang lainnya yang mengikuti langkah keempat kaki daun bawang dan daun kecipir.
" Sebaiknya, kita segera mencari penginapan untuk berlindung dari badai topan yang segera datang ke arah kota Chou. " Kata He Shu Huan yang memikirkan keselamatan istri dan para pengikutnya.
" Ya, Yang mulia. Kami akan berpencar untuk mencarikan penginapan untuk anda. " Kata Yo Hu segera memberikan perintah kepada para pasukannya untuk mencari penginapan untuk He Shu Huan.
Di dalam menunggu untuk yang lainnya datang kembali kepada mereka dengan membawa kabar mengenai penginapan yang akan mereka singgahi itu. Tiba-tiba sosok nenek tua yang di tangannya membawa tongkat panjang dengan kepalanya berbentuk ular cobra telah muncul di hadapan Alina sampai Alina memekik kaget.
" Aghh..! "
" He Shu Huan kau sangat cekatan sekali dalam melindungi istrimu tapi sayang kamu tak ada kemampuan untuk membangun Kekaisaran Ming menjadi lebih baik daripada kemampuan yang pernah di miliki oleh Ming Luo maupun Ming Chun dahulu. Hal ini disebabkan kamu terlalu lemah kepada sahabatmu yang ternyata mengkhianati kepercayaan mu itu..! " Kata Nenek tua itu yang mengayunkan tongkat kepala ular cobra kepada He Shu Huan yang duduk di atas punggung daun kecipir.
Wuuutzzz!
He Shu Huan memutar tangannya di depannya lalu tongkat kepala ular cobra milik Nenek tua itu terhempas dari hadapannya sampai nenek itu terpelanting ke tanah dengan suara berdegum kencang.
Bruukk!
" Kurang ajar kau He Shu Huan...! " Pekik Nenek tua itu yang segera melompat bangun untuk menyerang He Shu Huan dengan kedua telapak tangannya yang mengandung ilmu sinkang ular cobra yang terlihat amat berbahaya bagi nyawa He Shu Huan.
__ADS_1
Wushhhh!
He Shu Huan tetap duduk dengan sikap tenang di atas punggung daun kecipir menanti serangan ilmu sinkang ular cobra yang di arahkan oleh nenek tua sadis itu kepadanya dengan di sertai gerakan ilmu ginkang yang amat tinggi untuk menerjang dirinya.
Wusshhhh!
Plakkk!
Tetapi, begitu kedua telapak tangan nenek tua itu tiba di dekat He Shu Huan. Pria ini mengarahkan telapak tangan dengan gerakan miring telah menangkis serangan lawannya hingga lawannya itu jebol pada dadanya dan tewas di hadapannya dengan kepala musuhnya itu membentur tanah.
Dessss!
Bruak!
Alina menyambar tongkat kepala ular cobra milik nenek tua yang sudah tewas di tangan He Shu Huan lalu tongkat itu di putar -putar oleh Alina sebelum di lemparkan ke arah barat yakni di belakang kuda yang di tunggangi oleh Wan Heng lalu seorang pemuda remaja telah tewas terkena tusukan tongkat kepala ular cobra itu dari Alina.
Wusssshhh!
Jleb !
" Sepertinya perjalanan kita ke istana Kekaisaran Ming telah di ketahui oleh musuh yang ingin mengadu domba antara aku dengan Bi Guan. " Kata He Shu Huan yang mengajak para pengikut nya ke arah Yo Hu yang sudah kembali kepada nya di pintu masuk utama ke kota Chou usai Yo Hu mendapatkan penginapan untuknya.
" Yang mulia, penginapan yang kami dapatkan untuk kita semua bisa berlindung dari badai topan adalah penginapan awan Chou di barat daya kota Chou." Kata Yo Hu dengan nada hormat kepada He Shu Huan.
__ADS_1
Bersambung!