
He Shu Huan membaringkan Alina di tempat tidur yang terbuat dari batu giok dingin yang di harapkan olehnya dapat menyembuhkan istrinya yang mengalami keracunan yang membuat seluruh darah istrinya mengalami racun.
" Kau harus sembuh, Alina. Aku tak pernah bisa hidup tanpamu..! " Kata He Shu Huan yang telah menggunakan ilmu sinkang telapak naga biru kepada istrinya melalui kedua tangannya di taruh di punggung istrinya.
Hari demi hari berlalu begitu cepat untuk He Shu Huan menyembuhkan istrinya namun hasilnya tak sesuai dengan harapannya yang membuat He Shu Huan harus menerima kenyataan bahwa ia telah kehilangan istrinya untuk selamanya.
" Aku harus menemukan obat terbaik untuk menolong mu, Alina. " Kata He Shu Huan yang menggunakan segala kemampuannya untuk mengobati istrinya.
Rambut panjang He Shu Huan berubah menjadi putih seperti benang-benang sutra halus dan wajahnya menjadi muram selalu karena Ia amat sedih dan tak mau kehilangan orang tersayang nya itu.
"Tolong..! Tolong.. Aku..! "
Pada suatu hari He Shu Huan mendengar suara orang meminta pertolongan darinya. Ia segera melihat ke arah tengah lautan di dekat pulau buangan atau pulau Abadi. Ia melihat seorang anak laki-laki usia delapan tahun yang di peluk seorang gadis muda di atas kayu pecahan kapal laut yang hancur.
Kayu itulah yang di gunakan oleh kedua orang itu untuk mencapai daratan untuk menyelamatkan nyawa mereka. Melihat ini, He Shu Huan cepat melayang ke air laut lalu menyambar kedua orang itu dengan kedua tangannya, kemudian Ia telah membawa kedua orang itu ke pulaunya.
" Hmm, mereka berdua seperti dari suku Ching. " Kata He Shu Huan usai memeriksa keadaan kedua orang yang di selamatkan olehnya itu.
" Ngggg..! "
Gadis muda itu lebih dahulu tersadar dari pingsannya daripada anak laki-laki itu.
" Kau siapakah? Apakah kamu yang telah tolong Aku dan adikku di tengah lautan itu?" Tanya gadis muda itu kepada He Shu Huan.
" Benar. " Jawab He Shu Huan dengan nada singkat saja.
" Lalu dimanakah kami berada saat ini? Pulau apakah ini? " Tanya gadis muda itu dengan nada tertarik dengan keanehan pulau itu dan juga He Shu Huan.
__ADS_1
" Pulau Abadi. " Jawab He Shu Huan dengan nada singkat.
" Paman, namamu siapakah? Apakah kamu ini tinggal seorang diri di sini? " Tanya gadis muda itu yang kini berdiri di atas pasir kepada He Shu Huan.
" Namaku adalah He Shu Huan. Ya, aku tinggal seorang diri di Pulau abadi. Kalau kamu siapa dan apa yang telah terjadi pada mu dan adik mu itu? " He Shu Huan balik bertanya kepada gadis muda itu sambil membuat api unggun di tep pantai Pulau abadi.
" Namaku Wan Lina dan adik ku ini bernama Wan Heng.. Kami dari daerah Ching An barat sedang melakukan pelayaran ke arah timur laut bersama dengan orangtua kami namun di tengah jalan kami punya kapal laut di serang kaum bajak laut hingga seluruh keluarga dan teman-teman kami serta barang bawaan kami pun terbakar habis di kapal kami oleh para bajak laut itu..!" Jawab Wan Lina nama gadis muda itu yang mengingatkan He Shu Huan dengan almarhumah istrinya yang juga mempunyai nama Lina juga cuma bedanya istrinya itu bernama Alina. Sedangkan, gadis muda itu bernama Wan Lina.
" Ouh, begitukah? "
" Ya, Paman He. " Jawab Wan Lina.
Demikianlah, semenjak hari itu Wan Lina dan Wan Heng tinggal di Pulau abadi bersama dengan He Shu Huan yang sehari-hari sibuk di dalam goa tanpa keluar.
" Aneh sekali Paman He Itu. Dia tiap hari ada di goa nya tanpa keluar selama berhari-hari..! " Kata Wan Lina yang diam -diam memerhatikan He Shu Huan dengan cermati.
" Bandul giok ini memang harus berada di tangan Pangeran Ching Xi tetapi aku merasa bahwa ada rahasia besar di dalam bandul giok ini..! " Kata Wan Lina yang memegangi kalung nya sendiri kepada adiknya.
" Ya, jangan sampai bandul giok itu di hilang atau di curi orang lain..! Karena bandul giok itu jauh lebih berharga daripada nyawa kita berdua..!" Kata Wan Heng kepada Wan Lina sambil makan malam berupa ubi bakar.
Selagi mereka berdua makan malam tiba-tiba semilir angin kencang datang kepada mereka dengan di sertai luncuran tangan yang amat cepat untuk merogoh kalung di dalam baju Wan Lina sampai gadis muda ini menjerit.
" Aaghhh..!! "
Suara jeritan Wan Lina terdengar oleh He Shu Huan di dalam goa makamnya Alina. Pria ini meluncur cepat dengan ilmu ginkang nya lalu menyambar rambut kepala pria yang mencekik Wan Lina.
*****!
__ADS_1
" Kyaaaa....! " Jerit Wan Lina jatuh pingsan karena He Shu Huan menarik lepas kepala pria itu.
" Uuuh, berisik sekali kalian berdua..! " Tegur He Shu Huan kepada Wan Heng yang memeluk Wan Lina.
"Pa.. Paman He, tolong jangan bunuh kami ..! Kami tak bermaksud untuk menipumu..! Kami hanya mematuhi perintah Ayah kami sebelum Ayah meninggal dunia di dalam pertempuran di kapal laut kami dengan para prajurit Kekaisaran Ren di selatan..!" Kata Wan Heng yang akhirnya menceritakan tentang diri mereka berdua yang sebenarnya kepada He Shu Huan.
" Bandul giok yang kalian jaga itu adalah benda rahasia yang harus aku ketahui juga untuk Aku bisa menjaga Kekaisaran Ming Sejati...!" Kata He Shu Huan dengan nada tegas sekali kepada Wan Heng dan Wan Lina.
" Kekaisaran Ming? "
Wan Heng pucat mendengar nama Kekaisaran Ming dari He Shu Huan.
" Benar. Akulah penjaga Kekaisaran Ming..! "
" Kami tak mungkin melawan pemerintah pusat untuk kami tak menyerahkan bandul giok kepada Anda, Paman He. " Kata Wan Lina yang akhirnya memberikan bandul giok kepada He Shu Huan.
He Shu Huan memeriksa bandul giok itu dengan teliti lalu Ia tersenyum karena Ia mengetahui bahwa bandul giok itu ada kertasnya di dalam nya.
" Tak bisa di buka oleh mu tanpa kamu dapat memenuhi persyaratan nya..! " Kata Wan Lina dengan wajah merona kepada He Shu Huan.
" Apa persyaratan yang harus aku penuhi untuk Aku bisa membuka bandul giok ini dan Aku bisa membaca kertas di dalamnya...? " Tanya He Shu Huan dengan tatapan mata tajamnya kepada Wan Lina.
" Menikahi Aku karena Aku Putri Kaisar Ching Yu Xiang...! " Jawab Wan Lina dengan wajahnya memerah karena malu kepada He Shu Huan.
" Aku bukan Kaisar yang memiliki istri banyak.. Aku seorang He Shu Huan yang hanya memiliki satu orang istri ku saja yaitu wanita di dalam goa itu..! " Kata He Shu Huan dengan nada tegas menolak persyaratan tersebut.
Bersambung!
__ADS_1