Pendekar Serigala Emas Sakti Season 3.

Pendekar Serigala Emas Sakti Season 3.
Naluri Serigala.


__ADS_3

" Kakak Huan..? " Alina tersadar kembali. Wanita ini menemukan suaminya berada di depan mata nya dengan rambut panjang putih semua kecuali kedua alis di sekitar mata indah dan tajam dari seorang He Shu Huan.


" Alina.. Akhirnya kau sadar juga! Aku amat bahagia melihat mu bangun, sayang. " Kata He Shu Huan yang memeluk Alina dengan rindu luar biasa.


" Kak Huan.. Rambutmu? " Alina menyentuh kepala He Shu Huan yang rambutnya memutih semuanya.


He Shu Huan memegangi rambutnya juga lalu ia tersenyum sendiri.


" Rambut ku berubah warna menjadi putih bukan hal yang aneh, sayang. Bukankah dahulu aku juga pernah mengalami rambut memutih seperti sekarang ini? " He Shu Huan dengan luar biasa tabah nya tak mempedulikan rambutnya yang memutih itu.


" Ya, dulu karena kamu merindukan aku yang pergi karena aku di kira adik satu ayah dan lain Ibu dengan mu sampai kamu mengalami luka batin karena cinta mu salah tempatnya kau kira. Tapi, sekarang ini rambut mu memutih karna apa? "


Alina menyentuh ujung rambut panjang He Shu Huan yang membalas menyentuh tangannya yang dingin karena terlalu lama tidur di ranjang giok.


" Rambut aku memutih karna aku mencintaimu dan ingin kamu hidup jauh lebih lama daripada aku di masa yang akan datang untuk melindungi negara kita atau Kekaisaran Ming kita meski kita bukan lagi pemimpin di rumah kita sendiri. " Kata He Shu Huan yang menggunakan jarinya untuk membelai lembut wajah cantik Alina.


" Tunggu! " Alina mencegah He Shu Huan yang ingin menciumnya." Rumah kita siapa yang menjaganya? Lalu sejak kapan kita berada di pulau abadi? " Tanya Alina dengan raut wajahnya mencemaskan rumah dan keluarga mereka.


" Ada Bi Guan dan Ming Ming yang menjaga mereka untuk kita. Kita sudah hampir dua tahun lebih tinggal di pulau abadi, sayang. " Jawab He Shu Huan yang ******* bibir dan mulut Alina dengan kehangatan yang mendera pria ini.


"Kita harus pulang ke rumah untuk melihat Xin Lian putri kita, Kak Huan. Aku merindukan anak itu. ", Kata Alina dengan suara lembutnya kepada He Shu Huan.


" Ya, kita akan pulang ke rumah kita setelah kamu benar-benar pulih seperti sediakala, Alina sayang. " Kata He Shu Huan yang menyalurkan energi nya kembali kepada Alina.

__ADS_1


Di luar gua. Ada, Wan Lina dan Wan Heng yang sibuk membuat rakit untuk perjalanan pulang mereka ke daratan besar dengan semangat dari kedua orang anak itu.


" Wan Lina..! Kemarilah..! " Panggil He Shu Huan dari atas bukit di bagian barat Pulau abadi pada suatu hari setelah Alina sudah pulih kembali.


"Iya, Paman He. Saya datang...! " Sahut Wan Lina yang berlari ke bukit untuk menemuinya dan Alina.


" Taruh buah-buahan segar ini di daun teratai untuk perbekalan kita. " Kata He Shu Huan yang memberikan buah-buahan segar di tangannya kepada Wan Lina.


" Iya, Paman He. " Jawab Wan Lina segera.


Alina membantunya untuk memetik buah kelapa hijau untuk perbekalan air minum mereka di dalam perjalanan pulang mereka ke rumah mereka di Istana Kekaisaran Ming.


" Kakak Huan, jumlah buah kelapa yang kita miliki sekarang berapa? " Tanya Alina kepada He Shu Huan sambil memanjat pohon kelapa.


" Cukupkah untuk perbekalan air minum kita berempat dengan mereka? " Tanya Alina yang pindah dari pohon kelapa satu ke pohon kelapa lainnya kepada He Shu Huan yang membuat tali tambang dari akar pohon untuk mengkaitkan di rakit buatan Wan Lina dan Wan Heng.


" Cukup! Ayo, turunlah sayang. " Jawab He Shu Huan melambaikan tangan kepada Alina.


Alina turun dari pohon kelapa dengan ilmu ginkangnya yang persis seekor burung walet yang lincah dan indah sekali dengan kedua kaki nya menapak di pasir tanpa menimbulkan suara sama sekali.


" Waahhhh, ilmu lompatan mu sudah meningkat pesat sekali, sayang. " Kata He Shu Huan yang memuji kelincahan Alina bergerak.


" Ah, Kak Huan kau terlalu memuji aku padahal kamu jauh lebih hebat daripada aku dalam ilmu apa pun juga yang ada di dunia ini. " Kata Alina merendah bahkan memuji kembali untuk He Shu Huan suaminya yang bijaksana itu.

__ADS_1


He Shu Huan memberikan dayung terbuat dari batang pohon yang sudah halus kepada Alina yang telah berdiri di ujung rakit buatan Wan Lina dan Wan Heng.


" Baiklah, kita mulai perjalanan pulang kita ke rumah kita di daratan besar..! " Kata He Shu Huan yang mulai mendayung rakit sampai ke tengah lautan.


Kembali mereka mengarungi lautan lepas utara menuju selatan untuk posisi pulang mereka dan ternyata mereka juga di ikuti oleh seekor burung rajawali yang terbang agak rendah dari awan putih di langit.


" Burung rajawali itu mengikuti kita. " Kata Alina duduk di rakit.


" Bukan burung rajawali tetapi burung garuda dan burung itu sudah menjadi teman kita sejak dua tahun lalu bahkan aku menamainya Kakak Garuda putih.. " Kata He Shu Huan yang tetap berdiri tegak sambil mendayung rakit.


" Hei, lihat ikan hiu itu akan mendekati rakit kita..! " Kata Wan Heng yang bergidik ngeri melihat ikan hiu yang sangat besar dan buas berenang mendekati rakit mereka.


He Shu Huan malah mencelupkan tangannya ke dalam air laut dengan berani sekali namun ikan hiu itu segera berbalik arah untuk menjauh dari rakit mereka karena melihat gelombang panas bak lahar gunung berapi dari air laut yang di celupkan tangan kiri He Shu Huan.


" Aku menangkap seekor ikan bandeng. " Kata He Shu Huan yang melemparkan seekor ikan bandeng dari air laut ke atas rakit mereka lalu meminta Wan Heng untuk memanggang ikan bandeng di tengah rakit mereka dengan cara menumpukan batok kelapa di bawah ikan bandeng yang kemudian di bakar oleh api yang berasal dari dua buah batu api yang di gesek di kedua sisinya oleh He Shu Huan yang gunakan matahari untuk membakar batok kelapa.


" Waahhhhh... Hebat..!! " Sorak Wan Heng yang melihat He Shu Huan menciptakan api di atas batok kelapa muda di tengah rakit mereka namun tak membuat rakit terbakar api.


" Kurang bumbunya untuk melezatkan ikan bandeng kita ini..! " Kata He Shu Huan yang tersenyum senang dengan hasil masakannya itu.


" Aku punya bumbu yang aku dapatkan di hutan bagian utara pulau abadi sebelum kita berangkat pulang dengan rakit. " Kata Alina mengeluarkan guci keramik kecil dari bungkusannya dan Ia berikan kepada He Shu Huan untuk suaminya menaruh bumbu itu ke ikan bandeng yang di panggang oleh suaminya itu.


Bersambung!

__ADS_1


__ADS_2