Pendekar Tongkat Pemukul Anjing

Pendekar Tongkat Pemukul Anjing
Ep 11 - Rindu


__ADS_3

"Rara... Ibu... Ayah... Aku merindukan kalian" keluh Agni pelan ketika berbaring di dalam kamarnya. Tak terasa bulir-bulir air mengalir membasahi kedua telinga ketika Agni menutup pelupuk matanya. Ditemani isak tangisnya yang tertahan, Agni bertualang dalam alam mimpinya.


Telah satu bulan berlalu sejak tenggelamnya Agni. Bagaimanapun, Agni masih seorang bocah berumur 12 tahun, tentunya kehadiran kedua orang masih sangat dibutuhkannya. Apa lagi menghilangnya Agni pasti menimbulkan kekhawatiran pada mereka, bahkan mungkin mereka menganggap Agni telah meninggal.


"Ibuuuuu.... Ayaaaah.... Raraaaaa.....!!!!!" Teriak Agni membawanya terjaga dari tidurnya.


Agni bangun dengan terengah-engah, perasaan rindu yang mendendam kepada keluarganya, terbawa dalam mimpi. Teriakan Agni mengundang datangnya Ki Jarpa dan Sri yang telah terbangun lebih dahulu. Berdua mereka segera memasuki kamar Agni.


"Kau tidak apa Ngger?" Tanya Sri dalam kekhawatirannya. Dua minggu merawat Agni, telah menimbulkan rasa kasih sayang dalam hatinya. Apalagi Agni sangat mirip sekali dengan mendiang Sardipa, anak semata wayangnya. Karena itu ia telah menganggap Agni sebagai putranya sendiri.


Sementara Ki Jarpa telah mengambil segelas air untuk menenangkan Agni.


"Minumlah dulu Ngger" kata ki Jarpa sembari menyodorkan segelas air yang di pegangnya.


Agni masih terengah-engah, ia masih mencoba menyadari keadaanya. Beberapa saat kemudian ia telah sepenuhnya dalam kesadarannya sendiri. Agni menerima gelas air dari ki Jarpa dan segera meminumnya habis.


"Aku memimpikan keluargaku Bibi" desisnya lemah.


Secara reflek, Sri mendekap Agni dalam pelukannya. Naluri keibuannya berkata, pelukan akan memberi rasa nyaman. Sri memahami sepenuhnya bagaimana perasaan Agni saat ini.


"Sabar ya Ngger, maafkan aku belum menepati janjiku untuk mengirim kabar kepada keluargamu" kata Ki Jarpa menyesal. Sebelumnya memang dia telah berjanji akan berusaha mengirim kabar kepada keluarga Agni.


Sejujurnya dalam hati ki Jarpa, ia mengkhawatirkan dirinya sendiri jika harus memasuki kota Ngalam. Pengalamannya sehubungan dengan keluarga Ming, membuatnya agak bimbang untuk memasuki kota itu.


Selain itu, satu bulan sejak tinggalnya Agni dirumahnya, Agni belum menunjukkan sama sekali keinginan untuk kembali ke desanya, bahkan Agni tak pernah mempertanyakan sesuatu yang ia janjikan, sehingga hal itu hampir-hampir membuat ki Jarpa lupa akan janjinya.


Sesungguhnya Ki Jarpa tidak perlu khawatir akan hal itu, karena Agni sendiri memang belum berencana untuk menemui keluarganya. Agni ingin memperdalam dahulu kemampuannya, selain itu, naluri Agni merasa keadaan keluarganya baik-baik saja, walau ia agak khawatir dengan keadaan Dirjo, sahabatnya.


"Tak mengapa Paman, aku belum berencana untuk pulang terlebih dahulu, aku juga merasa keluargaku baik-baik saja" jawab Agni.


Sejenak kemudian suasana telah kembali seperti biasanya. Mereka bertiga telah sibuk dengan kerjanya masing-masing di pagi itu. Setidaknya, kesibukan-kesibukan yang Agni jalani, dapat menghiburnya dari rasa rindu terhadap keluarganya.

__ADS_1


Telah beberapa kali Agni membuktikan perkataanya kepada Sri, ketrampilan Agni dalam mengolah masakan, terbilang cukup pandai untuk anak seumur 12 tahun, apalagi Agni laki-laki. Sri menjadi semakin mengagumi dan menyayangi Agni.


"Kau pandai sekali Ngger, ibumu pasti sangat bangga mempunyai putra sepertimu" kata Sri ketika pagi itu, Agni membantunya di dapur untuk makan paginya kali ini.


"Tidak juga Bibi, buktinya aku selalu diledeknya kalau salah memasukkan bumbu, apa lagi jika sampai menggosongkan tempe atau tahu, pasti aku kena marahnya habis-habisan, belum lagi, adikku itu selalu ikut saja mengolok-olokku" kata Agni sambil bersungut. Sesungguhnya, bagi Agni, justru hal-hal semacam itu yang membuat Agni merindukan keluarganya.


"Hihihi, apa aku harus bersikap seperti ibumu Ngger?" Goda Sri.


"Aku yakin Bibi tak akan bisa, ibuku itu galak benar" balas Agni.


"Hihi... Angger, itulah macam bentuk kasih sayang seorang ibu, kadang-kadang sebagai seorang anak akan merasa ibu atau bapaknya terlalu keras, atau sebagainya, tak lain hanya demi kebaikkan Angger sendiri. Bukankah sekarang Angger jadi pandai memasak?" Kata Sri sambil tersenyum kecil.


Perkataan Sri itu merasuk kedalam hatinya, ia mengingat bagaimana ayah atau ibunya marah-marah ketika Agni tak bisa melakukan sesuatu seperti seharusnya. Namun kini Agni menyadari, jika tanpa bimbingan ibunya yang selalu marah-marah, belum tentu dia mempunyai ketrampilan memasak seperti saat ini. Atau juga ketika ayahnya memukul lengannya saat tak benar cara Agni memegang busur panah, tentunya Agni tak akan memilikki ketrampilan untuk berburu.


Waktupun berlalu, seperti biasa, lepas makan pagi, Agni akan mengikuti ki Jarpa pergi ke sawah, kemudian Agni akan pergi melanjutkan latihannya ditepi sungai ditengah hutan.


Beberapa hari berlalu, Agni selalu mengisinya dengan melatih jurus-jurus tongkat pemukul anjing, juga jurus pertama kitab jalan pedang, jurus auman raja naga. Namun ia ingat benar pesan Eyangnya, agar berlatih tanpa menggunakan qi terlebih dahulu. Maka, semua jurus-jurus yang di latihnya, sama sekali belum menggunakan aliran energi qi.


Kadang-kadang Agni juga mencoba menyelami sungai untuk mencari rumput giok lainnya. Ia telah mengetahui dan merasakan sendiri khasiat rumput itu. Namun sampai beberapa ratus meter panjang sungai yang coba ia selami, Agni tak dapat menemukan rumput giok yang lainnya.


Agni juga beberapa kali mencoba kekuatannya pada bebatuan atau pohon-pohon yang ada di tepian sungai itu. Beberapa batu bahkan harus hancur lebur menerima pukulan Agni, baik dengan pukulan tangan kosong maupun dengan tongkatnya. Begitu pula dengan pohon-pohon disekitarnya, tak jauh beda dengan nasib batu-batu yang hancur itu.


Bukan maksud Agni untuk merusak hutan di tepi sungai itu. Agni hanya membutuhkan tempat yang lebih luas untuk melatih jurus-jurusnya. Maka Agni menghancurkan batu-batu dan menumbangkan pohon-pohon disekitarnya, sekalian mencoba kekuatannya.


Kali ini Agni kembali mengulangi jurus-jurusnya. Ia mulai dengan jurus pedang auman raja naga. Pedang pendek Agni mulai mengayun, pedang itu bergerak begitu seirama dengan tubuh Agni. Membuat Agni terlihat bagai sedang menari. Walaupun begitu, siapa saja pasti bisa melihat begitu membahayakan ancaman dari setiap ayunan atau tusukan jurus pedang itu.


Agni mengulangi kembali jurus itu hingga tiga kali, ia ingin benar-benar memantabkan setiap gerakan pada jurus auman raja naga. Setelah selesai dengan jurus pedangnya, Agni menyarungkan pedangnya dengan mengalirkan qi pada pedang itu. Secara ajaib pedang pendek itu melingkar di pinggang Agni bagaikan sebuah ikat pinggang.


Agni membuka tangan yang ia rentangkan, tongkat yang berada beberapa meter dari dirinya, terbang menuju telapak tangannya. Sesuatu yang membuatnya tertawa bahagia ketika beberapa waktu lalu, ia dapat melakukannya untuk pertama kali.


Beberapa kali Agni mengulangi jurus tongkat pemukul anjing hingga jurus kelima. Begitu selesai dengan jurus-jurus itu, Agni merasakan ancaman dari sebuah benda yang melesat cepat ke arahnya.

__ADS_1


"Ting..." Agni menangkis benda itu dengan tongkatnya.


"Siapa yang....."


Belum selesai Agni dengan kata-katanya, sebuah benda dengan kecepatan yang sama, kembali mengarah padanya, bahkan beberapa kali benda itu terus melesat padanya.


"Ting...ting...tung...tang..tueng"


Agni terus menangkis serangan yang datang padanya. Ia berusaha menemukan siapa orang yang menyerangnya itu. Kemampuan spiritualnya telah membuatnya dapat merasakan atau bahkan melihat apa saja yang berada beberapa puluh meter di sekelilingnya. Namun hingga beberapa kali ia menyelidik, Agni masih belum mampu menemukan pemilik serangan itu.


Serangan itu datang semakin cepat, bahkan kadang-kadang tiga atau empat serangan datang sekaligus, membuat Agni harus menghindar dan menangkis secara bersamaan. Setelah sekian lamanya, serangan itu tak kunjung berhenti, berbagai macam gerakan menghindar dan menangkis telah Agni lalukan demi menyelamatkan tubuhnya dari serangan itu. Kini Agni dapat melihat ratusan batu seukuran kelereng telah berserakan di sekelilingnya.


Agni tak lagi dapat menghindar ketika batu-batu itu datang semakin gencar kearahnya.


"Bugh...bugh..."


Dua batu secara berturut-turut menghantam perut dan dadanya. Agni merasakan nyeri di bagian tubuh yang mendapat serangan itu. Namun ternyata itu tak mendatangkan luka yang serius, baju zirah badak emas telah melekat pada tubuhnya.


Pada akhirnya, serangan datang semakin cepat dan beruntun, sebuah batu telak menghantam perutnya dan membuatnya terlempar jatuh terduduk beberapa langkah. Agni merintih merasakan sakit di perutnya. Serangan itu berhenti, perlahan ia bangkit kembali dengan tetap berusaha menjaga kewaspadaan.


"Hahaha... Bocah nakal, kau makin hebat saja"


Suara itu terdengar itu tak asing di telinga Agni, bersamaan dengan keluarnya 5 orang tua dari balik pepohonan, melayang selangkah di atas tanah, bagian bawah tubuhnya berkepul asap tidak terlalu tebal, namun juga tidak tipis, sehingga tidak memperlihatkan wujud kakinya.


Ternyata Agni mengenali dua orang di antara mereka, walau Agni masih agak aneh dengan asap di kaki-kaki mereka.


"Eyang...? Eyaaaaaang.......!!!!"


Agni melupakan rasa sakit di perutnya. Meski baru beberapa kali bertemu dengan Eyangnya, namun rasa rindu telah menguasai hatinya, Agni berteriak memanggil orang tua itu sambil berlari ke arahnya. Namun ketika ia melompat sambil merentangkan kedua tangan hendak memeluk Eyangnya, tiba-tiba saja....


"Bruuugghhh"

__ADS_1


__ADS_2