
"Sekte tapak macan, sebaiknya aku mulai dengan itu"
Agni kembali kedalam hutan tempat ia datang, namun tidak terlalu jauh, sekitar 15 km dari tepian hutan. Kemudian ia membuat formasi perlindungan gunung di tempat itu. itu diperlukannya untuk menghadapi keadaan yang mendesak. dengan begitu, dia mempunyai tempat berlindung.
"Wush...wush....wushhh"
Formasi itu telah selesai ia buat. Sebelumnya Agni menghabiskan 75% energi qi nya untuk membuat formasi itu. Namun itu saat Agni masih berada di ranah Kaisar tahap menengah. Dengan kemampuannya saat ini, membuat formasi perlindungan gunung, hanya membutuhkan tidak lebih dari 20% energi qi nya.
Kemampuan menyerap qi yang Agni milikki juga telah meningkat cukup signifikan, sehingga hanya perlu waktu sekitar 15 menit saja untuk kembali memulihkan kondisi primanya.
Setelah itu agni bergegas untuk kembali ke tepian hutan. Sampai di tepian hutan, Agni mengeluarkan selembar kertas rune dan mengaktifkannya.
"Ini akan membuatku tak terlihat untuk 15 menit, aku harus cepat"
"Wush" Agni melesat terbang tinggi untuk mengamati apa yang berada di hadapannya.
Setelah terbang hampir 15 menit dengan kecepatan tinggi, bertepatan dengan masa aktif rune nya hampir habis, Agni melihat sebuah dinding tinggi yang mengitari sebuah area yang sangat luas.
Karena masa aktif rune telah memasuki masa tenggang, Agni mengaktifkan satu rune lagi untuk menambah masa aktifnya.
[Bagian ini jangan di bully ya. Hehe...]
Bangunan seperti itu tidak pernah ia lihat di desanya. Tidak ada dinding yang membatasi setiap desa atau kota, hanya gapura atau semacamnya yang menunjukkan nama wilayah. Tapi Agni memahami bahwa apa yang di lihatnya itu adalah dinding sebuah kota atau wilayah tertentu.
Agni kemudian mengitari dinding itu untuk mencari gerbangnya. Setelah bertemu dengan gerbang kota itu, Agni membaca bagian atas gerbang yang tertulis besar disebuah papan batu berukir.
"KOTA GUZIKO"
Gerbang itu dijaga oleh beberapa petugas. Beberapa orang terlihat mengantri untuk memasuki gerbang. Setiap orang yang akan memasuki gerbang itu harus menunjukkan sesuatu dan memberikan sejumlah koin. Dan betapa yang membuat Agni terkejut, semua orang yang berada di sekitar gerbang itu, berada dalam ranah Demigod tahap awal.
"Gila, apa ini benar?" Batin Agni. Sedangkan kota Ngalam sendiri, tak banyak yang berada di ranah kaisar. Kini Agni melihat puluhan orang, berada di ranah Demigod. Membuat Agni terheran-heran.
Untuk saat ini, Agni merasa cukup, ia segera menjauh dari gerbang itu dan mencari tempat yang aman.
"Aku harus menemukan seseorang untuk bertanya, rune menghilang hanya ada 20 lembar lagi, aku tidak bisa terus menggunakannya" pikir Agni.
Demi meminimalisir resiko, Agni memutuskan untuk menanti kesempatan dengan menunggu di sekitar jalan yang dilalui dua ekor kuda tadi. Jalan itu tidak sebesar jalan utama seperti yang terlihat di depan gerbang kota. Dilihat dari bekas-bekasnya tidak banyak yang melewati jalan itu.
Satu jam pertama Agni tak menemukan satu orangpun yang melewati jalan itu. Kembali Agni harus menunggu dengan kesabaran. Hingga dua jam kemudian saat hari mulai sore, seorang gadis muda dan lelaki paruh baya yang terlihat payah oleh luka, tidak bisa melarikan diri lagi dari kejaran tiga orang pemuda.
__ADS_1
"Sudahlah Wilis, bukankah lebih baik jadi istriku, kau bisa kembali menikmati kehidupan mewah di dalam sekte" Ujar seorang diantara tiga pemuda.
"Lebih baik aku mati dari pada harus menjadi budak nafsumu" jawab gadis yang disebut Wilis itu.
"Hahaha... Benar-benar gadis yang keras hati, Paman, bujuklah anak asuh mu itu, kau juga bisa hidup enak di dalam sekte dari pada hidup susah di tengah hutan ini" katanya lagi.
"Maaf Tuan Muda, walau aku hanya pengasuh nona Wilis, tapi aku tak bisa membiarkan seorang lelaki bejat menyentuhnya walau sehelai rambut sekalipun!" Jawab lelaki paruh baya itu dengan tegas.
"Hahaha... Dasar orang tua tak tau diri, mati sajalah" Pemuda yang dipanggil Tuan Muda itu segera menyerang lelaki paruh baya yang sudah terluka dan kepayahan itu. Merekapun terlibat satu perkelahian.
Walaupun keduanya sama-sama berada di ranah Demigod tahap menengah, namun karena lelaki paruh baya itu telah terluka, dalam waktu singkat ia telah terdesak.
Mendengar percakapan mereka, Agni memutuskan untuk menolong lelaki paruh baya itu. Perhitungan Agni, gadis muda itu berada di ranah Demigod tahap awal, kedua orang yang bersama pemuda yang menyerang lelaki paruh baya itu juga berada di ranah yang sama. Jika Agni melawan tuan muda itu, lelaki paruh baya dan gadis muda itu sepertinya masih bisa mengimbangi dua orang yang lainnya.
Sebuah serangan mematikan datang dengan cepat dan sepertinya akan mengakhiri perlawanan lelaki paruh baya itu, namun dengan sigap, Agni menghalau serangan itu.
"Booomm"
Serangan tuan muda yang dihalau Agni meledak di tengah jalan.
"Setan mana yang berani ikut campur urusanku" teriak Tuan Muda itu.
"Maaf jika aku salah ucap Senior, tapi ini urusan sekte kami, kami mohon Senior tidak mencampuri urusan kami" kata tuan muda itu yang tiba-tiba saja berubah sikap 180 derajat.
Agni benar-benar keheranan dengan perubahan sikap tuan muda yang tiba-tiba itu, tapi Agni berpikir cepat.
"Mengapa Tuan Muda menjadi sopan sekali, apa setan yang merasuki tuan muda telah keluar dari tubuh tuan muda?" Ujar Agni, namun tiba-tiba saja ia bertingkah aneh
"Aargghhhh...uurrgg...akkhhhh..."Agni berpura-pura menggeram tidak jelas.
Kemudian Agni membelalakan mata dan membuka mulutnya berpura-pura seolah seperti orang sedang kerasukan. Dan setelahbitu, ia menyeringai memasang muka jahat dan memandang tajam tuan muda itu.
"Saudara, setan itu telah merasukiku, pergilah sebelum aku mencelakakan Saudara, CEPAT...!!!" Bentak Agni.
Tuan muda itu terlihat menggeram, namun ia tak membantah Agni. Setelah memberi isyarat kepada kedua orang yang bersamanya, ketiga orang itu pun melesat meninggalkan tempat itu.
"Terima kasih atas bantuan Senior, orang tua ini tak tahu bagaimana harus membalas" kata lelaki paruh baya itu sambil menangkupan kedua tangannya, kemudian melirik gadis muda yang telah berada disebelahnya.
"Terima kasih atas bantuan tuan muda" kata gadis muda itu menunduk dalam.
__ADS_1
Inilah untuk pertama kalinya Agni melihat dengan seksama seorang gadis, bagaimanapun, Agni adalah seorang pemuda yang beranjak dewasa. Sementara 5 tahun sebelumnya, Agni menghabiskan waktu berlatih di dalam hutan dan tak banyak bergaul dengan pemuda seumurannya, apalagi dengan seorang gadis.
Gadis yang sekarang berdiri di hadapan Agni itu benar-benar terlihat cantik di mata Agni, sebelumnya ia tak terlalu memperhatikan karena keadaan yang terjadi. Untuk sejenak Agni terpana dengan kecantikan gadis itu, namun ia segera menguasai diri.
"Tak perlu sungkan Paman, saudari, sebaiknya paman minum pil ini dulu dan pulihkan dirimu" balas Agni sambil mengeluarkan pil penyembuhan tingkat langit dari cincin penyimpanannya.
"I...ini... Pil tingkat langit? Terima kasih Senior" jawab orang itu setelah sempat terkejut melihat pil yang diberikan Agni,kemudian segera meminumnya dan duduk memulihkan diri.
Agni dan gadis muda itu terlihat canggung ketika menunggu lelaki paruh baya itu memulihkan diri, namun sekejap kemudian, keadaan orang tua itu telah membaik dan hampir pulih sepenuhnya.
"Terima kasih Senior, junior bernama Harjaya, dan gadis ini anak asuhku"
Kata orang itu sambil berisyarat kepada gadis muda yang merupakan anak asuhnya itu.
"Terima kasih tuan muda, namaku Ayu Wilis" katanya memperkenalkan diri.
"Namaku Mahisa Agni, aku seorang pengelana, maaf Paman, kenapa paman dan juga tuan muda tadi memanggilku senior? Sebaiknya Paman tak perlu memanggilku seperti itu" kata Agni.
Harjaya agak terkejut ketika mendengar Agni menyebutkan namanya, nama yang tak biasa baginya.
"Senior terlalu merendah, sudah biasa seorang yang memilikki ranah lebih rendah memanggil dengan sebutan senior kepada ranah yang lebih tinggi. Seorang yang mampu menyembunyikan auranya dari ranah Demigod tahap menengah, setidaknya berada di ranah yang sama atau bisa jadi lebih tinggi dari itu. Dan kemampuan menyembunyikan aura tesebut bukan sesuatu yang mudah dipelajari" balas Harjaya.
Mendengar penjelasan Harjaya, Agni menjadi terkejut. Ia menyadari telah melakukan kesalahan, namun tak sepenuhnya salah, andai Agni tak menyembunyikan auranya, tentu tuan muda tadi akan memberikan perlawanan karena mengetahui tingkatan ranah Agni.
Setelah itu Agni melepaskan aura kultivasinya, ranah Demigod tahap awal, tapi sudah terlambat, Harjaya terlanjur menganggap Agni berada di ranah Demigod tahap menengah, atau bahkan lebih, dan saat ini Harjaya menganggap Agni menekan auranya di ranah Demigod tahap awal.
"Maaf Senior, aku ..." Kata Harjaya itu terhenti karena Agni memotongnya.
"Maaf paman, aku menyela, tapi sejujurnya aku merasa tidak nyaman paman memanggilku senior, panggil saja namaku Paman" kata Agni.
"Baiklah Agni, aku meminta maaf atas hal itu. Agak kurang nyaman untuk berbincang ditengah jalan, biarlah kami menjamumu di gubuk kami sekedar ucapan terima kasih karena telah menolong kami berdua, aku harap engkau tak menolaknya" tawar Harjaya.
Mendengar pengasuhnya menawarkan Agni untuk singgah si gubuknya, membuat gadis itu gelisah, ia menggamit lengan pengasuhnya itu sebagai tanda tidak setuju dengan penawaran pengasuhnya kepada pemuda yang belum mereka kenal itu. Namun Harjaya memberikan anggukan agar gadis itu tak perlu gelisah. Harjaya mempunyai kesan yang baik pada Agni, dan firasatnya mengatakan, Agni justru akan dapat membantu mereka.
Agni menyadari tindakan gadis itu, andai saat ini tidak berada di tempat yang tidak dikenalnya, tentunya Agni akan menolaknya. Namun kondisi saat ini, Agni sangat membutuhkan hal tersebut untuk menentukan langkahnya kedepan.
"Baiklah paman, terima kasih sebelumnya, kuharap aku tak merepotkan paman" jawab Agni.
Tidak lama kemudian, mereka melesat pergi dari tempat itu, menuju tempat kedua orang yang ditolong Agni.
__ADS_1