Pendekar Tongkat Pemukul Anjing

Pendekar Tongkat Pemukul Anjing
Ep 38 - Restoran Warmindo


__ADS_3

Dua minggu penuh Agni menemani keluarga Harjaya untuk meningkatkan kekuatan mereka. Agni membantu dengan segala yang diperlukan. Setelah kelima orang dalam rumah itu menyerap satu inti hewan iblis, inti selanjutnya sudah tidak terlalu memberikan pengaruh yang signifikan. Namun masih cukup membantu untuk meningkatkan energi qi mereka.


Agni juga memberikan air mata dewi kepada mereka, sehingga kemampuan ke limanya untuk menyerap qi menjadi beberapa kali lipat.


"Paman, untuk beberapa waktu kedepan, mungkin agak lama aku akan berkunjung, aku juga harus melatih kemampuanku. Begitu juga kalian, sepertinya kalian juga siap untuk menerobos" kata Agni.


"Semua berkat bantuanmu Agni, kami hanya mampu berterima kasih, terimalah hormatku" kata Harjaya sambil memberikan hormatnya, di ikuti ke empat orang yang lainnya.


"Tak perlu sungkan Paman, baiklah, aku mohon diri" jawab Agni.


Agni melesat terbang menuju kediamannya. Kediaman yang hanya beratap langit beralas rumput di balik pepohonan di tengah hutan, namun itu di dalam formasi perlindungan gunung pula.


Hari demi hari Agni berjuang keras untuk berlatih mengendalikan serangan energi spiritual dari ajian Gelap Ngampar, percobaan terakhirnya menggunakan ilmu itu untuk menyerang utusan Balai Lelang Pucuk Harum, masih memberikan pengaruh pada Harjaya. Apalagi itu bersamaan dengan pengerahan aura Sasra Birawa.


"Kekuatan rohku tidak cukup stabil untuk mengendalikan mereka berdua, mungkin Pil Bunga Biru masih bermanfaat untukku" batin Agni didalam meditasinya.


Ia kemudian menelan satu pil Bunga Biru yang masih tersisa beberapa. Ternyata itu tak cukup memberikan peningkatan yang signifikan seperti saat pertama kali Agni menelannya di bawah bimbingan Takada Tanaga. Meski demikian, itu cukup membantu walau sedikit saja peningkatan kekuatan rohnya.


"Pil tingkat suci pasti akan membantu, tapi aku tak mempunyai bahannya" batin Agni. Kemudian ia melanjutkan pelatihannya.


Setelah perjuangan keras selama sepuluh hari berikutnya, walau hanya di bantu pil Bunga Biru tingkat langit, namun ternyata telah cukup untuk Agni mendapatkan hasil memuaskan. Selain telah mampu mengendalikan efek ajian Gelap Ngampar, Agni juga telah bisa membuat dua telapak tangan dari Aura Sasra Birawa.


Tiba saatnya untuk mencoba jurusnya. Kali ini bukan rusa yang menjadi korban, Agni menemukan sekumpulan serigala dalam hutan itu. Puluhan ekor serigala terdiam saat Aura Sasra Birawa menekan mereka. Dua ekor tertangkap oleh dua telapak Sasra Birawa, saat Agni bersiul untuk menguji ajian Gelap Ngampar, dua ekor serigala itu mati seketika.


"Maaf"


Hanya itu yang Agni katakan ketika ia melepaskan cengkraman telapak Sasra Birawa dari kedua ekor serigala yang telah mati itu. Kemudian ia melesat kembali ke kediamannya.


Lebih dari sepuluh hari tidak mandi, membuat badan Agni beraroma busuk, itu baru disadarinya saat ini, 10 hari terakhir, konsentrasinya terfokus pada latihannya.


"Sial, aku lupa membeli bak mandi!" Gerutu Agni, maka iapun kembali mandi dengan tungku memasaknya.


Setelah hampir setengah jam berendam dengan air mata dewi, Agni telah siap dengan dirinya. Mengeluarkan sebuah lencana dari cincin penyimpanannya, lencana emas Sekte Rubah Salju.


"Musuh dari temanku adalah musuhku juga" batinnya setelah memandang lencana itu.

__ADS_1


Lencana emas itu diremasnya hingga lebur menggunakan inti api biru dan berubah menjadi sebuah 3 bola sebesar kelereng. Kemudian ia mengeluarkan dua benda lainnya. Lencana dari Fang Yuen dan sebuah tiket makan kelas VVIP di restoran Warmindo.


"Aku ingin tahu seenak apa menu restoran terbaik kota Guziko ini" batinnya.


Maka ketika matahari hampir setinggi tombak, ia melesat menuju kota Guziko. Beberapa ratus meter sebelum sampai gerbang kota, Agni mendarat dan berjalan menuju gerbang kota.


Tidak ada kesulitan yang Agni temui ketika memasuki gerbang kota Guziko, itu karena Agni telah memilikki kartu identitas. Setelah menunjukkan itu dan membayar sejumlah koin, ia melenggang memasuki kota Guziko. Salah satu aturan tak tertulis di kota Guziko adalah larangan terbang, meski itu bukan larangan secara mutlak, namun tebang di dalam kota adalah satu hal yang tidak pantas kecuali dalam keadaan mendesak.


Berhubung Agni belum mengetahui letak Restoran Warmindo, maka ia memutuskan untuk menyewa jasa penarik becak saja untuk mengantarkan dirinya dari pada menaikki sebuah kereta kuda. Becak yang dimaksud disini adalah becak yang di tarik menggunakan tenaga manusia. Setelah berjalan beberapa ratus puluh meter, ia menemukan pangkalan becak di salah satu sudut jalan kota Guziko.


"Maaf paman, aku ingin menyewa jasa becak paman" kata Agni.


Salah satu tukang yang mendapatkan giliran menerima pelanggan dari sekumpulan tukang itu berdiri dan menanggapi maksud Agni,


"Silahkan anak muda, kemana kau akan pergi" tanya tukang becak itu.


"Tolong antarkan aku ke restoran Warmindo Paman" jawab Agni.


"Restoran Warmindo...???" Tanya penarik becak itu keheranan, ia memandangi pemuda bertongkat bambu didepannya itu. Pemuda itu tidak nampak seperti pemuda miskin, namun juga tak terlihat sebagain tuan muda yang memilikki banyak koin.


Selain dari jarak restoran Warmindo yang cukup jauh dari tempat itu, restoran Warmindo juga merupakan restoran terbaik di kota Guziko, itu sebabnya tukang becak menjadi sangsi atas permintaan Agni.


"Anak muda, restoran Warmindo cukup jauh dari tempat ini, apa kau mempunyai cukup koin untuk membayarku, aku khawatir tenagaku hanya sia-sia saja untuk mengantarmu" jawab tukang becak itu.


Alasan klasik yang telah sering terjadi, menilai seseorang dari penampilannya saja. Namun Agni cukup memahami alasan tukang becak itu, jika benar prasangkanya, maka tenaganya akan terbuang sia-sia.


"Berapa harganya paman?" Tanya Agni.


"1 keping perak"


Agni kemudian mengeluarkan satu koin emas dari kantongnya dan meletakan koin itu di permukaan rata pada tangkai becak yang biasa di pegang tukang becak untuk menariknya. Melihat itu, berbinar mata tukang becak, sikapnya pun segera berubah 180 derajat.


"Mari, marilah Tuan Muda, aku juga akan bersedia mengantar Tuan Muda keliling kota" kata tukang becak itu sembari mengambil koin emas yang diletakkan Agni dengan sigap. Ia tak ingin rekan-rekannya yang lain mengetahui, karena bisa jadi itu akan membuat mereka mengiri padanya.


Sejenak kemudian mereka telah melalui jalanan kota Guziko, saat melewati pasar, Agni meminta tukang becak itu berhenti sejenak, ia teringat bak mandi yang lupa belum dibelinya. Setelah berhenti beberapa saat untuk membeli sebuah bak mandi besar dengan kelengkapannya, Agni melanjutkan perjalanannya.

__ADS_1


Ternyata memang benar jarak restoran Warmindo dari pangkalan becak cukup jauh, mereka membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk sampai ke tempat itu. Saat turun, Agni menambahkan satu koin emas lagi kepada tukang becak itu sebagai bonus.


"Berbagilah kepada teman-teman paman di pangkalan, setidaknya dengan memberikan kopi dan gorengan atau sebungkus rokok, sedekah tidak akan mengurangi harta paman, itu justru akan membuka pintu rejeki" pesan Agni kepada tukang becak itu.


Kini Agni telah berada di depan pintu gerbang restoran Warmindo yang dijaga oleh dua orang petugas keamanan. Dari luar, nampak halaman parkir restoran itu telah penuh dengan puluhan kereta kuda. Bukan kereta kuda biasa, namun kereta-kereta yang hanya bisa dimilikki orang-orang kaya saja, terlihat dari berbagai ukiran dan hiasan keretanya, juga kuda-kuda itu yang terlihat tegap dan tegar.


Sementara gedung restoran itu sendiri adalah gedung dua lantai dengan design standar saja. Dan diantara kedua lantai, terdapat plakat besar yang berwarna Merah hijau dan kuning bertuliskan "WARMINDO".


Saat memasuki gerbang, Agni menyimpan tongkatnya, awalnya ia merasa akan terjadi hal serupa dengan yang di alaminya ketika menaikki tangga Balai Lelang Pucuk Harum. Namun di luar perkiraan Agni, justru kedua penjaga itu bersikap sangat ramah dan sopan, padahal mereka berada di ranah Demigod tahap akhir bintang 2.


"Silahkan Tuan, semoga anda menikmati kunjungan Tuan" sapa salah satu penjaga.


Agni tersenyum dan mengangguk membalas sapaan penjaga itu. Sampai di pintu masuk restoran, Agni disambut oleh dua orang wanita cantik yang mempersilahkannya dengan senyum ramah pula.


"Luar biasa, mereka tak menunjukkan diskriminasi sama sekali karena penampilanku" batin Agni.


Agni melewati sebuah lorong sekira panjang 10 meter, dinding kedua sisi lorong itu, penuh dengan piagam-piagam penghargaan. Yang paling mencolok adalah sebuah lukisan dua orang yang berdiri berdampingan dan sebuah tulisan di bawah masing-masingnya yang menunjukkan nama keduanya.


Seorang disebelah kiri bernama Antoni Sam, CEO Warmindo, dan sebelah kanan adalah Kaisar Yun Xie Zhu. Sebuah piagam penghargaan yang paling besar diantara piagam lainnya berada di bawah lukisan itu. Piagam penghargaan restoran terbaik yang di bubuhi stempel emas kekaisaran Yun.


"Luar biasa, bahkan Kaisar Yun pun memberikan penghargaannya" desis Agni.


Kini ia telah sampai di ruang makan restoran itu, tempat itu telah hampir penuh, namun ia melihat satu meja yang masih kosong kemudian duduk disana. Tidak terlalu spesial, satu set meja kursi standar saja seperti yang biasa tampak di rumah-rumah makan pada umumnya. Namun terbuat dari bahan kayu yang kokoh yang menurut penilaian Agni, berusia ratusan tahun. Kemudian seorang pelayan mendekati Agni.


"Selamat siang Tuan Muda Agni" sapa orang itu, membuat Agni bertanya-tanya, bagaimana mungkin pelayan itu mengetahui namanya.


"Seseorang telah menunggu Tuan Muda, mari silahkan ikuti aku Tuan Muda" kata pelayan itu.


Mereka menuju sebuah ruangan kecil berukuran 2x2 meter, yang berada di tengah ruang makan lantai satu. Sebuah kaca tebal mengelilingi ruang kecil itu, menjulang ke atas hingga terhubung ke lantai dua.


Pintu ruang kecil itu terbuka otomatis, Agni dan pelayan itu memasukinya, dan pintu kembali tertutup secara otomatis pula. Kemudian, digerakan oleh energi qi, secara perlahan ruangan itu bergerak ke lantai 2.


Tanpa disadari Agni, semua pelanggan di lantai satu cukup terheran melihat seorang pelayan mengantar seorang pemuda yang berpenampilan biasa-biasa saja. Itu karena lantai dua adalah lantai VIP dan VVIP, hanya orang-orang yang sangat kaya atau orang penting saja yang biasanya makan di lantai 2.


Sampai di atas, Agni cukup terpukau melihat perbedaan lantai 1 dan 2, meja kursi di lantai 2 di ukir dengan cantik dan terlihat terbuat dari bahan yang lebih berkualitas dari pada meja kursi di lantai 1, berbagai ornamen menarik menghiasai ruangan di lantai 2, juga udaranya yang terasa lebih sejuk, menambah rasa nyaman bagi para pengunjung.

__ADS_1


Lebih terkejut lagi saat Agni memasuki ruangan VVIP yang berada di satu sisi lantai VIP itu. Hanya ada dua meja yang terbuat dari batu giok hijau dan mengandung energi spritual, berada di tengah ruangan. Begitu pula dengan kursinya yang beralas bulu, juga Ornamen yang jauh lebih indah dari ruangan VIP, serta berbagai fasilitas lainnya yang memang layak membuat ruangan itu disebut sebagai ruang VVIP.


Namun dari semua hal yang ada di dalam restoran Warmindo, yang paling mengejutkan Agni adalah dua orang yang telah menunggu Agni di dalam ruangan VVIP tersebut. Satu orang belum Agni kenali, dan seorang lagi adalah Fang Yuen, manajer Balai Lelang Pucuk Harum.


__ADS_2