
Kesadaran Agni telah bersama tubuh aslinya, terduduk dengan sikap lotus. Suara kokok ayam dari halaman belakang rumah ki Jarpa telah merasuki indra pendengarannya. Ternyata hari telah menjelang pagi. Agni bahkan belum tidur sama sekali. Namun anehnya, Agni tak merasakan kantuk sama sekali. Bahkan tubuhnya serasa segar bagai baru saja terjaga dari tidur yang cukup.
"Ini sungguh aneh, bahkan aku sama sekali belum tertidur" desisnya.
Agni menuruni pembaringannya dan berjalan ke arah pintu kamar. Ia telah mengetahui letak setiap ruangan di rumah ki jarpa yang tidak terlalu besar itu. Agni menuju ruang makan untuk mengambil segelas air. Sebenernya telah tersedia teko air dan gelasnya, di kamar tempatnya tidur. Namun Agni melupakannya saat itu.
"Oh.. kau sudah bangun Ngger"
Sapa ki Jarpa yang baru saja keluar dari kamarnya. Keluarga ki Jarpa biasa terbangun sebelum matahari terbit, begitu juga yang menjadi kebiasaan keluarga Agni.
"Iya Paman" kemudian ia melangkah ke pintu belakang, yang terhubung ke halaman belakang rumah itu. Namun sebelum menggapai pintu, ki Jarpa menghentikannya.
"Kau mau kemana Ngger?" Tanyanya.
"Biarlah aku mengisi air Paman"
Pada umumnya, masyarakat ekonomi kelas menengah kebawah,tidak memilikki pembantu, sehingga mereka harus menyiapkan segala keperluannya sendiri. Seperti keluarga Agni, begitu pula keluarga Ki Jarpa, menimba air untuk mengisi bak-bak air yang akan digunakan sebagai keperluan sehari-hari, telah menjadi kebiaasaan.
Namun Agni lupa, gunungan koin emas dan perak perak juga perunggu, saat ini sedang melingkar di kedua jarinya, Agni bukan lagi seorang berstatus ekonomi menengah ke bawah.
"Jangan terlalu repot Ngger, biarlah aku saja" kata ki Jarpa.
"Kalau paman melarangku, pulang aku kerumah orang tuaku, tiap pagi, akulah yang mengisi bak mandi dirumahku"
Ki Jarpa tertawa mendengar jawaban Agni itu,
"Hahaha... jika begitu aku tak mampu menahanmu"
Tawa ki Jarpa juga di iringi tawa Sri yang telah terbangun pula dan keluar dari kamarnya.
"Kalau begitu Ngger, sekalian kau potong kayu bakar, sapu halaman, kasih makan ayam, kalau perlu sekalian memasak untuk kami ya Ngger cah baguuusss .. hihihi" canda Sri.
"Tenang saja Bibi, walaupun aku lelaki, aku juga cukup pandai memasak, ibuku telah mengajariku, dan ayahku juga sering mengajakku berburu di hutan, kadang-kadang kami harus memasak buruan di tengah hutan" sahut Agni menanggapi candaan Sri.
"Oh benarkah Ngger? Bibi jadi penasaran rasa masakanmu" kata Sri sambil tersenyum.
"Siap Bi, tapi siang atau sore nanti ya Bi, aku ingin ikut paman pergi ke sawah"
"Hihi...jangan kau anggap serius Ngger, bibi hanya bercanda saja, meski bibi tak menolak jika kau ingin memasak" kata Sri sambil tersenyum menutup mulutnya pura-pura malu.
Sejenak kemudian, Agni telah menimba air, sedangkan Sri telah berada di dapur dan Ki Jarpa menyiapkan pakan ayam.
"Ini luar biasa, bahkan ember ini seperti tak berisi"
Agni baru menyadari bahwa kekuatannya telah meningkat di banding sebelumnya. Meditasi yang dilakukan Agni sebelumnya, hanya asal saja mengikuti nalurinya, ditambah sedikit arahan dari Chua Pek Dong. Agni belum menyadari bahwa yang dilakukannya bukanlah meditasi, namun ia sedang mengkultivasikan energi qi yang berada di dantiannya.
__ADS_1
Tanpa Agni sadari, ia juga telah menyerap energi qi yang berasal dari luar dirinya dan kemudian memurnikan energi itu. Sehingga apa yang dilakukannya itu, telah meningkatkan kekuatannya, bahkan beberapa kali lipat di banding saat Agni belum berkultivasi.
Tidak butuh waktu lama bagi Agni untuk mengisi semua bak-bak yang perlu di isi. Kemudian ia melangkah mengambil kapak, bersiap untuk memotong kayu bakar.
Ki Jarpa yang juga baru selesai menyiapkan pakan ayamnya, terkejut melihat Agni.
"Ngger, apakah sudah selesai mengisi air? Tanya ki Jarpa memastikan keterkejutannya.
"Sudah Paman, aku akan potong kayu-kayu ini sekarang?"
"Benarkah...?" Ki Jarpa masih belum percaya perkataan Agni, bahkan ia sendiri butuh cukup waktu untuk mengisi semua bak air.
Ki jarpa melangkah untuk melihat pada bak-bak air, ternyata Agni benar-benar dengan perkataannya. Bocah yang belum setinggi pundaknya itu, telah mengisi penuh semua bak air hanya dalam sekejap saja.
"Luar biasa, apakah kau memakai sihir Ngger?" Tanya Ki Jarpa masih dengan rasa terpukaunya.
Kemudian Agni menyadari, apa yang dilakukannya bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan anak umur 12 tahun, bahkan oleh orang dewasa sekalipun.
"Mmhhh... Sebenarnya aku sendiri juga masih susah untuk percaya Paman, mungkin ini karena yang kuceritakan padamu kemarin" kata Agni mengingatkan Ki Jarpa tentang apa yang ia alami sebelum bertemu ki Jarpa.
"Baiklah, kalau begitu coba kau belah kayu bakar itu?" Pinta Ki Jarpa
"Baik Paman" Agni telah siap dengan kapak dan sebatang kayu sepanjang lengan berdiameter seukuran betis.
Ia meletakkan kayu itu di atas sebuah tatanan yang dibuat dari potongan sebatang pohon sebesar pelukan orang dewasa.
Mata ki Jarpa benar-benar terbelalak, bahkan mulutnya pula, begitu juga Agni sendiri. Hanya dalam sekali ayun, kayu itu terbelah. Tidak hanya itu, bahkan mata kapak terbenam hingga pangkalnya pada batang pohon yang digunakan sebagai tatanan itu.
"Mmm...ma...maaf Paman, aku akan mencarikan gantinya nanti"
Mulut Ki Jarpa yang awalnya melongo menjadi melebar dan tersenyum tanpa makna. Terheran dan terpukau dengan kekuatan Agni. Hal itu membuat bicaranya jadi agak tergagap.
"**...tunggu Agni..., A...apakah kau menggunakan tenaga tenaga dalam?"
Yang dimaksud ki Jarpa mungkin adalah qi, tapi memang orang jawa, atau sebagian penduduk benua Nusantara, biasa menyebut tenaga dalam untuk kekuatan seseorang yang luar biasa, atau diluar nalar.
"Tidak paman, aku mengayunkan kapak ini seperti biasa aku lakukan di rumahku, begitu juga saat aku menimba air tadi" terang Agni.
"Kalau begitu, mulai sekarang kau harus mengendalikan tenagamu Ngger, aku tidak mau merugi jika barang-barang ku kau hancurkan" canda ki Jarpa.
Tiba-tiba saja Agni terpikirkan isi dalam cincin penyimpanan yang diberikan kedua gurunya. Agni berniat memberikan beberapa koin untuk Ki Jarpa, namun...
"Nanti saja, aku jadi kebingungan kalau nanti paman tanyain" katanya dalam hati.
"Baik paman, nanti biar yang ini aku cari gantinya" kata Agni kemudian.
__ADS_1
"Hahaha.... Aku hanya bercanda saja Nggeeeer.... Itu juga masih bisa kau gunakan" kata Ki Jarpa.
Mereka pun melanjutkan kerja mereka. Perlahan-lahan Agni semakin terbiasa mengendalikan tenaga sewajarnya.
"Aku jadi penasaran bagaimana jika aku mengerahkan semua tenagaku?" Tanyanya dalam hati.
Selepas makan pagi, Agni mengikuti ki Jarpa pergi mengurus sawah. Walau hanya sekedar menghalau burung, atau membersihkan rumput dan kadang-kadang memperbaikki pematang saluran air, karena masa panen masih sebulanan lagi. Tak lupa, Agni juga membawa tongkat pemukul anjingnya.
"Paman, aku ingin pergi ke sungai didalam hutan, mungkin sore nanti baru akan kembali, boleh?" Tanya Agni mengingat dia harus berlatih. Agni merasa, di tengah hutan itu tempat yang aman untuk berlatih tanpa diketahui orang lain.
"Andaikan aku ayahmu, dan kau hanya anak-anak berumur 12 tahun, jelas aku akan melarangmu Ngger" jawab Ki Jarpa.
"Hehehe... Sejujurnya aku ingin berlatih Paman" Agni berterus terang.
"Aku mengerti Ngger, aku hanya bisa berpesan, berhati-hati lah engkau" ujar ki Jarpa.
"Baik Paman, mumpung hari belum terlalu siang, aku pergi Paman" pamit Agni.
Agni berjalan cepat melewati bulak sawah, sebenarnya ia ingin berlari agar cepat sampai di sungai dimana ia pertama kali datang di daerah itu, namun Agni tak ingin menarik perhatian orang-orang yang melihatnya.
Setelah tiba di padang rumput, Agni mulai berlari kecil, perlahan-lahan Agni menambah kecepatan larinya.
"Terakhir kali aku berlari, tidak secepat ini, dan sepertinya masih bisa lebih cepat lagi"
Agni mencoba menambah kecepatan larinya. Dan benar saja, ia berlari hingga merasakan terpaan angin yang cukup kencang di wajahnya. Kadang-kadang ia juga melompat diantara larinya. Jarak lompatnya pun membuatnya terkejut, sekitar 15 meter.
Membuatnya semakin bersemangat mencoba kemampuannya.
Tidak sampai 20 menit, ia telah sampai di tepi sungai tempat pertama kali ia sadar dari pingsannya.
Perjalanan sebelumnya dari sungai ke sawah, ia tempuh dengan berjalan, setidaknya lama perjalanan saat itu 2 jam lebih sedikit, andaikan berlari mungkin butuh 1-1,5 jam. Dan kini hanya butuh sekitar 20 menit saja bagi Agni melakukan perjalanan dari sawah ke sungai tenga hutan itu.
Kini Agni duduk di atas sebuah batu padas besar tempat Agni menjemur pakaiannya dulu. Agni ingin melihat isi kitab di dalam kepalanya. Mengingat cara memasuki alam jiwanya adalah dengan mengalirkan qi pada titik di tengah dadanya, maka Agni berniat untuk mengalirkan qi pada titik di tengah dahinya.
Agni memejamkan matanya, kemudian memusatkan pikiran untuk melihat isi kitab tongkat pemukul anjing di dalam kepalanya. Namun sebelum Agni mengalirkan qi pada titik di dahinya, rupanya Agni telah melihat apa yang ingin dilihatnya. Agni tak menyangka jika ternyata semudah itu.
Agni menjadi penasaran, "bagaimana kalau aku membuka mata" pikirnya.
Yang nampak di pandangan matanya sungai yang mengalir di tengah hutan. Akan tetapi, isi kitab tongkat pemukul anjing masih jelas tergambar di dalam pikirannya. Bahkan ketika ia membagi konsentrasinya dengan melihat hal yang nyata di depan matanya, juga ketika turun dari batu dan melakukan satu gerakan-gerakan kecil, masih sangat jelas terukir dalam kepalanya susunan gambar dan huruf yang berwarna keemasan, menerangkan segala isi tentang kitab tersebut.
"Luar biasa, bahkan dalam mimpi pun aku tak pernah mengalaminya"
Ketika Agni menambah variasi gerakannya dengan berlompatan kesana kemari, dari batu ke batu lainnya yang ada di sungai itu, isi kitab itu masih jelas terlihat dan seolah mengerti apa yang di inginkan Agni dengan menujukkan segala keterangan dalam waktu yang sangat cepat.
Agni menjadi semakin penasaran. Ia ingin mencoba jurus pertama dalam kitab itu. Agni berkisar mencari tempat yang agak lapang. Kemudian ia bersiap dalam posisinya. Secara alami, susunan huruf-huruf dalam kepalanya berubah menjadi gambar siluet orang berkepala botak, masih dengan warna keemasannya.
__ADS_1
"Jurus Pertama, Mengusir Anjing Masuk Gang"