Pendekar Tongkat Pemukul Anjing

Pendekar Tongkat Pemukul Anjing
Ep 27 - Cerita Harjaya


__ADS_3

Saat senja hampir berlalu, Agni baru saja sampai di tempat tinggal Harjaya dan Ayu Wilis. Itu sebuah rumah kayu sederhana, namun cukup layak untuk digunakan sebagai tempat tinggal. Yang membuat Agni bertanya-tanya, lokasi tempat tinggal mereka cukup tersembunyi. Mereka harus melalui jalan-jalan setapak yang sempit, naik turun bukit-bukit kecil, menyebrangi sungai dan bahkan melewati semak belukar.


Saat telah di serambi rumah Harjaya,


"Silahkan Ngger, ini istriku Lasmita dan ini putriku Arini dan adiknya Andara" Harjaya memperkenalkan keluarganya.


Beberapa meter sebelum sampai di rumah Harjaya, Agni telah mengetahui bahwa didalam rumah itu ada tiga orang yang berada di ranah Demigod tahap awal, namun satu hal yang membuat Agni benar-benar terkejut, salah satu pemilik ranah Demigod tahap awal itu hanyalah seorang anak kecil yang usianya antara 10-12 tahun.


Sementara Lasmita menjadi bertanya-tanya karena ini pertama kalinya seorang asing datang kerumahnya itu.


"Salam Bibi, Saudari, Andara namaku Mahisa Agni" seperti halnya Harjaya ketika mendengar Agni memperkenalkan namanya, Lasmita dan Arini agak terkejut, dan Agni menyadari hal itu, namun Agni masih menahan untuk bertanya.


"Salam tuan muda" jawab mereka bertiga.


"Silahkan tuan" Lasmita mempersilahkan Agni duduk.


"Pemuda ini telah menyelamatkan nyawa kami berdua Bu, sajikan makanan terbaik hari ini" Kata Harjaya kepada istrinya.


Lasmita terkejut dan menghela nafas panjang mendengar perkataan suaminya itu.


"Oh...syukurlah kau dan nona Wilis baik-baik saja Kang, terima kasih tuan muda, aku tak tahu apa jadinya kalau harus kehilangan mereka" katanya dengan nada dalam.


"Hanya kebetulan saja Bibi, tidak perlu sungkan. Oya Bi, Bibi tidak perlu repot-repot, kalau memang harus memasak, masak seperti biasanya saja, aku seorang pengelana dan telah terbiasa makan seadanya" kata Agni.


Lasmita tersenyum kecil,


"Tenang saja Tuan Muda, justru itu Bibi jadi ingin menjamu Tuan Muda sebaik mungkin. Nona Wilis, Arini, ayo bantu di dapur" sahut Lasmita.


"Baik Bibi" jawab wilis


"Baik Bu, Andara ayo!" Arini menggamit lengan adiknya.


"Maaf Agni, engkau pasti memperhatikan kenapa raut wajah kami berubah ketika mendengar namamu, benarkan?" Kata Harjaya.


"Eh.. iya Paman. Jadi kenapa bisa seperti itu Paman?" Tanya Agni penasaran.


"Justru aku yang bertanya-tanya Agni, kenapa engkau memakai nama mahisa, sedangkan engkau dari klan Macan". Ujar Harjaya.


Lagi-lagi Agni dibuat terkejut. Namun ia segera mencari penyebab, kenapa Harjaya menganggapnya berasal dari klan macan.


"Macan kumbang raksasa itu? Benar, pasti karena itu. Aku telah menyerap inti hewan itu dan memakan hampir seluruh dagingnya selama sebulan terakhir" kata Agni dalam hati.


Dengan cepat, Agni berusaha mencari jawaban sebaik mungkin agar tak menimbulkan curiga.


"Eh... Iya Paman, namun apakah itu menjadi masalah?"


"Maaf Agni, bukan maksudku untuk menyinggungmu" pertanyaan Agni justru membuat Harjaya merasa salah berkata.

__ADS_1


"Hehe... Tidak apa-apa Paman"


Kemudian dia melanjutkan dengan lebih serius, Agni merasa mendapat cara untuk membuat Harjaya bisa membantunya di dunia yang tidak ia kenali ini. Walaupun perkenalan mereka baru singkat saja, namun dari sikap Harjaya yang melindungi Ayu Wilis dengan pertaruhan nyawanya, Agni memilikki penilaian yang baik kepada Harjaya itu.


"Aku mohon maaf, untuk sementara, mungkin aku tidak bisa menceritakan asal-usulku, tapi aku pastikan, aku tidak akan mencelakakan Paman dan keluarga Paman, kalau paman tidak percaya padaku, aku bisa segera pergi"


Kata-kata Agni tersebut berhasil memberi tekanan pada perasaan Harjaya. Selain pertolongan yang Agni berikan, juga dengan mudanya Agni memberikan pil penyembuhan tingkat langit, masih ditambah kemampuan Agni menyembunyikan aura, jelas bukan sesuatu yang bisa diremehkan.


"Ba...baik Agni, maafkan aku. Aku sepenuhnya percaya padamu" ujar Harjaya terbata.


"Sebenarnya, siapa yang mengejar kalian tadi Paman?" Tanya Agni kemudian.


"Namanya Pradipta, salah satu tuan muda jenius sekte tapak macan klan Singa. Ayahnya, Artasena adalah Tetua ke 3 sekte Tapak Macan" Jawab Harjaya.


"Kenapa dia mengejar-ngejar Paman dan saudari Wilis?"


"Sudah sejak lama dia berusaha mendekati nona Wilis, tapi siapapun tahu, Pradipta sangat suka bermain wanita. Saat masih di sekte, tidak terlalu sulit untuk menghindari anak itu, namun sekarang...." Harjaya menghela nafas.


Agni menunggu sejenak kemudian bertanya kembali.


"Jadi, sebelumnya paman dan juga saudari Wilis tinggal di dalam sekte?"


"Ceritanya cukup panjang Agni, namun aku akan berusaha meringkasnya"


Ayah Ayu Wilis, adalah salah satu pilar utama sekte Tapak Macan bersama 4 orang lainnya, yang berada di ranah Demigod tahap akhir. Mereka adalah ketua sekte Tuan Besar Jaya Pamungkas, Wiraja, Gao Yuan, dan Aryasena. Kekuatan 4 orang ini yang menjadikan sekte Tapak Macan termasuk dari 6 sekte besar.


Harjaya adalah pelayan pribadi keluarga Wiraja. Telah sangat lama Harjaya bersama keluarganya melayani keluarga Wiraja, sehingga hubungan antar mereka seperti layaknya sebuah keluarga. Berkat Wiraja pula Harjaya bisa menerobos ke ranah Demigod tahap menengah.


Anak-anak Pangeran Yun Sheng tertarik bermain dengan Andara. Hal itu membuat Harjaya menjadi gelisah, karena anak-anak pangeran Yun Sheng suka sekali bertindak semaunya.


Saat mereka bermain, secara tidak sengaja, Andara melukai salah satu anak pangeran Yun Sheng. Pangeran Yun Sheng yang temperamental itu menjadi murka dan hendak memukul Andara dengan kekuatan yang mungkin saja bisa membunuh Andara, setidaknya membuat Andara terluka berat.


Wiraja yang tidak jauh dari mereka secara refleks bertindak mencegah niat Pangeran Yun Sheng tersebut. Namun tak disangka, Wiraja yang menahan pukulan Pangeran Yun Sheng justru mematahkan lengan pangeran itu.


Bukan hanya Pangeran Yun Sheng yang menjadi sangat murka, bahkan hal tersebut membuat Kaisar Yun Xie Zhu marah, karena hanya demi anak pelayan, Wiraja telah berani melukai Putra Mahkota. Andai bukan karena hubungan baik Sekte Tapak Macan dengan Kekaisaran, tentu Kaisar Yun Xie Zhu telah menjatuhkan hukuman mati kepada Wiraja. Namun Kaisar menyerahkan kepada Ketua Sekte Tapak Macan untuk memberikan hukuman berat kepada Wiraja.


Ketua sekte mengadakan pertemuan tertutup para tetua untuk memberikan hukuman yang paling tepat bagi Wiraja. Hasil pertemuan itu memutuskan untuk mengirim Wiraja ke alam rendah.


Sebenarnya berat bagi Tuan Besar Jaya Pamungkas, karena Wiraja termasuk salah satu pilar sekte Tapak Macan. Namun akan berdampak buruk bagi sekte jika ia tak mengambil keputusan itu, atau memberikan hukuman yang lebih ringan dari itu. Setidaknya, masih ada kemungkinan bagi Wiraja untuk dapat kembali naik ke alam tengah.


Hukuman Wiraja membuat istrinya syok berat dan sakit keras. Beberapa bulan setelah Wiraja di kirim ke alam rendah, istri Tuan Wiraja meninggal.


Pada kenyataannya, walaupun hukuman telah diberikan kepada Wiraja, hal itu tak dapat menghindari hubungan yang merenggang dengan kekaisaran. Keadaan tersebut membuat posisi sekte tapak macan dalam 6 sekte besar semakin tersisih. Semua divisi usaha yang dikelola sekte Tapak Macan menjadi semakin sepi dan mengalami penurunan tajam.


Kehidupan Ayu Wilis didalam Sekte pun semakin berat, karena semua anggota sekte menyalahkan keluarga Wiraja atas keadaan tersebut. Hanya Ketua Sekte saja yang tetap bersikap baik pada Ayu Wilis, karena Wiraja merupakan sahabat yang telah dianggap saudara kandung oleh Tuan Besar Jaya Pamungkas.


Namun semakin lama semakin berat bagi Ayu Wilis, karena Pradipta juga menjadi semakin berani menggoda dirinya. Pada akhirnya Ayu Wilis memutuskan untuk keluar dari sekte karena tak mampu menahan tekanan juga ancaman yang di berikan Pradipta. Harjaya yang merasa paling bersalah atas keadaan itu, mengikuti Ayu Wilis untuk melindunginya.

__ADS_1


"Kurang lebih seperti itulah Agni, sejujurnya aku tak tahu bagaimana memperbaikki keadaan ini, Tuan Wiraja telah sangat baik kepadaku, hanya menjaga putrinya dengan nyawaku saja yang bisa aku lakukan untuk membalas semua kebaikkannya"


Agni menjadi terharu mendengar cerita Harjaya itu. Walaupun Agni tak punya sama sekali pengalaman di dunia sekte ataupun urusan kerajaan, namun sebenarnya Agni adalah pemuda yang cerdas. Ditambah pula dengan didikan kelima gurunya, membuat Agni semakin lihai berpikir. Dalam hatinya, Agni bertekad akan membantu Harjaya dan juga Ayu Wilis mendapatkan kehidupannya kembali.


Ada satu hal lagi yang menarik Agni dari cerita Harjaya tadi. Itu adalah tentang alam rendah. Akan tetapi jika Agni mempertanyakan itu, mungkin Harjaya akan bercuriga, karena Agni sendiri telah naik dari alam rendah itu. Agni memutuskan untuk menunda pertanyaannya dan bertanya hal lainnya.


"Aku turut prihatin Paman, aku akan berusaha membantu paman sesuai kemampuanku, tapi paman, kenapa justru paman bersama Saudari Wilis tinggal di tempat ini?"


"Sudah beberapa kali kami pindah hanya demi menghindari Pradipta itu, dia terlalu terobsesi dengan Nona Wilis. Aku yakin kali ini dia tidak akan menemukan keberadaan rumah ini, setidaknya akan membutuhkan waktu yang lama untuk menemukan tempat ini" katanya.


"Kalau begitu, kenapa tadi Paman bisa bertemu dengannya" tanya Agni heran.


"Nona Wilis memerlukan untuk mengambil sesuatu ditempat tinggal kami yang lama, tak disangka Pradipta telah menempatkan seseorang untuk mengawasi rumah itu, padahal sudah lebih dari 5 bulan rumah itu kami tinggalkan, bahkan rumah itu sudah hampir roboh" jawabnya


"Apa Paman yakin tempat ini aman?"


"Aku tak bisa memastikan, tapi aku cukup yakin ini tak mudah ditemukan"


"Baiklah paman, kalau begitu aku akan coba untuk membantumu melindungi tempat ini"


"Maksudmu Agni"


"Lihat saja"


Agni kemudian melangkah ke halaman, ia terbang untuk melihat luas area rumah itu. Setelah mendapatkan ukuran, Agni kembali turun. Kemudian ia mengeluarkan beberapa puluh batu roh tingkat tinggi dan beberapa lembar rune kuno dari cincin penyimpanannya. Harjaya terngangah saat melihat batu roh tingkat tinggi yang dikeluarkan Agni.


Agni kemudian membuat satu gerakan segel tangan dan membentuk sebuah pola kuno. Sesaat kemudian, puluhan batu roh itu menyebar tidak kurang dari 200 meter persegi mengelilingi rumah itu, di ikuti lembaran rune yang terbang melayang. Setelah Agni selesai dengan mengalirkan qi pada pola yang telah ia buat, sebuah sinar yang berwarna merah kekuningan membentuk sebuah kubah melingkupi area yang telah Agni buat. Dan sesaat kemudian, sinar tersebut kembali redup dan hilang sama sekali kembali seperti keadaan semula.


"Aku telah membuat formasi perlindungan paman. Formasi ini menyamarkan apa yang ada didalamnya sesuai keadaan sekitar, jika seseorang mengetahui formasi ini dan berniat menghancurkannya, ranah SoulGod juga belum tentu bisa menghancurkannya" kata Agni.


Saat Agni membuat formasi perlindungan gunung itu di alam rendah hewan iblis, dia berada di ranah kaisar tahap menengah. Formasi itu tak akan mudah di tembus oleh ranah Demigod tahap akhir. Dan saat ini, Agni berada di ranah Demigod tahap awal, ia menghabiskan lebih banyak batu roh dan energi qi untuk membuat formasi itu, ranah SoulGod tahap awal atau menengah juga belum tentu dapat menghancurkannya, kecuali mereka menemukan celah dari formasi tersebut.


"Paman tak akan ku beritahukan dimana celah formasi itu, namun peganglah ini di saat keluar masuk formasi itu. Berikan juga untuk keluarga Paman" kata Agni sambil memberikan beberapa lembar rune kuno pada Harjaya.


Ternyata Harjaya masih terngangah melihat apa yang ditunjukkan Agni itu. Ia semakin mengagumi anak muda yang baru dikenalnya itu, bukan hanya kekuatan, bahkan Agni mampu membuat formasi tingkat tinggi sekalipun.


"Aku tak mampu menahan rasa takjubku padamu Agni, sebenarnya siapakah engkau ini?" Tanya Harjaya dalam ketakjubannya.


"Sudahlah Paman, aku hanya sekedar membantu semampuku, aku hanya seorang pengelana saja" kata Agni sambil melangkah kembali ke serambi.


"Oya Agni, kalau aku boleh tahu, berapa banyak batu roh yang kau habiskan untuk membuat formasi itu?"


"30 batu roh" jawab Agni


"Hah? 30? 30 batu roh tingkat tinggi...???" Harjaya terkejut sekali mendengar jawaban Agni.


"Iya paman, kenapa dengan batu roh itu?"

__ADS_1


"I...itu sama dengan 3000 koin emas Ag" kata Harjaya.


"Apa...????" Giliran Agni yang terkejut, hanya untuk sebuah formasi, dia telah menghabiskan 3000 koin emas!


__ADS_2